Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 25 Kejutan


__ADS_3

Aku masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan yang dibawakan Refald saat dia datang kemari. Terus terang, dengan kejadian tadi, aku jadi canggung sendiri jika berhadapan dengan Yua. Untungnya Yua bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain sehingga rasa canggung itu bisa menghilang dengan sendirinya. Sebab itulah dia menjadi sahabat terbaikku yang paling memahamiku.


“Makanlah Yua, Sejak tadi kau belum makan,” ucapku saat sampai didepan pintu kamar. Aku memberikan semua makanan yang kubawa untuk Yua.


Gadis itu bangun dari tempat tidurnya dan membuka makanan yang kuberikan. “Kau pasti sangat senang hari ini. Sekarang aku tahu ... kau menyukainya juga, kalian saling mencintai,” tukas Yua sambil tersenyum. Aku tahu dia mencoba menggodaku.


“Bukan begitu, Yua ... kejadian tadi begitu cepat, semua tidak seperti yang kau pikirkan.”


“Fey, kita sudah bukan anak kecil lagi. Tanpa bilang pun, mata dan bahasa tubuh kalian itu sudah menunjukkan bahwa kalian saling mencintai, kau tidak bisa memungkirinya.”


Aku terdiam sejenak. “Kau benar, tapi ... kami tidak mungkin bisa bersama.”


Yua mengernyitkan dahinya, “Kenapa?”


“Karena ... dia sudah punya orang lain yang dia suka.”


Yua terkejut. “Bagaimana bisa dia menyukai orang lain sementara dia juga menyukaimu? Apa maksudmu?”


Aku menjelaskan pada Yua sedikit tentang apa yang kami bicarakan saat di Vila waktu itu. Alasan ia datang kemari dan mengapa ia juga masih tinggal di sini. Minus dia menyuruhku jatuh cinta padanya. Yua langsung tertegun mendengar penjelasanku.


“Kalau begitu ... apa cintamu bertepuk sebelah tangan? Tapi ia baru saja menciummu, bagaimana mungkin ia tidak menyukaimu?”


Aku galau saat ini, aku tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Yua.


“Kau tenang saja Yua, Refald tidak akan pernah menyakitiku. Dia sudah berjanji padaku. Jadi, jangan khawatir.”


 


Yua mengangguk pelan. “Kenapa kau mengikuti jejakku, Fey. Kau mencintai orang yang salah. Hanya saja ... orang yang kau cintai membalas perasaanmu, sedangkan aku ... bertepuk sebelah tangan.”


Aku menatap sedih wajah Yua. “Cintamu juga pasti akan terbalas Yua, kau tunggu saja.” ucapku penuh optimis.


Yua hanya diam, begitu juga denganku. Kami memutuskan tidur lebih awal karena besok kami harus berangkat pagi-pagi untuk acara survey yang lokasinya sekitar tiga kilometer dari rumahku.


Hubunganku dengan Refald memang harus dipertimbangkan kembali. Tapi tidak untuk saat ini, karena aku ingin fokus dulu pada kegiatan yang sebentar lagi diadakan. Aku tidak mau kegiatan ini menjadi kacau hanya karena masalah pribadiku. Jadi, aku akan membahas masalah ini dengan Refald begitu kegiatan ini selesai.


Aku masih teringat kata-kata Refald yang ia ucapkan sebelum ia pamit pulang tadi.


“Terima kasih, Fey. Kau memberikan kebahagiaan yang lebih dari cukup untukku. Katakan pada Yua bahwa ia tidak perlu khawatir lagi padamu karena mulai sekarang, akulah yang akan menjaga dan melindungimu dan mulai hari ini juga, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.”


Refald mengecup keningku saat ia hendak beranjak pulang, lalu menggenggam erat tanganku. “Jam berapa acara besok dimulai!”


Aku terkejut Refald berubah mendadak jadi seromantis ini. Kami juga saling memandang dengan perasaan kami masing-masing.

__ADS_1


“Jam tujuh kami semua berkumpul di sini dan berangkat ke lokasi bersama-sama,”jawabku.


“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu.” Refald tersenyum manis dan masuk ke dalam mobil volvonya lalu pergi begitu saja. Aku melihatnya sampai mobil itu menghilang dari pandanganku.


“Paling tidak, harusnya ia mengucapkan selamat malam atau tidurlah dengan nyenyak. Dasar bodoh!” gumamku.


Aku berbalik dan hendak masuk kedalam rumah. Tiba-tiba saja, ada sms masuk dari Refald.


Refald:


[selamat malam, have nice dream!]


Aku tersenyum membaca sms itu, seolah olah ia tahu apa yang kupikirkan saat ini. “Dia canggih sekali, Bisa tahu apa yang kupikirkan.”


***


Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk berangkat. Kami sudah sepakat untuk berkumpul dirumahku, karena lokasinya lebih dekat darisini dibandingkan dengan tempat lain.


