Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 110 Penjelasan


__ADS_3

Penyatuan jiwa yang kami lakukan dalam pernikahan ghaib ini memang sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. Dua jiwa saling menjadi satu dalam artian yang sesungguhnya. Jiwa Refald masuk ke dalam jiwaku begitu pula dengan jiwaku yang masuk ke dalam jiwanya. Ibarat dua buah potongan kertas dengan ukuran yang sama, dijadikan satu kesatuan sehingga membentuk satu potongan kertas saja, bukan dua lagi. Kemudian dalam jangka waktu tertentu dilepaskan kembali menjadi dua bagian potongan kertas seperti sedia kala. Itulah gambaran penyatuan jiwa kami yang baru selesai kami lakukan.


“Sekarang, jelaskan padaku semuanya,” pintaku pada Refald setelah kami selesai melakukan penyatuan jiwa dalam arti yang sebenarnya.


“Bagaimana kalau sambil jalan-jalan diluar, kau selalu bermimpi bisa terbang seperti Edward, bukan? Ayo kita melesat seperti dia. Kita gunakan kesempatan langka ini untuk menjadi Edward dan Bella seperti yang selalu kau bayangkan,” ajaknya.


“Aku setuju!” aku pun tertawa riang bersama Refald. Entah kenapa setelah penyatuan jiwa kami tadi, aku merasa solah sudah menjadi pengantin sungguhan. Di dunia ini, aku adalah istri Refald dan aku sangat senang menyandang gelar itu.


Tanpa pikir panjang, Refald menarik tanganku dan kamipun terbang menembus atap, melayang keluar menuju awan yang sudah memasuki rembang petang.


“Wahhhh ... ini menakjubkan sekali! Aku bisa tebang!” teriakku dengan lantang.


Kami pun menyusuri hutan rimba yang lebat dan ditumbuhi banyak sekali pohon pinus yang menjulang tinggi. Adegan ini mengingatkanku pada film twilight di mana Edward menggendong Bella terbang di atas pohon dan berkencan di salah satu dahan pohon pinus.


“Kau senang, Honey?” tanya Refald sambil mengunciku yang bersandar di batang pohon pinus paling atas.


“Lebih dari yang pernah kubayangkan? Aku bahkan merasa lebih dari menjadi Bella.” Aku melihat pemandangan yang ada di bawahku dan juga yang ada disekelilingku.


Matahari sudah hampir terbenam dan itu membuat suasana bulan madu kami menjadi begitu syahdu dan romantis banget.


“Sepertinya, keputusan yang aku ambil sudah tepat, aku senang kau bahagia, Honey. Aku takut kau tidak akan mau memaafkanku karena telah memaksamu menikah denganku secepat ini.” Refald menatapku, meski tubuh kami trasparan, anehnya Refald masih bisa menciumku seperti biasanya.


“Apa para hantu, juga melakukan seperti apa yang kita lakukan sekarang? Maksudku terhadap pasangan mereka.”

__ADS_1


“Tidak semua, hanya yang mau saja. Tidak semua hantu seperti kita.” Refald mengajakku meloncat pindah ke dahan pinus lain sambil menikmati pemandangan indah matahari yang mulai tenggelam.


“Sekarang, jelaskan padaku semuanya. Kau sudah janji padaku.” Aku menagih janji Refald.


“Ehm, penjelasanku ini, mungkin agak rumit dan juga panjang. Jika kau bosan, kau bisa bilang dan aku akan menghentikannya,” ujarnya. Aku semakin terpesona dengan Refald jika dia manatapku mesra seperti itu.


“Aku tidak akan bosan!” aku duduk di atas dahan pinus sambil menikmati panorama alam yang mulai berganti dengan malam. “Aku tidak akan menyela, sampai kau selesai bicara,” janjiku.


Refald pun duduk disebelahku sambil menggenggam erat tanganku. “Baiklah, kita mulai dari berteduh di dalam goa yang ada di tengah hutan.” Refald mulai menjelaskan. “Aku masuk ke dalam goa untuk mencari kayu bakar kering, sebenarnya ... aku tidak mencari kayu bakar itu. Aku sengaja masuk ke dalam untuk bertemu seseorang, dan orang itu adalah kakekku sendiri.


Kakek tahu, kekuatanku hilang karena aku sudah melanggar peraturan. Ini yang kedua kalinya setelah aku kehilangan kekuatanku dan kita berdua sedang dalam bahaya besar. Takdir yang kita hadapi begitu kejam mengingat para penjahat itu dengan mudah bisa menemukan keberadaan kita dalam goa, terlebih situasinya begitu mendukung. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi jika mereka berhasil menemukan kita di goa itu.


