Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 41 Janji Refald 2


__ADS_3

"Aku tahu kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan ini, Fey!" Refald memandangiku dengan segenap hati dan jiwanya. "Selama tujuh tahun terakhir, aku tidak pernah tidur dengan nyenyak. Itu karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Memikirkan gadis kecil yang menjadi tunanganku.


"Kita sama-sama tidak bisa menolak keinginan kedua orang tua kita untuk perjodohan ini. Saat pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta padamu. Wajahmu yang muram saat melihatku, membuatku semakin ingin menggodamu. Aku sadar di usia kita yang masih anak-anak, rasa cinta yang kurasakan hanyalah cinta monyet. Tapi, semenjak keluargaku di deportasi dari negaramu, aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku. Rasa cinta yang kurasakan padamu tumbuh seiring dengan bertambahnya usia kita.


"Satu penyesalanku yang terdalam adalah, aku meninggalkanmu sendirian menghadapi segala macam cobaan yang ditakdirkan Tuhan untuk kita. Setahun setelah kepergianku, aku menyisihkan uang sakuku untuk pergi menemuimu. Saat itulah aku tahu segalanya, kau meninggalkan semuanya, kau pergi ke tempat yang tidak bisa ku jangkau. Aku harus menunggu, sampai usiaku bisa mencarimu. Dalam jangka waktu selama itu. Aku menghabiskan waktu senggangku untuk menyatu dengan alam, berharap suatu hari nanti, alam bisa memberitahuku di mana keberadaanmu."


Refald membelai lembut kepalaku dan ia menciumnya. Aku bisa merasakan betapa Refald sangat mencintaiku. Tanpa sadar air mataku mengalir membasahi pipi. Aku tidak bisa bergerak. Karena aku tidak ingin Refald tahu bahwa aku bisa mendengar apa yang ia katakan padaku.


"Akhirnya, penantianku ini berbuah manis." Refald melanjutkan kata-katanya. "Takdir mempertemukan kita kembali dengan kisah cinta yang baru. Aku bahagia, aku juga tahu kau merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat ini meski awalnya kau membenciku. Aku akan menunggu lagi, Fey. Sampai kata cinta itu terucap dari mulutmu. Tidak peduli berapa lamapun waktu yang akan kau butuhkan untuk mengungkapkan kata itu."


Dalam hati, aku tidak akan mengatakan kata cinta itu jika bukan Refald dulu yang memulai.


Dasar! Dia pikir dia itu siapa? Kita lihat saja, diantara kita, siapa yang akan menyatakan cinta terlebih dulu. Kau ... Atau aku!


"Tapi, saat ini, bahaya sedang mengintai kita ...." kata-kata Refald membuatku agak takut.


Apa maksudnya dia bicara seperti itu?


Ingin sekali aku bangun dari tidurku dan menanyakan langsung pada Refald. Tapi, aku mengurungkan niatku dan memilih mendengarkan saja maksud ucapannya.


"Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci, tapi ... firasatku tidak pernah salah. Aku memang bukan dewa ataupun paranormal yang bisa melihat masa depan. Aku hanya ingin melindungimu. Aku ingin melakukan apa yang seharusnya dulu kulakukan. Menjagamu dan selalu berada di sisimu. Hanya itu yang ingin kulakukan sekarang. Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu menjaga dan melindungimu dengan segenap jiwa ragaku. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu. Aku janji padamu ...."


Air mataku tidak bisa berhenti mengalir, mendengar kata-kata Refald yang begitu dalam, membuatku sadar bahwa yang dikatakan ayah memang benar. Refald sangat mencintaiku bahkan sebelum aku jatuh cinta padanya.


Aku sudah tidak tahan lagi, aku membuka resleting sleeping bag dan langsung berbalik badan untuk memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Tentu saja Refald terkejut hingga terperanjat hampir jatuh karena pelukanku yang tiba-tiba itu. Untunglah Refald sangat kuat, sehingga ia bisa menahan berat tubuhku.


