Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 173 Ingatan yang Akan Hilang


__ADS_3

Roy datang menemui Leo yang sedang termenung di dalam tendanya. Banyak sekali yang dipikirkan Leo saat ini termasuk hal-hal ghaib yang terjadi ketika ia bersama dengan kakak sepupunya. Shena yang sudah ditakdirkan untuknya dan juga kisah kelam masa lalu raja iblis yang baru saja ia saksikan membuat Leo, mulai agak sedikit takut jika apa yang terjadi pada Raghu, terjadi juga padanya. Sebagai manusia biasa, ia tidak akan sanggup jika melihat Shena berakhir seperti Zoya.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Roy membuyarkan lamunan Leo. “Ceritakan padaku? Darimana saja kalian? Kenapa setiap kali kau datang Shena selalu pingsan digendonganmu?”


“Kau bicara seolah akulah yang membuat gadis itu pingsan?” ujar Leo tanpa melihat sahabatnya.


“Mengingat siapa dan seperti apa dirimu, siapapun pasti mengira kaulah yang memang membuatnya pingsan. Entah karena dia jatuh cinta padamu atau kerena kau yang macam-macam dengannya sehingga membuatnya pingsan seperti itu.”


“Sudah kubilang, aku tidak sebrengsek itu. Kau tahu alasanku mendekati semua wanita.” Leo membela diri dari tuduhan Roy yang ditujukan padanya.


“Lalu, apa yang terjadi? Apa kalian berdua ... sudah ...,”


“Sudah apanya? Aku tidak melakukan apa-apa padanya? Kalaupun aku mau, aku tidak mau melakukannya di sini. Aku akan mencari tempat yang nyaman. Paling tidak, di hotel bintang lima, tapi aku juga tidak mau melakukannya dengan wanita yang tidak aku cintai.”


“Tapi kau kan jauh cinta pada Shena. Artinya kau bisa melakukanya pada gadis itu.”


“Dia tidak mencintaiku, ah bukan ... belum, Shena belum tahu siapa aku sebenarnya. Selain itu aku tidak mau buru-buru menjalin hubungan dengannya. Dengarkan aku baik-baik Roy ... aku yakin kakakku akan menghapus ingatanku begitu aku kembali dari sini. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu supaya kau mengingatkanku bahwa satu-satunya wanita yang aku cintai hanyalah Shena. Kau harus memberikan petunjuk itu padaku jika ingatanku hilang.” Leopun menceritakan semua detail kejadian yang ia alami selama berada dihutan bersama dengan Shena termasuk saat mereka berada didunia lain tanpa ada yang disembunyikan Leo dari Roy.


“Kenapa kak Refald menghapus ingatanmu juga?” tanya Roy setelah Leo selesai bercerita.


“Aku tidak tahu dan akan lebih baik kalau aku tidak mengetahui alasannya, kakakku itu penuh dengan misteri, aku akan pusing tujuh keliling jika terus berada bersamanya.”


“Kau benar, dia seorang pangeran mengerikan yang berwajah tampan. Raja dari seluruh dedemit yang ada di wilayah ini. Untung saja kak Fey betah bersamanya. Membayangkan punya pasukan seperti makhluk astral itu aku sudah merinding.” Roy bergidik ngeri sendiri. “Pantas saja Shena pingsan.”


“Jangan bahas mereka lagi, aku kesal sekali degan mereka berdua.” wajah Leo kembali cemberut akut.


“Memangnya apa yang mereka lakukan padamu?” Roy jadi penasaran lagi.


“Bayangkan saja? Mereka berciuman mesra didepanku? Gila, kan?” Leo terlihat makin emosi.


“Kau kan bisa mencium Shena? Mereka akan menikah, wajar kalau keduanya melakukan hal itu? Apa salahnya?” Roy terkesan mendukung aksi Refald dan Fey.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa menciumnya kalau Shena pingsan, begitu?”


“Bagus dong. Itu kesempatan emas bagimu, Shena tidak akan bisa melawan.” Roy mulai meracuni otak mesum Leo.


“Kau sinting!”


“Kau yang tidak waras! Aku memberikan saran seperti yang biasa kau lakukan? Atau jangan-jangan kau sudah melakukannya? Shena pingsan setelah kau menciumnya?” tebakan Roy memang benar. Shena pingsan setelah dicium Leo, tapi bukan karena terlena dengan ciuman yang diberikan Leo, melainkan tubuhnya lemah karena habis dirasuki makhluk astral tak kasat mata.


Leo sendiri hanya tersenyum getir menatap sahabatnya. Sekilas bayangan saat bibirnya terluka akibat digigit Shena mulai terlintas kembali dikepalanya, bahkan mata merah Shena yang terlihat menakutkan langsung menghilang ketika Leo menciumnya dengan sepenuh hati. Ada rasa senang dalam hati Leo bila mengingat moment sweet dan menegangkan itu.


