Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 76 Berita Bahagia


__ADS_3

Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini, rasanya semakin sulit membedakan antara dunia nyata dan dunia lain. Refald terlihat tenang saat menuruni tangga dan berjalan mendekat ke arah kami semua.


Pesonanya tak pernah pudar membuatku semakin jatuh cinta pada Refald terlepas dari segala hal yang melekat didirinya. Namun, sebisa mungkin aku menekan perasaanku jangan sampai ada yang tahu kalau aku begitu terpikat pada Refald.


“Bagaimana kalian berdua bisa ... dalam ... satu rumah?” ayahku sangat terkejut melihat Refald yang terlihat rapi dan bersih. Sedangkan nenekku hanya bersikap biasa bahkan ia terlihat sangat tenang.


“Selamat malam, Nek ... konbanwa Otoosan (selamat malam, Ayah).” Refald membungkukkan badannya saat menyapa ayahku. Ini pertama kalinya aku melihat Refald bersikap formal seperti itu.


“Oooo ... cah edan! (dasar anak ingusan!)” Bagaimana caramu menjaga cucuku, ha? Lihat dia? Dia terlihat semakin kurus. Kau dulu janji pada nenek akan menjaga dan melindunginya, kenapa kau malah membuat dia jadi kurus kering begini dalam satu minggu, ha?” aku terkejut karena nenek memukul-mukuli bahu Refald secara tiba-tiba.


Aku dan ayah berusaha menghentikan aksi nenek. Aku sama sekali tidak menyangka, di balik sikap diamnya nenek, ternyata ia menyimpan kekesalan juga dan sekarang dilampiaskan pada Refald yang hanya diam dan pasrah menerima serangan bertubi-tubi dari nenek.


“Hentikan, Nek .. Refald sudah menjagaku dengan baik, jika dia tidak datang tepat waktu mungkin aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan kalian lagi, karena Refaldlah aku bisa selamat dari bencana dan insiden mengerikan itu, ia adalah malaikat penyelamatku, Nek. Jangan pukuli dia ... pukul saja aku jika nenek kesal padaku,” rengekku sambil menahan tangan nenek yang hendak menyerang Refald lagi.


Nenek dan ayahku agak terkejut mendengar penjelasanku mereka bahkan saling pandang satu sama lain. “Apa aku tidak salah dengar, Shiyuri?” tanya ayah dengan ekspresi tidak percaya. “Bukankah waktu itu kau bilang ... tunggu, apa ... kalian berdua ... sekarang ... sudah ....”


“Sudah apa, Ayah?” tanyaku bingung.


“Katakan apa saja yang kalian lakukan di hutan selama kalian berdua menghilang?” ayah bertanya penuh selidik, ia juga terlihat panik dan kelimpukan.


“Apa maksud pertanyaan Ayah ini? apa Ayah menuduhku yang bukan-bukan?” aku mulai berpikir bahwa ayah sudah salah paham pada kami berdua.


“Shiyuri, ayah tahu kalian memang sudah bertunangan dan hanya tinggal menunggu waktu saja kapan pernikahan kalian dilangsungkan. Tapi, sikapmu ini berbeda dari sebelumnya, ayah jadi khawatir mengenai apa yang terjadi selama kalian berdua berada di dalam hutan, apalagi kalian hanya berdua saja di sana.” Ayah memegang kedua pundakku entah untuk meyakinkanku atau meyakinkan dirinya sendiri.


Kami tidak berdua Ayah, ada banyak pasukan dedemit yang menemani dan mengawal kami, sayang saja aku tidak bisa melihat mereka, lebih sayang lagi aku tidak bisa menjelaskan ini semua kepada Ayah.

__ADS_1


Aku mulai paham perasaan ayah yang mengkhawatirkan keadaan putrinya.


“Otoosan.” Refald mulai berbicara. “Kami berdua tahu batasan kami, kami juga punya harga diri. Kami sangat tahu mana yang harus kami lakukan dan tidak boleh dilakukan. Jangan khawatir, Otoosan. Aku akan menjaga Shiyuri sampai kami benar-benar sudah resmi.” Refald menatap mataku dengan mesra. Ingin sekali aku berlari memeluknya tetapi aku tidak bisa melakukannya di depan ayah dan nenekku.


Aku menghela napas panjang dan menjelaskan secara rinci detail kronologi kejadian yang kami lakukan selama kami berada di dalam hutan. Dimulai dari insiden banjir hingga aku jatuh ke jurang minus dua sejoli yang berbuat mesum dan hal-hal mistis lainnya terutama para dedemit pasukan Refald.


Setelah mendengar penjelasanku, ayahku langsung memeluk Refald dan berterima kasih padanya, sedangkan nenekku masih saja memukulnya dengan keras.


“Dasar kau ini! Kalian berdua sungguh membuat kami khawatir saja.” nenek memelukku sekali lagi dan memastikan keadaanku.


“Sekarang bagaimana? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ayah.


“Aku baik-baik saja Ayah, berkat Refald,” jelasku. Refald hanya diam menatapku.


“Baiklah, kalau begitu, kalian memang harus banyak-banyak istirahat, besok aku akan menyuruh dokter kenalan ayah untuk memeriksa kondisi kalian berdua. Sementara ini Refald, tinggalah di sini dan segera telepon ayahmu, sebab beliau terus saja menanyakanmu. Kau harus menghubungi dia secepatnya, aku juga akan membantumu menjelaskannya. Lusa dia dan seluruh keluargamu akan datang kemari.” Ayah mengambil ponsel dari sakunya dan menyerahkannya pada Refald.


