
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa Refald sudah menungguku di depan kelasku. Banyak pasang mata memerhatikan tingkahnya saat menatap dan memperlakukanku. Aku akui, pandangan mata Refald tak pernah lepas dariku dan aku sendiri juga tidak mengerti kenapa dia seperti itu seolah tak pernah melihatku saja.
Namun, satu hal yang pasti dan sepertinya aku mulai narsis sepertinya, aku merasa Refald benar-benar jatuh cinta padaku. Aku sendiri juga tak bisa memungkiri bahwa ketampanan Refald mampu menghipnotisku untuk tidak berpaling darinya sedetikpun.
“Ceritakan padaku, kejutan seperti apa yang akan Refald tunjukkan padamu nanti, oke. Aku menunggu kabar darimu,” ujar Yua buru-buru mengemasi buku-bukunya karena di luar juga sudah ada Epank, sepertinya Refald juga sedang bicara pada pacar Yua sekarang meskipun sesekali ia melirik padaku.
“Ehm, pasti, aku akan meneleponmu nanti. Sampai ketemu lagi.” Aku berjalan terlebih dulu menghampiri Refald dan tanpa sengaja memergoki Via menatap Epank dengan tatapan penuh kebencian. Di saat semua teman-teman sibuk membereskan buku-bukunya supaya bisa cepat pulang ke rumah masing-masing, Via malah duduk santai dan memainkan pensilnya dengan wajah penuh amarah.
Sebenarnya aku tidak ingin curiga, tapi firasatku mengatakan akan ada hal yang buruk terjadi dan entah itu apa. Firasat ini mengingatkanku akan bayangan hitam yang tadi pagi sempat aku lihat.
Mungkin saja Refald tahu, aku akan menanyakannya nanti pada Refald soal bayangan hitam itu, batinku sambil berjalan keluar untuk menemui Refald yang sudah menungguku.
“Yua agak lama karena kakinya tadi keseleo, jalannya jadi agak pincang. Kau tidak mau membantunya?” tanyaku pada Epank.
“Benarkah? Bagaimana dia bisa pincang? Apa yang terjadi?” Epank memerhatikan Yua dari luar kelas. Pacarnya itu masih sibuk mengemasi buku-bukunya.
“Terjadi insiden kecil tadi saat kami berolahraga, ada yang memukulku dengan bola kasti dan tanpa sengaja aku menabrak Yua hingga dia jatuh. Kenapa kau tidak masuk ke dalam untuk membantunya?” saranku pada Epank.
“Aku malas bertemu dengan Via. Aku juga tidak ingin ada keributan lagi di sini.” Epank hanya bisa mencemaskan Yua dari sini.
“Mantanmu itu benar-benar mak Lampir. Dia sengaja menunggumu masuk ke dalam supaya dia bisa cari gara-gara dengan kalian. Ingin sekali aku becek-becek aja dia itu!”geramku.
Refald hanya tersenyum santai saat melihatku emosi. “Sudahlah Honey, kau jangan marah-marah terus, ayo kita pergi! Nanti kita terlambat.” Refald langsung menggandeng tanganku dan mengajakku pergi.
“Kami pergi dulu, jaga Yua untukku,” pamitku pada Epank.
“Ehm, selamat berkencan, jangan pulang malam-malam! Kata nenek itu berbahaya,” seru Epank.
“Itu kan, nenekmu! Kalau nenekku, nggak! Dia bebas!” jawabku sambil berlalu pergi. Samar-samar aku mendengar suara tawa Epank.
Hari-hariku masih terasa sangat berat ketika aku berjalan beriringan dengan Refald, selalu saja ada banyak pasang mata yang menatap benci dan iri padaku setiap kali Refald bersamaku. Gunjingan, cacian dan hinaan selau dituduhkan padaku. Tapi Refald selalu cuek dan memintaku untuk tidak lagi memedulikan mereka semua. Walaupun sesungguhnya, aku sangat tidak suka jika harus terus-terusan menjadi pusat perhatian banyak orang. Tapi, mau gimana lagi? Refald memang populer, dimanapun dia berada, pasti dia akan menjadi pusat perhatian.
Refald memboncengku dengan motor scoppyku. Tentu saja suara bising kecemburuan terdengar memekikkan telinga saat kami melintasi kerumunan siswa yang berlalu lalang melewati pintu gerbang sekolah.
“Huuuuuuuuuuuu,” begitulah kira-kira teriakan mereka saat kami melewatinya.
“Jangan dengarkan mereka. Abaikan seolah mereka tidak ada.” Refald berusaha menghiburku.
__ADS_1
Aku memeluk erat pinggang Refald karena ia mulai melaju kencang agar kami cepat sampai ke rumah. Samar-samar semakin gemparlah suara teriakan mereka semua ketika melihatku memeluk erat pinggang Refald.
Begitu kami sampai, aku masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sementara Refald entah hilang kemana. Aku yakin dia juga sedang berganti pakaian menggunakan kekuatannya.
“Aku jadi bingung, Refald ini hantu apa manusia, sih? Enak banget bisa ngilang datang dan pergi gitu aja,” gumamku pada diri sendiri.
Sambil menunggu Refald, aku mencoba mencari makanan di kulkas yang bisa di makan. Sepertinya ayahku sudah kembali ke Jepang untuk menyiapkan pernikahan kakakku yang akan dilangsungkan sebulan lagi, tepat setelah aku liburan semester.
“Kau sedang apa?” tiba-tiba saja Refald muncul dari balik punggungku dan mengagetkanku.
“Aku sedang mencari mangsa, kau mau? Aku membuat pasta instan yang aku dapat dari kulkas.”
