
Laura, sejak awal memang sudah jatuh cinta sama Roy pada pandangan pertama. Gadis itu langsung luluh lantak ketika orang yang ia cintai memperlakukan Laura se so sweet ini. Cewek mana yang tidak meleleh jika ditatap Roy dengan tatapan mata yang begitu menggoda dan mendebarkan dada.
“Aku ... tidak ikut campur urusan mereka, kok.” Laura berkata lirih dan masih menatap Roy yang menyembunyikan senyumnya sambil menunduk.
Gampang banget ngerayu ini, cewek. Tanpa susah payah, ia langsung jinak gitu aja, batin Roy, tapi ia langsung bersikap cool seperti biasanya.
“Kalau gitu, kita pergi dari sini. Jangan ganggu mereka lagi, oke!” pinta Roy masih dengan memamerkan senyuman mautnya. Baginya, wanita gampang diperdaya hanya dengan senyuman maut yang dianugerahkan Tuhan padanya. Senyuman Roy memang sudah banyak membuat wanita bertekuk lutut didepannya.
“O-oke!” Laura pun menurut tanpa syarat, gadis itu benar-benar tersihir oleh pesona Roy.
Keduanya pergi meninggalkan Leo dan Shena berdua diruangan. Saat ini Roy hanya tinggal menunggu aba-aba dari Leo untuk menjalankan misi mendekati Laura demi kelancaran rencana Leo 3 tahun ke depan. Agar misi itu terlihat natural, Roy harus melakukannya pelan-pelan dimulai dari sekarang. Sudah banyak wanita seperti Laura yang dengan mudah jatuh ke pelukan Roy. Jadi, untuk membuat Laura takluk padanya, juga tidak akan sulit.
Setelah beberapa jam, akhirnya Shena tersadar dan mendapati Leo sedang tidur disebelahnya. Mengejutkan memang, karena seorang Leo mau duduk di sini dan menungguinya. Shena bingung Laura tidak ada bersamanya, biasanya dia yang paling pertama kali heboh kalau melihat Leo ada didekatnya.
Shena hendak bangun dari tidurnya, tetapi kakinya susah sekali digerakkan karena keram. Alhasil, Shena hanya bisa menyandarkan punggungnya disandaran tempat tidur. Gerakan Shena yang tiba-tiba membuat Leo terjaga dari tidurnya dan langsung tersenyum menatap Shena.
“Kau sudah bangun?” ujar Leo sambil mengusap matanya.
Shena terpana melihat Leo yang begitu tampan alami saat bangun tidur.
“Jangan menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku,” sindir Leo dan Shena langsung membuang muka karena kesal.
“Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada playboy kelas kakap sepertimu. Kenapa kau ada di sini?” kilah Shena.
“Oh iya? Kita lihat saja nanti, aku juga tidak ingin kau jatuh cinta padaku sekarang. Masih banyak yang harus kau lalukan sebelum benar-benar jatuh cinta padaku!”
“Kau ini menyebalkan sekali, ya? Pergi dari sini dan cari saja cewek lain yang mau meladenimu! Tinggalkan aku sendiri!” cetus Shena.
“Sudah kulakukan, tapi kali ini aku ingin bersamamu. Laura sedang sibuk, jadi aku yang menggantikannya menemanimu. Kau suka atau tidak, aku tidak peduli.”
“Kau bohong!” tuduhan Shena, tepat. “Sesibuk apapun Laura, dia tidak akan pernah membiarkan aku sendirian, apalagi cuma berdua saja denganmu. Pasti kau yang sudah membuatnya tidak bisa datang ke sini. Apa yang kau lakukan padanya? Kemana dia?” tanya Shena.
“Kalian berdua itu kenapa, sih? Laura juga selalu menanyakan hal yang sama seperti yang kau tanyakan barusan? Apa aku dimatamu sejahat itu? Sampai kapan kalian berdua berpikiran buruk tentangku. Jika aku sejahat itu, beritahu aku, apa bagian itu ... anu ... maksudku, aku sama sekali tidak menyentuhmu! Itu artinya aku bukan binatang buas seperti yang kau pikirkan. Harusnya kau jelaskan itu pada Laura juga!” Leo tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Shena kalau ia tidak punya niat buruk apapun padanya.
