
Refald membuka sebuah pintu ruangan kamar yang luas dan megah. Semua ruangannya di dominasi warna krem. Banyak sekali benda-benda antik terpajang diberbagai sudut ruangan sehingga menambah kesan elegan dan nyaman.
Ada satu hal menarik perhatianku saat memasuki kamar ini, yaitu lampu hias antik yang terpajang rapi di atas meja kayu kecil pada kedua sisi tempat tidur berukuran besar. Lampu tersebut begitu unik. Sepertinya itu adalah barang antik satu-satunya yang ada di dunia ini. Sebab, aku tidak pernah melihat model lampu hias antik seperti itu dimanapun.
“Apa kau suka kamarnya, Honey?” tanya Refald padaku.
“Sangat suka. Kamarnya luas dan mewah, siapapun pasti menyukai kamar ini.” Aku tersenyum pada Refald.
Refald pun balas tersenyum padaku dan berjalan mendekat ke arah jendela berukuran lebar selebar dinding. Ia menyibak tirai yang menutupi jendela tersebut. Aku terpukau setelah melihat apa yang ada diluar jendela kamarku begitu tirai terbuka.
“Wauw, daebak! Ini sungguh luar biasa!” aku terkagum-kagum melihat pemandangan pegunungan Alpen langsung di depan mataku. Meski jaraknya sangat jauh dari sini, tapi ketika dilihat dari sini tempatnya seolah jadi dekat. “Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Kau beruntung bisa melihat keindahan pegunungan Alpen setiap hari.” aku mendekat ke arah Refald berdiri dan menikmati keagungan pegunungan Alpen yang menjulang tinggi.
Refald memelukku dari belakang sambil berkata, “Tapi semua ini tidak ada artinya karena tidak ada dirimu disisiku. Kau tahu, di tempat ini aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Selama 7 tahun lamanya, kugunakan seluruh waktu luangku untuk menjelajahi gunung itu.
"Aku tidak tahu di mana keberadaanmu, tak satupun pasukanku bisa memberitahuku. Kau mengganti namamu menjadi Lafeysionara sehingga nama Shiyuri sudah tidak terdengar lagi dimanapun. Aku rasa aku sudah menceritakan semuanya padamu.” Refald memelukku semakin erat sambil menikmati pemandangan indah dihadapan kami.
Aku berbalik badan menghadap Refald. “Ehm, aku tahu dan aku sangat mengerti. Maafkan aku, karena sudah melarikan diri dari takdir yang harusnya kita jalani bersama. Pasti kau juga sangat tersiksa sama sepertiku.” Aku menatap Refald yang juga menatapku.
“Tidak Honey, kau tidak tahu. Kau tidak perlu minta maaf padaku karena aku sempat ingin melepasmu. Aku pikir kau tidak mencintaiku, jadi untuk apa aku mempertahankanmu. Sampai akhirnya paman Byon datang dan tahu apa yang aku rasakan. Beliau mengajakku hiking ke gunung itu dan menceritakan semua kisah hidupnya bersama dengan bibi Biyanca. Setelah mendengar kisah mereka berdua, barulah aku memantapkan hati untuk meraih cintaku yang hilang.”
“Kau mau menceritakan padaku kisah mereka?” pintaku pada Refald.
Entah kenapa aku jadi tertarik dengan kisah paman dan bibi Refald yang menyebabkan ia nekat mencariku padahal Refald sendiri tidak tahu seperti apa aku waktu itu.
“Tidak sekarang, Honey. Leo, putra semata wayang mereka juga belum tahu bagaimana kisah kedua orang tuanya. Suatu hari nanti, ia akan bertanya padaku dan saat itulah aku akan menceritakannya pada kalian bertiga.”
“Bertiga? Bukannya cuma aku dan Leo, siapa yang ketiga?”
“Pasangan hidup Leo juga,” ujar Refald penuh misteri.
