Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 95 Hantu Paling Fenomenal


__ADS_3

“Panggil saja mbak Kun, semua orang memanggilku seperti itu, anda pasti pernah melihat sosok sepertiku sebelumnya, kan?” suara lembut makhluk cantik terdengar merdu ditelingaku. Aku memang pernah melihat sosok kunti sebelumnya saat aku dan Refald terjebak di dalam hutan, tapi ia tak secantik sosok yang satu ini meski mereka dari jenis hantu yang sama. “Apa, anda masih takut padaku?” tanya mbak Kun sopan sambil tersenyum manis padaku.


Sejujurnya, aku takut sekali, tapi setelah ia bersikap ramah padaku, juga parasnya yang begitu cantik rupawan, membuat rasa takutku mendadak hilang. Bagaimana bisa wajah secantik ini menakutkan, yang ada malah mengagumkan. Saking kagumnya aku akan kecantikannya, aku sampai tidak bisa berkata-kata.


“Aku rasa, anda sudah tidak takut lagi padaku, baguslah!” mbak Kun mulai melayang-layang mengitariku. Sungguh pemandangan yang mengerikan sebenarnya, tapi aku harus mulai membiasakan diri untuk bisa beradaptasi dengan para pasukan Refald terutama dengan sosok hantu yang satu ini.


“Di mana Refald? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia belum juga datang kemari? Dan sekarang, kita ada di mana? Apa kau mengenal siapa orang yang menculikku dan Yua?” tanpa sadar aku telah banyak bertanya pada sosok yang masih betah melayang kesana kemari tepat diatasku.


“Pangeran Refald akan segera datang, bersabarlah sebentar. Maaf aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu karena itu di luar kapasitas saya untuk menjawabnya. Biar nanti pangeran sendiri yang akan menjelaskannya, tugas saya hanya untuk menemani dan melindungi anda.”


Saat aku hendak bicara lagi, tiba-tiba pintu gerbang terbuka dengan keras. Beberapa orang masuk dan langsung menyeretku keluar ruangan meninggalkan Yua sendirian yang masih pingsan. “Mbak Kun,” ujarku pada makhluk yang melayang didepanku. “Lakukan satu hal untukku, tolong selamatkan Yua dulu, aku akan tetap menunggu Refald datang untukku, kau pasti bisa menemukanku, kan?” tanyaku pada Kunti yang langsung berhenti melayang dan berdiri tepat diatas tubuh Yua yang terkapar. Ia pun menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, Pengeran Refald juga memerintahkan hal yang sama, saya akan datang menemui anda setelah mengurus semua hal yang ada di sini,” dalam sekejap kunti itu pun menghilang entah ke mana.


Sementara dua orang yang menyeretku terlihat bingung sekaligus heran karena tiba-tiba saja aku bicara sendiri dan dianggap ngelantur kemana-mana. Mereka bahkan menganggapku sudah tidak waras.


“Apa gadis ini, gila? Dia bicara pada siapa, sih?” tanya salah satu orang bertato pada temannya yang berbadan gempal.


“Entahlah, jangan dengarkan ocehannya, sebaiknya kita bawa pergi saja dia dari sini sesuai perintah bos.”


“Kalian mau membawaku ke mana?” teriakku sedikit berontak, tapi sekeras apapun aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mereka, tetap saja aku tidak bisa, mereka terlalu kuat untukku.


“Diam, dan ikut saja! Jika tidak, maka temanmu itu akan mati!” bentak laki-laki bertato itu. Mereka berdua memasukkanku ke dalam mobil jeep dan membawaku memasuki sebuah hutan rimba yang entah ada di mana sekarang.


Sebenarnya, aku sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang aku alami saat ini. Dari awal, yang sedang dalam bahaya adalah Yua, sampai akhirnya kami datang untuk menyelamatkannya. Namun, sekarang sepertinya aku yang sedang dalam bahaya karena penculik itu malah membawaku jauh dari keramaian dan masuk ke dalam hutan belantara yang sepertinya jarang didatangi manusia.


Yang membuatku semakin bingung adalah, kenapa Refald sampai sekarang masih belum juga menyelamatkanku. Aku sangat mengkhawatirkannya karena bisa saja, kekuatannya hilang jika ia lepas kendali saat orang-orang ini menculikku. Jika kekuatannya hilang, maka sudah dapat dipastikan Refald akan kesulitan menyelamatkan aku dari sini. Aku harap ini hanya kecemasanku dan tidak benar-benar nyata.

__ADS_1


Refald, apa kamu bisa mendengarku? Tanyaku dalam hati.


Akhirnya, kami pun sampai di sebuah gudang yang ada di tengah hutan rimba. Ukuran gudang itu lumayan cukup besar dan sepertinya gudang itu dipakai sebagai tempat penyimpanan kayu yang habis di tebang.


Dugaanku memang benar, ternyata gudang ini adalah tempat penyimpanan kayu. Saat masuk ke dalam, ada banyak sekali kayu-kayu bekas tebangan yang sudah tersusun rapi di setiap sudut ruangannya.


“Bos, ini pacar anak itu! Kami sudah tidak salah tangkap lagi, kan bos?” tanya pria berbadan gempal pada seseorang yang sedang berdiri menghadap kayu-kayu didepannya.


