Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 89 Pesona Refald


__ADS_3

Pelajaran selanjutnya yang ada dikelasku adalah olahraga, kami semua disuruh guru olah raga kami pergi ke halaman belakang untuk beraktivitas di sana. Ternyata di lapangan basket, sudah ada siswa-siswa dari kelas Refald sedang bermain basket di lapangan. Pantas saja suasana sangat ramai dan banyak sekali cewek-cewek pada keluar kelas hanya untuk menyaksikan aksi Refald yang super duper keren saat ia bermain basket bersama dengan teman-temannya.


Kalau dalam situasi seperti ini, Refald tidak menggunakan kekuatannya, ia menjadi laki-laki normal seperti yang lainnya. Namun, tetap saja ia sungguh terlihat sangat keren. Pesona Refald saat menggunakan kekuatan dan tidak, sama sekali tak berubah. Dan aku adalah orang paling beruntung karena menjadi wanita yang paling dicintai oleh seorang Refald.


"Eh, Fey. Kau tidak cemburu? Semua siswi di sekolah ini mengidolakan kekasihmu?" tanya Yua saat kami berjalan menuju halaman belakang sekolah.


"Tidak Yua, karena aku tahu ... Refald hanya mencintaiku. Aku adalah wanita terpilih yang dipilih khusus untuk mendampinginya meskipun aku tidak begitu mengerti alasannya. Yang jelas, aku sangat bahagia Yua. Karena akhirnya aku tahu, betapa besarnya cinta Refald untukku. Tidak ada alasan bagiku untuk meragukan ketulusan cintanya padaku."


"Cieee ... so sweetnya ... padahal kemarin-kemarin berantem mulu," goda Yua. Akupun Hana tersenyum dan mulai menatap Refald yang sedang fokus bermain basket di lapangan.


Disaat semua siswi di sekolah ini berlomba-lomba menyaksikan aksi Refald saat bermain basket, ada beberapa kelas yang apes karena ruangannya sedang dimasuki guru killer saat *** sedang berlangsung. Semua siswi yang sedang belajar di kelas tersebut hanya bisa mendengar suara sorak sorai para kaum hawa saat Refald berhasil memasukkan setiap bola yang ia lempar ke dalam ring tanpa ada yang meleset sekalipun.


Bahkan tak sedikit dari mereka, ada yang nekat izin keluar dengan berbagai macam alasan agar bisa mengintip Refald bermain basket. Namun, saat mereka ketahuan, mereka harus mendapat hukuman dengan disuruh push up atau skotjam berkali-kali. Kasihan sekali.


Aku geli melihat pemandangan banyaknya siswi yang jadi bucin dengan Refald. Disekolah lain, mungkin yang sering mendapat hukuman dari para guru adalah siswa cowok badung-badung dan banyak tingkah. Tapi di sini sebaliknya, kebanyakan yang sering mendapat hukuman adalah para siswinya karena sering melanggar peraturan sekolah dengan bolos keluar kelas hanya demi bisa melihat performa Refald yang paripurna.


Tidak bisa dipungkiri, pesona Refald memang luar biasa, apalagi ia juga bukan manusia biasa, bagiku. Refald adalah Edwardku di dunia nyata. Bedanya, Refald bukanlah vampir si pemakan darah. Melainkan manusia super pelindungku.


Refald berhenti bermain basket saat ia melihatku datang. Ia melempar bola ke arah temannya dan berlari kecil menghampiriku. Tentu saja apa yang dilakukan Refald membuat kaum hawa yang tadinya terpesona padanya mendadak jadi benci padaku saat tahu, idola mereka berhenti bermain basket hanya untuk menemuiku. Kebetulan aku membawa handuk kecilku yang selalu aku siapkan ketika aku ada pelajaran olah raga yang biasa kugunakan mengusap peluhku jika aku berkeringat.


“Hai, Honey. Hai, Yua!” sapa Refald dan langsung mengernyitkan alisnya saat Yua tiba-tiba saja berlari menjauh karena takut melihat Refald.


“Hai,” jawabku sambil tersenyum senang.


“Kenapa Yua?” tanya Refald pura-pura tidak tahu.


