
Yua sudah menungguku di rumah nenek saat aku datang. “Maaf Yua, Apa kau lama menungguku?” tanyaku saat melihat Yua sudah duduk di ruang tamu.
“Tidak, aku baru saja datang tadi. Kau darimana? Kenapa baru sampai?”
“Nanti kuceritakan di jalan. Aku ganti pakaian dulu.”
Yua mengangguk. Ia kembali duduk dikursi sambil membaca koran yang tersedia di bawah meja ruang tamu.
Aku langsung menuju kamarku dan mengganti seragam sekolah dengan kaos biru dan jins warna hitam, juga kupadukan dengan sweter agar tubuhku tidak kedinginan saat berkendara dijalan. Sebab, saat ini sudah memasuki musim penghujan, meskipun tempat ini belum pernah diguyur hujan sama sekali. Tinggal tunggu waktu saja kapan hujan akan turun.
Begitu selesai bersiap dan berkemas, aku menemui nenek dan minta izin padanya kalau hari ini aku akan menginap di rumah ibuku yang sebelumnya kutinggali. Aku juga menjelaskan kegiatan apa saja yang akan kulakukan besok supaya nenekku tidak khawatir jika aku tidak pulang.
“Hati-hati, Fey.” ucap nenek.
Ia sama sekali tidak keberatan dengan apapun yang kulakukan. Ia selalu mendukungku. Hal itu juga yang ia lakukan pada ibuku saat ia masih remaja dulu. “Kau mirip sekali dengan ibumu jika seperti ini.” nenek menatapku dengan berkaca-kaca.
“Aku tahu Nek, Nenek sudah pernah mengatakannya. Aku pergi dulu, Nek. Sampai jumpa lagi.”
Nenek mengangguk sambil tersenyum.
Aku dan Yua pergi kerumahku terlebih dulu. Mengecek beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk survey besok. Termasuk menyiapkan persediaan obat-obatan yang dibutuhan untuk berjaga-jaga kalau ada yang terluka.
“Bagaimana? Apa ada yang kurang?” tanyaku pada Yua.
Yua masih mengamati beberapa perlengkapan kami. “Aku rasa ini lebih dari cukup. Kau menyiapkannya dengan sempurna. Kenapa bukan kau saja yang jadi ketua di organisasimu itu? Aku yakin anggotamu bakal lebih sejahtera kalau terus seperti ini.”
“Aku tidak tertarik. Aku terpaksa jadi ketua pelaksana kegiatan ini karena mereka semua memaksaku. Tidak ada pilihan lain lagi dan aku juga tidak bisa menolak.”
“Baiklah, Persiapan kita sudah selesai. Kita akan tidur dimana nanti? Matahari sudah terbenam.” Yua memerhatikan seluruh ruangan kosong yang ada disekelilingnya. “Rumahmu tak banyak perabotnya.” komentar Yua.
“Rumah ini penuh kenangan bagi kedua orang tuaku Yua. Meski mereka sudah tidak tinggal disini lagi. Aku tidak mau mengubah kenangan mereka jadi kubiarkan saja begini. Kita akan tidur dikamarku, di lantai dua.”
Yua mengangguk setuju. Aku tahu dia juga penasaran soal aku dan keluargaku. Tapi ia tidak mau mencari tahu kalau bukan aku sendiri yang menceritakannya.
“Ehmmm ... apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanyanya.
Aku melihat jam tanganku, sudah pukul enam sore. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Ada sebuah pesan yang masuk, dan itu dari Refald. Aku membuka tasku dan memeriksa apa isi pesan itu.
Refald:
[Aku akan datang kesana nanti malam]
Aku tersenyum membaca pesan itu.
“Kau terlihat senang hari ini? Apa terjadi sesuatu?” Yua memerhatikanku.
Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tasku setelah membaca pesan Refald tanpa mau membalasnya. “Tidak ada apa-apa. Aku mau ke toko kue dulu. Mau ikut?”
“Tentu, apa yang akan kulakukan di sini sendiri?”