Wajah Shena sendiri juga mulai merah padam. Tuduhan yang ia tujukan pada Leo memang tidak berdasar. Meski ia digandrungi banyak wanita dan suka menggoda mereka, bukan berarti Leo bersikap layaknya binatang padanya. Sejujurnya Shena tidak merasakan apa-apa seperti yang dituduhkan Laura selama ini.
“Baiklah, akan aku jelaskan pada Laura nanti, pergilah dan tinggalkan aku sendiri.”
“Aku tidak bisa pergi. Aku butuh waktu untuk bicara empat mata saja denganmu sebelum aku memutuskan apa yang akan aku lakukan. Karena itu aku meminta Laura dan Roy meninggalkan kita berdua.”
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
__ADS_1
Leo menatap Shena lekat-lekat. Ia menggeser duduknya yang tadinya di kursi, berpindah ke tempat tidur Shena. Leo mendekatkan wajahnya pada wajah Shena yang duduk bersandar dikasurnya.
“Mau apa, kau?” tanya Shena yang risih ditatap Leo seperti itu.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur. Kenapa kau menyelamatkanku waktu itu?” tanya Leo.
“Huh, jadi itu yang ingin kau tanyakan?” Shena memicingkan matanya menatap Leo yang serius melihatnya karena menunggu jawaban dari Shena. “Kau sudah sering menyelamatkanku, jadi wajar jika aku membalas budimu. Dengan begitu kita impas dan aku tidak punya hutang apapun padamu,” jawab Shena. Leo terus saja tidak bergeming bahkan ia tidak berkedip saat Shena memberikan jawabannya.
Sebenarnya, dalam hati Shena, ia sendiri juga tidak tahu alasan kenapa ia langsung punya pikiran berlari melindungi Leo. Jelas-jelas akan lebih baik kalau si kampret ini tertembak dan tidak mengganggunya lagi. Namun, entah kenapa Shena tidak bisa membiarkan Leo tertembak disaat ia berkelahi demi melindungi dirinya. Kenapa? Apa alasan Shena? Gadis itu sungguh juga tidak tahu. Hal itu tidak bisa Shena utarakan pada Leo, sebab masalahnya bisa gawat kalau sampai Leo jadi salah paham padanya.
“Kau bohong,” ujar Leo sehingga membuat Shena gugup. “Tidak ada orang yang dengan sukarela mengorbankan nyawanya demi orang lain kecuali kalau orang itu menyukai orang yang ia lindungi. Peluru itu bisa saja membunuhmu! Apa kau tidak sadar itu? Kau tak sayang nyawamu? Kau rela mati demi aku?”
Shena semakin gugup sekarang, pertanyaan Leo membuat Shena semakin risau dan tidak tenang. “Tunggu!” seru Shena seketika karena teringat sesuatu yang genting. “Aku masih hidup dan aku juga tidak mati. Kau juga tidak terluka. Kalau bukan aku dan kau yang tertembak. Lalu siapa?” tanya Shena bingung dan tentu saja Shena ingin mengalihkan perhatian dari pertanyaan Leo yang tak bisa dijawab oleh Shena.
Harusnya, Shena menghalau peluru penyamun itu dan jika prediksinya benar, peluru itu sudah menembus punggung Shena, tapi nyatanya gadis itu tidak merasakan sakit apapun dipunggungnya.
“Kau beruntung, Shena. Kau bisa saja mati jika pelurunya tidak meleset!” Leo membantu menjawab kebingungan Shena.
“Meleset?” tanya Shena jadi lebih bingung lagi.
“Kau tersandung saat berlari ke arahku, kebetulan aku melihatmu hampir jatuh dan langsung menangkapmu. Adegan itu berhasil menyelamatkan kita berdua dari tembakan penyamun itu dan pelurunya mengenai anak buahnya sendiri yang berdiri dibelakangku.” Leo berbohong dan mengarang cerita yang menurutnya masuk akal. Dalam hati, ia membanggakan diri dan berencana beralih profesi sebagai pengarang cerita action romantis, nanti.
“Kau pikir kita sedang main film drama apa? Bagaimana bisa ada adegan konyol seperti itu? Pasti ada yang kau sembunyikan dariku.” Shena ternyata bukan wanita yang mudah dibodohi oleh karangan cerita romance Leo.
