
Refald menggenggam erat tanganku dan membawaku berjalan menjauh dari dasar tebing dengan menyeberangi sungai yang ada di depan kami. Saat menyeberang, aku melihat sekilas air terjun yang mengalir deras saat melewatinya. Aku terkesima dengan keindahannya, sungguh panorama alam yang menakjubkan.
Sayangnya, kami tidak bisa lama-lama berada di tempat ini karena hari sudah semakin gelap dan sinar bulan pasti akan sulit menembus tempat ini. Pantas saja Refald kurang setuju saat aku mengusulkan bermalam di sini dan mengajakku pergi dari sini.
Kakiku yang terkilir belum pulih, jadi jalanku agak melambat dan sedikit pincang, namun Refald sabar menuntunku dan membantuku melewati jalan yang kurang bersahabat karena dipenuhi bebatuan yang terjal disetiap area yang kami lewati.
Baru 30 menit kami berjalan, tapi aku sudah kelelahan. Keringat deras mengalir membasahi pelipisku. Napasku ngos-ngosan dan lumayan berat karena jalanannya agak sedikit menanjak. Padahal kami berjalan tidak jauh dari sungai karena kami memang sengaja mengikuti arus sungai dengan harapan sungai adalah salah satu akses untuk bisa membawa kami kembali ke desa. Sebab Refald yakin sekali bahwa menyusuri sungai adalah jalan yang tercepat daripada menyusuri hutan.
“Istirahatlah dulu, Honey ... kau terlihat pucat.” Refald menuntunku ke sebuah batu besar yang tidak jauh dari tempat kami berjalan. “Duduklah di atas batu ini, aku akan mengambilkan air untukmu.”
Refald mau beranjak pergi tapi aku menggamit lengannya. “Aku ikut.” ucapku lirih.
“Tetaplah di sini, kau terlihat sangat letih. Aku tidak akan lama dan juga tidak jauh dari sini.” Refald menggenggam erat tanganku untuk meyakinkanku.
“Bukan begitu.” Aku tetap tidak ingin melepaskan genggaman tangan Refald. “Kita tidak membawa perlengkapan apa-apa. Kau tidak bisa mengambilkan air untukku hanya dengan menggunakan daun atau tangan. Bantu aku ke tepi sungai, aku akan meminumnya sendiri. Itu jauh lebih baik daripada kau harus bolak-balik kesana-kemari untuk mengambilkan air untukku.”
Refald hanya diam menatapku, tak lama ia pun tersenyum padaku. “Sebenarnya ada, tapi kita tidak bisa mengambil semua yang kita butuhkan sebelum malam tiba. Jadi, bersabarlah sebentar. Untuk saat ini naiklah ke punggungku, aku akan membawamu ke tepi sungai.” Refald langsung berjongkok didepanku lagi. “Ayo cepat, karena hari sudah mulai gelap!”
“Apa kau tidak lelah?” tanyaku bingung dan juga heran Refald masih saja bisa mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak kumengerti. Juga tindakannya ini membuatku semakin trenyuh melihat Refald. Sudah jelas ia juga kelelahan, tapi masih saja bersikap sok kuat didepanku.
“Sudah kubilang Honey, aku ini sangat kuat. Jangan khawatirkan aku, Oke!”
Sebenarnya aku tidak percaya, tapi jika aku menyangkalnya itu hanya akan menguras tenagaku karena Refald pasti akan berdebat denganku.
Aku hanya mengangguk dan langsung mengalungkan tanganku dilehernya. Dengan sigap, Refald berdiri dan membawaku ke tepi sungai. Perhatian Refald tidak berhenti sampai di situ. Begitu dia menurunkanku, ia langsung mengambilkan air untukku dari tangannya. Dengan telaten, Refald membantu meminumkan air padaku. Aku terharu sebenarnya, tapi juga malu. Namun aku tetap saja menuruti apapun yang dilakukan Refald untukku. Setelah itu ia juga menggendongku lagi berjalan menyusuri sungai.
Tanpa mengeluh dan tak kenal lelah, Refald terus saja menggendongku melewati bebatuan dan jalan terjal yang membentang luas dihadapan kami. Sedangkan tugasku adalah menyisihkan daun-daun dan ranting dari cabang pohon yang menghalangi pandangan mata Refald.
Sepanjang perjalanan, Refald mengajakku bercanda dan bersenda gurau untuk mengalihkan perhatianku agar tidak terlalu tegang menyusuri hutan bersamanya. Ia menceritakan bagaimana pengalamannya saat bergelut dengan dunia pecinta alam sehingga ia mempunyai kartu identitas dari sebuah komunitas kelas kakap kumpulan para pendaki profesional.
Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi aku akan menyimpan semua pertanyaan itu begitu kami keluar dari tempat ini. Sebab, yang terpenting saat ini adalah kami berdua bisa keluar hidup-hidup dari hutan yang terlihat sangat menakutkan kalau dimalam hari, apalagi tanpa penerangan apapun.
__ADS_1
Kisah petualangan yang Refald ceritakan, membuatku semakin kagum padanya. Ternyata, aku memiliki tunangan yang luar biasa. Bisa menjelajahi banyak gunung diberbagai belahan dunia adalah impian dan surga dunia bagi para pecinta alam sejati, termasuk aku. Dan Refald telah menjadi salah satu dari ribuan orang yang bisa hiking di gunung-gunung tertinggi di dunia.