“Ah, aku tahu ... kau sudah pernah bilang padaku.” Aku manggut-manggut tanda mengerti. “Lalu, di mana Leo sekarang? Apa dia tinggal di sini?”
“Leo hanya datang kesini untuk latihan, ia tinggal di kastil milik ayah dan ibunya. Jaraknya kurang lebih satu jam dari sini. Pesta pertunangan kita juga akan dilaksanakan di kastil milik paman Byon. Mereka sekarang mungkin sedang bersiap-siap untuk acara kita nanti.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Harusnya aku gugup dengan pesta peresmian pertunangan kami, terlebih lagi keluarga besar Refald bukanlah keluarga sembarangan. Mereka berasal dari keluarga yang terpandang dan disegani semua orang.
__ADS_1
Pesta kami nanti, pasti akan mengundang banyak perhatian publik. Namun, sampai detik ini, tidak ada hal yang mangusik kami di sini, bahkan semua orang-orang yang tinggal disekitar sini terkesan cuek saat melihat kedatangan kami seolah Refald dan keluarganya bukanlah siapa-sipa. Mereka sama seperti semua penduduk yang ada di sini.
Alih-alih memikirkan situasi yang ada di tempat ini dan masalah pertunangan kami, aku lebih tertarik membahas soal adik sepupu Refald, Leo.
“Refald, aku masih tidak mengerti, bukankah Leo masih sangat muda, latihan apa yang ia lakukan sampai harus jauh-jauh datang kemari. Apa ia kesini setiap hari?”
“Tidak juga, ia hanya akan datang kalau memang sedang ingin datang. Kami berdua sama, bedanya, aku menghabiskan sisa waktuku untuk menjelajahi gunung di dunia. Sedangkan Leo, menghabiskan waktunya untuk berlatih memperkuat diri. Biasanya ia datang bersama dengan Roy sahabatnya. Apa kau mau lihat latihannya? Itupun jika kau tidak lelah.”
Sejujurnya, aku memang lelah, tapi rasa penasaranku akibat penjelasan dari Refald mengalahkan semuanya.
“Aku tidak lelah, sebenarnya aku ingin tahu seperti apa Leo? Dan latihan apa yang sedang ia jalani?”
“Kenapa kau jadi penasaran dengannya?” Refald mulai menunjukkan sifat posesifnya.
"Kau bilang, kau dan Leo sama, saat ini kau sudah menemukanku sedangkan Leo masih belum menemukan pasangannya. Aku ingin tahu seperti apa kehidupan yang Leo jalani selama ia belum bertemu pujaan hatinya. Melalui dirinya aku bisa membayangkan seperti apa dirimu saat sebelum bertemu denganku.” Aku menatap Refald yang juga menatapku lekat-lekat.
Refald menggandeng tanganku dan membawaku menuju balkon tanpa berkata apa-apa. Angin berhembus kencang ketika pintu kaca balkon terbuka. Selain bisa melihat indahnya hamparan pegunungan Alpen yang terbentang luas di depan mata. Kini, aku juga bisa mengagumi betapa memesonanya matahari yang mulai terbenam melewati garis cakrawala dunia.
“Lihatlah di bawah sana, Honey.” kata-kata Refald membuyarkan lamunanku.
Dor! Dor! Dor!
“Jangan takut, Honey. Itu ulah Leo, ia sedang latihan. Kemarilah!” Refald mengulurkan tangannya agar aku kembali tenang.
Latihan macam apa yang dilakukan anak seusia Leo sampai harus terdengar suara tembakan dan perkelahian? Batinku sambil menyambut uluran tangan Refald.
“Dia berbeda, Honey. Paman Byon harus menjadikan Leo kuat agar ia bisa melindungi dirinya sendiri dari ancaman musuh jika sewaktu-waktu ada yang berusaha menyerangnya.” Refald memberikan penjelasan karena ia pasti sudah bisa mendengar pikiranku.
