
Pagi ini, Sakura bersiap berangkat ke Hongkong untuk mempersiapkan pesta resepsi mereka yang akan diadakan sepekan lagi di kediaman keluarga Sauran. Begitu juga denganku, aku harus bersiap-siap ke Jerman untuk menemui keluarga besar Refald bersama dengan ayahku. Selama 2 Minggu, aku akan berkeliling kesana kemari untuk mengisi rutinitas cuti yang harus kujalani selama aku berada di luar negeri.
Ini kali pertama aku merasa sebagai seorang menantu sungguhan. Mungkin teman-temanku akan tertawa jika tahu kalau aku sudah bersuami. Apalagi suamiku masih tidur di kamarku. Aku jadi merasa tua disaat usiaku hampir menginjak 19 tahun.
Aku berjalan menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan dimana Sakura, Sauran dan Ayah ada disana.
“Ohayou (selamat pagi).” Aku menyapa mereka semua. Senang bisa menggunakan bahasa Jepang di negara asalku sendiri.
“Ohayou,” ujar Sakura dan Sauran bersamaan.
“Ohayou, Shiyuri, kau sudah bangun. Bagaimana keadaan Refald. Apa ia baik-baik saja?” tanya Ayah sambil sibuk memasak.
Membuat sarapan pagi adalah kebiasaan ayah sejak almarhum ibu masih hidup. Namun, sejak ibu meninggal, kami akan bergantian memasak setiap harinya. Sayangnya, aku melarikan diri dari rutinitas ini. Entah kenapa terasa sakit bila mengingat kenangan yang harusnya menjadi indah, berubah jadi ironi yang tak ingin lagi aku ingat.
Gambaran yang Refald perlihatkan padaku semalam membuatku kembali sedih jika waktuku yang akan kuhabiskan bersama dengan ayah hanya tinggal menghitung hari. 2 tahun dari sekarang, adalah sisa waktu untukku agar bisa bersama dengan ayah.
“Kenapa mukamu berseri-seri begitu?” sindiran telak dari Sakura, ia duduk di samping suaminya, Sauran.
“Siapa yang berseri-seri? Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?” aku balik menyerang kakakku. Dulu, setiap kami sarapan bersama, kami selalu bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting. Seperti sekarang ini. Kenangan masa kecilku dulu membuatku tersenyum bila mengingatnya.
“Tentu saja wajahnya berseri, Sakura. Suaminya ada di kamarnya. Hari ini mereka akan bertemu keluarga, pasti adik iparku ini bahagia. Aku jadi bertanya-tanya, apa wajahmu semerah dia saat akan bertemu dengan keluarga besarku waktu itu?” Sauran ikutan menyerangku.
Sakura mengingat-ingat kejadian dimana ia akan bertemu dengan keluarga besar suaminya. “Tidak juga, karena dari kecil aku sudah pernah bertemu mereka semua. Berbeda dengan adikku yang belum pernah bertemu keluarga besar Refald sama sekali. Pasti saat ini adikku ini gugup sekali.” Sakura tersenyum sambil meminum susunya.
“Teruslah meledekku sesuka kalian, yang penting kalian berdua puas!” ujarku juga meminum susuku. “Bagaimana malam pertama kalian? Sukses?” tanyaku yang langsung membuat ayahku dan Sauran tersedak bersamaan. Ayah yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami jadi terbatuk-batuk mendengar pertanyaanku. Aku akui pertanyaanku ini memang blak-blakan tanpa basa-basi.
Salah sendiri, siapa suruh kalian meledekku! Batinku dalam hati dan aku yakin Refald saat ini mendengar pembicaraan kami, ia pasti sedang tertawa di atas.
“Di mana Refald? Apa dia sudah baikan?” tanya Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus mencairkan kecanggungan yang terjadi akibat pertanyaanku.
Sedangkan Sakura dan Sauran langsung diam tak bersuara sambil fokus pada makanannya. Aku hanya tersenyum menatap tingkah konyol keduanya yang masih saja malu-malu mau.
__ADS_1
“Mereka berdua dari dulu sama sekali tidak berubah,” gumamku sambil memijat-mijat kepalaku.
“Kau bilang apa?” tanya Ayah.
“Ah, tidak Otousan.” Aku bangun dari kursiku dan berdiri di sebelah ayahku. “Otousan,” panggilku pada Ayah.
