Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 63 Misteri yang Terungkap 2


__ADS_3

Aku sungguh tidak menduga bahwa apa yang dikatakan Refald itu nyata. Aku mengira bahwa kisah-kisah para indigo hanya ada dalam televisi, film atau cerita fiksi belaka. Tidak kusangka Refald ternyata juga istimewa. Bahkan dari sebagian kisah yang ia ceritakan padaku, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar, dia adalah keturunan dari seorang putra raja.


“Refald, apakah kau ... adalah seorang indigo seperti Mbah Mijan dan Roy? Semacam itukah?”


Refald sedang berpikir sejenak, “Aku tidak sama dengan mereka,” jawabnya.


“Tapi kau selalu tahu apa yang akan menimpaku, karena pasukan dedemitmu yang memberitahumu, kan?”


“Benar, tapi hanya aku yang tahu, siapapun tidak boleh mengetahui bahwa aku tahu apa saja yang akan terjadi kepada mereka-mereka yang ingin kuketahui tentang apa yang akan menimpa mereka. Jika aku tidak ingin tahu maka pasukanku yang kau sebut dedemit itu tidak akan memberitahuku kecuali aku yang memintanya untuk memberitahu?” jelas Refald panjang lebar. “Sedangkan orang-orang yang kau sebut tadi, bisa memberitahu siapa saja tentang seseorang yang mereka ketahui tetapi tidak diketahui orang lain.”


Aku berusaha untuk mencerna semua penjelasan Refald yang benar-benar tidak masuk akal ini. “Bukankah itu sama saja?”


“Itu berbeda?”


“Bagiku sama saja, yang berbeda adalah kau bersikap seperti orang biasa padahal kau istimewa.”


Refald hanya menatapku tajam. “Karena aku tidak suka mencampuri urusan orang lain. Kecuali orang itu adalah kau.”


“Kalau memang seperti itu, kenapa pasukan dedemitmu itu tidak memberitahumu lebih awal bahwa aku adalah tunanganmu yang kau cari-cari selama ini?”


“Karena mereka semua juga tidak tahu seperti apa wajah tunanganku yang sekarang. Sudah hampir 8 tahun Honey, dan waktu segitu tidaklah cepat. Bagaimana bisa aku dan pasukanku mengenali wajahmu jika kita tidak pernah saling bertemu sebelumnya.”


“Kau benar, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat dan tanpa kita sadari aku sudah meninggalkan semuanya selama itu.” aku menjadi sangat sedih ketika mengingat masa-masa yang kelam akibat salah mengambil keputusan.


Seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku tidak akan mengalami hal-hal yang seperti ini. Namun, disisi lain, aku bahagia karena dengan berada di sini aku menyadari banyak hal, aku memiliki sahabat dan keluarga dari ibuku. Aku hanya berharap, semua kesalahan yang terjadi dimasa lalu sudah terhapus dan berganti dengan masa depan yang penuh dengan kebahagiaan.


Tanpa sadar, aku pun menangis ketika mengingat, ayah dan Sakura, kakak perempuanku. Mereka pasti juga sangat merindukanku saat ini.


“Kau menangis, Honey?” Refald mengusap air mataku yang mengalir membasahi pipiku. “Kenapa?” tanya Refald yang terlihat agak cemas.


“Tidak apa-apa, mungkin aku hanya terlalu lelah dan terlalu baper saja,” ujarku seraya tersenyum. Cepat-cepat aku mengusap air mataku.


Aku berusaha menguasai diriku agar tidak terlalu terlarut dalam perasaan bersalahku. Aku tidak ingin Refald marah atas kesalahanku dimasa lalu. Aku mencoba terus tersenyum dan memilih menyembunyikan apa yang aku rasakan saat ini.

__ADS_1


“Memang sejak kapan kau menyadari bahwa ada pasukan dedemit yang menjagamu?” aku mencoba mengalihkan suasana.


Refald menghela napas panjang melihat senyumku. “Sejak pertama kali aku jatuh ke jurang saat mendaki sebuah gunung bersalju, dan merekalah yang menyelamatkanku.”


Aku memang memikirkan ada beberapa hal yang memang saling berkaitan sejak pertama kali aku bertemu dengan Refald waktu itu. “Pantas saja Eric pernah mengatakan bahwa kau itu sangat kuat. Jadi, ini sebabnya. Aku sudah bisa memahami semua situasinya saat ini. Aku mulai mengerti sekarang,” ujarku pada Refald. “Jadi orang yang kau ajak bicara saat aku pingsan waktu itu adalah para dedemit itu, ehm ... maksudku, penjagamu?”


Refald mengernyitkan alisnya. “Ah ... benar, kau masih mengingatnya juga?” kali ini tatapan Refald berubah jadi hangat. Mungkin ia sudah menyadari bahwa aku sudah bisa menerima keistimewaan yang dimiliki Refald dan kembali bersikap biasa lagi.


“Aku terkejut, benar-benar terkejut, kau tahu? Aku masih belum bisa percaya semua ini.” aku mencoba terbuka pada Refald tentang fakta yang baru saja aku ketahui soal siapa Refald sebenarnya. “Pertama, fakta bahwa kau adalah tunanganku ... jelas-jelas aku sangat membencimu saat aku harus terpaksa bertunangan dengan orang asing sepertimu. Kedua, kejadian mistis yang selalu kualami ketika berada di sini yang sampai saat ini juga masih menjadi misteri. Ketiga, kau ... orang yang kucintai ternyata bisa melindungiku dari hal-hal mistis yang selama ini menghantuiku. Ini sangat tidak masuk akal, bukan? Dan hal-hal mistis itu, selalu saja membuatku takut.” aku merasa sedikit gemetar saat mengutarakan sedikit perasaanku.


