
Leo menemukan sapu tangan putih Shena yang sempat ia lihat karena Shena sering menggunakannya untuk mengusap wajahnya ketika berkeringat. Cowok itu mengamati sekitar tempat sepi ini tapi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan dimanapun. Perkampungan ini terlalu sepi untuk ditinggali sekelompok makhluk hidup. Tidak ada anak kecil, jarang ada wanita dan rata-rata semuanya adalah pria. Kalaupun ada wanita, itupun usianya sudah renta dan hanya tinggal menunggu giliran cabut nyawa. Dengan kata lain, kampung ini hampir saja punah.
“Kampung apa ini? Aneh sekali? Kau di mana, Shena?” gumam Leo masih sambil mencari-cari Shena sampai akhirnya ia tiba di pinggiran hutan yang sempat Leo dan Shena lewati tadi siang.
Leo melihat ada sebuah mobil volvo silver yang tidak asing lagi bagi Leo. Ia pun bergegas mendekati mobil itu dan betapa terkejutnya Leo tiba-tiba Refald mendadak muncul dihadapannya.
“Haaah! Siapa kau!” bentak Leo karena tidak bisa langsung mengenali kakaknya sendiri. “Aadaow! Kenapa kau menjitakku?” Leo berteriak semakin kencang karena kesal tiba-tiba saja dijitak.
“Aku kakakmu, boodoh! Apa yang kau lakukan di sini?” Refald balas membentak.
Leo yang tadinya kesal menjadi lega kerena ternyata, ia bertemu Refald di tempat ini. “Aku sedang mencari Shena, ia hilang tiba-tiba dan aku hanya menemukan saputangan ini.” Leo menunjukkan saputangan putih milik Shena pada Refald.
Sejenak Refald memerhatikan saputangan putih itu dan memejamkan matanya. Ia bisa melihat kejadian yang menimpa Shena saat ia menyentuh saputangan milik Shena. “Gawat!” ujar Refald seketika. “Kalian semua ayo kita pergi ke istana Gengishkan, beraninya mereka menculik pengantinku dan calon adik iparku!” Refald bicara pada pasukan dedemitnya sambil *******-***** sapu tangan Shena.
“Apa?” seru Leo. “Shena ... dia ... diculik? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Leo terkejut dan juga shock. “Siapa yang berani menculik wanitaku, Kak? Katakan padaku!” teriak Leo dengan penuh amarah tak terkendali.
__ADS_1
“Kembalilah ke perkemahanmu! Biar urusan ini, aku yang mengatasinya. Akan kubawakan Shena padamu dalam keadaan selamat. Aku janji.” Refald hendak pergi bersama pasukannya tapi dicegah oleh Leo.
“Aku ikut!” cetus Leo.
“Tidak bisa!” hardik Refald. “Mereka semua bukan manusia yang bisa kau hajar dengan kekuatanmu, mereka juga tidak akan mempan dengan pelurumu! Mereka bukan penjahat ataupun mafia. Kau tidak bisa bertarung dengan mereka. Hanya aku yang bisa melawan mereka. Kembalilah! Ini sangat berbahaya. Kau tidak boleh mati sia-sia di sini. Percayalah padaku.” Refald menepuk pelan bahu adiknya yang terlihat sangat cemas.
“Aku tidak bisa tinggal diam dan duduk saja sementara wanita yang kucintai dalam bahaya besar. Sama halnya seperti dirimu yang tidak mungkin hanya diam saja melihat Fey diculik oleh makhluk astral yang kau bilang itu. Apapun yang terjadi, biarkan aku ikut denganmu. Akulah yang menyebabkan Shena seperti ini, sebelum ia pergi, aku bertengkar dengannya karena melindungi jati dirimu dan kakak ipar. Aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin melindunginya, tolong ajak aku juga, Kak. Aku janji, akan hati-hati dan hanya fokus pada keselamatan Shena saja. Kau bisa konsentrasi penuh pada musuhmu itu tanpa perlu mengkhawatirkan aku. Aku mohon, biarkan aku ikut. Kau tahu aku bisa bertindak nekat jika kau tidak mengajakku bersamamu!” Leo terpaksa sedikit mengancam kakaknya supaya keinginannya dikabulkan.
Refald hanya menghela napas panjang mendengar rengekan Leo. Disisi lain, ia juga sudah kehabisan waktu. Tidak ada jalan lain selain menuruti kemauan Leo untuk ikut bersamanya menyelamatkan orang yang mereka cintai.
“Baik yang mulia,” ujar seluruh pasukan Refald secara bersamaan.
“Leo,” tukas Refald pada Leo sebelum keduanya beraksi. “Begitu kau mendapatkan Shena. Jangan pernah melepas genggamannya walau apapun yang terjadi. Kau harus ingat kata-kataku ini, jika sampai tangan kalian terlepas, maka kalian berdua akan mati!” ujar Refald dengan tatapan yang menyeramkan. “Ah satu lagi, akan ada hal luar biasa yang terjadi hari ini. Kau harus janji untuk tetap kuat dan tegar melihat semuanya dan jangan lakukan apapun sampai semuanya berakhir dengan sendirinya. Kau juga harus kuatkan Shena, jangan sampai ia bertindak gegabah walau apa yang kalian lihat nanti akan sangat terasa menyakitkan.” Refald menatap tajam penuh makna pada Leo.
Kata-kata Refald sempat membuat Leo tertegun. Selama hidupnya bersama dengan Refald, kakaknya itu tak pernah semenyeramkan ini. Baru kali ini Leo merasa, ucapan Refald bagaikan bom atom yang siap meledak kapan saja. Maknanya begitu kuat dan menakutkan, tapi Leo berusaha memahami situasi genting ini. Sekarang yang terpenting baginya adalah keselamatan Shena. Untuk hal lainnya, Leo akan berusaha mengikuti apa yang disarankan kakaknya yang memang luar biasa dan berbeda dengan manusia pada umumnya.
__ADS_1
“Walau aku tidak tahu maksud dari kata-katamu, aku akan melakukan semua yang kau sarankan asal aku bisa menyelamatkan Shena.” Leopun membalas tatapan mata kakaknya sebagai tanda kalau ia bersungguh-sungguh.
“Baguslah, kau sudah dewasa sekarang. Kalau begitu, ayo! Ikuti aku!” ada senyuman kecil di sudut bibir Refald saat mengatakan itu pada Leo.
Meski situasinya genting dan berbahaya untuk ukuran manusia biasa seperti Leo, Refald merasa bangga karena sebagai laki-laki, adik kecilnya yang sudah mulai beranjak dewasa itu tetap bersedia bertanggung jawab penuh pada wanita yang sudah ditakdirkan menjadi pasangan hidupnya walau apapun yang terjadi.
Dalam sekejap, keduanya berjalan beriringan melintasi perbatasan ruang dan waktu menuju dimensi lain dimana para kekasih-kekasih mereka sedang disandera oleh para makhluk astral tak kasat mata.
BERSAMBUNG
***
Wah Refald ma Leo mau ngamuk nih ... sabar ya ..akuh masih nulis kelanjutannya ...
__ADS_1