“Aku masih tidak mengerti, kalau di Indonesia, Leo masih anak SMP. Ia berada dibawah lindungan pemerintah jika memang ada seseorang yang berusaha mencelakainya, tapi yang ia lakukan ini ... bukankah terlalu ekstrem untuk anak seusia Leo? Kenapa ia harus berlatih baku hantam dan menembak atau latihan lainnya yang berbau kekerasan?”
“Ini bukan Indonesia, Honey. Dan keluarga kami memang harus punya basic perlindungan diri. Jika tidak, cepat atau lambat nyawa kami bisa melayang kapan saja. Berlatih senjata, harus jadi makanan kami sehari-hari. Sebab itulah paman Byon membawa Leo kemari, sebab paman tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya begitu saja. Leo harus tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan bisa melindungi diri dan keluarganya.
"Jika Leo berhasil menjalani latihan ini, maka ia bakal diperbolehkan kembali ke Indonesia untuk mencari pujaan hatinya. Sama seperti yang kulakukan untukmu.” Refald menuntunku hingga berdiri di depannya sambil mamerhatikan Leo yang sedang berlatih keras dari atas balkon kamarku.
Sebenarnya aku takjub dan juga kagum dengan anak itu. Dari latihan yang ia lakukan, ia bisa melalui semuanya dengan mudah. Bahkan beberapa orang yang ia ajak berkelahi juga dikalahkannya. “Leo mirip gengster,” gumamku lirih. Mungkin aku mengatakannya tanpa sadar.
__ADS_1
“Lebih dari itu, Honey. Leo juga akan menjadi gengster kelas kakap yang digandrungi banyak wanita, sama seperti kakaknya.”
Sudah lama juga aku tidak mendengar Refald menunjukkan sifat narsisnya.
“Kakak? Siapa? Kau bilang ia anak tunggal?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Kau mau aku cium, ha? Beraninya kau pura-pura tidak tahu siapa kakaknya?” Refald menatapku tajam setajam silet.
“Siapa?” aku masih kukuh tidak tahu.
“Ayolah, Honey. Kau jangan bercanda, semua wanita tergila-gila karena ketampananku? Apa kau lupa, Honey?”
Refald membalikkan tubuhku dengan paksa dan berusaha menciumku, tapi aku menghindar cepat darinya. Refald tidak menyerah dan terus mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tiba-tiba saja, terlintas dikepalaku sebuah ide untuk menggagalkan rencananya.
“LEOOOO!” teriakku menggelegar sehingga semua orang yang mendengar suaraku termasuk Leo sendiri langsung menoleh ke arah kami.
Rencanaku berhasil, mereka semua menatap kami. Refald terpaksa menghentikan aksinya yang ingin mencium paksa diriku. “Kakakmu ingin menemuimu karena ia sangat merindukanmu!” teriakku lagi dan itu membuat raut wajah Refald berubah sangar.
“OEYY! KAKAK!” teriak Leo dari bawah. “Kau sudah datang? Kemarilah! Ayo bantu aku latihan!” Leo menengadah melihat kami berdua.
“Kau akan menyesal, Honey. Tunggu saja pembalasan dariku!” Refald mengedipkan salah satu matanya, menaiki pagar dengan cepat dan langsung melompat ke bawah dari atas balkon.
Tentu saja aksi Refald membuatku terkejut, “Refald!” teriakku karena mengira ia bunuh diri. Namun, aku lupa kalau Refald itu bisa terbang. Ia berhasil mendarat dengan mulus tanpa cedera sedikitpun. Kalau orang lain pasti sudah gagar otak atau patah tulang lalu sekarat.
Aku mengamati dua orang bersaudara itu saling berpelukan dan Leo melambaikan tangannya padaku sebagai tanda awal pertemuan kami.
BERSAMBUNG
***
part ini favoritku ... semoga suka ya ...
Leo saat masih muda hehehe .. omegot haluku ...
__ADS_1
Refald