“Kenapa dengan teman-temanmu?”
“Kalau nanti kau berjumpa dengan mereka, kau jawab saja ‘iya’. Itu akan mempermudah menjawab semua pertanyaan yang tidak ingin kau dengar.”
Kepala Shena seakan meledak mendengar Leo yang melihatnya sambil tersenyum manis tapi menakutkan itu. Shena tidak tahu apa yang akan dilakukan Leo padanya, tapi firasat Shena mengatakan, Leo punya rencana yang besar untuknya walau Shena tidak tahu apa itu.
Gadis itu bertekad, untuk lebih berhati-hati berhadapan dengan Leo. Begitu keluar dari tempat ini, Shena harus menjaga jarak dengan pria brengsek yang bernama Leopard Bay Pyordova. Sebisa mungkin Shena harus menghindar supaya tidak bertemu muka dengannya. Sebab, tatapan mata Leo benar-benar menakutkan dan menyiratkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti Shena seakan cowok itu ingin memakannya hidup-hidup. Namun untuk saat ini, Shena akan bersikap kooperatif dan tidak ingin mencari masalah apapun dengan Leo. Setidaknya, sampai mereka kembali pulang ke kampus.
****
Refald menggendong Fey kembali ke kamarnya setelah beberapa waktu lalu harus berhadapan dengan insiden yang tak terduga. Begitu keduanya berpindah tempat, Refald memindahkan penghalang beserta semua yang ada didalamnya termasuk penyamun dan anak buahnya ke dimensi lain agar tidak seorangpun bisa menemukan penghalang mengerikan itu.
Perlahan, Refald meletakkan tubuh kekasihnya dia atas tempat tidur ketika keduanya sudah sampai di kediaman Fey. Refald memegang tangan istrinya yang sedikit terluka akibat menahan penghalang berbahaya tadi.
“Kau tidak sadar kalau tanganmu terluka Honey,” ucap Refald lirih. Fey sendiri juga terkejut, padahal ia sudah hati-hati melapisi tangannya dengan selendang pelangi pemberian leluhurnya. “Jika aku tidak cepat keluar, tanganmu bisa hancur dan itu akan membuatku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Jangan tempatkan dirimu dalam bahaya lagi. Berjanjilah padaku.”
“Refald, kau bilang aku adalah kekuatanmu. Bagaimana bisa aku membiarkan suamiku dalam bahaya jika aku bisa menyelamatkanmu. Aku tidak bisa berjanji. Kau tidak perlu khawatir, kau bukan Raghu dan aku juga bukan Zoya. Kau sendiri yang bilang tidak akan ada yang memisahkan kita karena kita sudah ditakdirkan bersama. Sampai detik ini, aku menyesal telah membuang 9 tahun berharga kita. Jangan menambah penyesalanku dengan berkata seperti itu.”
__ADS_1
Refald memejamkan matanya dan menempelkan telapak tangannya di tangan Fey. Seketika luka istrinya itu langsung sembuh seperti sedia kala. Fey pun tersenyum menyaksikan betapa luar bisanya Refald.
“Lihat, jika aku terluka ... kau masih bisa menyembuhkan lukaku, tapi jika kau yang terluka, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan pernah larang aku selama aku bisa membantu suamiku.”
Refald hanya diam dan langsung menyerang Fey dengan ciuman mautnya. Refald tidak akan berhenti kalau Fey tidak menahan napas saat mereka berciuman. “Berapa kali aku harus bilang padamu, Honey. Bernapaslah!” Refald membenahi posisinya. “kau membuatku ingin sekali menikahimu sekarang juga.”
Wajah Fey benar-benar merah seperti semangka sekarang, ia tidak tahu kenapa dirinya selalu gugup jika Refald menyerangnya seperti itu sampai ia selalu lupa bernapas. Fey ingin mencoba melanjutkan ciuman tadi dan belajar mengatur napasnya, tapi tiba-tiba saja ponsel Refald berbunyi dan menggagalkan momen romantisme keduanya.
“Halo ... iya, Paman. Leo tidak apa-apa ... seperti biasa. Dia dalam pengawasanku, Paman tenang saja. Apa? ... calon suami Zaya? Kalian jadi menjodohkannya? ... aku tahu, aku akan kesana. Tapi aku tidak yakin Zaya akan menerimanya ...baik, aku akan menemui calon sami Zaya besok ... sampai jumpa lahi.” Refald menutup sambungan teleponnya.