Mengenai ponsel, aku juga baru ingat kalau ponselku sempat hilang saat aku jatuh ke jurang. Aku bahkan tidak tahu kapan ponsel itu raib. Aku juga tidak melihat Refald membawa ponsel saat menyelamatkanku.


Refald menjauh untuk menghubungi ayah dan keluarganya, tapi ia kembali dan menyerahkan ponsel itu padaku. “Mereka ingin bicara dengan menantunya,” ucap Refald sambil menatapku.


Aku mengambil ponsel itu dengan ragu, lalu menempelkannya di telingaku. “Moshi moshi ... konbanwa .... (halo, selamat malam)” aku gugup saat menyapa, apalagi pada calon mertuaku sendiri.


“Moshi moshi Shiyuri chan ....” terdengar suara bariton yang menghangatkan di seberang sana. “Akhirnya kita bisa saling bicara, aku tidak sabar ingin sekali bertemu denganmu dan ayahmu. Aku sangat terkejut mendengar kabar kalian berdua menghilang, tapi syukurlah bocah sontoloyo itu bisa menjagamu dengan baik. Tunggu apa? Aku sedang bicara dengan menantuku ...” awalnya aku bingung mendengar bahasa Ayah Refald yang sepertinya sangat mengerti bahasa jawa. “Maaf Yuri ... ibu mertuamu berebut ponsel denganku, akan aku berikan ponsel ini padanya supaya dia tidak terus menggangguku.”


“Baik, ayah ... “ aku sedikit geli membayangkan tingkah konyol calon mertuaku ini, tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

__ADS_1


“Halooo, Sayang ... senang akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Aku senang akhirnya kalian berdua bisa kembali bersama. Kami akan berkemas malam ini juga sehingga bisa langsung pergi ke sana. Diam kau! Dan turutin saja.” teriakan ibu mertua yang tidak kuhafal namanya sangat memekikkan telingaku. “Maaf, Sayang ... ayah mertuamu membuat ibumu ini kesal. Oke sekarang istirahatlah, sampai jumpa lagi, Sayang ... bye bye.”


“Ja mata, Okaasan (sampai jumpa, Ibu).” Aku menutup teleponnya karena sepertinya ibu mertuaku sedang sibuk berdebat dengan ayah mertuaku. Aku menyerahkan kembali ponsel ayah yang ia pinjamkan padaku.


“Sebenarnya Ayah ingin bicara banyak hal padamu, Sayang, tapi ini sudah larut dan sebaiknya kalian pergi tidur.” Ayah mencium keningku. “Pergilah tidur, oyasumi (selamat tidur).” Ayah beralih ke nenek, “Ayo Ibu, aku antar ke kamar Ibu.” Ayah menggamit lengan nenek dan naik ke atas berdua meninggalkan kami.


“Tunggu, Ayah, lalu Refald tidur di mana? Kamar yang bisa di pakai hanya ada tiga, sedangkan kita ada empat orang?” entah mengapa aku punya firasat tidak enak di sini.


“Tentu saja kalian tidur sekamar, kami percaya kalian bisa menahan hasrat kalian masing-masing, kan?” nenek tersenyum mencurigakan, dan ayah yang tadinya khawatir, jadi berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat percaya sepenuhnya pada si mesum Refald ini.


“Maksud kalian aku dan Refald sekamar? Apa kalian serius? Kami tidak bisa ....”


“Apa terjadi sesuatu? Sebelumnya kalian fine fine saja kan? Apa ayah melewatkan sesuatu?” ayah memotong kata-kataku dan mencurigai kami lagi.


“Ti-tidak Ayah, tidak ada yang terjadi, sungguh, tapi ini kan bukan di hutan dan kami tidak lagi berdua, bukankah sebaiknya kita tidur terpisah?” aku mencoba bernegosiasi dengan ayah.


“Aku percaya Refald, ia bisa menjagamu dengan baik.” Ayah beralih menatap Refald, “Aku serahkan Shiyuri padamu, Refald.” Ayah berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi padaku. Aku jadi tidak percaya, sihir apa yang digunakan Refald sehingga ia bisa mengubah haluan ayahku.


“Hai, (baik).” Refald menganggukkan kepalanya mirip orang jepang. Aku jadi bingung melihat situasi baru yang lagi-lagi terasa aneh ini, tadinya aku kira nenek atau ayahlah yang akan tidur denganku, tapi kenapa malah Ayah menyuruh Refald sekamar denganku? Haisssh menyebalkan sekali!


“Otousan,” panggilku sebelum ayah menghilang dari pandanganku. “Bagaimana dengan Sakura? Apa dia baik-baik saja?” tiba-tiba saja aku teringat pada kakakku, aku sangat merindukannya. Aku berharap aku bisa segera melihatnya lagi setelah sekian lama kami tidak bertemu.


“Dia ... akan segera menikah!” Ayah berlalu pergi meninggalkan aku.


Apa? Sakura akan menikah? Tapi, harusnya dia masih duduk di bangku kuliah, apa aku salah kira? Bagaimana mungkin Sakura menikah tanpa memberitahuku?

__ADS_1


****


__ADS_2