Ia tertegun beberapa saat, tapi ia langsung bisa menguasai diri. Refald membalas pelukanku, dan aku semakin erat memeluknya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Kami sama-sama terhanyut dalam suasana sampai tidak sadar kalau para senior sudah berdiri mengelilingi kami.


"EHEMMM ... HEMM!" kami terkejut mendengar suara seseorang yang pura-pura batuk. Spontan aku melepaskan pelukanku dan mengusap air mataku.


"Baru saja ditinggal sebentar kalian sudah mau belah duren di sini, ha?" ucap seniorku yang bernama Yuda mulai menggoda kami.


"Kalian berdua ... sungguh membuatku iri. Apa daya diriku yang jomblo ini melihat dua sejoli memadu kasih di tengah hutan seperti ini ...."


"Hei! menikah saja kalau sudah tidak tahan ...."


"Tunggu! Ini ... tidak seperti yang kalian duga! Sungguh ...." aku berusaha menjelaskan, tapi sepertinya mereka tidak mau dengar.


"Hah, sudahlah! Biarkan saja mereka, jangan terlalu menggodanya seperti itu, kualat ntar!" syukurlah masih ada yang mau memahami situasi kami meskipun ia hanya bercanda. Aku Benar-benar malu habis sekarang. Para senior resek ini pasti puas meledek kami berdua.


"Fey, sedang kedinginan ... aku hanya berusaha menghangatkannya. Kalian jangan salah paham," ujar Refald semakin memperkeruh keadaan.


Mataku langsung melotot ke arah Refald dengan tatapan penuh emosi. Ia bukannya meredakan suasana malah memperparah suasana.


"Hei, apa?" Refald balas melototiku. "Aku benar, kan? Kau kedinginan tadi, dan kau ...."


"Diam kau! Dasar mesum!" aku berlari meninggalkan Refald dan kerumunan para cowok yang menyebalkan.


"Fei! Mau ke mana? Aku juga mau loh, diangetin ... aku juga kedinginan nih ...." seru seseorang yang tidak ingin kulihat wajahnya.


"Kalian semua! Berhentilah menggoda mereka!" ucap Alex. "Susul dia!" Alex menyuruh Refald menyusulku yang berlari menjauh.


***


Keesokan paginya, aku terbangun karena mendengar suara burung yang berkicau merdu. Perlahan, aku membuka mataku dan aku terkejut begitu tahu ada di mana aku sekarang. Aku ... tidur ... dipelukan Refald?


Spontan, aku langsung menarik tubuhku dalam pelukannya dan menjauh darinya. Gerakanku yang tiba-tiba tanpa sengaja membangunkan Refald juga.


"Ada apa? kau mengagetkanku saja," ujarnya masih sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Bagaimana kita bisa ada di sini? Di mana ini?"


Dengan tenang Refald menjawab, "Di belakang tenda. Lihatlah, mereka semua sedang pemanasan!"


Aku melihat sekeliling dan menemukan para senior, junior dan teman-temanku melakukan pemanasan di lapangan. "Gawaattt!" Aku menyadari sesuatu. Aku langsung berlari secepat mungkin ke arah mereka dan meninggalkan Refald begitu saja.


"Ahhhhh! Apa yang kulakukan? Kenapa aku bisa di sana bersama dengan cowok mesum ituuuu?" gumamku kesal tanpa peduli lagi pada Refald.


Aku merapikan rambut dan pakaianku sebelum ikut bergabung dengan semua orang. Sungguh, aku masih belum bisa mengingat apa yang terjadi semalam dan bagaimana bisa aku berada di belakang tenda hanya berdua dengan Refald.


Bagaimana kalau ada yang tahu? Mereka semua pasti berpikiran yang bukan-bukan tentangku.


"Darimana saja kau? Kami semua mencarimu?" tanya Lisa begitu melihatku.


"Maaf!" hanya kata itu yang bisa kukatakan saat ini. Aku menatap semua teman-temanku dan sepertinya, mereka cuek saja. Itu artinya, mereka tidak tahu kalau semalaman aku berada di belakang tenda.


