Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 51 Misi Selesai


__ADS_3

Akhirnya acara caraka tahun ini sukses tanpa kendala, meskipun ada sedikit ketegangan karena para junior banyak yang ketakutan akibat berjalan sendirian satu persatu di tengah gelapnya malam tanpa penerangan apapun. Suara jeritan, tangisan sudah biasa terdengar ketika malam caraka diadakan, bahkan ada yang sampai pingsan segala. Namun semuanya masih tetap aman dan terkendali. Para junior juga bisa sampai di lokasi dengan selamat semuanya tanpa ada yang terluka. Akhirnya mereka berhasil melewati semua rintangan yang ada.


Ketika sampai di lokasi setelah berhasil menyelesaikan misi, semua peserta terduduk lunglai. Rasa lelah, letih, tegang dan takut, masih menyelimuti wajah-wajah pucat mereka. Aku menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita. Para petugas medis yang terdiri dari anggota PMR yaitu Yua, Epank, Via dkk juga langsung memeriksa kondisi para junior yang sudah selesai menyelesaikan misi uji nyali. Setelah diperiksa dan semua dinyatakan baik-baik saja, aku memberikan sedikit semangat lagi bagi para junior yang kelelahan ini. Aku yakin mereka bukan lelah karena berjalan, tapi karena tegang dan takut karena mungkin banyak dikerjai dan ditakut-takuti oleh teman-temanku untuk menguji seberapa besar nyali mereka.


“Kalian semua sudah melakukan yang terbaik. Aku salut dengan perjuangan kalian semua ... kalian sudah melewati berbagai rintangan yang ada. Memang tidak mudah melakukannya, butuh keberanian yang sangat besar agar kalian bisa sampai di sini kembali ... perjuangan kalian sudah membuahkan hasil. Dengan melewati ujian ini, kalian sudah membuktikan bahwa kalian pantas menjadi anggota pecinta alam yang memiliki jiwa semangat tinggi untuk melindungi, menjaga dan melestarikan alam kita ... tetaplah semangat!” teriakku dengan lantang.


“Semangat!” teriak para junior dengan kompak, disusul teriakan penyemangat dari para anggotaku yang lainnya.


“Maaf jika selama kegiatan tadi kalian banyak dikerjai dan di takut-takuti oleh para senior dan alumni, semua itu mereka lakukan hanya semata-mata ingin menguji seberapa besar nyali kalian sekaligus untuk melatih diri agar tetap berani dalam menghadapi segala hal yang sulit termasuk berjaga-jaga jika kita mengalami hal buruk seperti tersesat di dalam hutan sendirian. Dengan lulus ujian ini, kalian sudah membuktikan keberanian kalian, dan kami semua bangga pada kalian. Selangkah lagi, kalian akan resmi menjadi anggota Pecinta Alam MAPALA.”


Suara tepuk tangan dan sorakan terdengar riang di telingaku. Mereka semua benar-benar bahagia setelah dinyatakan lulus ujian ini.


Acara caraka akhirnya selesai, para junior dikumpulkan jadi satu untuk mendapatkan pengarahan bahwa mereka sudah berhasil lolos uji nyali dan berhak mendapatkan pita ungu yang akan disematkan di lengan baju atau seragam sekolah mereka di sebelah kiri yang wajib di pakai pada hari jumat dan sabtu. Pita ungu tersebut merupakan simbol kebanggaan organisasi kami yang menandakan bahwa peserta junior yang mendapat pita ini berhak mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu mendaki gunung yang akan diadakan saat liburan semester dan itu tiga bulan dari sekarang. Oleh sebab itu, semua peserta junior harus mempersiapkan fisik dan mentalnya supaya nanti pada saat mendaki gunung, mereka semua sudah siap.


Semua junior bertepuk tangan dengan lega atas informasi yang mereka dapatkan. Usaha yang diselimuti dengan ketakukan dan ketegangan selama mereka mengikuti kegiatan ini telah membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka bersorak sorai untuk merayakan keberhasilan mereka atas kegiatan yang diadakan kali ini.


Kami menggiring seluruh anggota PA menuju ke lapangan terbuka untuk menyalakan api unggun sebagai acara penutupan sekaligus untuk merayakan keberhasilan acara caraka tahun ini.