Aku sangat penasaran dengan sosok orang yang dipanggil pria gempal ini sebagai ‘bos’. Aku menyimpulkan, sepertinya sasaran utama laki-laki itu adalah aku, tapi ternyata anak buahnya salah tangkap orang, yang mereka culik ternyata adalah Yua, bukannya aku. Tapi, sepertinya mereka sedang beruntung karena kami datang sendiri ke markas mereka. Dan disinilah aku berakhir sekarang, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus bersusah payah.


Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa orang ini? Dan kenapa ia menculikku? Apakah ‘anak’ yang penculik ini maksud adalah Refald? Batinku.


Ruangan ini terlalu gelap dan hanya ada satu lampu neon yang terpasang ditengah-tengah tiang bangunan ini sehingga aku tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki yang dipanggil bos oleh orang-orang yang menculikku ini. Wajahnya juga tidak bisa terlihat.


“Ehm, benar gadis ini yang aku maksud. Kerja yang bagus, sekarang ikat gadis itu di kursi itu sampai pacarnya datang kemari. Awasi dia dan jangan biarkan dia kabur dari sini.” Pria berbaju hitam itupun keluar melalui pintu samping gudang meninggalkanku di sini bersama para penculik yang sangar-sangar.


Satu hal yang kini melintas dipikiranku, apapun yang terjadi, orang-orang ini menggunakanku untuk memancing Refald datang kemari.


Apa yang mereka inginkan dari Refald? tanyaku dalam hati.


Saat aku sedang bergelut dengan pikiranku, tiba-tiba sosok mbak kunti itu datang lagi tepat di belakang para penculik yang sedang sibuk mengikatku. Suara tawanya yang khas memekikkan telinga kami. Para penculik itu pun mulai bergidik ngeri, mereka berdua saling pandang dan bertanya-tanya.


“Apa kau mendengar suara itu?” tanya penculik yang bertato sambil mengamati sekitarnya tapi tidak menemukan apa-apa.


“Iya, aku dengar, rasanya bulu kudukku berdiri semua. Tempat ini sepertinya menyeramkan sekali, bagaimana kalau kita pergi saja dari sini. Kita tinggalkan saja gadis ini di sini. Aku yakin ia tidak akan bisa lari dari tempat ini,” usul pria berbadan gempal itu.


“Tapi, ada yang aneh, sepertinya kakiku ... tidak bisa bergerak? Kau tidak merasakannya?”

__ADS_1


“Kau benar, kakiku juga tidak bisa digerakkan.” Kedua penjahat itu mencoba menggerak-gerakkan kakinya tapi tetap tidak bisa. Mereka pun mulai merasa takut akan keanehan yang menimpa tubuh mereka.


Suara khas mbak Kun, kembali terdengar lebih keras dari sebelumnya. Untunglah sosok menakutkan itu masih mau menampakkan wajah ayunya didepanku. Jadi, aku tidak perlu takut lagi padanya. Aku tersenyum manis karena sosok putih itu berusaha menakuti dua penjahat ini. Bahkan keduanya sampai terkencing dicelana mereka masing-masing setelah mendengar bisikan-bisikan lembut dari makhluk astral paling fenomenal ini.


“Ke-kenapa kau malah tersenyum, a-apa kau sedang menertawai kami, ha?” bentak pria bertato itu padaku. Tubuhnya juga gemetar karena terserang aura merinding disco.


“Aku tidak menertawai kalian ... tapi aku tersenyum pada sosok yang ada di belakang kalian,” jawabku santai.


Dua penjahat itu saling pandang, dan semakin gemetarlah mereka karena tahu siapa yang aku maksud.


“Kau bisa melihatnya?” tanya penjahat itu.


Aku hanya mengangguk sambil masih tersenyum.


“Seperti apa rupanya? Kenapa kau tidak terlihat takut sama sekali?” penjahat bertato itu heran melihat ekspresiku yang sangat tenang bagai permukaan air kolam.


“Dia sangat cantik,” jawabku jujur.


“Jangan bohong! Kau mau membodohi kami, ha? Mana ada hantu itu cantik? Jangan-jangan kau hanya pura-pura bisa melihatnya dan mengelabuhi kami supaya bisa kabur dari sini! Huh, kami tidak sebodoh itu.”


Aku menghela napas panjang mendengar tuduhan para penjahat oneng ini. “Kalau dia menyeramkan, pasti aku sudah menjerit-jerit ketakutan daritadi. Sungguh dia sangat cantik sekali. Lihat saja sendiri kalau tidak percaya.” Aku berkata jujur, mbak Kun yang aku lihat didepanku memang benar-benar berwujud cantik.


Kedua penjahat itupun mulai memercayaiku meski aku tahu raut wajahnya masih sedikit ragu. Mereka pun mulai berbalik badan untuk melihat sosok tak kasat mata yang sedang menghantui mereka berdua. Begitu keduanya menghadap mbak Kun, mereka langsung berteriak dan menjerit sekencang-kencangnya saking takutnya melihat secara langsung sosok mengerikan paling fenomenal di negara ini, yaitu kuntilanak. Dalam sekejap keduanya pun langsung jatuh pingsan tepat di bawah kakiku.


****


Maaf, up nya telat ... semoga gak bosan menunggu ya ... mulai adegan seru nih sebentar lagi, love you all

__ADS_1


__ADS_2