"Kenapa aku masih belum bisa mengingat apa-apa?" aku bergumam sendiri.


Sementara ini aku akan menjaga jarak dan menjauh dari Refald. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali tahu apa yang terjadi semalam, dan bagaimana bisa hanya kami berdua saja yang tertidur di belakang tenda. Semua masih menjadi misteri yang sangat sulit kupecahkan karena aku tidak mengingat apapun. Ini jauh lebih sulit daripada memecahkan soal matematika.


Begitu pemanasan selesai, para peserta langsung dihimbau untuk memasak logistik yang sudah mereka bawa dari rumah. Logistik itu berupa makanan instan yang mudah dan cepat untuk dimasak. Apa lagi kalau bukan mi instan dan makanan cepat saji lainnya seperti sosis dan teman-temannya.


Kegiatan ini juga merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan bagi anggota Pecinta alam untuk menyiapkan logistik yang diperlukan saat berada di dalam hutan supaya tidak kelaparan dalam perjalanan.


Setelah acara masak-memasak selesai. Semua makanan dikumpulkan jadi satu untuk dimakan bersama-sama. Tujuannya adalah untuk melatih kekompakan dan menguatkan kebersamaan antar anggota dan meningkatkan rasa saling bahu membahu bekerja sama dalam menghadapi segala rintangan jika kita dihadapkan pada suatu permasalahan ketika tersesat atau berada di dalam hutan.


Itulah kegiatan awal pagi ini. Kegiatan berikutnya adalah Repling dan Prusiking. Yaitu teknik dasar panjat tebing. Teknik ini membutuhkan kekuatan otot tangan dan kaki serta fisik yang kuat agar bisa melakukan teknik ini. Bagi pemula, teknik ini memang menakutkan dan sangat menguras banyak tenaga. Tapi kalau sudah terbiasa, teknik ini akan menjadi favorit para anggota pencinta alam bahkan tidak afdol bila tidak melakukannya.


Para senior sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan dasar panjat tebing. Karena ini hanya latihan, tali yang di pasang tidak dilakukan langsung di area tebing, melainkan diikatkan di sebuah pohon besar yang dianggap kuat untuk melakukan repling prusik. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pemula yang takut dengan ketinggian agar tidak trauma atau parno.


Setelah semua peralatan, perlengkapan dan pengaman sudah terpasang dengan baik, para peserta dikumpulkan di bawah pohon untuk segera melaksanakan kegiatan latihan panjat tebing ini. Beberapa anggota PMR juga sudah siap siaga untuk berjaga-jaga jika ada yang terluka.


Saat semua menyaksikan proses Repling, suasana jadi sangat tegang, karena kita harus menggunakan kekuatan fisik maksimal untuk memanjat dengan segala perlengkapan keamanan yang ada. Namun, berbeda ketika melakukan prusik, yaitu proses terjun ke bawah dengan menggunakan tali yang sudah di gunakan pada saat melakukan repling tadi. Teknik yang satu ini tidak banyak mengeluarkan tenaga dan hanya tinggal meluncur saja. Kendalanya hanya satu, yaitu nyali. Orang yang takut ketinggian, pasti nyalinya akan menjadi kecil jika harus terjun langsung dari ketinggian meski sudah menggunakan pengaman.


Ada banyak teknik yang bisa di gunakan saat melakukan prusik sesuai keahlian masing-masing. Seperti yang di contohkan kak Joni, ia meluncur dari atas dengan posisi kepala ada di bawah dan kaki di atas. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak sorai melihat aksi seniorku itu. Yang lebih menghebohkan lagi ketika hampir mendarat, ada kekasihnya yang bersiap memberikan hadiah kecupan ketika wajah seniorku bertatapan langsung dengan wajah kekasihnya.


Ini ajang kesempatan bagi mereka yang usil untuk hal semacam ini. Anehnya semua pada menutup muka ketika aksi sok romantis itu terjadi. Untung saja pembina kami sudah pulang, kalau tidak, mereka pasti sudah kena hukuman.