__ADS_1
Aku tersenyum. Kami pergi ke toko kue untuk membeli beberapa kue yang kami suka. Lokasinya lumayan agak jauh dari rumahku.
***
Refald sudah menungguku di depan rumah saat kami datang. Ia bersandar disamping volvonya dan melihatku. Yua memerhatikan kami, sepertinya ia mengerti dan memahami situasi dan kondisi. Ia pun pamit undur diri setelah menyapa Refald dan langsung masuk kedalam rumah. Ia tidak ingin mengganggu kami.
“Kau sudah datang.” aku menghampirinya dengan membawa sebuah kotak besar ditanganku. “Ini untukmu. Maaf aku terlambat memberikannya.”
Refald mengamati kotak besar yang kubawa untuknya. “Apa ini?” tanya Refald.
Ia memakai kaos warna biru yang sama dengan warna kaos yang kupakai dibalut dengan hem motif kotak-kotak warna biru pula. Kami berdua saling melempar senyum karena baru menyadari bahwa kami serasi. Entah kenapa aku merasa bahwa Refald sangat tampan hari ini.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak bisa menolongmu jika kau jatuh cinta padaku," ujar Refald.
"Yang benar saja? Kau sendiri juga melihatku, jangan-jangan kau yang jatuh cinta padaku." Akupun tak mau kalah. Entah perasaan apa ini, yang jelas aku bahagia melihat Refald.
Refald tertawa sinis. "Apa yang akan kau lakukan jika aku memang jatuh cinta padamu?" tiba-tiba saja wajahnya berubah jadi serius. Padahal tadinya, aku cuma bercanda.
Refald terus menatapku, aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Sebenarnya, aku tidak ingin membicarakan bagaimana perasaan kami terhadap satu sama lain. Aku takut kejadian di Vila kemarin terulang lagi.
"Yang akan kulakukan adalah, menyuruhmu membuka kado ini, secepatnya." Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan.
Refald masih saja betah menatapku, sepertinya ia tahu kalau aku sedang mengalihkan topik.
"Sebenarnya, apa isi kotak ini?" tanyanya.
“Buka saja!” ucapku sambil tersenyum.
“Maaf, aku tidak tahu pasti berapa usiamu. Jadi, aku membelikan beberapa lilin untukmu.”
Refald menatapku dengan tatapan yang membuatku jadi salah tingkah. Aku jadi teringat obrolanku dengan Yua saat kami berada di toko kue tadi sore.
“Siapa yang ulang tahun? Bukankah ulang tahunmu masih lama?”
Aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Yua. Sejujurnya aku sangat malu mengakuinya.
“Kemarin adalah ulang tahun Refald. Ia tak bisa merayakan ulang tahunnya dengan orang-orang yang dia sayangi karena aku. Jadi, aku hanya bisa melakukan ini untuknya. Meskipun hari lahirnya sudah lewat.”
“Dia ulang tahun? Kapan?”
“Saat dia mengajak kita makan bersama, waktu kita bertemu dengan Epank dan Via. Itu adalah hari ulang tahunnya. Pantas saja dia kesal waktu itu. Mungkin karena dia tidak bisa merayakannya dengan keluarga dan orang yang dikasihinya.”
Yua mengangguk setuju dengan kata-kataku. Ia bahkan membantu memilihkan kue ulang tahun yang tepat untuk Refald.
“Fey, Aku rasa Refald menyukaimu!”
Aku terkejut mendengar Yua tiba-tiba saja bicara seperti itu. “Kenapa kau berpikiran begitu?”
__ADS_1
“Apa kau tidak merasa? Tatapannya saat melihatmu berbeda ketika dia melihat orang lain.”
Aku memikirkan apa yang baru saja Yua katakan. Yua benar, Refald memang lebih sering melihatku ketika dia diajak bicara orang lain yang menurutnya tidak penting.
Seperti saat Lisa mengajaknya berkenalan, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Ia lebih memilih menatapku dari pada mendengarkan ocehan Lisa. Lalu, saat aku bicara pada Epank, ia juga lebih memerhatikanku dari pada melihat reaksi Epank saat kami mengobrol.
