
Aku mulai menceritakan apa yang aku ingat pada Refald saat aku mengikuti kegiatan caraka tahun lalu.
Saat itu, di bulan yang sama seperti tahun ini, kami mengadakan kegiatan caraka di hutan yang terkenal dengan keangkerannya. Sebenarnya, rumor itu hanyalah mitos dari desas-desus penduduk desa yang ada disekitar hutan ini supaya kami lebih berhati-hati dalam melakukan berbagai kegiatan yang dilakukan di dalam hutan.
Pada hari pertama datang, tidak ada masalah, semua kegiatan yang kami lakukan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Begitu memasuki jam istirahat, kami langsung masuk ke dalam tenda masing-masing yang sudah disediakan untuk kami. Tenda yang kami gunakan untuk bermalam juga seadanya, tidak memiliki penutup pintu keluar masuk tenda, hanya tenda biasa seperti yang digunakan para tentara.
Tiga meter dari lokasi tenda kami berada adalah tenda khusus laki-laki. Kami tidak bisa saling berinteraksi karena terhalang semak-semak belukar yang tinggi. Jadi, pada saat malam tiba, kami seolah tidur di hutan sendiri, tanpa penerangan dan tanpa penutup tenda. Kami semua kedinginan, dan yang paling merasakan dinginnya malam adalah aku, kerena posisiku ada di paling ujung. Secara kebetulan, aku kebagian tempat tidur yang berada dipaling ujung tenda sehingga aku bisa melihat langit-langit secara langsung. Aku melihat pepohonan yang berada tepat diatasku, sebagian besar pohon di sini berukuran besar dan tinggi.
Jika siang tidak terjadi apa-apa, hal yang berbeda terjadi pada saat hari sudah malam, yaitu tepat di jam tidur. Aku tidak bisa tidur malam itu, karena ini pertama kalinya dalam hidupku aku bermalam di tengah hutan yang terkenal angker. Aku melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang membuatku bergidik ketakutan. Awalnya tidak ada masalah saat aku memerhatikan sekeliling pepohonan yang ada diatasku. Sampai suatu ketika, samar-samar aku melihat ada bayangan putih yang berdiri di atas sebatang ranting pohon.
Aku mengamati apa yang aku lihat, sekilas aku mengira bayangan putih itu adalah sinar bulan yang menembus rindangnya pepohonan. Namun, setelah aku perhatikan, bayangan putih itu bukanlah sinar bulan karena bentuknya menyerupai sosok hantu yang fenomenal di negara Indonesia. Tidak salah lagi, bayangan putih itu adalah sosok pocong setengah badan. Aku bisa melihatnya dengan jelas, badan pocong itu ada di atas dahan pohon besar yang berada tepat diatasku. Bagian kakinya tidak ada, hilang entah kemana. Hanya bagian perut sampai kepalanya saja yang terlihat.
Aku merasa bahwa pocong itu sedang memerhatikanku. Aku begitu ketakutan setelah menyadari sosok apa yang sedang aku lihat sekarang. Ini pertama kalinya aku melihat hantu. Biasanya aku tidak pernah bisa melihat makhluk astral atau jenis yang lainnya seperti itu. Namun, entah mengapa hari ini aku bisa melihat pocong itu dengan jelas bahkan hanya dengan mata telanjang.
Aku tidak berani melihatnya lagi, aku memejamkan mataku dan menutupinya dengan sleyer yang kuikatkan dikepalaku supaya aku tidak bisa melihatnya lagi. Beberapa saat kemudian, aku merasa ada sesuatu yang berdiri disampingku. Semua bulu kudukku berdiri. Aku begitu merinding ketakutan sampai tidak bisa bersuara, seolah-olah ada yang menahan suaraku agar tidak bisa keluar. Aku bahkan tidak bisa bergerak. Aku bertahan untuk terus memejamkan mataku meski seluruh tubuhku gemetar karena ketakutan. Aku tidak yakin apakah semua teman-temanku yang satu tenda denganku merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan atau tidak. Yang jelas, aku tidak mendengar suara apapun, bahkan binatang malam juga tidak ada yang bersuara.
Malam itu, terasa sangat panjang, hampir semalaman aku tidak bisa tidur karena gemetar ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan bahwa sosok putih tukang loncat itu ada disampingku sepanjang malam. Aku hanya berharap bukan hanya aku yang mengalami hal mistis seperti ini. Mungkin saja, semua teman-temanku juga merasakan hal sama seperti yang kualami saat ini.
Hampir tiga jam lamanya aku terasa tersiksa. Ingin berteriak tapi suaraku tidak bisa keluar, tubuhku juga masih belum bisa digerakkan. Meski mataku terpejam, tetap saja aku ketakutan.
