
Kepergian Refald yang begitu mendadak menyisakan kepedihan yang mendalam dalam hatiku. Namun berbeda dengan diriku yang dulu, kini aku juga menjadi lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.
Mungkin jika aku yang dulu, akan terpuruk karena kesedihanku. Dan akan terus larut dalam kekecewaan yang tak berkesudahan seperti saat aku kehilangan ibuku.
Namun, diriku yang sekarang sudah berbeda, Refald mengajariku banyak hal tentang arti hidup yang sesungguhnya. Kita tidak bisa terus menerus mengenang masa lalu yang buruk, karena kita tidak bisa kembali hidup dimasa lalu, tapi kita harus tetap berjuang menghadapi dan menata masa depan agar menjadi lebih baik. Dengan begitu, kita bisa hidup bahagia tanpa harus menyakiti orang-orang yang kita sayangi.
Seperti yang terjadi padaku saat ini. Meski sekarang Refald sudah tidak ada lagi disisiku, kenangan indah bersamanya, akan selalu ada dihatiku. Perasaanku padanya juga tidak akan pernah hilang. Aku akan menyimpan rasa ini dan menaruhnya didalam hatiku lalu menguncinya dalam-dalam.
Hanya saja, kepergian Refald kali ini meninggalkan kesan yang sama seperti saat ia datang. Aku tetap menjadi selebritis dadakan. Bedanya, pada saat kedatangan Refald, mereka sangat membenciku karena hanya aku satu-satunya orang yang bisa dekat dengannya. Sedangkan kali ini, mereka bersikap sebaliknya, sangat senang dan puas karena akhirnya Refald meninggalkanku begitu saja. Bahkan sebagian besar dari mereka mengasihaniku karena mereka mengira aku telah dicampakkan dan dibuang begitu saja seperti sampah oleh Refald.
Yah....! Mau bagaimana lagi? Seperti yang pernah Refald katakan padaku, semua yang terjadi tidak bisa kucegah ataupun kuubah.
Aku sendiri juga tidak begitu peduli dengan apa yang orang-orang bilang tentangku. Mereka berhak menyampaikan pendapat dan pemikiran mereka sesuka hati, yang bisa kulakukan saat ini adalah menunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku bisa menjalani kehidupanku yang lebih baik dari sebelumnya, karena aku yang sekarang sudah berubah, dan itu berkat Refald.
“Apa sudah ada kabar dari Refald, Fey?” tanya Yua yang sudah mulai masuk sekolah dan beraktivitas seperti biasanya.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Sampai saat ini aku masih belum bisa menghubunginya. Ponsel yang ia berikan dulu, masih tetap ada padaku. Berulang kali aku mencoba meneleponnya berharap nomor Refald masih aktif. Tetapi hasilnya tetap nihil. Refald sama sekali tidak bisa dihubungi.
Aku menyimpan ponsel Refald sebagai kenangan terakhir darinya dan berharap suatu hari nanti ia kembali menghubungiku. Meski aku ragu ia akan melakukan hal itu, karena itu sangatlah tidak mungkin terjadi. Bisa saja saat ini, ia sudah bahagia dengan pasangannya. Mungkin juga, ia sudah menemukan seseorang yang ia cari, karena itulah ia pergi meninggalkan aku tanpa memberikan alasan yang jelas, bahkan tanpa mengucapkan apa-apa.
Pantas saja malam itu Refald lebih banyak diam dan berbeda dari biasanya. Ia pasti sudah merencanakan kepergiannya, dan sengaja tidak ingin mengatakannya padaku.
Cowok itu bagaikan hantu jelangkung yang datang tak diundang dan pergi tak diantar. Datang dan menghilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas.
“Ini sudah lima hari. Apa dia benar-benar sudah pergi?” tanya Yua lagi.
“Mungkin saja?” Jawabku lirih.
“Apa kau baik-baik saja, Fey?” sepertinya Yua sangat khawatir padaku.
__ADS_1
Aku mengerti Yua pasti mencemaskan aku, karena bagaimanapun juga, ia tahu seperti apa hubunganku dengan Refald. Bahkan ia menjadi saksi kunci ciuman kedua kami waktu itu.
“Tentu saja aku baik-baik saja Yua, kau tidak perlu khawatir seperti itu!” aku berusaha tersenyum bahagia di depan Yua. Meski sesungguhnya, dalam hati aku menangis.
“Lalu? Bagaimana dengan acara besok? Apakah tetap akan berjalan sesuai rencana?”
“Tentu saja,” jawabku singkat.
Aku bersyukur masih bisa melakukan tugasku dengan baik dalam mempersiapkan acara penting di organisasiku meski dalam kondisi patah hati. Namun, berkat kesibukanku, aku bisa melupakan kesedihanku. Aku sendiri tidak sadar kalau ini sudah hari kelima sejak Refald menghilang.
Hari pertama memang sangat berat bagiku, karena semua teman-temanku menggunjingku, mereka semua berpikir kalau aku dicampakkan oleh Refald. Kalau boleh jujur, mereka semua sempat membuatku tertekan, tapi aku berusaha tegar dan tetap cuek menghadapi cacian dan hinaan mereka.
