
Malam ini, bintang-bintang bersinar terang, mereka semua bertaburan di atas hamparan hutan yang luas. Seakan ikut bahagia dengan bersatunya jiwa kami berdua. Jiwa ini, sudah terikat satu sama lain dan tidak akan pernah bisa terpisahkan walaupun kematian datang menjemput kami.
Mataku tak bisa berhenti menengadah menikmati indahnya rembulan tatkala menyinari jiwa transparan kami berdua yang sedang melesat jauh terbang tinggi melewati batas awan hitam digelapnya malam.
“Honey, lihatlah tulisan di atas langit-langit itu, kata-kata itu adalah gambaran perasaanku padamu yang belum pernah aku ungkapkan selama ini. Aku harap kau bisa merasakan betapa besar cintaku untukmu.” Refald menunjuk ke arah langit yang tiba-tiba saja, secara ajaib muncul sebuah tulisan layaknya kata-kata yang ditulis di atas papan tulis.
Ini adalah langit kita
Telah menjadi asap, seperti mimpi
Menyebar menjadi beberapa bagian, seperti napas
Sejak bertemu denganmu, ini benar-benar terjadi
Seolah-olah semua harapan dan keinginan tak terungkap, telah terpenuhi
Aku berkorban untukmu, aku tercipta untukmu
Aku telah belajar untuk yakin pada diriku sendiri darimu
Setelah kamu pergi, kamu membawanya bersamamu
Setiap alasan bagiku untuk hidup
Kemanapun kamu pergi
Aku bisa menemukanmu
Karena bayanganku selalu mengikutimu
Aku sebuah planet sekarang
Kamu pun juga sebuah planet
Dan kita, bertemu lagi di dunia bintang untuk kembali bersama selamanya.
__ADS_1
Begitulah isi tulisan di langit-langit yang aku baca. Kata-kata itu adalah bentuk ungkapan perasaan Refald padaku. Sejak pertama kali kami bertemu, sampai saat ini. Aku begitu terpukau dengan makna yang terkandung dalam kalimat itu, dan Refald menyampaikannya dengan cara yang sangat berbeda dan sukses membuatku terbuai dibuatnya. Kata ‘sugoi’ dan ‘daebak’ pun tak cukup menggambarkan betapa luar biasanya ungkapan hati seorang Refald.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Refald ketika kami berdua melayang-layang di udara. Sedangkan mataku masih tertuju pada kalimat-kalimat menyentuh hati itu. Langit semakin terlihat mempesona dengan hiasan tulisan ungkapan hati orang yang kini menjadi suamiku.
“Jangan dihilangkan dulu, biarkan aku melihatnya dan merekamnya dalam ingatanku,” jawabku lirih tanpa berpaling menatap langit-langit menakjubkan yang pernah aku lihat di sepanjang hidupku.
Refald menarikku menghadap ke arahnya dan menciumku mesra tepat di bawah sinar bulan purnama sedang bersinar terang menerangi jiwa kami yang menyatu sempurna. “Aku mencintaimu, pengantinku.” Refald masih menatapku, tatapannya benar-benar membuatku meleleh tak menentu.
“Aku, juga mencintaimu, Refaldku.” Aku pun tersenyum bahagia menatap orang yang paling berarti dalam hidupku. Sekali lagi Refald memberikan ciuman mautnya padaku dan kami berdua menari-nari di udara.
“Kita harus kembali, kakek sudah memanggil kita.” Refald menyudahi ciumannya.
“Ehm, aku juga bisa mendengar suara kakek.” Aku tidak tahu kenapa Refald langsung tersenyum saat aku mengatakan kalimat itu.
Kami pun kembali ke istana karena kakek memanggil kami berdua. Suasana di dalam, kembali ramai saat kami datang. “Apa waktu bulan madu kita sudah habis?” bisikku pada Refald.
“Ehm, sepertinya begitu,” jawab Refald sambil tersenyum.
Kami berdua menyusuri karpet merah yang sama, seperti waktu pertama kali kami datang kemari.
Entah kenapa aku lebih suka menjadi jiwa tanpa raga. Bebas tanpa ekspresi, tanpa perlu bernapas dan tanpa perlu makan ataupun minum.
“Jangan bilang kau lebih suka mati daripada hidup. Dan kau juga betah tinggal di sini.”
“Kekuatanmu kembali?” aku terkejut Refald mengetahui isi pikiranku.
“Iya, berkat ritual pernikahan kita, semuanya kembali seperti semula tanpa harus menunggu satu bulan.”
“Hei kalian berdua?” ujar kakek pada kami. “Sampai kapan kalian mau berbincang-bincang sendiri! Cepat beri hormat pada leluhur kalian yang sudah menyempatkan waktunya datang dipernikahan kalian ini,” tegas kakek.
Aku mengamati orang-orang yang duduk di dekat singgasana kakek. Kalau diingat-ingat, sampai sekarang, aku masih belum tahu pasti siapa nama kakek Refald meski Refald pernah memberitahuku.