Tanpa sadar, Leo memegang bekas gigitan Shena dibibirnya dan Roypun memerhatikannya. “Apa yang terjadi dengan bibirmu itu? sepertinya itu bukan luka pukulan?” tanya Roy dan mendekatkan wajahnya ke wajah Leo untuk mengamati lukanya.


Leo jadi risih dan menjauhkan wajah Roy dari hadapannya. Ia kembali berbaring membelakangi Roy untuk pergi tidur.


“Wuah, kau benar-benar bajingan tengik!” Roy berkomentar seakan tahu apa yang sudah terjadi diantara Shena dan Leo.


“Sudah ku bilang Refald yang menyuruhku!” Leo membela diri lagi.


Leo langsung bangun berdiri menatap kembali sahabatnya. “Darimana kau tahu kalau itu adalah ciuman pertama Shena?” tanya Leo.


“Aku tahu dari Laura, Shena tidak pernah pacaran sebelumnya. Jika kau menciumnya berarti kau sudah mengambil ciuman pertamanya.”


“Tidak pernah pacaran bukan bukan berarti tidak pernah berciuman,” sanggah Leo. Ia tidak ingin berspekulasi terlalu tinggi.


“Hidup Shena tak seindah hidupmu, aku saja hampir meneteskan air mata saat Laura menangis menceritakan kisah hidup Shena sebelum ia kuliah di sini. Gadis itu tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Kaulah orang pertama yang mendekatinya.”


Leo agak terkejut mendengar penjelasan Roy, ia penasaran sekaligus kesal dengan kisah hidup Shena yang dimaksud Roy. Ia bertekad setelah pulang dari sini akan mencari tahu apa yang terjadi pada Shena selama Leo tidak ada di sini. Namun tidak dapat dipungkiri lagi, dalam hati Leo, ia merasa senang karena ciuman pertama Shena menjadi miliknya.


“Tapi sepertinya ... Shena tidak akan mengingatnya, kan? Kau bilang kak Refald sudah menghapus ingatannya.”


“Kau benar,” ujar Leo. “Tidak masalah, yang penting ciuman pertama Shena, sudah menjadi milikku, aku tidak peduli dia ingat atau tidak.” Leo kembali berbaring dan mulai tidur dengan senyum mengembang.

__ADS_1


“Dasar, bengek!” Roy pun ikut tertidur di samping Leo.


***


Setelah mendapat pesan dari para leluhurnya, Refald dan Fey kembali ke dalam rumah tepat disaat semua orang sudah tertidur pulas. Hanya dalam hitungan detik saja, keduanya sudah berada di dalam kamar Fey. Refald segera mengambil handuk putih dan mengusapkan handuk itu diatas kepala kekasihnya dalam diam. sedangkan Fey sendiri juga ikut diam dan pasrah saja dengan apa yang dilakukan Refald padanya.


“Masuklah ke kamar mandi dan ganti pakaianmu, Honey. Aku tidak mau kau sakit karena masuk angin.” Refald mencium kening Fey dengan lembut.


Tanpa bicara, Fey mematuhi apa yang dikatakan kekasihnya. Ia mengambil pakaian baru dari lemarinya dan masuk ke dalam kamar mandi sambil terus diawasi Refald.


“Kenapa Refald menatapku seperti itu? Bikin tegang saja,” gumam Fey dan tentu saja Refald mendengar ucapannya.


Karena sudah di dalam kamar mandi, sekalian saja Fey membersihkan diri, tapi ia baru ingat kalau ia tidak membawa handuk dan handuknya juga masih ada ditangan Refald.


“Gawat, handukku!” gumam Fey. Ia sedikit membuka pintu kamar mandi berharap Refald sudah kembali ke kamarnya, jadi Fey bisa keluar mengambil handuknya.


Sayangnya, apa yang diharapkan Fey tidak terjadi. Tepat disaat Fey membuka pintu kamar mandinya dan melongokkan kepalanya, Refald sudah ada didepannya dan membuat Fey tertegun.


“Kau melupakan ini, Honey.” Refald tersenyum menatap Fey yang tidak memakai sehelai benangpun. Secepat kilat, Fey menyambar handuk itu dan menutup pintu kamar mandinya dengan cepat.


Jantung gadis itu serasa mau copot, entah Refald sudah melihat tubuhnya atau tidak, yang jelas saat ini Fey sangat malu sekali. Bagaimana bisa ia mandi tanpa membawa handuk sementara ada laki-laki dalam kamarnya.


“Memalukan sekali! Semoga Refald tidak melihat tubuhku! Aduh! Kenapa aku bodoh sekali!” gumam Fey sambil menutup wajahnya sendiri.


Sedangkan Refald hanya tersenyum simpul mendengar apa yang dikatakan wanita yang dicintainya saat berada di dalam kamar mandi. “Aku sudah melihatnya, Honey.” Refaldpun menghilang dan kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan diri juga.


***



__ADS_1


__ADS_2