Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
Episode 218 Siapa Kau?


__ADS_3

Refald dan Fey sedang asyik berbelanja baju dan juga barang-barang yang lainnya. Fey sangat suka pasar tradisonal seperti ini, telihat lebih ramai dan juga lebih merakyat. Walaupun Fey barasal dari golongan orang berada, ia malah jarang sekali pergi berbelanja di mall dan lebih suka ke pasar tradisional seperti ini bersama dengan teman-temannya dulu, bahkan itu menjadi kebiasaannya hingga sekarang. Fey tidak suka mengoleksi barang mewah seperti istri sultan pada umumnya. Fey lebih terkesan sederhana dan apa adanya tapi tetap modis dan juga cool.


Sedangkan Refald sendiri 11 12 dengan istrinya. Walaupun ia suka mengoleksi barang-barang branded dan mobil mewah berharga fantastis, Refald sama sekali tidak keberatan dan tetap setia menemani istrinya berbelanja di tempat seperti ini. Kemanapun Fey pergi, pasti Refald akan mengikutinya dan menuruti semua yang diinginkan Fey asalkan hal itu bisa membuat istrinya senang. Ia tidak pernah mempermasalahkan barang-barang yang dibeli istrinya barang bermerek apa bukan. Refald memberikan kebebasan sepenuhnya pada Fey melakukan apapaun yang ia suka. Bahkan menurutnya, istrinya itu terlalu hemat. Mungkin kerena selama bertahun-tahun ia hidup di negeri orang sendirian dan harus bisa mengatur keuangan yang ia punya sebaik mungkin agar bisa tetap bertahan hidup.


Seperti yang dilakukan Fey saat ini, wajah istrinya saat berbelanja terlihat berbeda. Fey suka mengekspresikan semua hal yang menurutnya menarik dan lucu. Bahkan istri Refald itu pandai sekali menawar harga.


“Bagaimana menurutmu? Apakah baju ini cocok untukku?” tanya Fey pada Refald yang berdiri disampingnya.


“Kau selalu cocok memakai baju apapun, Honey. Karena kau sudah cantik luar dalam. Baju-baju itu kalah cantik darimu.” Refald mengamati postur tubuh Fey dengan baju yang dipegangnya.


“Kau mulai ngegombal lagi, Refald.”


“Tapi itu memang benar, Honey. Kau tetap cantik memakai apapun. Apalagi jika aku yang memakaikannya.” Refald hendak mencium istrinya tapi Fey menghalaunya dengan menempelkan jari telunjuknya dibibir Refald.


“Jangan disini, terlalu rame. Aku tidak ingin membuat kehebohan ditempat yang akan menjadi tempat tinggal kita. Nanti saja kita lanjutkan dirumah, oke!” Fey mengedipkan salah satu matanya pada Refald sehingga membuat suaminya makin gemas padanya.


Refald menggenggam erat tangan istrinya sambil tersenyum senang. “Cepat selesaikan belanjanya dan ayo kita pulang secepatnya! Aku sudah tidak tahan,” bisik Refald ditelinga Fey dengan nada menggoda.


“Setelah ini kita cari makan dulu, aku sudah lapar.” Fey malah bersikap manja untuk menanggapi godaan Refald.


“Baiklah, ayo! Kau sengaja membuatku ingin memakanmu, Honey? Dan kau tahu aku tidak bisa melakukannya disini!” Refald menempelkan dahinya di dahi Fey hingga membuat gadis itu sedikit terkejut. Ia melirik kesegala arah berharap tidak ada yang mengamatinya. Untungnya semua orang sedang pada sibuk berbelanja, jadi Fey bisa bernapas lega karena tidak jadi pusat perhatian. “Kenapa wajahmu memerah, Honey? Ini bukan pertama kalinya aku bersikap seperti ini padamu. Ayo, kita cari makan dan langsung pulang!” Refald menarik tangan istrinya dan membayar semua barang yang sudah dibeli Fey lalu membantu membawakannya.


Sungguh Refald adalah suami idaman setiap wanita. Tak hanya tajir melintir dan pintar melelehkan hati istrinya, ia juga setia dan siap bersedia menemani kemanapun Fey pergi terutama pada saat berbelanja, bahkan ia juga mau membawakan barang belanjaannya pula. Pasangan ini benar-benar bikin iri saja.


Fey berhenti di depan tempat orang menjual berbagai macam jenis makanan mulai dari jajanan tradisional hingga makanan khas daerah yang ada di wilayah ini. Ada banyak sekali jenis makanan yang terlihat lezat dimata istri Refald itu. Dan matanya tertuju pada salah satu makanan yang sudah lama menjadi favoritnya, yaitu gado-gado. Gadis itu tidak menyangka bakal menemukan makanan favoritnya di tempat ini.


