Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 58 Perasaan Sesungguhnya


__ADS_3

“Apa kau sudah siap? Kita akan turun sekarang.” Refald menatapku untuk memastikan kesiapanku, karena sepertinya dia tahu apa yang kurasakan saat ini.


Aku masih saja diam terpaku, tanpa bisa bicara, antara ragu, dan juga takut.


“Tenanglah, Honey. Ada aku bersamamu. Kau jangan takut lagi oke.” Refald menyentuh pipiku dengan lembut kemudian ia beralih ke sisi tebing untuk memeriksa akar pohon yang kami jadikan pegangan untuk menuruni tebing ini.


Aku hanya diam membisu melihatnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku agak gugup sebenarnya, tapi melihat Refald yang kini ada bersamaku, sebisa mungkin aku berusaha menghilangkan perasaan takutku dan menghadapi semua kesulitan ini bersama dengannya.


Refald jongkok membelakangiku. “Naiklah ke punggungku dan pegangan yang erat, ya! Kita akan turun sekarang,” ujar Refald setelah ia memastikan semua talinya terpasang dengan aman dan kuat.


Aku mengangguk dan mengalungkan tanganku di leher Refald dengan erat. Aku yakin Refald bisa mendengar suara detak jantungku, karena begitu ia berdiri Refald langsung menyunggingkan senyum manisnya di balik wajahnya yang sangat tampan.


Kami pun mulai menuruni tebing dengan menggunakan akar belukar pohon yang tak kalah tebal dari tali karmenter. Hanya saja, akar-akar ini masih ditumbuhi daun-daun hijau yang menutupi permukaannya sehingga membuat Refald tidak bisa cepat menuruni tebing akibat terhalang oleh daun-daun yang tumbuh.

__ADS_1


Selama 20 menit kami bergelantungan di bawah tebing. Semakin ke bawah, air terjun yang mengalir di samping kami, semakin deras alirannya sehingga membuat baju kami berdua basah kuyub. Untung saja kami masih sama-sama memakai jaket yang lumayan tebal khusus bagi para pendaki sehingga kami masih bisa bertahan dari terpaan butiran-butiran derasnya air terjun yang menyiram kami tanpa ampun.


Waktu 20 menit terasa sangat lama dan penuh dengan ketegangan, namun akhirnya kami sampai juga di dasar jurang tanpa mengalami banyak kendala. Aku lega sekaligus kagum dengan perjuangan Refald yang rela melakukan apa saja supaya aku tetap aman bersamanya. Aku tidak bisa melukiskan bagaimana perasaanku saat ini, yang jelas aku sangat berterima kasih pada tunanganku itu kerena telah berhasil membawaku turun dari tebing tanpa mengalami luka serius. Entah apa jadinya diriku sekarang bila saat itu Refald tidak datang tepat waktu.


Tidak terasa kami pun sampai di dasar jurang yang lumayan dalam juga. Begitu kaki Refald mendarat di tanah, Refald langsung menurunkanku. Aku mengamati seluruh area tebing dan takjub melihat apa yang ada di depan mataku. Aku masih belum percaya kalau aku dan Refald bisa menuruni tebing sedalam ini dengan kondisi hidup tanpa lecet apapun.


Ini sungguh luar biasa. Jurang sedalam itu telah berhasil kami lewati bersama. Aku sungguh tidak percaya. Bahkan mungkin orang lain pun juga tidak akan percaya kami berdua bisa menuruni tebing ini dengan tangan kosong tanpa pengaman apapun.


“Kita sudah sampai Honey, kau sudah bisa bernapas lega,” ucap Refald sambil membasuh mukanya dengan air sungai yang ada disamping kami. “Ahhh ... segar sekali.” Refald mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah terkena air.


Refald hanya diam memegang punggung tanganku yang masih melingkar di atas perut dan sekitar pinggangnya. Perlahan Refald menarik tanganku dan membalikkan tubuhnya menghadapku lalu kami saling berpelukan.


“Anytime, Honey ... you’re my life now. Aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan selalu melindungimu walau aku harus membahayakan nyawaku sendiri.” Refald membalas pelukanku dengan erat.

__ADS_1


Aku semakin terharu mendengar kata-kata Refald. Kami saling berpelukan dan terhanyut dalam perasaan kami masing-masing di bawah derasnya air terjun yang terus menghujani kami dengan butiran air layaknya air hujan yang turun dari langit.


Aku sudah tidak peduli mau basah kuyub atau tidak, yang jelas aku sangat bahagia karena sebentar lagi kami akan ke luar dari sini dan mulai melalui hari-hari indah bersama. Tidak ada lagi air mata ... tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanyalah tawa dan kebahagiaan.


“Ayo kita pergi dari sini, hari sudah semakin sore. Kau tidak berencana bermalam di sini, kan?” Perlahan Refald melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tanganku.


“Bagaimana kalau kita kemalaman di tengah hutan, apa sebaiknya kita bermalam di sini saja? Sampai menunggu fajar tiba?”


“Ehmmm ... tempat ini memang sangat indah Honey, kalau di siang hari, tapi akan sangat berbeda bila kau melihatnya di malam hari. Aku tidak yakin kau akan mengatakan hal yang sama jika kita tetap bermalam di sini. Aku rasa itu bukan ide yang baik.”


Aku agak sedikit bingung dengan arti ucapan Refald dan aku malas untuk mencari tahu makna dari kata-katanya. Aku mengamati tempat yang ada di sekelilingku. Sangat sepi, sunyi terlalu hening malah. Mungkin saja ini karena hari sudah mulai malam, jadi suasananya berbeda dengan saat di siang hari.


Apa benar tempat ini menyeramkan kalau malam? Rasanya mustahil bila tempat seindah ini menjadi seram jika hari sudah berganti. Tapi, sejauh ini apa yang dikatakan Refald selalu benar dan ia sangat mengetahui seluk beluk alam yang ia datangi.

__ADS_1


****


__ADS_2