Semua merasa bahagia, asyik menari dan bernyanyi mengitari api unggun. Rasa lelah dan takut yang baru saja dialami para junior mendadak hilang seiring dengan berkobarnya api unggun yang bersinar terang menyinari kami semua di sini. Wajah-wajah pucat dan letih mereka telah berganti menjadi lebih sumringah dari sebelumnya. Semua tertawa riang gembira mengakhiri acara yang sudah kami laksanakan dengan baik terlepas dari drama-drama serta rentetan kejadian menegangkan selama kami berada di hutan ini.


Bahkan momen ini di gunakan seniorku untuk menyatakan cinta pada salah satu juniorku yang baru saja lulus melewati ujian caraka. Tentu saja momen langka itu membuat kami semua yang ada di sini langsung heboh dan bersorak sorai.


“Hadeuhhh ... tiap tahun ada saja yang jadian,” gumam Yoshi setelah melihat salah satu sahabatnya menembak juniornya dan anehnya langsung diterima.


“Kenapa kakak tidak melakukan hal sama seperti yang Kak Yuda lakukan?” tanyaku pada Yoshi karena aku mendengar gerutuannya.


“Aku sudah akan melakukannya dan menunggu moment ini juga, sayangnya aku baru tahu kalau gadis itu sudah ada yang punya. Mana yang punya itu sungguh sempurna, apalah daya diriku ini yang tak akan mampu menandinginya. Sungguh hancur lebur hati ini ....” jawab Yoshi dengan wajah memelas.


Aku hanya mengernyitkan alis mendengar ucapannya. Sedangkan Refald hanya tersenyum nanar menatap Yoshi, Refald langsung memindah tubuhku ke sisi lain dan dia menggantikan posisiku yang berdiri dekat di sebelah Yoshi.

__ADS_1


“Kau masih bisa mencari pengganti gadis itu, para junior di sini banyak yang cantik,” bisik Refald pada Yoshi.


“Aku sudah memendam perasaan ini selama setahun dan kau ingin aku mencari penggantinya secepat itu? momen ini sudah aku tunggu-tunggu sejak lama dan kau tiba-tiba datang menghancurkan semuanya?” Yoshi tanpa sengaja meluapkan amarahnya pada Refald dan sepertinya aku tahu siapa gadis yang dimaksud Yoshi.


“Apa?” teriakku, tapi Refald langsung memelototiku. Tanganku semakin erat ia genggam.


“Aku memang datang tepat waktu.” Refald beralih menatap Yoshi. “Kalaupun aku terlambat, aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki istriku selain aku,” ucap Refald tegas dan tandas.


“Aku tahu, karena itulah aku tidak ingin bersaing denganmu. Bagaimanapun juga kalian berdua sangat serasi,” ujar Yoshi sambil tertawa. “Aku senang untuk kalian berdua. Kalau orang lain, mungkin aku tidak akan rela. Berhubung itu kau, maka aku tidak perlu khawatir. Aku harap kau bisa menjaga Fey dengan baik. Jangan buat dia menangis, oke!”


Refald hanya tersenyum melihatku. “Aku akan melakukannya, lebih dari itu,”ujar Refald singkat tapi penuh makna.


Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dibicarakan antara Yoshi dan Refald. Aku merasa itu adalah pembicaraan antar sesama laki-laki saja dan aku tidak perlu ikut campur urusan mereka. Kini, pandanganku beralih ke arah Yua, Nura dan Mia yang duduk berjajar sambil menikmati suasana bahagia para penari dan penyanyi yang sedang beraksi mengitari api unggun.


Aku melepaskan genggamanku dan mulai beranjak pergi, tapi Refald menahanku dengan lebih mempererat lagi genggamannya.


“Mau ke mana?” tanya Refald padaku.


Refald menatapku, ia terlihat ragu antara membiarkanku meninggalkannya dan bergabung dengan temanku atau menahanku agar tetap bersamanya. Aku mengedip-ngedipkan mataku agar terlihat cute dengan harapan Refald mau menuruti kemauanku.


“Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku ingin sekali menggigitmu!”


“Aku mohon ... aku ingin meluapkan kebahagaianku bersama dengan mereka.”


