Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 23 Bahagia


__ADS_3

Kami sampai di depan pintu rumah Nura. Aku memang meminta bantuan teman Refald untuk mengantarku kemari, untungnya ia bersedia.


Aku khawatir dengan Nura karena sejak kemarin ia sama sekali tidak bicara denganku. Bahkan hari ini ia juga tidak masuk sekolah tanpa keterangan apapun.


Aku mengetuk pintu rumah Nura dan tidak lama pintu itu pun terbuka. Nura keluar dengan rambut acak-acakan. Sepertinya ia baru saja bangun tidur.


Aku hampir saja meloncat melihat Nura yang mirip dengan kuntilanak yang baru bangkit dari makamnya. "Astaga! Aku tidak tahu kau semenakutkan ini kalau baru bangun tidur?"


"Diam kau!" ucapnya sambil menguap dan menggaruk-garuk kepalanya. Ia merentangkan otot tangannya dan hampir saja mengenaiku. "Kenapa kau kemari?" cetusnya.


"Aku hanya khawatir padamu karena kau tiba-tiba saja tidak masuk sekolah. Apa yang terjadi?" aku sungguh ingin tahu apa alasan Nura tidak masuk sekolah.


"Aku tidak harus melaporkan semua kegiatanku padamu, bukan? Tidak sepertimu dan pacar bohonganmu itu!"


"Apa maksudmu? Kau marah padaku?" aku heran dengan perubahan sikap Nura yang tiba-tiba ini.


"Begini, Fey. Aku juga tidak ingin basa-basi lagi. Kita berteman sejak kita masih SMP dan aku harus jujur padamu. Kalau kau masih menganggapku sebagai temanmu, aku ingin kau membantuku. Aku sudah memikirkan ini semalaman dan aku sudah mengambil keputusan. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya padamu."


Aku menatap Nura yang terlihat berbeda kali ini. Dia yang biasa bertingkah konyol kini berubah menjadi dingin dan aneh. Ia tidak seperti biasanya. Aku jadi berfikir, Apa selama perjalanan pulang kemari ia kerasukan sesuatu?


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanyaku yang juga penasaran apa yang terjadi pada Nura sehingga ia berubah drastis seperti ini.


"Apa kau ... mencintai Refald?" tanyanya langsung.


Aku terkejut mendengar Nura tiba-tiba bertanya seperti itu. "Kenapa kau bertanya begitu?"


"Jawab saja pertanyaanku! Meski hubungan kalian ini hanya pura-pura, tapi aku ingin memastikannya. Apa kau dan Refald saling mencintai?"


"Pertanyaanmu ini aneh Nura, Aku tidak mengerti apa maksudmu!"


"Kau hanya tinggal jawab iya atau tidak? Itu saja!" Nura menatapku dengan tatapan marah, nada suaranya juga sudah mulai meninggi. Ini pertama kalinya Nura marah padaku dan aku tidak tahu kenapa dia seperti itu.


"Sebenarnya ada apa ini, Nura!" Aku pun mulai serius menatapnya. "Katakan padaku! Apa yang terjadi padamu hingga kau menanyakan hal konyol ini?"


"Kau belum jawab pertanyaanku!"


"Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah aku tahu alasan kau menanyakan hal ini!" nada suaraku juga ikut meninggi. Aku mulai kehilangan kendali tapi aku berusaha mengontrol kembali emosiku.


Nura diam sesaat, tapi ia langsung mengatakan sesuatu yang membuatku terpana tidak percaya. "Aku ... jatuh cinta pada Refald, karena itulah aku ingin tahu ... apakah kau juga mencintainya?"


Aku mundur selangkah karena terkejut mendengar kata-kata Nura. Seolah ada batu besar yang menimpaku dari atas.


Ini tidak bisa kupercaya, Nura bisa jatuh cinta pada Refald?


Aku tidak heran karena semua cewek memang menyukainya, apalagi Refald sangat tampan dan sempurna, tapi aku ragu kalau yang dirasakan Nura saat ini adalah cinta. Bisa saja ia hanya mengagumi Refald sesaat. Meski aku sendiri juga tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya, namun aku masih bisa mengerti perbedaannya. Sedangkan Nura, aku khawatir ia hanya merasa kagum saja pada Refald, dan bukannya cinta.


Ini membuatku sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan teman-temanku. Mungkinkah yang mereka rasakan sama seperti yang kurasakan? Apakah perasaanku pada Refald, juga hanya rasa kagum sesaat.