Selain itu, ia juga memintaku untuk jatuh cinta padanya tanpa alasan yang jelas. Sangat masuk akal jika Yua mengatakan kalau Refald memang menyukaiku. Hanya saja yang menjadi pertanyaanku adalah, dia sudah punya seseorang yang dia sukai. Itulah alasan dia ada di sini dan menemukan orang yang dia sukai itu. Lagipula, dia sendiri juga tahu, kalau aku sudah punya tunangan. Tapi kenapa ia tetap menginginkanku menyukainya. Itu yang belum bisa kumengerti sampai saat ini.
Ini sangat aneh bagiku. Aku berusaha lari dari kenyataan bahwa aku juga menyukainya tapi aku tidak bisa. Perasaan ini begitu kuat sehingga aku tidak bisa lepas darinya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti saja perasaan ini.
“Mungkin kau benar Yua, aku juga penasaran kenapa dia menyukaiku. Padahal, akulah penyebab kekacauan dalam hidupnya. Aku sudah membuat tangannya terluka, aku bahkan tidak tahu apakah luka ditangannya itu berhasil disembuhkan atau tidak.”
“Apakah ... kau juga menyukainya, Fey?”
Aku hanya tersenyum menatap Yua. Belum saatnya aku mengakui perasaanku yang sebenarnya. Meski faktanya, aku memang menyukai Refald.
Kini, Refald ada didepanku. Kami saling memandang satu sama lain.
Dia sempurna, tampan, tajir, cool, dan dambaan semua wanita yang ada didunia. Bagiku, Refald adalah laki-laki pertama yang membuatku terkesan dan penasaran akan kemisteriusannya. Apa mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?
“Tiuplah lilin itu!" Aku menatap Refald yang juga masih menatapku. "Aku tidak pernah merayakan ulang tahun sejak ibuku meninggal. Jadi, aku tidak terbiasa menyanyikan lagu ulang tahun. Aku hanya tahu sebelum meniup lilin itu, kau harus membuat permohonan sambil memejamkan mata.”
Refald tidak bicara. Ia langsung menutup mata beberapa saat, lalu meniup semua lilin itu hingga apinya padam.
"Selamat ulang tahun Refald," ucapku lembut. "Semoga panjang umur dan apa yang kau inginkan bisa jadi kenyataan.” aku tersenyum.
Refald masih belum berkata apa-apa. Ia hanya diam menatapku. Aku jadi berpikir mungkin ia tidak menyukai hadiah ini.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak suka hadiahnya?”
Refald masih terdiam dan terus memandangiku. Aku jadi malu sendiri jika Refald terus menatapku seperti itu. Perlahan ia mendekatiku. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mukaku memerah karena dengan cepat bibir kami bertemu. Ia menciumku, dengan lembut dan hangat. Jantungku berdetak kencang karena ini adalah kali kedua aku berciuman dengan seseorang. Bedanya, yang pertama dulu terjadi karena kecelakaan.
Tanpa sadar aku memejamkan mataku, berharap ini hanyalah mimpi. Namun, bibirnya yang terasa hangat dibibirku meyakinkanku bahwa ini bukanlah mimpi.
Ini bukan kecelakaan lagi, Refald benar-benar menciumku.
Perlahan ia menyudahi ciuman itu. Aku menjadi salah tingkah dan wajahku mungkin sudah jadi merah seperti tomat. Tiba-tiba dari atas terdengar suara ...“EHEEEEMM!”
Itu adalah suara Yua.
Refald terkejut. Mungkin ia lupa kalau Yua juga ada divsini. “Yua!” ucap Refald sambil menatap Yua yang berdiri di atas balkon lantai dua rumahku.
Aku sendiri juga terkejut dan malu karena Yua pasti melihat semua kejadian yang tak terduga ini.
“Aku tidak liat apa-apa. Jadi, kalian tenang saja,” ucap Yua santai, meski kami berdua tahu bahwa ia sudah melihat semuanya.
__ADS_1
*****