Syukurlah malam yang panjang segera berlalu, begitu menjelang pagi, aku memberanikan diri untuk kembali membuka mataku. Aku memerhatikan sekelilingku. Aku lega pocong itu sudah tidak ada lagi. Hawa keberadaannya juga sudah hilang. Entah apa yang dia lakukan padaku, aku sungguh takut kalau pocong itu akan terus-terusan menghantuiku. Apalagi kami harus menginap satu malam lagi di tempat ini. Aku khawatir pocong itu akan datang lagi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika sampai pocong itu hadir kembali.
Paginya, kami masih melaksanakan kegiatan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Saat jam istirahat, aku membuka tas yang bersisi mantel hujan model kelelawar. Aku mengikat mantel itu di atap tenda dan di kedua sisinya. Dengan begitu nanti malam aku sudah tidak bisa melihat pepohonan yang ada di atasku lagi karena sudah tertutup oleh mantel ini.
Malam untuk acara carakapun dimulai. Seniorku membangunkanku yang sudah tertidur pulas. Syukurlah dimalam kedua ini sosok putih menakutkan tidak datang lagi, mungkin karena tidurku yang terlalu lelap karena sebelumya, semalaman aku tidak bisa tidur.
“Bangunlah, Fey. Ayo ikut denganku.” Salah satu seniorku yang bernama Joni membangunkanku dan mengajakku kesuatu tempat. Sebelum pergi aku mengamati sekelilingku. Beberapa teman-temanku sudah tidak ada di dalam tenda dan sebagian lagi ada yang masih tertidur pulas.
Aku mengikuti seniorku dari belakang dalam diam. Suasana sangat gelap dan tidak ada cahaya apapun di sini. Hanya bermodalkan sinar bulan yang ternyata malam ini adalah malam bulan purnama, dan bulan itu sedang bersinar dengan indahnya menyinari alam semesta.
Rupanya, aku dibawa seniorku menuju kesebuah kerumunan yang terdiri dari beberapa orang, salah satunya adalah kak Vega. Dia adalah ketua pelaksana kegiatan caraka tahun ini.
Begitu melihatku datang, kak Vega menyuruhku duduk didepannya dan memberiku misi di tengah malam sebagai bentuk pengabdian kami sebagai calon anggota PA yang resmi.
“Misi kita malam ini adalah menemukan sekelompok warga desa yang tadi sore tersesat di dalam hutan sewaktu mencari bung (tunas bambu yang baru tumbuh). Kau harus melewati rute itu ....” kak Vega menunjuk ke arah semak belukar yang ada di samping kiriku. “Masuklah ke dalam semak itu dan terus ikuti jalan setapak. Jika kau menemui seseorang, maka ucapkanlah kata ‘Mbah, putumu liwat’ (Nek/Kek, cucumu lewat). Jika orang yang kau temui tidak menjawab, berarti kau harus melanjutkan perjalanan sampai rute terakhir. Tapi, jika orang yang kau temui menjawab kata sandimu, maka kau harus berhenti sejenak sambil menunggu misi berikutnya dari mereka. Apa kau paham?”tanyanya padaku.
__ADS_1
Aku mendengarkan penjelasan panjang lebar seniorku dengan khidmad. Bukan karena aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, hanya saja aku tahu arah acara ini seperti apa. Ini sama saja seperti acara uji nyali bagiku. Tidak peduli seberapa besar rasa ketakutanku saat ini, mereka semua pasti akan tetap memaksaku mengikuti acara uji nyali ini meski aku tidak mau.
Tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang diinstruksikan oleh seniorku. Aku langsung masuk ke dalam semak-semak dan menemukan jalan setapak. Aku mengikuti jalan itu sesuai petunjuk yang diberikan kak Vega tadi. Baru beberapa meter aku melangkah, aku seperti melihat dua orang berpakaian hitam berdiri mematung membelakangiku di sisi sebelah kanan.
Sebenarnya, aku sangat ketakutan. Seluruh tubuhku bergetar melihat dua sosok hitam itu. Aku berusaha mati-matian memberanikan diri dan mengucapkan kata sandi.
“Mbah, untumu liwat (Kek/Nek, gigimu lewat).” Ucapku lirih karena ketakutan.
Tanpa sadar, aku telah salah mengucapkan kata sandi itu. Tidak ada reaksi apapun dari dua sosok itu. Aku jadi semakin ketakutan karena aku salah mengucapkan kata sandi. Sambil gemetar, aku menunggu balasan dari dua makhluk yang ada didepanku, namun tidak ada reaksi apapun.
Sepertinya, aku masih harus tetap melanjutkan perjalanan karena tidak ada reaksi apapun dari mereka
“Aneh sekali, mereka sama sekali tidak bergerak, yang tadi itu manusia apa bukan, sih?” gumamku saat melanjutkan perjalanan.
Karena suasana sangat gelap dan aku tidak membawa penerangan apapun, aku meraba-raba semua benda yang ada didepanku untuk menelusuri jalan. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang sangat kencang disusul dengan suara tangisan.