"Katakan padaku, Fey! Apa kau juga mencintainya?" Nura mengulangi pertanyaannya karena aku tak kunjung menjawab.


Sejujurnya aku tidak bisa menjawab pertanyaan Nura karena aku sendiri juga masih bingung dengan perasaanku sendiri. Aku akui, aku merasa kalau aku memang mulai menyukai Refald dan juga mulai terbiasa dengannya. Selama ini aku mengesampingkan perasaanku karena ingin fokus membahagiakan teman-temanku yang selama ini setia bersamaku.


Sejak Refald menghiasi hari-hariku, aku jadi bersemangat dan menyadari arti penting dari persahabatan kami. Aku malah berpikir untuk mengakhiri pertunanganku ketika aku kembali ke Jepang nanti. Itu karena aku ingin mencari cinta sejatiku dan aku berharap Refaldlah orangnya. Setiap kejutan yang ia berikan padaku memberiku kekuatan untuk melupakan masa lalu dan kembali menjalani hidupku dimasa depan.


Jika yang dikatakan Refald waktu itu adalah benar. Ia ingin membuatku jatuh cinta padanya ... maka tanpa usaha apapun, aku sudah mulai mencintainya. Namun aku berusaha memungkiri perasaan itu karena aku ingin membahagiakan orang-orang yang ada disekitarku terlebih dulu.


Hari ini, aku tahu fakta baru yang mengejutkan, dan aku harus cepat mengambil keputusan. Sepertinya, aku harus menghapus rasa cintaku pada Refald karena Nura menginginkannya. Meski aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau tidak.

__ADS_1


Aku tidak yakin apakah Refald akan menyetujui keputusanku, aku sudah tidak ingin bertengkar lagi dengannya. Masalah Yua dan Epank sudah membuat kami bersitegang sampai aku lupa kalau belum memberikan kue ulang tahun untuknya dan hari ini pun aku memarahinya karena ia berusaha melindungiku. Ia bahkan menjatuhkan harga dirinya dengan menyakiti wanita yang menggangguku. Aku sangatlah kejam padanya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, karena aku harus memilih antara Nura sahabatku dan Refald, orang yang mulai kucintai.


"Permisi ... apa aku mengganggu?" tanya seseorang yang tidak lain adalah teman Refald yang mengantarku tadi. Aku hampir lupa kalau dia masih ada di sini. Mungkin ia terlalu lama menungguku sehingga menyusulku kemari.


Nura terperanjat melihat ketampanan cowok ini. Buru-buru ia merapikan penampilannya dengan tangannya tanpa melepaskan pandangannya pada cowok yang kini berdiri diantara kami. Ketegangan diantara kami berdua juga mendadak hilang.


"Fey, siapa dia?" Nura mendekat dan berdiri disebelahku, tapi ia tidak melihatku. Aku jadi tidak enak pada cowok ini.


Aku juga tidak tahu siapa namanya jadi aku sendiri bingung bagaimana cara mengenalkannya pada Mia. Untungnya cowok ini mengerti dan memperkenalkan dirinya sendiri.


"Oh iya ... aku lupa kalau dari tadi aku belum menyebutkan namaku. Makanya temanmu ini tidak tahu. Hai, aku Eric ... teman Refald." Ia mengulurkan tangannya pada Nura dan Nura langsung menyambut uluran tangan itu dengan senyuman manis yang dibuat-buat semanis mungkin. Wajahnya yang tadi marah berubah senang. Matanya pun mulai berbinar-binar, bahkan Nura tidak mau melepaskan uluran tangan Eric. "Maaf ... bisa lepaskan tanganmu? Aku mulai kebas."


"Oh, tentu ... maaf," Nura langsung melepaskan tangannya dan ia mulai berbisik lagi ditelingaku. "Kenapa kau tidak bilang kalau Refald punya teman setampan ini?"


Aku terpana melihat perubahan situasi diantara kami. Baru beberapa detik lalu Nura menginginkan Refald dan sekarang ia terpesona dengan temannya juga. Nura sudah mulai kembali seperti sedia kala.


Yang benar saja! Apa yang terjadi dengan anak ini? setan apa yang merasukinya semalam?


"Aku juga tidak tahu ... kami baru saja bertemu." Aku balas berbisik. "Jadi bagaimana? Siapa yang kau suka? Refald apa dia?"


"Apa yang kau bicarakan? Refald kan pacarmu?"


"Apa? Tapi ... barusan kau bilang kau mencintainya?"


"Apa kau gila? Kau pikir aku tidak waras? Bagaimana bisa aku mencintai pacar sahabatku sendiri!"


