
Setelah selesai memasak, Fey akhirnya bersiap pergi ke rumah sakit dimana ayahnya kini dirawat. Sesampainya di sana, Fey hanya mendapati ayahnya sedang duduk rileks sambil membaca koran harian yang setiap hari dikirim rutin oleh pihak rumah sakit agar ayahnya tidak bosan. Fey tersenyum melihat keadaan ayahnya kian hari kian membaik dan terlihat segar bugar dari biasanya.
“Dimana Refald, Ayah? Aku tidak melihatnya dimana-mana?” tanya Fey sambil meletakkan bekal yang ia bawa diatas meja lalu membukanya supaya ayahnya bisa menyantap masakan yang ia buat.
“Aku kira dia menjemputmu. Kau belum melihatnya?” tanya ayah Fey sedikit terkejut. Ia meletakkan koran yang dibacanya di atas meja.
“Mungkin dia sedang ada urusan, aku akan keluar dulu meneleponnya. Ayah harus makan dengan baik, semua ini adalah masakan kesukaan Ayah. Aku membuat Soba, Yakiniku dan juga Onigiri. Aku belajar memasak semua makanan ini dari buku harian yang ditinggalkan ibu padaku. Semoga Ayah suka.” Fey tersenyum melihat ayahnya mencicipi Onigiri buatannya, yaitu nasi kepal yang didalamnya, sengaja Fey isi dengan beef yakiniku. Ayah Fey, terlihat sangat menikmati masakannya.
“Wah, ini enak sekali. Sama persis seperti masakan Nedeshiko.” Ayah Fey mencomot lagi Yakiniku yang dibawakan putrinya dengan menggunakan sumpit. “Kau memang benar-benar mirip dengan ibumu.” Ia tersenyum senang dan melahap semua masakan yang dimasak putri kesayangannya. Mertua Refald benar-benar terharu karena putrinya ternyata bisa memasak makanan selezat ini sehingga ia jadi kembali teringat oleh istrinya yang sudah lama tiada.
“Aku senang Ayah menyukainya. Aku tinggal sebentar dulu, Ayah.” Fey berdiri dan berjalan keluar untuk menghubungi Refald. “Halo Sayang, kau ada di mana? Aku mencarimu di sini tapi kau tidak ada, makanlah dulu! Kau belum makan apa-apa sejak tadi,” ujar Fey begitu panggilannya tersambung.
“Di sini, Honey,” bisik Refald yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang istrinya.
Begitu Fey berbalik badan menghadap Refald, suaminya itu langsung menghadiahinya dengan ciuman manis semanis madu.
“Kau ini!” Fey memukul pelan dada suaminya. “Bikin kaget saja! Kalau sudah ada di sini, kenapa mengangkat panggilanku!” Fey benar-bener kaget Refald tiba-tiba muncul dibelakangnya.
“Aku langsung kemari begitu selesai bicara dengan paman Byon. Aku baru mau menyapamu saat kau meneleponku tadi,” terang Refald sambil memeluk pinggang istrinya.
“Kau habis dari Jerman? Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Fey mulai cemas.
“Masalahnya adalah adik kesayanganku itu sedang bikin ulah! Besok dia mau bertunangan.”
“Apa?” Fey membelalakkan matanya. “Secepat itu? Dasar Leo tengil! Kenapa dia tidak sabaran sekali, aku kasihan sama Shena. Pasti gadis malang itu kesal sekali dengan Leo. Aku saja yang mendengar kabar ini langsung kesal!”
“Malah bagus Sayang, semakin Shena membenci Leo, semakin besar pula rasa cintanya pada si cecunguk nggak ada akhlak itu. Sebentar lagi kita akan menghadiri pernikahan mereka yang luar biasa. Bukankah ini yang selalu kau nantikan?”
Fey hanya tersenyum getir membayangkan betapa gilanya Leo yang memaksa Shena untuk segera menikah dengannya. Tapi kisah cinta keduanya memang unik dan beda dari yang lain, mereka berdua sudah ditakdirkan bersama selamanya seperti yang sudah diperlihatkan Refald sebelum ingatan keduanya dihapus suaminya ini.
“Kita juga harus bersiap-siap suamiku, saat ini Rosalinda Di pasti sudah terbang ke Indonesia. Pastikan pak Po tidak mengetahuinya. Aku sebel banget dengan pasukan dedemitmu yang satu itu, dia terus saja menggangguku karena patah hati.”
Refald mengecup lembut kening istrinya. Wajahnya begitu imut kalau Fey sedang kesal.
“Bukan cuma kau saja yang diganggu, Honey. Lihatlah dibawah sana?” Refald menunjuk tempat di sebuah taman dimana ada sepasang kekasih sedang bermesraan disebuah bangku panjang, dan pak Po dengan PeDe-nya berdiri diantara keduanya.
Hantu resek itu mulai jahil dengan menganggu kenyamanan sepasang sejoli itu dan membuat mereka merinding ketakutan akibat ulah pak Po yang usil.
Setelah pasangan kekasih itu lari terbirit-terbirit, pak Po pun berpindah ke tempat lain dan mengganggu semua orang yang terlihat sedang berduaan. Pak Po terus saja menakut-nakuti mereka bahkan sampai ada yang pingsan segala. Benar-benar hantu bengek yang meresahkan.
“Apa semua dedemit seperti itu jika sedang patah hati? Menjadi orang ketiga dari sepasang sejoli yang ingin berduaan? Dan menganggu masa-masa indah mereka? Apa pak Po tidak kelewatan?” Fey mulai mencemaskan keadaan pak Po.