“Tenanglah, Honey.” Refald langsung memelukku dengan erat untuk menenangkanku. “Aku sudah bilang, sebaiknya aku menceritakan ini setelah kita ke luar dari hutan ini, tapi kau terus saja memaksa. Sudah kuduga kau bakal terkejut.”


“Aku tidak tahu kalau ....” aku masih belum bisa berkata-kata.


“Tenanglah, tidak akan ada yang bisa mencelakai kita selama ada pasukanku di sini. Kita aman selama ada mereka. Jangan takut, oke! Apa kau ingin menemui mereka semua? Pasukan dedemitku?”


“Apa maksudmu? Bukankah aku tidak bisa melihat mereka? Bagaimana bisa aku menemui para dedemit itu?” tiba-tiba saja aku semakin bergidik ketakutan.


“Mereka bisa menampakkan diri pada orang yang mereka mau.”


“Kenapa? Mereka tidak akan menyakitimu, dan mereka juga tidak seburuk yang kau duga. Malah kau akan lebih takjub setelah melihat mereka.”


Tiba-tiba bayangan pocong tampan dan mbak kunti yang tadi menghantui mimpiku melintas dibenakku. “Tidak! Aku tidak mau. Aku sangat takut. Tidakkah kau tahu bahwa hanya mendengar jenis mereka saja aku sudah ketakutan, bagaimana bisa kau menawarkanku untuk bertemu langsung dengan pasukanmu? Kau ingin aku pingsan lagi, ha?” bibirku bergetar saat berbicara.


Refald tersenyum melihatku ketakutan. “Mereka tidak seseram itu, Honey ... sebaliknya, kau akan terpesona melihat mereka semua. Tapi terserah kau saja, cepat atau lambat kau pasti bisa melihat mereka nanti.”


Deg ... jantungku seakan berhenti mendengar kata-kata Refald.


“Apa maksudmu, Refald? Cepat atau lambat? Apanya?”


Refald menatapku dengan tatapan yang mencurigakan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku yang mulai panik.


“Ma ... mau apa, kau?”

__ADS_1


“Mau menjelaskan padamu mengenai pertanyaanmu tadi.” Wajah Refald semakin dekat dan aku refleks mundur menjauhinya.


Tatapan mata Refald kembali tajam penuh makna.


“Tapi, kau bisa menjelaskannya tanpa harus seperti ini, kan? Menjauhlah dariku! Aku merasa sangat tidak nyaman.” Aku memalingkan wajahku karena rona pipiku sudah memerah. Hampir saja Refald seolah mau menciumku.


“Aku suka rona merah pipimu yang seperti itu.” Refald tersenyum puas karena ternyata ia hanya mengerjaiku saja. Refald mencium pipiku dengan sangat lembut. “Belum saatnya menjelaskan kapan kau akan bisa melihat mereka meski mereka tak harus menampakkan diri. Hanya tinggal tunggu waktu saja,” ujarnya seraya tersenyum puas.


“Kenapa kau selalu membuatku penasaran?” aku mulai kesal dengan Refald.


“Karena kau sangat menggemaskan jika wajahmu terlihat bodoh seperti itu!”


Apa? Bodoh? Dasar cecunguk tukang mesum!


“Sebaiknya kau tidur lagi, Honey ... sini aku peluk.” Refald merentangkan tangannya untuk menyambutku.


Dasar gengster! Setelah mengerjaiku seperti itu, kini bersikap sok sweet?


“Aku tidak mau!” aku memalingkan wajahku.


“Kau ingin aku menciummu?”


“Kau ini mesum sekali?”


“Ayolah, Honey ... aku hanya bercanda oke, kau terlihat ketakutan. Padahal ada aku di sini. Apa yang kau takutkan?”


“Bagaimana kalau para hantu penghuni hutan ini memasuki mimpiku lagi jika aku tertidur?” tanyaku sedikit khawatir.


“Para pasukanku akan menjagamu. Kemarilah, tidurlah dipelukanku.” Refald langsung menarik tanganku tanpa izin dan mendekapku kedalam pelukannya dengan erat. “Tubuhmu hangat sekali, Honey. Jangan terlalu khawatir, kita harus tidur malam ini karena besok kita akan melanjutkan perjalanan,” ujar Refald dengan lembut.


Awalnya aku protes, tapi pelukannya membuatku tenang dan nyaman. “Kau benar, aku sangat lelah, dan mulai mengantuk. Tidak bisakah kau memerintahkan pasukanmu untuk membawa kita pergi dari sini dengan memakai jurus teleportasi?” aku mulai berbicara melantur dipelukan Refald.


Refald hanya tersenyum. “Kau pikir ini dunia naruto apa? Pasukanku tidak bisa melakukan hal semacam itu, mereka hanya bertugas menjaga dan melindungi kita dari bahaya. Mereka tidak boleh memakai kekuatan mereka seenaknya, karena itu akan menyalahi takdir yang sudah digariskan untuk kita,” terang Refald. “Sudahlah jangan melantur yang bukan-bukan lagi. Tidurlah yang nyenyak, Honey ... kau aman bersamaku.”

__ADS_1


Aku memeluk erat tubuh Refald dan mulai tertidur lelap tanpa mimpi.


****


__ADS_2