“Iya, ada apa Sayang.” Ayah masih sibuk dengan masakannya.
“Kau sudah menanyakan soal Refald tadi, Otousan.” Aku mengedipkan salah satu mataku pada ayah dan berjalan mengitari pasangan pengantin baru. Aku berdiri diantara mereka berdua dan membungkukkan badanku supaya bisa sejajar dengan kepala keduanya sambil berkata. “Dilihat dari wajah kalian berdua sepertinya semalam kakak iparku sudah berhasil menembus gawang kakakku. Artinya, kau sudah tidak virgin lagi, Sakura!” aku menoleh pada kakakku yang langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Dan kau juga sudah tidak perjaka lagi, Sauran! Selamat untuk kalian berdua!” aku menegakkan kembali punggungku dan berjalan keluar sambil mencomot sushi buatan ayah.
Aku bersenandung ria karena puas membuat dua pasangan pengantin baru malu habis di depan ayah. “Rasakan!” gumamku.
“A-ada apa dengan Shiyuri? Se-sejak kapan dia bi-sa bicara seperti itu?” tanya ayah sambil gelagapan.
Aku hanya tertawa membayangkan betapa shocknya ayahku saat ini. Siapa yang mengajariku? Tentu saja si mesum Refald.
****
Hanya ada satu tempat yang tidak berubah dan tetap terjaga hingga sekarang. Yaitu taman bermain yang ada di tengah kompleks dimana sering kugunakan bermain-main dan berlatih segala hal dengan Sakura. Tempat ini menjadi tempat favorit kami untuk melepaskan lelah. Dan yang paling aku suka dari taman bermain ini adalah patung pinguin besar yang biasa kugunakan untuk berseluncur diatasnya.
“Patung pinguin ini, masih saja tetap berada ditempatnya.” Aku berjalan mendekat ke arah patung besar itu dan mencoba menaikinya untuk berseluncur seperti yang kulakukan saat masih kecil dulu.
Setelah sampai diatas, aku memandang sekeliling tempat ini. Pemandangannya tetap menakjubkan sama seperti dulu. Bangunan gedung-gedung menjulang tinggi ada di depan mata, bedanya jumlahnya semakin banyak daripada yang aku lihat dulu. Bahkan gedung sekolahku pun juga terlihat.
“Sugoiiii, aku jauh lebih tinggi sekarang.”
Sambil menutup mata, aku mulai duduk dan bersiap untuk meluncur. Sekali lagi, aku ingin merasakan masa kecilku di sini, di tempat favoritku.
Tubuhku seakan jatuh dari awan saat aku mulai meluncurkan diri dari atas, sampai entah kenapa aku merasa ada seseorang yang tiba-tiba saja menangkap tubuhku tanpa peringatan. Aku membuka mataku dan mendapati tubuhku sudah ada digendongan seseorang.
Saat mataku terbuka, hal pertama yang aku lihat adalah dada bidang seseorang yang sangat aku kenal. Siapa lagi kalau bukan Refald.
__ADS_1
“Hai,” sapa Refald sambil tersenyum manis padaku. Aku baru sadar kalau Refald sedang meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain sambil menggendongku.
“Kau sudah bangun?” tanyaku sambil melingkarkan kedua tanganku dilehernya agar aku tidak jatuh.
“Sudah!” Refald masih meloncat dan hanya berhenti di atas pohon jika ada seseorang lewat, ia baru lanjut meloncat lagi kalau sudah tidak ada orang.
“Kita mau ke mana?”
“Jalan-jalan,” jawab Refald singkat.
“Maksudku, kemana kita akan jalan-jalan?”
“Ke hutan terlarang.” Lagi-lagi Refald menyunggingkan senyum manisnya.
“Ha?” aku terpana menatap Refald saat ia menyebut nama hutan.
“Kau takut?” tanya Refald.
“Tidak selama kau bersamaku.”
“Kita lihat saja nanti.” Untuk kesekian kalinya, senyuman Refald tampak sangat mencurigakan.
BERSAMBUNG
***
Maaf up nya telat karena ada beberapa hal yang terjadi ... habis ini aku coba crazy up di semua novelku ...untuk kalian semua.
dukung like, vote dan komentarnya ya ... terimakasih ..
__ADS_1