Dengan kata lain, kematian kita berdua sudah dipastikan akan terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Karena itulah kakek datang untuk memberiku sebuah pilihan. Pertama, kita berdua bisa terus hidup dan melawan takdir yang sudah ditakdirkan dengan melakukan perjanjian pernikahan ghaib sebagai ganti kematian kita. Kedua, menghadapi takdir tersebut dengan catatan, salah satu kita harus tetap bertahan hidup.


Kakek bilang, pilihanku masih bisa dirubah, karena dia yakin bahwa apa yang aku pilih saat itu salah. Sedangkan aku tahu, jika kau menikah denganku sekarang, kau tidak akan siap. Sebab, pernikahan ini bukanlah pernikahan biasa yang bisa dihadapi oleh remaja seperti kita.


Jika terjadi kesalahan selama proses pernikahan ghaib ini, maka nyawa kita dan juga semua orang yang kita cintai akan jadi taruhannya. Karena itulah, aku lebih memilih pilihan yang kedua. Aku ingin kau tetap hidup layaknya manusia biasa dan menjadikanku kenangan indah dalam hidupmu. Karena aku yakin, cinta kita berdua, akan abadi selamanya meski kita tidak lagi bersama.


Toh meskipun aku mati, aku masih bisa melihatmu, bahkan jika aku mau, aku pun juga bisa berinteraksi denganmu meski kita berbeda dunia. Tetapi, lagi-lagi dugaanku salah. Kau datang berlari mengikutiku di pinggir sungai sambil berlinang air mata. Entah kenapa hatiku terasa sakit dan juga sesak. Hancur dan juga tak berdaya. Saat itu, untuk pertama kalinya aku ingin hidup, berlari dan memelukmu dalam dekapanku. Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Pilihan sudah kubuat, dan aku menyaksikan wanita yang paling aku cintai menjadi berantakan tatkala mengantarku ke dalam jurang kematian.


Aku baru sadar, meninggalkanmu hidup sendirian, bukanlah keputusan yang tepat. Aku jauh lebih tersiksa ketika air matamu berhamburan keluar. Jeritan hatimu bahkan bisa ku dengar pilu dan menyakitkan. Aku pun tahu tindakan apa yang akan kau lakukan saat berdiri di tepi jurang. Begitu aku jatuh, kau pun juga akan mengikutiku jatuh. Saat itulah aku memejamkan mata dan memanggil kakekku untuk mengubah pilihanku. Kakek datang dan menyetujui perubahan pilihan yang ku ajukan tepat disaat kita berdua terjatuh ke dasar air. Apa kau bosan?”


“Tidak, lanjutkan!” aku bersandar di bahu Refald.

__ADS_1


“Kakek memberi waktu kita 24 jam untuk melakukan proses pernikahan ghaib yang harus kita lakukan sebagai ganti kamatian yang harusnya sudah merenggut nyawa kita berdua. Begitu ritual pertama di mulai, aku tidak boleh lagi melihatmu ataupun bicara denganmu sampai ritual terakhir dilakukan. Sebenarnya, aku tidak kuat apalagi saat aku tenggelam di dasar sungai. Namun, jika aku melanggar peraturan itu, maka hal buruk bisa terjadi pada kita berdua. Makanya aku terus bertahan walaupun aku tahu, kau pasti kesal padaku.”


“Ehm, aku memang kesal padamu. Kau memintaku menikah denganmu tapi kau tidak mau bicara ataupun melihatku lagi, kau bahkan tidak menyapa ibuku. Apa itu juga bagian dari ritual? Kau tahu ibuku akan datang?” aku menatap Rafald yang juga menatapku sambil tersenyum.


“Sebelum kau sadar, aku sudah menyapa ibumu terlebih dulu. Tapi aku dilarang memberitahumu, sampai ritual itu dilakukan. Ibu sangat bahagia bisa mengantar pernikahan putri kesayangannya. Dan beliau juga tahu bahwa akan terjadi hal seperti ini sewaktu ia masih hidup dulu. Karena itu, ibu sama sekali tidak menyesal jika dia harus meninggal lebih dulu dari kalian semua, para keluarganya yang dikasihinya.” Refald membelai pipiku dengan lembut dan kami sama-sama menikmati malam yang bertabur bintang.


Aku ingin menangis, tapi aku tidak punya air mata. Ibu tahu takdir yang akan terjadi padaku. Ibu juga tahu bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu. Dan aku, sangat bahagia karena momen yang ditunggu ibuku benar-benar terjadi. Sekarang, ibuku bisa tenang kembali ke alam sana.


“Honey, apa kau baik-baik saja?” tanya Refald.


“Ehm, aku baik-baik saja.” aku mencoba tersenyum. “Refald, bisakah aku meminta hadiah pernikahanku?” tanyaku agak sedikit ragu.


“Tentu, katakan! Apa yang kau inginkan?” tandas Refald sambil mencium mesra bibirku.


BERSAMBUNG


*****


omegot haluku ... mari berhalu ria ...



__ADS_1


__ADS_2