
Saat aku disibukkan dengan pikiranku mengenai apa yang terjadi pada Refald melalui mimpiku waktu itu, tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara tembakan keras dimana-mana, sehingga membuatku terkejut, terdiam dan terpaku. Mr. Akbar juga ternyata bisa menyusulku kemari meski ia tidak bisa melihat dua sosok makhluk astral didepannya. Dia juga sama terkejutnya mendengar suara tembakan yang semakin lama, semakin terdengar ramai.
“Sepertinya sedang terjadi baku tembak di sana. Tunggulah di sini, aku akan memeriksa situasinya, bersembunyilah agar musuh tidak bisa melihatmu.” Mr. Akbar menyuruhku menunduk dan bersembunyi disemak-semak belukar supaya musuh tidak melihat kami. Sementara laki-laki berbadan tegap itu bersiap siaga dan mengeluarkan senjata apinya sambil memandang ke segala arah penuh waspada.
Sedangkan aku sendiri masih memeriksa area sungai berharap apa yang pernah ada dalam mimpiku waktu itu tidaklah benar. Aku tidak akan pernah bisa percaya, jika kejadian dimimpiku bakal terjadi saat ini. Seandainya mimpiku berubah jadi nyata, maka sebentar lagi ... Refald ... pasti ..., aku tidak sanggup meneruskan pikiranku. Membayangkannya saja sudah membuatku takut.
Entah kenapa aku ingin menangis menanti saat yang paling tidak aku inginkan dan berharap-harap cemas bahwa mimpiku waktu itu tidak benar-benar nyata. Tapi, takdir memang tidak bisa dirubah ataupun dihindari. Mataku terbelalak saat melihat sosok Refald ada di tengah-tengah arus sungai dengan kondisi tubuh terikat di sebuah tiang dan sedang berdiri di atas rakit yang terbuat dari bambu.
Refleks aku berdiri dan mengikuti kemana arus sungai membawa Refald. Aku terus berlari dan berlari di sepanjang tepian sungai tanpa peduli pada Mr. Akbar yang terus saja memanggil-manggilku.
Pandangan mataku hanya tertuju pada Refald. Aku terus bergelut pada diriku sendiri bahwa yang aku lihat ini hanyalah mimpi. Namun, rasa sakit dari sabetan ranting-ranting pohon yang mengenai wajah dan tubuhku, membuatku sadar bahwa apa yang kulihat saat ini memang nyata. Refald ada di sana, di tengah arus sungai yang mengalir deras dan menghanyutkannya.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Refald! Teriakku dalam hati, saking syok dan terkejutnya aku melihat Refald yang tak berdaya. Aku sampai tidak sadar kalau suaraku tidak bisa keluar setiap memanggil nama Refald. Namun aku tidak menyerah, aku terus berlari dan berlari tanpa peduli pada apa yang menerjangku di depan jalanku. Sebisa mungkin aku mensejajarkan diriku dengan posisi Refald agar bisa menyelamatkannya begitu ada kesempatan.
Secepat kilat aku harus segera mencari cara untuk menjangkau Refald sebelum ia terjatuh. Sebab, menurut mimpi yang pernah ku alami, di depan sana, ada air terjun dan itu artinya ... lagi-lagi aku tidak bisa melanjutkan pikiranku. “Refaaaaald!” teriakku disela-sela lariku.
Refald yang tadinya menunduk sudah bisa mendengar suaraku dan mulai mencari-cari keberadaanku. Dia menemukanku sedang berlari mengikutinya. Berulang kali aku terjatuh tapi aku tidak menyerah, meski aku kehabisan napas aku tetap bangkit dan bangun lagi mengejar Refald.
“Fey! Berhenti! Jangan kemari!” teriaknya. Wajahnya terlihat cemas ketika melihatku.
“Tidak!” isakku sambil berlinang air mata. “Aku akan menyelamatkanmu! Bagaimanapun caranya! Aku akan tetap menyelamatkanmu!” teriakku sambil menangis mengeluarkan semua amarahku.
Tidak akan ku biarkan kau mati meninggalkanku begitu saja apalagi tepat di depan mataku! Aku tidak mau mengikuti atau menerima takdir ini. Jika memang tidak ada cara untuk menyelamatkanmu, maka aku ... akan ikut bersamamu. Aku membulatkan tekadku sambil terus menyeka air mataku yang tak pernah lepas dari sosok Refald.
__ADS_1
“Tidak, Fey! Berjanjilah padaku! Kau akan terus hidup, kau harus hidup demi aku! Aku akan selalu mencintaimu! Jika kau juga mencintaiku! Maka kau harus terus hidup!” teriak Refald.
“Tidak!” balasku berteriak. “Aku tidak bisa! Aku tidak akan bisa hidup tanpamu! Aku akan menyelamatkanmu! Tunggu aku!”
Refald hanya menatapku dengan tatapan mata kosong. Sejenak, aku melihat dia memejamkan matanya. Entah karena marah dan tidak mau melihat kekonyolanku atau apa, yang jelas aku tidak akan pernah membiarkan Refald mati sendirian. Sudah cukup aku kehilangan ibuku dan aku tidak mau lagi kehilangan orang yang sangat aku cintai untuk selamanya.
