
Akhirnya kami sampai di Bandar udara International Tokyo, atau dikenal sebagai Bandar udara Haneda dan Bandar udara international Narita yang merupakan salah satu dari dua bandar udara untuk Tokyo Raya, Jepang. Bandara ini terletak di Ota, Tokyo, 14 km sebelah selatan stasiun Tokyo. Haneda menangani hampir semua penerbangan ke dan dari Tokyo, sementara Bandar Udara International Narita menangani sebagian besar penerbangan international.
Kami berempat turun dari pesawat pribadi milik keluarga Refald dan menuju pintu utama keluar bandara ini. Aku rasa, ayahku tidak bisa datang menjemput kami karena terlalu sibuk mengurus acara pernikahan kakakku yang akan diselenggarakan besok. Sebagai gantinya, calon kakak iparkulah yang datang menjemput kami.
Tentu saja aku sudah lupa bagaimana wajah Sauran, calon suami Sakura. Sebab kami sudah lama sekali tidak bertemu. Jangankan Sauran, wajah Refald saja aku juga sempat lupa. Padahal, Refald adalah tunanganku sendiri.
Refald melambai pada seorang laki-laki tinggi semampai, tampan dan berkulit putih khas orang China.
“Siapa dia?” tanyaku pada Refald.
“Kau tidak mengenalinya?” Refald malah balik bertanya padaku.
“Kau pasti sudah membaca pikiranku. Harusnya kau tahu apa jawabanku.”
“Sauran, calon kakak iparmu!” jawab Refald cepat.
“Apa? Dia ... Sauran?” tanyaku tak percaya. Soalnya, Sauran yang aku kenal dulu adalah anak laki-laki bodoh yang sok keren di depan Sakura, pemalu dan suka marah-marah. Namun kini, dia terlihat sangat berbeda, lebih dewasa dan sangat cool banget. Pantas saja Sakura tergila-gila padanya dan hanya Sauranlah yang menurutku paling cocok menjadi pendamping hidup kakakku.
“Aku jauh lebih cool darinya.” Refald mulai menunjukan rasa cemburunya, dan sepertinya sifat narsis Refald mulai kembali.
“Aku tahu! Lagian dia adalah kakak iparku yang secara otomatis juga jadi kakak iparmu. Tidak ada alasan bagimu untuk cemburu padanya.” Aku kesal sekali jika Refald membaca pikiranku untuk tujuan yang satu ini.
“Aku tidak cemburu, aku hanya mengingatkanmu!” Refald mengelak.
Aku hendak menjawab tapi orang tua Refald menyela perdebatan kami. “Kalian berdua pergilah dengan Sauran, kami harus ke kantor kedutaan terlebih dulu. Sampai ketemu lagi di rumah, dan kau Shiyuri ...,” ayah Refald menatapku penuh makna. “Selamat datang kembali di negara asalmu. Kuharap kau bahagia selama berada di sini.” Ayah mertuaku menepuk pelan bahuku yang langsung membuatku sadar kalau aku sudah menginjakkan kakiku di tempat kelahiranku sendiri.
Sekelebat kenangan menyedihkan masa laluku mulai terlintas di kepalaku. Untung saja ada banyak sekali perubahan di bandara ini dan sangat jauh berbeda dari saat terakhir kali aku datang kemari. “Tempat ini sudah berubah,” gumamku lirih dan Refald langsung menggandeng erat tanganku lagi setelah mertuaku menghilang dari hadapan kami.
“Begitu juga dengan dirimu.” Lagi-lagi Refald mendengar pikiranku. “Mari kita bernostalgia selama kita berada di Jepang. Aku akan melakukan tugasku sebagai tunanganmu di dunia nyata sekaligus suamimu di dunia lain. Kita berdua akan mengukir kenangan indah di sini, sehingga saat kita kembali ke Indonesia, kau sudah menjadi Shiyuri sesungguhnya.” Refald menatapku dengan senyuman yang membuat siapapun melihatnya, pasti langsung meleleh seperti es krim yang mencair.
“Tentu, di sini aku adalah Shiyuri Kinomoto, adik dari Sakura Kinomoto, putri kedua dari pengusaha Kinomoto.” Aku membalas senyuman orang yang paling kucintai.
“Hai, Refald,” sapa seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan Sauran. “Dan kau pasti ...,” ia tidak melanjutkan kata-katanya.
“Adik iparmu!” jawabku cepat.
Sauran langsung terdiam. Dia mengamatiku dari atas sampai bawah. Tentu saja tangan Refald langsung bertindak cepat menutupi mata Sauran sambil berkata, “Cepat bawa saja kami pulang, jangan melihat istriku seperti itu.”
“Istri? Kalian berdua sudah menikah?”
__ADS_1
“Cepat atau lambat kami pasti akan menyusulmu, jadi jangan menatapnya seperti itu di depanku.”
Sauran menyingkirkan tangan Refald dengan pelan. “Aku hanya memastikan apakah ada yang berbeda dari adik iparku? Kenapa kau begitu cemburu?”
“Berbeda apanya?” tanyaku penasaran.
“Kau lebih tinggi sekarang, tapi aku rasa kau tetap saja jutek sama seperti terakhir kali kita bertemu.” Sauran tersenyum dan menatap kami bergantian. “By the way, kalian pasangan yang serasi.”
Aku manggut-manggut, “Arigatou, kau juga berbeda sekarang kakak ipar, kau jauh lebih tinggi dariku sekarang, padahal kita dulu sama-sama tinggi. Bagaimana kabar kakakku, kenapa dia tidak ikut bersamamu menjemputku? Apa dia tidak merindukanku?”