Tanpa terasa, waktu senja telah tiba. Perlahan tapi pasti, matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan hari mulai gelap. Posisi kami berdua saat ini sudah berada di tengah hutan yang lebat, tapi aku tidak tahu ada di mana persisnya.
“Kita istirahat dan bermalam di sini,” ucap Refald lirih. “Bagaimana? Kau setuju?” tanya Refald padaku sambil mengamati hutan yang ada di sekeliling kami.
“Tempatnya memang pas kalau dibuat istirahat, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengawasi kita, ya? Apa ini hanya perasaanku saja?”
“Jangan takut, Honey. Berapa kali aku harus mengatakan, selama ada aku, tidak akan kubiarkan apapun menyakitimu dan aku ....”
“Cukup!” aku membekap mulut Refald yang mengoceh tanpa henti. “Aku tahu dan aku mengerti, sekarang turunkan aku! Sampai kapan kau akan menggendongku seperti ini?”
Refald hanya tersenyum lalu menurunkanku. Setelah itu ia langsung mencari ranting-ranting pohon yang kering di area sekita hutan ini dan mengumpulkannya sebanyak mungkin.
Sebenarnya aku ingin membantu, tapi aku tidak bisa banyak bergerak karena punggung dan kakiku masih terasa sakit. Jadi aku hanya mengambil ranting-ranting kering seadanya yang berserakan disekitarku.
Setelah dirasa banyak, Refald membimbingku ke sebuah pohon besar yang rindang dan melepaskan jaketnya lalu ia letakkan di atas tanah yang ditumbuhi rumput lebat.
Sedangkan aku hanya duduk diam sambil mengawasi Refald yang mulai membuat perapian supaya bisa kami pakai untuk menghangatkan diri ketika malam sudah tiba.
“Aku rasa kayu-kayu ini cukup untuk melindungi kita di malam hari dari binatang-binatang buas. Tapi ini hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku hanya akan menyalakannya kalau kita dalam keadaan terdesak.” Terang Refald saat menata kayu-kayu yang ia taruh melingkar disekitar pohon.
Malam pun tiba dan Refald mulai menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh kami berdua.
“Kau tidak keberatan jika aku duduk disampingmu?” tanpa menunggu persetujuanku Refald langsung duduk sangat dekat disebelahku. “Sebenarnya aku merasa canggung, tapi udara di sini sangatlah dingin. Akan sangat menguntungkan bagi kita berdua jika saling menghangatkan satu sama lain,” jelas Refald. Sepertinya kata-katanya memiliki makna yang dalam.
“Apa maksudmu dengan saling menghangatkan?” aku mencoba menerka-nerka makna dari kata-kata Refald.
“Ayolah Honey, kau tahu maksudku, apa aku juga harus menjelaskan semua ini padamu? Ini di hutan, udara sangat dingin, dan hanya ada kita berdua saja di sini.”
“Lalu?”
__ADS_1
Refald berdecak kesal, “Lalu aku akan mengambil kesempatan jika aku mau! Oh my God, Honey ... kau benar-benar polos sekali, tidakkah kau berpikir bahwa aku sedang merayumu? Aku sangat heran padamu, kau punya tunangan yang sangat tampan dan digilai banyak cewek, kita berada di tengah hutan, tidakkah kau ingin bermesraan denganku? Cewek lain pasti akan mengambil kesempatan langka ini untuk mendekatiku, tapi tidak denganmu.” Refald terdengar sinis saat berkata seperti itu.
Aku mulai mengerti maksud ucapan Refald dan tersenyum simpul padanya. “Aku tidak bisa ....” ujarku.
“Tidak bisa apa?” Refald memutar kepalanya dan menatapku.
“Aku tidak seperti cewek-cewek bodoh yang tergila-gila denganmu, jadi jangan samakan aku dengan mereka.” Aku mengatakan kalimat itu dengan ekspresi datar tanpa emosi.
Refald terdiam, mungkin ia merasa bersalah karena sudah membanding-bandingkan aku dengan yang lainnya.
Aku melepaskan jaket yang kupakai dan memakaikannya sebagai selimut bersama dengan Refald. Aku menarik lengan Refald dengan kuat supaya ia lebih dekat denganku dan memakaikan jaketku untuk menutupi tubuh kami berdua. Tentu saja Refald terkejut apalagi kami memakai selimut dari jaketku bersama-sama.
“Tapi aku bisa melakukan ini bersamamu.” Aku menatap Refald yang juga menatapku. “Benar apa yang kau katakan, kita memang harus saling menghangatkan, tapi jika sampai kau macam-macam aku tidak segan-segan menghajarmu meskipun kau adalah tunanganku sendiri!” suaraku terdengar seperti mengancam Refald.
Refald hanya tertegun menatapku untuk beberapa saat sampai akhirnya ia tertawa lumayan keras.
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu Honey, meski kondisi kita saat ini sangat menguntungkanku, kau tahu kenapa?”
Aku menggelengkan kepalaku sambil menatapnya penasaran.
“Because I love you ....” bisik Refald dekat di telingaku.
Aku menatap wajah tampan Refald tepat di manik mata bulenya.
Ini pertama kalinya si bodoh ini menyatakan cinta padaku. Inilah yang sedang aku tunggu selama ini. Kenapa baru sekarang mengatakannya, sih? Dasar bodoh!
Di saat aku merasa senang dan terlena dengan pernyataan cinta dari Refald, tiba-tiba saja aku melihat sekelebat bayangan putih melintas di depanku. Seketika aku terkejut dan terpaku.
“Itu ....” mataku terbelalak tak percaya. “Kunti?”
****
__ADS_1