"Apa?" Aku tidak percaya ini.


Bagaimana bisa dia jadi plin-plan begini? aku jadi ingin menjitak kepala gadis tengik ini. Sia-sia saja aku tadi patah hati.


"Fey ... bisa kita pergi sekarang?" tanya Eric.


"Oke, ayo." aku juga tidak bisa lama-lama berada di sini. Jika terlalu lama, aku benar-benar bisa jadi gila karena Nura. Syukurlah dia tidak kenapa-napa sehingga aku tidak perlu khawatir lagi.


"Tunggu! Kalian mau pergi ke mana?" Nura menghadang kami.


"Kami harus bertemu dengan Refald. Dia sudah menunggu, kami permisi dulu." jawab Eric. Ia pergi dan aku mengikutinya dari belakang.


"Tapi ... Fey, ada apa ini? Jelaskan padaku? Kau berselingkuh?"


"Apa?" aku dan Eric berteriak bersama.


Nura mulai membuatku kesal. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Aku mau menjelaskan tapi keburu Eric dulu yang melangkah maju mendekati Nura.


"Jaga mulutmu, Nona. Fey hanya mencintai Refald dan Refald pun juga mencintainya. Aku hanya mengantar Nona ini menemui kekasihnya karena mereka sedang bertengkar. Jadi jangan bicara yang macam-macam." Eric menatap Nura dengan tatapan yang mematikan.


Tanpa bicara Nura mengangguk, entah dia mengerti atau ketakutan dengan tatapan Eric yang memang ternyata lebih seram bila dibandingkan dengan Refald kalau sedang marah. Sedangan aku terkejut dengan pernyataan Eric yang menurutku itu terlalu berlebihan. Sebab, baik aku maupun Refald belum bisa memastikan bagaimana perasaan kami sesungguhnya.


Nura tidak berkomentar lagi, mungkin ia menyadari kalau ucapannya salah mengenai aku dan Eric. Kamipun akhirnya pergi dari rumah Nura sambil berboncengan. Aku masih menatap Nura yang melihat kami meninggalkan halaman rumahnya.


Aku tidak yakin bagaimana perasaan Nura. Apa ia masih bersikeras dengan perasaannya yang mulai menyukai Refald atau berubah haluan beralih pada Eric. Cowok yang baru dia kenal. Aku tidak mengerti dengan pemikiran Nura yang konyol dan kekanak-kanakan ini.


Bagaimanapun juga aku sudah berjanji. Aku akan memastikan lagi perasaan Nura nanti. Siapapun yang ia sukai, aku akan mendukungnya, jika memang itu yang bisa membuat Nura bahagia. Baik itu Refald ataupun Eric.


Eric membawaku ke vila Refald yang sudah ditunggu oleh pemiliknya di depan rumahnya. Dari kejauhan aku bisa melihat Refald mondar mandir diterasnya dengan gelisah. Begitu melihat kami datang. Ia langsung menyambut kami.


"Kalian darimana saja? Kenapa lama sekali?" serunya.

__ADS_1


Aku turun dari jok motor tanpa bicara pada Refald. Meski aku mulai menyadari perasaanku padanya, aku masih kesal karena ia meninggalkanku sendirian di sekolah begitu saja. Aku berbalik badan dan siap melangkah untuk pulang kerumah nenekku tanpa bicara pada Refald ataupun melihatnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Eric yang juga sudah berdiri di samping motornya.


"Aku pulang dulu! Terima kasih sudah memberiku tumpangan," ucapku sambil terus melanjutkan langkahku.


"Kau tidak boleh pulang!" teriak Refald. "Kau harus menyuapiku. Aku lapar dan belum makan karena menunggumu."


Aku tersenyum getir mendengar kata-kata Refald. "Oh iya?" aku berbalik arah melihatnya. "Kau marah padaku? Meninggalkanku sendirian di sekolah seperti orang bodoh! Lalu sekarang kau mau menungguku hanya karena kau lapar? Hebat sekali! Kau luar biasa!" aku menatapnya marah. Refald juga menatapku tanpa ekspresi. "Tuan Eric!" aku berpaling pada Eric yang berdiri disebelah Refald. "Aku minta bantuanmu sekali lagi. Tolong suapi dia untukku! Aku mau pulang, ada banyak hal yang harus kukerjakan dan aku terlalu lelah untuk menghadapi orang seperti dia."


Aku melangkah pergi dengan cepat menuju pintu gerbang vila Refald, bahkan aku langsung berlari agar Refald tidak mengejarku, meski aku tidak yakin dia akan melakukannya.