"Fey! kau tidak ingin mencobanya? Kau ketua kegiatan ini, kan? Anggota cewek juga ingin kau memberikan contoh pada mereka." tanya Juna.


"Bagaimana kalau Lisa saja? Dia kan ketua organisasi kita!"


"Dia tidak bisa?"


"Kenapa? Dia kan sangat ahli!"


"Masalahnya ... dia kedatangan tamu yang tak diundang!"


Aku terkejut. Hal seintim itu bisa diketahui oleh Juna. "Bagaimana kau bisa tahu? Kau kan cowok?"


Juna menjitak kepalaku. "Auwww, apa yang kau lakukan? Sakit tahuuu!" sengalku sambil mengusap-usap kepalaku bekas jitakan Juna.


"Kau pikir aku cowok macam apa, ha? Lisa sendiri yang memberitahuku! Aku bermaksud memintanya melakukan repling prusik tapi ia tidak bisa dengan alasan itu, makanya aku memintamu ... dasar kau ini!" jelas Juna.


Aku meringis, "Maaf! aku kira kau ...."


"Hah, sudahlah jangan dibahas lagi. Cepat naik! Setelah ini giliran anggota cewek yang beraksi."


Aku tidak bisa menolak usulan Juna, bukan karena aku mencurigainya yang bukan-bukan, tapi karena aku agak takut kalau harus melakukan prusik. Aku bisa melakukan teknik repling, tapi aku agak parno saat prusik, tapi aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku di depan semua orang. Apa kata dunia jika aku ketahuan takut ketinggian.

__ADS_1


Akhirnya tiba giliranku melakukan teknik panjang tebing. Sudah kuduga, dengan gesit aku bisa memanjat pohon dengan ketinggian kurang lebih enam meter dalam rentan waktu yang cukup cepat bila dibandingkan dengan yang lain. Cukup 10 menit saja aku sudah sampai di atas pohon. Tapi, aku langsung ciut ketika harus melakukan teknik prusik. Meski sudah dilengkapi pengaman ditubuhku, aku masih saja gugup.


Semua orang yang berada di bawah memintaku untuk segera turun, tapi aku diam terpaku menatap betapa tingginya aku memanjat. Keringat dingin mulai bercucuran dan aku tidak tahu harus bagaimana dan apa yang akan kulakukan sekarang.


Sampai ada seseorang yang tiba-tiba menggamit pinggangku dari belakang dan memelukku lalu menarikku turun dengan berpegangan pada tali yang sudah terpasang. Kami berdua turun dengan mata saling memandang. Tanganku refleks memeluknya sedangkan tangan orang itu memegang tali yang membawa kami turun. Tangan satunya lagi, masih erat memeluk pinggangku.


Sungguh sangat memalukan bagiku. Adegan ini, mengingatkanku pada film India yang berjudul 'Krrish' yang dibintangi aktor dan aktris bollywood terkenal seperti Hritik Roshan dan Priyanka Chopra saat mereka sama-sama terjatuh dari atas pohon.


Aku terkejut karena kejadian ini begitu tiba-tiba. Seseorang yang meraihku itu tidak lain dan tidak bukan adalah Refald. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di atas pohon dan membawaku turun bagai malaikat yang turun dari langit.


"Sejak kapan kau ada di atas?" tanyaku heran.


Refald tersenyum menatapku. "Sejak tadi, aku memang sedang menunggumu. Sudah kubilang, aku akan melindungimu."


Aku diam tanpa bisa bicara apa-apa. Semua mata takjub melihat kami. Mereka bahkan sampai bengong dan tidak berkedip sama sekali. Mereka baru sadar setelah kami mendarat dengan mulus di tanah.


"Heii!" teriakan Yoshi mengagetkan semuanya. Termasuk juga aku. "Ini bukan tempat adegan syuting film romantis! Ini acara kegiatan resmi! Kenapa kalian sok romantis begitu, ha?"