Tepat pukul 07.00 pagi, satu persatu teman-temanku yang terlibat untuk mengikuti acara survey hutan sudah datang. Begitu juga dengan Epank, dan satu lagi tamu yang tidak diundang, tamu itu adalah Refald. Pagi-pagi sekali ia mengagetkanku dengan kedatangannya.


“Kenapa kau ada di sini?” tanyaku saat membukakan pintu untuknya.


“Kenapa? Kau tidak suka pacarmu datang?”Refald malah balik bertanya.


“Tentu saja menemanimu!”


“Dengan tangan seperti itu? Kau hanya akan merepotkan kami saja. Kau pikir kami akan pergi piknik? Jalanan di hutan itu berbahaya. Bagaimana kalau tanganmu terluka lagi?”


“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja!” ia menyeringai. Refald membawa kamera hitam yang ia kalungkan di lehernya.


Aku jadi kesal dengan Refald. Ternyata ia masih sama, senang sekali membuatku kesal. Bagaimana bisa dia ikut acara ini sementara tangannya itu masih dibalut perban? Apa dia sudah tidak waras?


Tak berselang lama, semua teman-temanku sudah berkumpul. Mereka terkejut ada Refald juga di sini, tapi mereka langsung mengerti mengingat statusku dengan Refald adalah sepasang kekasih. Jadi, mereka tidak merasa keberatan dengan kehadiran Refald, terutama Lisa. Ia sangat senang kalau Refald mengikuti kegiatan ini tanpa memedulikan apa status kami. Sepertinya, hanya dia yang belum sadar kalau Refald adalah pacarku, meski awalnya status kami ini hanya pura-pura, atau mungkin bisa jadi Lisa memang sengaja pura-pura tidak tahu mengenai status kami.


Karena semua sudah lengkap, kami segera bersiap untuk memulai perjalanan survey kami. Jumlah semua anggota yang ikut hari ini ada lima, di tambah dengan Refald, total semua menjadi enam orang. Supaya nanti kami tidak berpencar, Refald menawarkan mobil jip nya untuk memberikan tumpangan pada kami agar bisa berangkat dan pulang bersama-sama.


Aku baru sadar kalau Refald tidak membawa volvonya. Melainkan mobil jib khusus yang digunakan untuk off road saat menyusuri hutan. Aku teringat Eric pernah bilang kalau Refald juga suka mendaki gunung. Jadi, tidak heran kalau ia juga mempunyai mobil jib seperti itu. Mobil yang paling bagus malah, dan untungnya, mobil ini muat untuk enam orang.


Dasar anak sultan!


Hanya butuh watu 15 menit untuk kami sampai di lokasi yang akan kami survey. Setelah berbincang dengan petugas perhutani sebentar, mereka memberikan izin untuk kami melakukan survey dan mengadakan kegiatan CARAKA yang akan kami lakukan minggu depan. Refald memarkir jib diparkiran, kemudian ia menyusul kami ke sebuah lereng di bukit kecil. Disinilah kami akan memulai perjalanan survey kami. Mendaki bukit tinggi yang membentang luas dihadapan kami.


“Oke! Semuanya sudah siap!” tanyaku kepada teman-temanku.

__ADS_1


Mereka kompak mengatakan, “Siap!”


Kami pun mulai mendaki bukit ini setapak demi setapak. Lisa membawa beberapa tali rafia warna kuning sebagai tanda agar kami tidak kehilangan jejak jika nanti kami kembali mengadakan kegiatan di sini. Ia mengikat tali itu pada pohon dan rumput tinggi disetiap jarak satu meter. Sedangkan aku dan Juna menebas ranting-ranting pohon untuk membuka jalan. Refald memotret beberapa lokasi di tempat ini sebagai pengingat agar kami tidak lupa jalan pulang, ada gunanya juga dia ikut kegiatan ini.


 


Kami pun sampai di padang ilalang dengan luas kurang lebih satu hektar, akhirnya kami akan memasuki kawasan hutan pinus yang berjarak seratus meter dari sini. Hutan itu masih termasuk area hutan lindung, tapi juga sangat jauh dari lokasi habitat binatang-binatang yang dilindungi, termasuk binatang buas. Jadi, tempat itu termasuk aman bila akan mengadakan kegiatan di area ini, khususnya bagi pecinta alam yang sering mengadakan acara ataupun yang ingin naik gunung.


Sebelum memasuki hutan, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah karena sudah mendaki bukit selama kurang lebih satu jam. Hawa di sini lumayan lebih dingin, karena tempatnya yang mulai terletak didataran tinggi. Di sini juga ada beberapa tempat yang biasa dipakai untuk posko sebagai pemantauan dan tempat istirahat bagi para pendaki yang akan mendaki gunung.