“Ehm.” Refald memeluk pinggangku dari belakang dengan manja. “Aku mau, buatkan juga untukku.”
Aku tersenyum, pikiran soal keraguanku tentang Refald apakah dia hantu atau bukan terpatahkan. Dia bukan Edward, tapi Refald. Refald manusia sepertiku yang juga butuh makan dan minum. Tidak seperti Edward yang hanya bisa makan darah saja.
“Kau membandingkanku lagi dengan Edward?” lagi-lagi Refald membaca apa yang sedang aku pikirkan tentangnya.
“Bisakah kau tidak membaca pikiranku?” tanyaku dengan kesal.
“Tidak bisa! Aku suka membaca pikiranmu. Itu sudah seperti kebiasaan bagiku. Lagi pula, jika kau sampai memikirkan pria lain, aku akan langsung tahu.” Refald tersenyum dan melepas pelukannya dariku. Ia berdiri disampingku dan menatapku sambil memakan buah apel bekas gigitanku.
“Pikiranmu itu unik sekali, Honey. Kau itu polos sekali. Itulah kenapa aku selalu tertarik padamu. Kau seperti magnet bagiku.”
“Hah, dasar tukang gombal!”
Akhirnya, semuanya sudah matang dan kami makan siang bersama-sama menikmati pasta yang aku buat.
“Setelah ini kita akan pergi kemana? Apa perlu kita menghilang sepertimu? Dan juga siapa yang menikah?” tanyaku sedikit penasaran.
“Kau akan tahu setelah ini. Ayo kita pergi sekarang, kau sudah selesai?” Refald berdiri dari kursinya.
Aku mengangguk pelan. “Ehm, aku sudah selesai. Tapi ... tidak akan ada bahaya, kan?”
“Tidak.”
“Tidak terjadi apa-apa, kan?”
__ADS_1
“Tidak, kalaupun ada, aku siap melindungimu. Tidak ada yang perlu kau takutkan selama ada aku bersamamu.”
Aku menatap Refald yang juga menatapku. Kami pun masuk ke dalam mobil volvonya dan ia membawaku ke suatu tempat, menuju ke arah lokasi rumah nenekku.
“Bukankah ini ke arah rumah, nenek? Rumahmu juga ke arah sini, kan?” aku heran kenapa Refald malah membawaku kemari.
“Benar, tapi kita tidak pergi ke rumah nenekmu ataupun kerumahku.” Refald fokus mengemudikan mobilnya.
Apa yang dikatakan Refald memang benar. Walaupun jalan yang kami lewati searah dengan rumah nenekku dan rumahnya, kami tidak menuju ke sana. Ia membelokkan mobilnya ke arah kiri jalan dan menuju ke dalam hutan hingga sampai di sebuah jalan setapak yang tidak bisa dilewati mobil lagi. Refald turun dari mobil setelah ia memarkirkan mobilnya. Ia memberiku kode supaya ikut turun juga.
“Kenapa kita ke hutan lagi?” tanyaku masih sedikit trauma ketika aku menginjakkan kakiku di hutan ini.
“Pestanya ada di sini, Honey.” Refald memerhatikan sekeliling hutan.
“Hah? Siapa orang yang memilih menikah di tengah hutan? Ada-ada saja, pasti mereka menirukan konsep Edward-Bella saat mereka menikah di film braking down part 1. Dasar bucin film!” Refald menyentil pelan dahiku. “Aauwww, kenapa kau menyentilku?” tanyaku marah pada Refald.
“Singkirkan pemikiranmu soal Edward dan Bellamu itu! Aku bosan mendengarnya karena kau terus saja mengaitkan segala hal yang terjadi di sekitar kita dengan mereka. Yang bucin film bukan mereka, tapi kau! Kenapa malah menuduh yang lainnya. Kau benar-benar membuatku gemas!” Refald menatapku dengan tatapan aneh.
“Memangnya salah kalau aku mengaitkan semua ini dengan film Twilight? Kan emang mirip banget?” gumamku sambil cemberut meninggalkan Refald.
Tanpa diduga, Refald langsung menggendongku dan ia berlari secepat kilat masuk menerobos hutan rimba. Tentu saja aku kaget setengah mati saat Refald tiba-tiba bersikap seperti ini. Meski agak sedikit takut tapi aku sangat senang karena untuk kesekian kalinya, aku merasa bahwa aku seolah sedang menjadi Bella.
“Berhenti berpikiran bahwa kau adalah Bella,” gumam Refald sambil tersenyum simpul. Padahal ia sedang berlari di tengah hutan.
“Berhenti membaca pikiranku! Suka-suka aku mau berpikiran menjadi siapa, ini pikiranku dan kau tidak berhak melarang apa yang aku pikirkan.” kali ini aku tidak terima Refald terus saja mengomentari apa yang aku pikirkan.
“Terserah kau saja!” akhirnya Refald menyerah berkomentar tentang apa yang ada dalam otakku.
Di gendong Refald, sama persis seperti sedang naik wahana roller coaster. Seru dan menegangkan sekaligus sangat menyenangkan. Moment seperti inilah yang paling berkesan bagiku dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku mulai menyukai Refald yang menggendongku sambil berlari dengan kecepatan tinggi.
“Sudah sampai, lihatlah ke depan.” Refald menurunkanku perlahan dan aku langsung terkejut saat mengetahui ada di mana aku sekarang.
“Wuaaaahhhh, sugoiiiii!” gumamku sambil tersenyum senang melihat apa yang ada di depanku.
__ADS_1
****
mulai masuk action fantasi ... siap siap ...