"Sudahlah! Bilang saja kalau kau cemburu, ini bukan kali pertama antar anggota memanfaatkan waktu dan suasana untuk meromantisasi hubungan mereka. Seperti kau tidak pernah melakukannya saja!" komentar Alex yang berdiri disampingnya.


"Tiap generasi memang selalu ada, sih ... tapi nggak gini juga kali!" ucap Yoshi dengan nada tinggi.


Aku langsung bergabung dengan Yua dan yang lainnya sambil menahan malu yang tidak bisa kusembunyikan. Sementara Refald langsung pergi entah ke mana.


"Kau bukan satu-satunya orang yang terkena sindiran Yoshi. Jadi, jangan seperti itu." bisik Yua.


"Aku tidak tahu lagi mau ditaruh di mana mukaku ini, Yua!" aku menundukkan wajahku dari tatapan semua orang.


"Taruh saja di atas bantal, hehehe. Kalian berdua itu sangat romantis, tahu! Lihat, semuanya suka dengan aksi kalian, tadi."


Aku tahu kalau Yua hanya bermaksud menghiburku. Lumayan terhibur juga sih, paling tidak, memang bukan hanya aku saja yang merasa malu di sini.


"Hei, kau!" Teriak Yoshi pada Yua.


"Aku?" Yua bertanya untuk memastikan dirinyalah yang dimaksud.


"Iya ... kamu! Masak aku? Kemari! Cepat!"


"Yoshi ini kenapa, sih? Dia sepertinya marah? Tapi kenapa malah aku yang jadi sasaran?" bisik Yua lagi sebelum ia pergi memenuhi panggilan Yoshi.


Tanpa aba-aba, Yua langsung dipasangkan pengaman ditubuhnya.


"Ada apa ini, Kak?" Yua mulai protes karena ia tidak bersedia jika harus disuruh ikut latihan panjat tebing.


"Kau tenang saja, aku akan menarikmu. Jadi kau tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk bisa sampai atas."


Mendengar hal itu, Yua pun pasrah. Jika menolak Yoshi pasti makin kesal.


Aku gemas sekali menyaksikan balas dendam Yoshi yang memanfaatkan sahabatku untuk melampiaskan amarahnya. Ingin sekali aku menghentikan aksinya, tapi aku tidak ingin ada keributan di sini. Aku tidak mengerti mengapa Yoshi meminta Yua yang bukan anggota pecinta alam mengikuti latihan Panjat tebing ini.


Saat pemasangan pengaman selesai, Yoshi melepas tali yang terikat di batang pohon besar itu dan menariknya. Awalnya Yua berteriak karena takut. Itu karena Yua baru pertama kali melakukan latihan seperti ini. Tapi saat dia sudah berada di tengah-tengah ketinggian, rasa takutnya mendadak hilang dan berubah menjadi rasa kagum yang menyenangkan.


Dari atas, Yua bisa melihat pemandangan hutan yang indah. Kalau selama ini ia menganggap hutan itu sama saja, tapi kali ini pemikirannya berbeda. Hutan adalah pemandangan alam yang luar biasa dengan keindahannya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi kalau dilihat dari atas.


Aku bisa melihat Yua tampak senang menikmati aksinya yang hanya tinggal duduk manis menikmati indahnya pemandangan hutan. Kini aku tahu maksud dan tujuan Yoshi melakukan itu. Ia bermaksud menunjukkan pada semua orang bahwa kegiatan latihan ini tidak hanya menakutkan dan menegangkan saja, tetapi juga bisa sangat menyenangkan dan menakjubkan, apalagi bagi pemula. Namun, kesenangan itu mendadak hilang saat tiba-tiba tali yang menopang tubuh Yua, mendadak lepas dan menurunkan bebannya.


Di depan mataku, aku melihat Yua ... sahabat terbaikku ... terjatuh dari atas.


"YUUUUUUAAAAAAA!" teriakku dengan lantang.

__ADS_1


****


__ADS_2