Selain itu, padang ilalang ini juga menyuguhkan pemandangan indah yang sangat menakjubkan untuk dinikmati bagi para pendaki sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak. Karena dari sini, kita bisa melihat berbagai macam bukit yang pemandangannya sangat indah dengan beberapa jurang pemisah, tempat ini juga biasa digunakan untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang eksotis.


Namun, kami tidak berniat untuk mendaki gunung, kami hanya akan mengitari tempat ini sebagai puncak acara yang akan digunakan untuk kegiatan CARAKA nanti, atau dengan kata lain bisa dibilang sebagai uji nyali dan unjuk keberanian bagi calon anggota pecinta alam sebelum diresmikan menjadi anggota. Sedangkan untuk acara kemah, kami memilih lokasi yang dekat dengan mata air atau sungai, yaitu satu kilometer dari tempat kami berada saat ini.


 


Akhirnya, kami masuk ke dalam hutan setelah melewati padang ilalang yang luas dan menakjubkan. Pemandangan di dalam hutan juga tak kalah menarik. Udara sejuk dan menyegarkan mulai merasuki tubuh kami.


Beberapa jalan memang sulit dilalui, tapi kami berhasil melewati jalan tesebut dan menyingkirkan berbagai macam penghalang agar peserta yang melewati jalan ini nanti tidak mengalami kesulitan. Juna juga memasang tali rafia warna biru sebagai penghalang jalan yang dianggap berbahaya agar tidak dilewati para peserta nantinya, selain itu juga mencegah supaya para peserta yang melewati rute ini tidak tersesat, karena ada begitu banyak jalan yang bercabang di sini.


Setelah melewati beberapa tanjakan, akhirnya kami sampai dijalan menurun dan menemukan area datar yang luas dan bisa digunakan untuk berkemah. Area ini sangat strategis karena lokasinya yang dekat dengan sumber mata air.


Aku mendekati Juna dan berbincang dengannya mengenai lokasi yang akan kami buat untuk berkemah di sini. Ia setuju kalau lokasi ini menjadi tempat perkemahan kami. Sepertinya, tempat ini muat untuk kurang lebih lima puluh anggota yang akan mengikuti kegiatan ini nanti. Selain lokasinya yang dekat dengan mata air, tempat ini juga tidak jauh dari tempat kami memulai perjalanan memutar tadi. Untuk sampai kembali ke area parkir tadi, jaraknya kira-kira dua kilometer dari tempat ini. Itulah kenapa kami semua sepakat kalau tempat ini sangat cocok dibuat untuk berkemah.


Juna dan aku memulai membuat peta lokasi tempat ini untuk disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang akan kami lakukan nanti. Sementara Yua dan Epank juga sudah mulai terlihat akrab. Beberapa kali aku melihat mereka saling bicara dan berpegangan tangan saat Yua kesulitan melewati jalanan yang sulit dan menanjak.


 


Sedangkan Lisa masih saja mencari perhatian Refald yang terus mengacuhkannya. Ia terus mengajak Refald berbicara, tapi cowok itu hanya diam saja dan sibuk memotret sana-sini tanpa menghiraukan ocehan Lisa. Aku jadi kasihan melihat Lisa. Usahanya mendekati Refald tidak membuahkan hasil apapun.


Aku rasa Refald menikmati perjalanannya dengan memotret banyak tempat tanpa mengalami kesulitan karena lengannya yang terluka. Ia tidak bicara dengan siapapun. Entah kenapa dia terlihat sangat keren saat mengambil gambar. Aku memang sengaja tidak berjalan didekatnya, karena aku tidak ingin teman-temanku mengira perjalanan kami dipakai untuk ajang berkencan jika kami terus bersama-sama. Aku rasa Refald pun juga mengerti, karena itu ia juga jaga jarak denganku dan memilih menikmati pemandangan alam dengan mengabadikannya.


Selama tiga puluh menit kami berada di lokasi, kami mengamati dan memeriksa area sekitar untuk terakhir kali sebelum kami pergi meninggalkan tempat ini.


“Sudah cukup untuk hari ini, sebaiknya kita turun dan cari makan karena ini sudah memasuki waktu makan siang.” ucapku pada teman temanku yang langsung mengangguk setuju.


Kami pun bersiap untuk turun. Sejauh ini perjalanan kami sangat lancar tanpa ada halangan. Sampai akhirnya ada kejadian yang tak terduga menimpa kami. Tiba-tiba saja, Epank mengerang kesakitan dan terjatuh. Yua yang berjalan disebelahnya juga berteriak ketakutan. Aku dan yang lainnya langsung berlari ke arah Epank yang posisinya ada dibelakang kami untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Tentu saja kami terkejut mengetahui kondisi Epank. Ternyata, kaki kirinya digigit ular.


 


****

__ADS_1


__ADS_2