Refald bersimpuh memberi hormat pada leluhurnya dan aku pun mengikuti gerakannya. Kami berdua sama-sama menundukkan kepala kami tanpa berani menatap leluhur kami.
“Ini pertama kalinya kita bertemu, Andi Refald Dilagara alias Andi Mirza Banta. Senang akhirnya aku bisa melihat keturunanku secara langsung,”ucap seseorang yang bisa ku tebak dia adalah leluhur Refald.
__ADS_1
Andi Mirza Banta? Itukah nama asli Refald? Pantas saja aku tidak tahu kalau Refald adalah tunanganku waktu masih kecil. Dia tidak memakai nama aslinya. Sama seperti namaku yang tadinya bernama Shiyuri Kinomoto menjadi Lafeysionara. Batinku.
“Hamba juga senang bertemu dengan anda yang mulia raja. Maafkan cucumu ini karena tidak bisa menyambut kedatangan yang mulia dengan baik." Refald masih menunduk saat membalas ucapan leluhurnya.
“Bahasa dan logat bicara kita sudah berbeda, itu karena kakekmu yang berdiri disampingmu itu menikah dengan gadis jawa, sama seperti yang kau lakukan saat ini. Lafeysionara adalah keturunan langsung dari raja Kahuripan, Pangeran Inu Kartapati dan Galuh Candra Kirana yang ada di sebelah kiri kakekmu. Aku senang bisa berbesan denganmu, pangeran.” Leluhur Refald memberi hormat pada seseorang yang duduk tepat di depanku.
“Suatu kehormatan juga bagiku karena yang mulia raja telah memilih keturunanku manjadi pendamping keturunan dari raja besar, yang mulia raja Karaeng Banta Daeng Pabeta.” Pengeran yang disebut sebagai pangeran Inu Kartapati pun juga memberi hormat pada leluhur Refald.
Sungguh ini suatu kebetulan atau memang takdir yang sudah direncanakan. Aku tidak menyangka kalau aku juga merupakan keturunan dari seorang raja yang berasal dari jawa. Ini sangat sulit dipercaya, baik ibu maupun nenekku, sama sekali tidak pernah mengatakan kalau mereka masih keturunan ningrat.
“Kalian berdua, bangunlah, dan duduklah dipelaminan yang ada di sana.” Kakek Refald menunjuk sebuah tempat pelaminan yang megah berlapis intan dan permata.
Dengan iringan ala pengantin aku dan Refald melayang menuju kursi pelaminan yang disediakan khusus untuk kami berdua.
Ini sangat aneh bagiku. Aku merasa canggung sekali jika harus bersanding di pelaminan bersama dengan Refald. Tapi, apa yang aku alami ini memang benar- benar terjadi. Siap atau tidak siap, aku harus menerima takdir yang sudah digariskan padaku.
Mereka semua yang ada di sini, berbincang-bincang menggunakan bahasa yang sama sekali tidak ku mengerti. Sementara aku dan Refald hanya diam menunduk dan mendengarkan.
Ada banyak sekali tarian dan pertunjukan di hadirkan dalam pesta pernikahan ini sehingga terkesan seperti pesta pernikahan sungguhan. Semua adat dan kebudayaan bercampur jadi satu. Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu karena aku tidak tahu nama tarian lainnya, kecuali pertunjukan tari saman yang merupakan tarian ciri khas negara Indonesia. Sedangkan yang lainnya, aku baru bisa melihatnya sekarang.
“Ini adalah pesta pernikahan kita, tersenyumlah, jangan cemberut begitu. Bukankah pestanya sangat menarik?” Refald mulai mengajakku bicara.
“Aku sama sekali tidak mengerti bahasa apa yang sedang mereka gunakan kecuali bahasa leluhurku sendiri. Tarian mereka memang indah dan menakjubkan, tapi tetap saja aku tidak mengerti apa-apa. Apakah kau yakin hadiah pernikahan yang aku minta bisa kau penuhi? Aku sama sekali tidak melihat ibuku di mana-mana.” Aku mencari-cari keberadaan ibuku untuk menanyakan banyak hal supaya aku tidak bosan, tapi beliau tidak ada dimanapun.
“Ibu berada di tempat yang seharusnya untuk mempersiapkan dirinya sampai hari itu tiba. Butuh waktu lama agar apa yang kau inginkan sebagai hadiah pernikahanmu itu terpenuhi. Jadi bersabarlah, Honey. Kita nikmati saja pesta pernikahan kita yang langka dan tak masuk akal ini. Anggap saja ini latihan kita sebelum kita benar-benar menikah secara resmi di dunia nyata.” Refald menggenggam tanganku dan mencium keningku.
BERSAMBUNG
****
Maaf up nya telat, harusnya upnya sudah dari semalam, tapi berhubung eror baru bisa up hari ini... semoga haluku ini tidak berlebihan, jika ada kesamaan nama tokoh, mohon dimaafkan. Ini hanya dunia halu yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hal yang ada dunia nyata. Juga tidak bermaksud menyinggung apapun. Ini murni dunia halu yang aku ciptakan sendiri.
__ADS_1