“Dia sangat merindukanmu, dia sedang bersiap-siap menyambut kedatanganmu di rumah, bahkan dari semalam dia tidak tidur saking gugupnya bertemu dengan adik kandungnya. Sejujurnya aku tidak terima, Sakura tidak pernah menyambut kedatanganku seantusias itu jika aku baru pulang dari Hongkong. Sebenarnya yang jadi kekasihnya itu siapa? Kau atau aku?”
“Huh, untung aku sudah mengenalmu, jika tidak, akan aku suruh Sakura membatalkan pernikahannya denganmu dan mencari orang lain saja! Bagaimana bisa kau cemburu pada adik perempuan calon istrimu sendiri? Dasar bodooh!” aku berlalu pergi meninggalkan dua pria menyebalkan di belakang. “Ada apa dengan otak mereka?” gumamku.
Bagaimana bisa Sauran cemburu padaku dan Refald malah cemburu pada Sauran? Mereka pasti sudah gila. Bodo amat Refald mendengar pikiranku atau tidak.
Tiba-tiba saja, ada yang menarik tanganku dan hampir saja aku jatuh karena kehilangan keseimbangan. Untungnya, seseorang yang menarik tanganku itu dengan sigap menangkap tubuhku agar tidak jadi oleng dalam dekapannya, dan kami pun saling menatap satu sama lain. Orang itu, siapa lagi kalau bukan si bodooh Refald.
“Kau salah jalan Honey, pintu keluarnya sebelah sini. Mau aku gendong lagi?” Refald menyeringai nakal.
Aku langsung mendorong tubuh Refald sebelum ia sempat menggendongku. “Tidak terimakasih, aku ingin jalan sendiri sambil melemaskan kaki," cetusku.
***
Keluargaku tinggal di Tama, lokasinya terletak di bagian barat Tokyo. Saat ini sedang memasuki musim panas, jadi tidak ada bunga sakura di musim ini. Sungguh miris karena aku sangat asing berada di negara asalku sendiri. Sudah banyak yang berubah dari tempat ini. Semua orang yang kutemui dulu juga sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah berubah dan sangat asing bagiku. Aku merasa aku sedang tidak pulang kampung, melainkan seperti seorang wisatawan yang melancong ke negeri orang.
Aku bahkan lupa di mana letak persisnya rumah yang dulu sempat kutinggali, yaitu rumah ayahku sendiri. Satu-satunya tempat yang tidak berubah di sini adalah sekolahku dulu. Gedung itu masih tetap berdiri kokoh di tempatnya, hanya terlihat lebih modern dari terakhir yang aku ingat.
“Kau lupa seperti apa rumahmu?” bisik Refald yang duduk disampingku saat kami berada di dalam mobil yang di kendarai Sauran.
“Diam kau!” aku sungguh dongkol karena tidak mengenali lagi lingkungan rumahku sendiri. Mungkin karena aku sudah terlalu lama tinggal di negara asal ibuku sampai aku lupa negara kelahiranku sendiri.
“Setelah kita menikah nanti, kita akan tinggal di Swiss. Kau tidak akan galau lagi, mungkin lingkungan baru akan lebih membuatmu rileks menjalani kehidupan kita selanjutnya.” Refald menggenggam erat tanganku seakan tahu semua yang kurasakan saat ini.
“Apa kalian berdua juga akan segera menikah?” tanya Sauran yang menguping pembicaraan kami.
“Tidak!” jawabku
__ADS_1
“Iya!” jawab Refald.
Kami pun jadi saling pandang karena jawaban kami berbeda.
“Huh, siapa diantara kalian yang harus aku percaya?” Sauran tersenyum menatap kami bergantian dari kaca spion mobil sportnya.
“Aku bahkan belum lulus SMA, bagaimana bisa kami menikah? Aku juga ingin kuliah, jadi ...,”
“Honey, kau bisa kuliah setelah kita menikah.” Refald memotong ucapanku.
“Tidak! Kau akan menggangguku dan aku tidak akan bisa fokus pada kuliahku.”
“Kita akan menikah dan kita juga akan kuliah bersama-sama.” Refald tetap keukeuh pada pendiriannya.
Aku sudah tidak tahu harus bilang apa. Kuliah bersama Refald? Pasti akan sangat merepotkan.
“Oey, oey? Kalian berdua? Bagaimana kalau kita menikah bebarengan besok?” saran Sauran yang mungkin risih mendengar kami berdebat.
“Diam kau!” aku langsung membentaknya.
“Tidak sekarang, kakak ipar, kami butuh waktu untuk menyiapkan segalanya,” terang Refald pada Sauran. “Honey, begitu kita lulus nanti, kau harus menikah denganku! Tidak ada protes, itu sudah keputusan finalku! Menikah setelah kita lulus atau aku akan menyuruh mbak Kun masuk ke dalam tubuhmu dan melangsungkan pernikahan kita meskipun kau tak setuju!” Refald menatapku dengan tatapan serius.
“Hah?” aku hanya menatap nanar wajah tampan Refald dan berharap kalau saat ini, Refald sedang kerasukan.
Darimana dia dapat ide gila seperti itu? batinku.
BERSAMBUNG
****
Mampir juga di cerita baruku yuk ... dukung like, vote dan komentarnya, ya ...
visual Sauran hehe ..
__ADS_1