“Ada apa, Honey?” tanya Refald yang sedang mengamati istrinya sejak tadi.


“Aku ingin makan itu.” Fey menujuk menu gado-gado.


“Apa itu?”

__ADS_1


“Lontong yang dicampur dengan beberapa jenis sayur dan ditaburi bumbu khas khusus yang berbahan dasar kacang diatasnya. Benar-benar lezat pokonya, itu adalah makanan favoritku dan juga teman-temanku. Harganya murah tapi sangat lezat, selain itu juga sehat karena tidak memakai pengawet apapun. Sepertinya aku harus sering-sering memakan menu itu supaya berat badanku turun. Sejak menikah denganmu, aku merasa beratku naik.”


“Aku tidak peduli dengan berat badanmu, dimataku kau sangat seksi.” Refald menempelkan bahunya di bahu Fey.


“Kau mulai merayu lagi, akhir-akhir ini kau semakin pintar negombal terus. Tapi entah kenapa aku suka ... kau tahu? Aku jadi terkenang masa-masa kami saat berburu makanan ini sewaktu aku, Yua, Nura dan Mia masih sekolah dulu. Rasanya enak, kau pasti juga suka. Mau coba?”


“Ehm, baiklah kita coba. Suapi aku nanti, sudah lama kau tidak menyuapiku.” Refald kembali teringat saat Fey selalu menyuapinya saat ia berpura-pura sakit.


“Jangan mengingatkan aku pada kejadian waktu itu, kau membohongiku? Kau membuatku merasa bersalah dan menjadi budakmu! Dasar kau ini!”


“Tapi sekarang akulah yang jadi budak cintamu, impas kan?” Refald terkekeh. Fey pun juga tersenyum karena yang dikatakan Refald memang benar.


Sambil menunggu pesanannya dibuatkan, Fey mencoba mencicipi beberapa aneka jajanan lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun, belum sempat ia memakan makanan itu, tiba-tiba seseorang menarbaknya dari arah samping dengan kencang hingga hampir saja Fey jatuh terjerembab ketanah kalau saja Refald tidak langsung sigap menangkap tubuh istrinya.


Awalnya, Refald marah dan hampir saja mengamuk pada orang yang berani menabrak Fey sampai seperti itu, tapi niatnya ia urungkan karena ternyata orang yang menabrak istrinya sedang dihajar habis-habisan oleh beberapa orang preman pasar tak dikenal.


Sontak semua warga yang melihat kejadian itu langsung berteriak histeris dan menjauh dari keributan itu. Sedangkan Refald, langsung mengamankan istrinya ke tempat sepi agar tidak terkena serangan lagi. Namun, kesialan Fey dan Refald tidak hanya berhenti sampai disitu, seorang wanita tiba-tiba saja menabrakkan diri tepat didepan Fey meski mereka tidak sampai jatuh. Wanita itu langsung menangis dan meminta tolong pada Fey yang tanpa sadar sejak tadi memegangi kedua lengannya.


Refald dan Fey hanya saling pandang karena bingung. Mata mereka pun menatap seseorang dengan wajah sangar berkumis tebal dan berambut panjang warna pirang. Pria kekar mengerikan itu berjalan pelan menuju arah wanita yang ada dihadapan Fey. Tentu saja wanita itu semakin gemetar ketakutan.


Sedangkan disisi lainnya, pria yang tadi tak sengaja menabrak Fey masih dihajar habis-habisan oleh sekumpulan preman tadi. Melihat kejadian tersebut, wanita tak dikenal itu melepas genggaman tangan Fey dan langsung berlari kearah pria yang sudah terkapar tak perdaya itu. Wanita malang itu memeluk tubuh prianya dan melindunginya agar tidak diserang lagi.


Semua preman itu mengeluarkan senjata tajam mereka dan hendak menghabisi sepasang sejoli tak berdaya tepat didepan semua orang yang ada disini. Anehnya, tak seorangpun berani membantu keduanya dan memilih menjadi penonton saja.


“Jangan bunuh mereka! Bawa saja mereka kerumah!” perintah pria sangar mengerikan itu.


Refald hendak turun tangan tapi ia sudah keduluan istrinya. Tanpa peringatan Fey langsung memukul kepala salah satu preman yang hendak menyentuh tubuh wanita yang menabraknya tadi. Sontak preman tersebut mengerang kesakitan. Fey juga langsung menendang ulu hati para preaman lainnya sehingga semuanya jatuh tersungkur di tanah. Refaldpun langsung berdiri disamping istrinya untuk berjaga-jaga.