Aku hafal suara itu, suaranya persis seperti suara Lisa, gadis paling tomboy diorganisasi kami. Aku mengamati sekitarku untuk mencari tahu darimana suara itu berasal dan apa yang membuat Lisa berteriak dan menangis seperti itu.
Aku melihat Lisa terduduk lunglai di sisi kanan tempatku berdiri. Aku langsung berlari mendekatinya untuk mengetahui situasinya.
Aku mengamati benda yang ditunjuk oleh Lisa. Satu meter dari tempat Lisa ada sebuah gundukan hitam. “Apa itu?” tanyaku pada Lisa.
Gadis itu masih ketakutan dan tidak mau mengangkat wajahnya. “I ... itu kan ke ... ke-pa-la manusia.” ucapnya sambil gemetar.
Aku tidak lagsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lisa. Meski ketakutan, aku mencoba mendekatinya untuk memastikan apakah yang dikatakan Lisa itu benar atau tidak.
Benda hitam itu memang seukuran kepala manusia. Hanya saja bentuknya berwarna hitam. Mungkin karena terlalu gelap sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitar kami saat ini.
Aku mencoba untuk menyentuh benda hitam itu dengan harap-harap cemas, dan ... ternyata, benda hitam yang terlihat seukuran kepala manusia itu bukanlah kepala manusia, melainkan bekas batang pohon yang sudah di tebang dan itu sudah cukup lama..
Aku menenangkan Lisa yang ketakutan. “Ini bukan kepala manusia, ini hanya batang pohon yang sudah ditebang.”
“Tapi aku yakin tadi aku melihat kepala orang yang tertelungkup? Sungguh, aku tidak bohong ... aku yakin tadi aku melihatnya.”
“Mungkin kau terlalu takut sehingga kau berhalusinansi.”
__ADS_1
“Aku tidak takut, aku benar-benar melihatnya tadi.” Lisa masih saja kukuh dengan apa yang dia lihat.
Sebenarnya aku sependapat dengan Lisa mengingat bahwa tempat ini memang terkenal dengan sebutan angker. Siapapun bisa saja melihat hal-hal yang aneh dan menakutkan di tempat seperti ini.
“Di sini memang sangat gelap, Lis. Lihatlah semua pohon yang ada disekeliling kita? Semuanya terlihat berwarna hitam. Kita berada di tengah hutan yang tidak bisa ditembus oleh sinar bulan. Jadi kita tidak bisa lihat apa-apa selain kegelapan. Berhentilah menangis dan kita harus segera menyelesaikan misi ini.” Aku mencoba menenangkan Lisa supaya ia tidak terus-terusan merasa takut.
Lisa menuruti apa yang kukatakan. “Kau benar.” ia bangkit berdiri dan mengusap air matanya.
“Kau ini, cewek tomboy tapi penakut juga,” ledekku sambil mulai melangkah berjalan.
“Diam kau!” Lisa mengikutiku dari belakang dengan kesal.
“Berhenti!” teriak seseorang dari belakang. “Kalian berdua! Bagaimana kalian bisa berjalan bersama-sama.” teriak Yuda. Salah satu senior kami.
Aku menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya terjadi supaya seniorku ini tidak salah paham.
“Benar begitu, Lis?” tanya Yuda pada Lisa setelah mendengar penjelasan dariku.
“Benar, Kak!” jawab Lisa.
“Kalau begitu, Lisa tetap di sini bersamaku, dan kau, Fey! Pergilah terlebih dulu!”
“Tapi, Kak ....” Lisa protes.
“Tidak ada tapi-tapian! Ini sudah peraturan, kalau kamu nggak mau mengikuti peraturan ini berarti kamu gagal. Tahun depan kau harus jadi junior lagi.”
“Baiklah.” Mendengar kata ‘gagal’ nyali Lisa langsung ciut.
Aku pun melanjutkan perjalanan ekspedisiku. Kali ini aku sampai di jalan yang agak sempit dan menurun. Aku harus berpegangan pada semak semak di tebing yang ada di samping kananku setiap kali aku melangkah. Itu karena jalannya terlalu gelap dan aku tidak ingin jatuh ke jurang. Aku yakin di sebelah kiriku ini adalah jurang yang tidak aku tahu seberapa tinggi kedalamannya. Oleh sebab itu, aku harus berhati-hati.
Beberapa meter dari tempatku melangkah, aku melihat cahaya terang yang bergerak semakin menjauh dari pandanganku. Aku tidak tahu cahaya apa itu, yang jelas, itu seperti kuyang, tapi aku juga tidak yakin. Tanganku gemetar karena ketakutan, ingin sekali mengejar cahaya itu tapi aku sangat takut sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang berteriak sangat kencang sekali.
"Aaarrrgghh!"
Itu suara teriakan seorang laki-laki?
__ADS_1
****