Perlahan Refald melepaskan tanganku. Aku tersenyum padanya dan mengucapkan, “Terima kasih.”


Aku langsung berlari menghambur bersama dengan teman-temanku. Awalnya mereka memprotesku karena lebih sibuk dengan Refald daripada bersama dengan mereka. Tapi aku langsung memeluk mereka semuanya sekaligus dan itu menghilangkan amarah mereka seketika.


Tak terasa fajar sudah mulai menyingsing. Aku dan beberapa orang yang ada di sini mulai berkemas-kemas karena siang ini, kami akan kembali ke rumah masing-masing. Sebagian junior dan anggotaku juga masih ada yang tertidur pulas karena semalaman, kami semua hampir tidak tidur sama sekali. Meski begitu, mereka tetap semangat karena hari ini adalah hari terakhir kami berada di hutan ini.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan lokasi, kami semua akan mengadakan apel atau upacara penutup yang dipimpin langsung oleh pembina kami. Sementara sambil menunggu kedatangan beliau, kami menggunakan waktu senggang untuk beristirahat sambil memasak makanan yang sudah kami siapkan sejak awal.


Berkat Refald yang sering mengirimkan makanan, bekal logistik kami masih banyak dan kami berniat untuk menghabiskannya di sini dengan cara dimasak bersama-sama. Semua terlihat senang dan menikmati acara masak dan makan bersama ini. Dengan begitu, kekompakan yang terjalin diantara kami jadi lebih erat. Setelah acara makan-makan bersama selesai, kami pun membersihkan lokasi tempat ini dari sampah dan merapikannya seperti sebelum kami semua datang.


“Aku harus pergi sekarang, nanti kabari aku jika kau sudah berada di bawah. Aku menunggumu di sana,” ucap Refald saat membantuku membereskan sampah-sampah yang berserakan disekitar tenda.


“Oke!” aku tersenyum pada Refald. “Terima kasih sudah membantuku. Ah ... bukan, kau sudah banyak membantuku.”


Refald langsung menciumku dengan cepat hingga membuatku terkejut seperti terkena sengatan listrik.


“Kau sudah gila, apa? Ini tempat umum, tahuuu ....” bentakku dengan nada kesal.


Refald hanya tertawa melihatku. “Setiap kali kau berterima kasih padaku maka aku akan langsung meminta hadiahku.”


Aku mendengus kesal, “Oke ... mulai hari ini aku tidak akan berterima kasih padamu lagi.”


Aku pergi meninggalkan Refald dengan membawa sekantong plastik sampah yang sudah kukumpulkan untuk dijadikan satu dengan yang lainnya.


Dasar Refald tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia mesum di tempat umum. Aku pasti sudah gila karena jatuh cinta pada cowok mesum!


Sepanjang jalan aku menggumam sendirian dengan perasaan kesal, namun tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik tanganku dari belakang. Aku langsung terperanjat dengan tarikan itu. Sempat ingin mengumpat tapi aku mengurungkannya karena aku tahu yang menarik tanganku adalah siapa lagi kalau bukan Refald si tukang mesum.


“Apa lagi?” bentakku.


Refald merebut kantong plastik berukuran besar yang kubawa di tangan kiriku.


“Biar aku saja yang bawa.” Dengan cepat kantong plastik yang berisi sampah itu berpindah tangan dari tanganku ke tangan Refald tanpa bisa memberontak. “Aku juga sudah mengambil tas ranselmu. Jadi kau akan turun tanpa membawa apa-apa. Aku akan meninggalkan ponsel dan dompetmu saja untuk berjaga-jaga jika kau butuh sesuatu. Meski sebenarnya, kau tidak akan membutuhkan apapun selama aku ada didekatmu. Sampai jumpa, Honey ... sampai ketemu lagi. I love you ....” Refald membisikkan kata cinta itu di telingaku.


Kali ini amarahku langsung menghilang begitu mendengar Refald mengatakan itu.

__ADS_1


Dasar bule mesum! Tapi aku bahagia ... tidak peduli seberapa lama kami terpisah, seberapa besar aku membencinya dulu, dan seberapa jauh aku menghindar, Tuhan tetap mengirimkan Refald untukku. Karena itu, untuk pertama kalinya sejak kematian ibuku, aku merasa bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini.


****


__ADS_2