“Apa yang kau lakukan, Honey?” bisik Refald setengah terkejut atas apa yang tindakan Fey barusan.


“Pangeranku, izinkan aku yang memberi mereka pelajaran. Aku sudah tidak tahan ingin mencincang mereka jadi daging panggang. Bisa-bisanya mereka berbuat keji seperti itu, mereka pikir mereka itu lahir darimana? Memperlakukan orang lain seperti itu, aku benar-benar kesal.”

__ADS_1


“Kau yakin kau bisa mengatasinya?” tanya Refald sekali lagi. Wajah istrinya terlihat sangat serius dari biasanya.


“Ehm, aku yakin. Anggap saja ini latihanku untuk mempraktekkan kekuatan yang kudapatkan setelah menikah denganmu. Selain itu, kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu dulu. Lihat dan awasi saja aku, oke.”


Refald memegang lembut bahu istrinya sambil menatapnya tajam. “Hati-hati, Honey. Aku akan melindungimu.” Refald dan Fey saling menatap penuh makna.


Begitu suaminya melangkah mundur, Fey langsung bergerak maju menghajar beberapa preman pasar yang tadi sudah membuat babak belur orang yang menabraknya. Tentu saja para preman tersebut tak terima mereka dikalahkan oleh seorang wanita yang jauh lebih muda dari mereka.


Semakin marahlah para preman itu dan menyerang Fey bersamaan. Feypun tak tinggal diam dan mulai beraksi membogem mereka satu persatu dengan pukulan tangannya yang mengepal kuat sehingga beberapa gigi preman tersebut lepas dari tempatnya.


“Wuahhh, daebak! Aku sudah seperti Refald sekarang,” gumam Fey senang sambil menatap tangannya sendiri.


Fey meloncat loncat pelan sambil meniup lembut kepalan tangannya yang akan ia gunakan menggampar preman yang mulai berdiri lagi didepannya. Sebenarnya Fey sedikit gugup, tapi melihat musuhnya tumbang, ia jadi makin bersemangat sekarang.


“Dasar gadis tengik! Awas kau!” teriak salah satu preman itu menggelegar.


Dengan api penuh kemarahan, salah satu preman yang giginya baru saja rontok, berlari kencang ke arah Fey dan hendak balik menyerangnya. Namun, belum juga preman itu mendekat, secepat kilat Fey langsung melompat dan menendang dada pria itu dengan kuat sehingga pria tersebut terhempas kebelakang dan jatuh terkapar. Lagi-lagi ia mengerang kesakitan.


Beberapa preman yang tadi juga sempat terkena pukulan Fey, jadi tidak berani mendekat lagi. Mereka bahkan tanpa sadar melangkah mundur alon-alon sambil memegangi bagian tubuh yang sakit. Mereka hanya berdiri diam sambil menatap takut Fey yang melihat mereka satu persatu. Lebih baik diam daripada jadi berakhir tragis seperti temannya yang sudah tak berdaya.


Fey sendiri sebenarnya tak percaya ia bsia mengalahkan semua preman pasar tak punya belas kasih ini. Dalam hati, ia bersorak sorai karena telah berhasil membuat takut orang-orang tak punya hati nurani.


Preman sangar yang berbadan kekar, langsung geram melihat seluruh anak buahnya dikalahkan begitu mudah oleh seorang wanita muda seperti Fey. Tanpa peringatan, ia pun menodongkan pistol ke arah Fey dan bersiap menembaknya. Namun, belum sempat preman sangar itu menarik pelatuknya, sebuah tendangan kuat dari bawah mengarah ke tangan preman yang sedang memegang pistol sehingga senjata api tersebut terlempar keatas. Secepat kilat Refald mengambil alih senjata itu dan langsung mengarahkannya pada preman sangar yang terkejut bukan kepalang karena senjatanya kini telah berubah tangan.


“Revolver Taurus ukuran 129,64 Kb. Huh, kau pasti bukan orang sembarangan karena bisa memliki senjata api jenis ini. Apalagi untuk orang pedalaman seperti kalian. Siapa kau?” tanya Refald sambil bersiap menembak preman sangar itu jika tak mau menjawab pertanyaannya.


Preman sangar tersebut mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi ia tersenyum sinis seolah telah memenangkan sesuatu. “Bukan urusanmu!” geramnya dengan kilatan mata menakutkan.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


Part ini juga gak kalah seru ... momennya hampir sama seperti yang sedang dihadapi Shena di playboy Jatuh Cinta season 2 .. jangan bosan nunggu up selanjutnya ya ..sebentar lagi lebih seru dan kocak lagi ...


__ADS_2