Di depan, aku bisa melihat ujung sungai ini yang artinya, air terjun sudah dekat dengan kami. Jaraknya hanya 10 meter dari tempatku berlari saat ini, sedangkan rakit itu, terus saja menghanyutkan Refald semakin dekat menuju bibir jurang.
Aku mempercepat lariku supaya mendahului Refald hingga sampai di bibir jurang. Aku berdiri tepat di tepian air terjun yang mengalir deras, lalu mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk melompat. Aku tahu, tindakanku ini bisa dibilang nekat dan kemungkinan keberhasilannya adalah 0,01 persen. Namun, aku sudah memutuskan tentang apa yang akan aku lakukan.
Jika takdir ini begitu kejam pada kami, maka aku harus bisa melaluinya bersama Refald. Aku ... siap mati bersamanya, itulah keputusan yang aku ambil saat ini. Aku tidak punya pilihan lain lagi, hanya dengan cara inilah aku bisa terus bersama dengan Refald dan tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami walau itu takdir sekalipun.
Ayah, Sakura, Nenek, Yua, Mia, dan Nura. Maafkan aku, jika aku terpaksa harus mengambil keputusan tersulit dalam hidupku, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa Refald di sisiku. Biarlah takdir ini menjadi akhir dari kisahku bersama dengan kalian, aku ... bahagia bisa mengenal kalian semuanya. Selamat tinggal semuanya ... dan, aku datang, Refald! Aku membatin sambil menatap tajam Refald yang kini sudah sejajar didepanku dan bersiap untuk jatuh.
Aku memeluk tubuh Refald di saat kami berdua melayang turun bebarengan dengan derasnya aliran air terjun yang menjadi satu dengan tubuh kami berdua. Kami saling memandang satu sama lain tanpa berkata apa-apa. Tidak ada yang bisa kukatakan meski sebentar lagi aku akan mati. Aku tidak akan pernah menyesali apa yang akan menimpa kami sebentar lagi, karena aku mati, dalam pelukan orang yang aku cintai. Aku tersenyum pada Refald yang menatapku tanpa henti. Untuk sesaat, aku merasa melayang di atas awan, momen langka ini, tidak akan pernah kulupakan sampai kapanpun sekalipun jika aku harus menjadi hantu gentayangan di hutan ini. Bersama Refald, kenangan ini akan menjadi kenangan terakhir dan satu-satunya yang akan aku miliki.
Tubuh kami langsung menghantam permukaan air dan kamipun tenggelam ke dasar air terjun yang dalam. Tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap dan akupun mulai kehilangan kesadaranku. Wajah Refald, sudah tak terlihat lagi didepanku.
Seperti inikah rasanya orang yang akan mati? Tanyaku sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri.
***
Mataku mulai bergerak-gerak dan perlahan aku membukanya, aku mengamati sekelilingku tapi aku tidak tahu ada di mana aku sekarang. Semuanya masih terlihat gelap, hanya suara gemericik air terdengar jelas ditelingaku. Aku mulai terjaga dan melihat ada Refald sedang berdiri memunggungiku. Aku mencoba bangun, tapi tubuhku terasa sakit semua, kepalaku juga terasa pusing sekali.
__ADS_1
“Honey, kau sudah sadar?” tanya Refald yang langsung datang menghampiriku begitu menyadari aku terbangun.
“Ada di mana kita? Surga atau neraka?” tanyaku yang masih bingung dan langsung disambut tawa kecil Refald. “Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?” aku masih menatap Refald yang tak kunjung berhenti tertawa. “Refald! Aku serius.” Nada suaraku mulai meninggi, rasa penasaranku begitu besar tapi Refald malah menertawaiku.
Tanpa ku duga, Refald mencium bibirku dengan lembut lalu, berkata, “Kau bisa merasakan ciumanku?” tanyanya sehingga membuat pipiku bersemu karena tersipu malu. Aku hanya mengangguk pelan menatap Refald yang juga menatapku. “Itu artinya, kau masih hidup, Honey. Kita berdua masih hidup.” Refald memelukku karena melihatku shock mendengar jawabannya.
“Apa? Tapi ... bagaimana, bisa? Bukankah kita ... sama-sama terjatuh dari atas, mustahil bagi kita berdua selamat dan juga baik-baik saja meskipun tubuhku memang agak sedikit sakit. Kau jangan bercanda?” Aku mencoba melepas pelukan Refald.
“Aku sedang tidak bercanda, Honey. Kau bilang tubuhmu terasa sakit, itu artinya kau masih hidup. Begitu juga denganku, kita baik-baik saja, tapi ...,” Refald tidak meneruskan kata-katanya sehingga membuatku semakin penasaran.
“Tapi, apa?” tanyaku sudah tidak sabar.
“Kau harus menikah denganku, sekarang juga!” tandas Refald dengan tatapan mata yang tak bisa aku mengerti.
“Apa?” mulutku menganga mendengar apa yang dikatakan Refald barusan.
****
Maaf baru bisa up .. semoga suka ya ..
jangan lupa dukung like, vote dan komentarnya ya . love you all..
__ADS_1