“Apa itu Paman Byon? Dan ... siapa, Zaya?” tanya Fey yang sejak tadi mengamati Refald.
“Ehm, itu tadi paman Byon. Beliau memintaku untuk menemui calon suami adik sepupuku, Zaya. Kau belum bertemu dengannya karena saat pertunangan kita waktu itu, dia kabur dari rumah. Paman melarangku memberitahumu karena ia malu memiliki keponakan lain yang suka membangkang. Dia jauh lebih parah dari Leo. Leo sendiri suka sekali bertengkar dengan Zaya, keduanya seperti Tom and Jerry, tidak pernah akur. Mereka cukup membuatku pusing kalau bersama.” Refald mengingat kembali momen ketika Leo dan Zaya yang umurnya tidak terpaut terlalu jauh. Keduanya suka sekali meributkan segala sesuatu yang tidak masuk akal dimulai dari hal kecil dan masalah sepele.
Bila sudah bertengkar, semua benda-benda yang ada disekitar mereka langsung hancur berantakan karena dilempar kesana kemari. Alhasil, Refald terpaksa menggunakan kekuatannya untuk menggantung kedua adiknya di atas plafon dengan tubuh terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah supaya mereka berhenti bertengkar. Dan itu tidak terjadi sekali atau dua kali.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Fey heran kenapa Refald senyam-senyum sendiri.
“Aku hanya teringat pertengkaran Leo dan Zaya. Aku bersyukur gadis tengil itu tidak hadir dipertunangan kita. Seandainya Zaya datang, pasti ia sudah mengacaukan segalanya sebab Leo juga ada disana.”
“Aku penasaran, seperti apa Zaya sampai harus selalu bertengkar dengan Leo.”
“Dia berbeda dengan gadis kecil lainnya. Kedua orang tuanya menghilang saat berlayar dan sampai detik ini, aku belum bisa menemukan jasad meraka. Aku juga tidak bisa melacak keberadaan mereka. Entah mereka masih hidup atau tidak, aku tidak bisa memprediksikannya. Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa Zaya, kau nilai saja sendiri jika nanti bertemu dengannya."
"Lalu apa yang dikatakan paman Byon padamu?"
"Sepertinya, gadis tengik itu berencana kabur lagi sekarang. Paman memintaku menemui calon suaminya untuk mempercepat pernikahannya. Dia adalah seorang polisi dan sedang bertugas di Korea. Aku rasa, paman Byon sengaja menjodohkan Zaya dengan polisi supaya bisa mengimbangi sikap Zaya. Besok aku akan terbang ke Korea, kau mau ikut?”
Fey tidak langsung menjawab pertanyaan Refald karena sebenarnya, Fey sudah punya rencana lain yang harus ia lakukan besok. “Apa kau keberatan jika aku tidak ikut kali ini? Entah kenapa aku mencemaskan Nura. Bagaimana kalau kau pergi saja sendiri dan aku akan mengajak Nura ke tempat yang kau minta waktu itu.”
“Kau yakin mau kesana bersama Nura tanpaku? Kau tidak ingin kita ke Korea dulu baru bertemu Nura dan mengajaknya kesana?”
“Bukankah kita harus ke Swiss seminggu lagi, jika aku ikut denganmu, maka akan membuang banyak waktu. Aku tidak ingin meninggalkan Nura dalam keadaan seperti ini. Setidaknya, ia harus tetap bersemangat seperti sebelumnya. Kau urus urusanmu sesuai apa yang dikatakan paman Byon dan aku mengurus segala hal yang ada disini sembari menunggu kau kembali. Setelah itu kita akan ke Swiss bersama-sama.”
“Baiklah, aku akan meminta pak Po dan mbak Kun untuk menjagamu selama aku tidak ada. Sekarang, aku mau tidur disini sebagai ganti karena beberapa hari ke depan aku tidak bisa bertemu denganmu.” Refald langsung merebahkan dirinya disamping Fey. Ia juga menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya dan keduanya tertidur lelap bersama.
BERSAMBUNG
****
maaf up nya telat
__ADS_1