“Jangan pura-pura tidak tahu, dia ketakutan melihatmu.”

__ADS_1


“Disaat semua orang tergila-gila padaku, cuma temanmu itu yang takut melihatku. Memangnya aku hantu, apa?” Refald menyeringai seolah sedang menertawai dirinya sendiri.


“Kamu rajanya hantu, jelas saja dia takut. Jika saja wajahmu tidak setampan ini mungkin aku juga akan ketakutan melihatmu.” Aku menggoda Refald yang langsung menatap tajam ke arahku dan membuatku serius, jadi takut sungguhan padanya. “Ehm, ini ... pakailah handuk ini untuk mengusap keringatmu agar fresh lagi.” Aku menyodorkan handuk putih itu pada Refald untuk mengalihkan perhatian.


“Usapkan,” pinta Refald manja. Ia menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


“Hah?” aku terkejut tiba-tiba saja wajah Refald semakin dekat. Ada banyak orang sedang menyaksikan kami berdua tapi aku juga tidak bisa membantah apa yang diinginkan Refald.


Pelan-pelan, aku mengusap lembut peluh yang memenuhi wajah tampannya, tentu saja dengan degup jantung yang berdetak dengan sangat kencang. Aku yakin, Refald pasti bisa mendengar suara detak jantungku karena daritadi, ia senyam-senyum sendiri.


“Sudah, aku harus berkumpul ke teman-temanku, jika tidak aku bisa ketinggalan pelajaran.” Aku hendak pergi meninggalkan Refald tapi tanganku ditahan olehnya. "Refald, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!" pintaku pada Refald meskipun aku tahu itu hanya akan sia-sia.


“Nanti ayo ikut aku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.


“Kalau kau ingin mempertemukan aku dengan pasukan dedemitmu, aku tidak mau,” jawabku jutek.


“Baiklah, sampai nanti, bye!” aku pun tak bisa menolak apapun yang diinginkan Refald.


“I love you.” Refald tersenyum lagi padaku dan membuat semua wanita yang mendengar pembicaraan kami langsung iri dan sirik menatapku.


Aku sendiri sudah tidak peduli lagi dengan tatapan membunuh mereka. Yang terpenting bagiku saat ini, aku bahagia bersama dengan Refald. Aku juga yakin Refald pasti akan melindungiku dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku.


Bodo amat dengan semua wanita yang memandang iri padaku. Aku bukan lagi aku yang dulu .. aku yang sekarang jauh lebih kuat dan tegar, serta tak gentar apalagi jika ada yang mencoba menindasku.


Kalau dulu, mungkin aku diam saja karena aku. berpikir, toh aku bajak meninggalkan negara ini secepatnya, tapi sekarang duniaku berubah sejak hadirnya Refald dihidupku. Aku ... bukan wanita lebah dan aku adalah kekasih Refald.


"Honey," bisik Refald tiba-tiba disampingku.

__ADS_1


"Astaga Refald, kau bikin aku kaget saja. Ada apa?" tanyaku terkejut karena mendadak Refald berjalan disampingku. Tadinya aku pikir dia sudah kembali bermain basket.


"Kau mau main basket bersamaku?" tanya Refald.


"Apa kau sudah gila? Nggak!" tolakku mentah-mentah.


Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin mengundang hal-hal yang tidak diinginkan jika aku dan Refald tampil terlalu mencolok di sekolah meskipun semua orang tahu seperti hubungan kami saat ini. Namun, tetap saja aku tak ingin konsentrasiku belajar terganggu hanya karena hebohnya hubunganku dengan Refald.


"Ya sudah kalau nggak mau ... tapi setidaknya kau harus membalas kata-kataku, jika tidak aku akan terus menggangumu.


"I Love You ... kau puas," ujarku sambil berlalu pergi.


"I Love you too Honey. Kau selalu yang terbaik," gumamnya senang.


***



Refald



Fey


jangan lupa like, vote, komentar dan rate bintang limanya ya .. terimakasih .. love you all


semoga suka dengan kisah fantasi Refald dan Fey

__ADS_1


__ADS_2