Hari ini aku ingin sendiri. Aku tidak ingin melihat Refald lagi. Aku membencinya. Aku yakin yang kurasakan padanya bukanlah cinta, melainkan benci.


Bagaimana bisa aku mencintai orang se-egois dia? Dia bahkan tidak peduli bagaimana perasaanku. Dia benar-benar egois! Bodoh! Aku pasti sudah gila jika merasa tertarik padanya. Ini pasti hanya perasaan sesaat.


Aku berlari dan terus berlari. Tanpa sadar air mataku jatuh. Aku berhenti dan mengusap air mata ini. Aku tidak boleh lemah lagi. Meski dia yang memberiku kekuatan untuk bangkit kembali. Aku tidak boleh hanyut dalam perasaanku sendiri.


Tapi kenapa terasa sakit?


Aku berusaha menenangkan diri karena aku tidak mau nenek menanyakan apa yang tidak ingin kudengar. Sebab aku tidak punya alasan yang tepat jika nenekku bertanya kenapa aku menangis.


Kau kuat Fey! Sebelum ini kau bisa melaluinya, ini bukanlah apa-apa. Banyak hal yang harus kau lakukan daripada jatuh cinta.


Sejujurnya, aku sungguh tidak bisa melupakan kata-katanya waktu itu. Dia ingin aku jatuh cinta padanya. Aku bingung, aku tidak tahu harus apa dan bagaimana.


Aku terkejut karena tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku dari belakang dan meraihku dalam pelukannya. Awalnya aku memberontak, tapi tidak jadi setelah mendengar ucapan Refald.


"Maaf ... sudah meninggalkanmu sendirian. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, aku khawatir padamu. Aku ke sana mencarimu, tapi kau sudah tidak ada lagi di sekolah. Aku kerumahmu dan nenekmu bilang kau belum juga pulang. Aku tidak bisa menghubungimu karena ponselmu tidak kau bawa. Aku sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa. Syukurlah Eric meneleponku." Refald melepaskan pelukannya.


Aku tercengang mendengar penjelasannya. Tidak kusangka ia sekhawatir itu padaku.


Perlahan, ia menatapku. Matanya menyinarkan sejuta kecemasan didalamnya. Inilah sisi Refald yang hangat, yang bisa membuatku merasa tenang. Aku jadi teringat malam itu, malam saat kami berada di vila untuk melihat supermoon. Refald juga memelukku seperti ini. Hanya saja waktu itu aku tidak bisa melihat wajahnya karena terlalu gelap, tapi kini aku mengetahuinya. Terlihat jelas kalau dia benar-benar mencintaiku. Meski ia tidak mengatakannya, matanya yang sendu, sudah bisa memberikanku kepastian.


Aku menundukkan kepalaku. Menyembunyikan kebahagianku. Mungkin yang dikatakan Eric tadi benar, kami saling mencintai. Hanya saja, ada jurang pemisah diantara kami, yaitu status pertunanganku yang masih belum jelas.


Aku sudah memutuskan bahwa aku akan menyembunyikan perasaan ini terlebih dulu, sampai aku bertemu dengan ayah untuk membicarakan lagi bagaimana status pertunanganku selanjutnya.


"Aku harus pulang dulu!" kukumpulkan keberanianku menatap Refald yang juga masih menatapku. "Ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Sepertinya aku cuti dulu."


"Cuti?" Ia mengerutkan dahinya karena tidak mengerti maksud ucapanku.


"Aku tidak bisa menyuapimu makan untuk hari ini. Karena aku akan ke rumah ibuku untuk mengambil dan menyiapkan beberapa peralatan untuk survey besok. Aku juga akan menginap di sana, karena besok aku akan berangkat bersama dengan teman-temanku dari sana. Untuk sementara, makanlah dengan Eric. Kau tidak keberatan, kan?" aku menunggu reaksi Refald.


"Jam berapa kau ke sana? Biar kuantar!"


"Tidak perlu, setelah ini aku dan Yua akan pergi kesuatu tempat dulu. Dia sekarang mungkin sudah ada di rumah Nenekku."


Refald hanya diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kau yakin kau bisa sendirian?"


Aku tertawa. "Ayolah, aku sudah terbiasa sendirian selama kurang lebih tujuh tahun terakhir ini. Jangan meremehkanku, lagi pula, ada Yua bersamaku."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati!"


Aku mengangguk dan pergi meninggalkan Refald. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Refald saat ini, yang jelas aku merasa ... sangat bahagia.


*****

__ADS_1


__ADS_2