Hari kedua, mereka sudah tidak lagi mengusikku, dan aku tetap menjalani kesibukanku menyiapkan kegiatan yang akan diadakan besok lusa. Hari ketiga, kehidupanku kembali normal seperti sudah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, aku masih terus datang ke rumah nenek untuk mengemasi barang-barangku dan memutuskan untuk tinggal lagi di rumah ibuku yang lama.
Awalnya nenek keberatan dan menginginkanku tetap tinggal bersamanya sampai aku kembali ke Jepang. Namun aku menolaknya, karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan teman-temanku seperti sebelumnya. Nenek tidak bisa mencegahku, ia menuruti apapun yang ingin kulakukan dengan syarat aku harus sering-sering mengunjunginya, dan aku menyetujui syarat itu.
Hari kelima, yaitu hari ini. Aku serasa terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Menyelesaikan tugas dan kewajibanku, dan juga mulai mempersiapkan masa depan yang akan kulakukan selanjutnya. Yaitu, kembali ke Jepang, tapi sebelum aku kembali, aku akan mengisi banyak kebahagiaan untuk semua teman-temanku yang selama ini setia berada disisiku dan menemaniku dalam keadaan apapun. Aku juga berniat akan menceritakan semua rahasiaku pada mereka sebelum aku pergi nanti.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Kami pulang bersama-sama seperti biasa. Hanya saja, kali ini agak sedikit berbeda. Nura yang biasanya selalu ceria sehingga sering menjadi bulan-bulanan kami, akhir-akhir ini menjadi agak lebih pendiam dari biasanya. Beberapa kali kami menanyakan apa yang terjadi, tapi Nura tidak pernah mau menjawabnya. Begitu juga dengan hari ini, ia lebih banyak diam dan suka melamun. Tidak seperti Nura yang biasanya.
“Ada apa dengannya? Apa dia kerasukan?” tanyaku pada Mia.
“Mungkin.” Mia memerhatikan Nura yang melamun saat kami naik angkutan umum bersama.
“Ternyata bukan cuma kau satu-satunya orang yang sedang patah hati di sini. Bedanya, kau terlihat baik, dan dia terlihat sangat buruk,” ucap Yua.
Aku mencerna kata-kata Yua. Dia benar, Nura sempat terpesona dengan Refald dan juga tertarik dengan Eric. Kini keduanya sudah tidak ada lagi di sini. Wajar kalau Nura jadi seperti ini.
“Tapi ... yang dekat dengan Refald itu kau kan, Fey? Kenapa jadi dia yang patah hati?" tanya Mia.
__ADS_1
Aku dan Yua mengangkat bahu masing-masing. Kami juga tidak tahu kenapa Nura terlalu mendramatisir kepergian Refald dan Eric seperti ini.
“Sepertinya, Nura bucin dengan Eric!” aku mengutarakan tebakanku.
“Apa?” Mia terkejut.
“Siapa Eric?” tanya Yua. Aku baru sadar kalau Yua belum tahu mengenai Eric, itu karena dia ada di rumah sakit dan baru pulang setelah Refald dan Eric pergi dari sini tanpa meninggalkan jejak.
“Dia adalah teman Refald, orang yang pernah kita lihat di rumah Mia saat dia menanyakan alamat padaku waktu itu.”
Yua mencoba untuk mengingat-ingat. “Oh cowok yang waktu itu? Jadi, namanya Eric?”
Aku mengangguk.
“Kalian semua pernah bertemu? Kenapa hanya aku saja yang belum?” Mia mencoba protes. “Aku jadi penasaran seperti apa wajah orang yang bernama Eric itu.”
“Sebaiknya tidak usah, daripada nanti kau bucin juga dengannya, sama seperti Nura saat ini. Kau cukup bucin dengan Rio saja!”ujarku, dan Mia tersipu malu mendengar kata-kataku.
“Apa kau di rumah seperti itu, Fey? Jika tidak ada kami?” tanya Yua. Ia menunjuk Nura yang nampak lesu dan berantakan dengan matanya yang seperti mata kuntilanak.
“Aku tidak akan jadi gila seperti dia hanya karena ditinggal cowok-cowok seperti mereka. Kalau disuruh memilih, aku lebih memilih kehilangan seribu pria seperti Refald dari pada harus kehilangan kalian!”ujarku jujur.
Yua dan Mia terharu dengan ucapanku. “Kau memang yang terbaik, Fey!” ucap Mia sambil mengacungkan jempolnya.
“Bagaimana kalau hari ini aku mentraktir kalian makan siang, karena besok kita akan bekerja keras untuk latihan dan persiapan terakhir acara kita,”usulku.
Yua dan Mia kompak setuju. Mereka terlihat sangat senang. Akupun juga ikut senang melihatnya. Mereka adalah teman-temanku yang berharga. Aku akan terus membuat mereka bahagia, sebagai balasanku karena mereka sudah setia bersamaku selama ini. Meski apa yang kuberikan pada mereka, tak bisa sebanding dengan apa yang mereka berikan padaku, bahkan jika harus kutukar dengan nyawaku. Karena berkat mereka juga, aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.
***
__ADS_1