__ADS_1
Ternyata cinta tidak hanya membutakan segalanya, tetapi juga bisa membuat siapapun jadi gila bila patah hati karena cinta.
“Mungkin.” Refald terus memerhatikan pak Po yang masih saja jahil pada semua orang yang dia temui. “Selama pak Po tidak menyakiti orang lain, dia masih aman terkendali.”
“Apa tidak apa-apa kita membiarkan dia seperti itu terus, Refald? Pak Po sudah membuat resah banyak orang. Apalagi sampai ada yang pingsan!” Feypun ikut memerhatikan tingkah laku pak Po yang menjengkelkan.
“Mereka akan bangun lagi, Honey. Kau tenang saja, lagipula hal ini tidak akan lama, sebentar lagi pak Po akan menikah dengan kekasihnya.”
“Bagaimana dengan ritualnya?” tanya Fey sambil menatap mata suaminya.
“Aku sudah menyiapkannya. Kita tinggal melaksanakannya. Kau yakin kau sendiri yang melakukannya?” tanya Refald untuk mencari tahu apakah istrinya benar-benar yakin mengenai apa yang akan ia lakukan terhadap pak Po nanti.
Fey menunduk untuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Refald. Sebenarnya ia takut gagal atau melakukan kesalahan. Tapi melihat pak Po begitu kuat ingin menikahi kekasihnya yang jelas-jelas berbeda dunia dengannya, maka Fey mau tidak mau harus bisa melakukannya.
“Seperti yang kau bilang, Suamiku. Aku mewarisi darah dan kekuatan almarhum kakekku. Tentu aku sendirilah yang harus melakukannya. Itu karena pasukanmu berhak dan layak bahagia. Mereka sudah lama menjadi Jones alias jomblo ngenes dan tetap setia bersamamu. Sekaranglah saatnya mereka juga merasakan apa yang kau rasakan saat bersamaku.”
Sebuah ciuman manis langsung mendarat sempurna dibibir Fey. Entah kenapa setiap kali Fey bicara, selalu membuat Refald ingin menciumnya tak peduli dimanapun mereka berada. Dan Fey sendiri juga sudah terbiasa menerima perlakuan mengejutkan dari suaminya yang sama nggak ada akhlaknya dengan adik sepupunya, siapa lagi kalau bukan Leo si tengil itu.
***
Sementara di kediaman Laura, gadis itu bingung dengan apa yang menimpanya akhir-akhir ini. Mulai dari kekasihnya Roy yang mendadak hilang tanpa kabar selama berhari-hari sehingga membuatnya nekat menemuinya ke gedung teknik bersama dengan sahabatnya Shena. Alhasil, bukan Roy yang ia temukan tetapi pencarian itu malah berakhir tragis untuk Shena. Gara-gara dirinya, kini sahabat karibnya itu terpaksa harus menjadi pacar Leo.
Insiden menegangkan itu teringat jelas di benak Laura, apalagi saat ia tiba-tiba saja diseret paksa oleh seseorang tak dikenal untuk masuk ke dalam ruangan gelap tepat begitu mati lampu dan tahu-tahu, dirinya sudah ada diloteng bersama dengan semua teman-teman sekelasnya dalam keadaan tangan terikat dan mulut disumpal kain.
Meski kejadian itu telah berlalu, tetap saja membuat Laura sangat penasaran tentang keberadaan Roy yang tidak diketahui sampai saat ini. Pertanyaan yang selalu terbayang di benak Laura adalah, siapa orang yang menyeretnya waktu itu? Ada dimana Roy pada saat Leo mengancam Shena dan semua teman-temannya?
Sebab, selama ini Leo dan Roy adalah sepaket yang tak bisa dipisahkan. Sangat aneh kalau Roy tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan Leo demi mendapatkan Shena. Harusnya, Roy ada disitu, tapi Laura tak bisa menemukan kekasihnya dimana-mana sampai detik ini.
Laura berjalan keluar balkon kamarnya ditengah malam dan menatap sinar bulan yang kebetulan sekarang memasuki fase bulan purnama. Angin sepoi-sepoi berhembus menerjang tubuh Laura sehingga gadis itu sedikit menggigil kedinginan.
“Ada dimana kau, Roy? Kenapa kau tiba-tiba saja menghilang?” gumam Laura. Ekspresinya terlihat sedih bercampur kecewa tapi juga mencemaskan keadaan kekasihnya yang hilang tanpa kabar.
Tanpa Laura sadari, sepasang mata elang sedang bertengger dibalik pohon mangga besar yang tumbuh dipinggir jalan depan rumah Laura. Orang itu adalah Roy, kekasih Laura sendiri. Cowok itu sedang mengamati gerak gerik Laura sambil tersenyum sinis.
Setelah puas melihat Laura, Roy pun masuk ke dalam mobil ferrarinya dan melesat pergi meninggalkan kediaman Laura. Laura langsung menyadari kalau ada orang sedang diam-diam mengawasinya. Gadis itu bergegas turun dan menyabet kunci mobil yang menggantung di dinding ruang keluarganya. Secepat kilat Laura menyalakan mesin mobil innovanya dan mengikuti mobil ferrari merah yang baru saja melintas dirumahnya. Laura sangat yakin, pasti pengemudi Ferrari merah itu adalah Roy. Kekasih yang ia rindukan saat ini.
“Kenapa ia tidak menghubungiku? Malah mengawasiku saja dari jauh? Apa yang ia lakukan sebenarnya?” gumam Laura sambil terus fokus mengikuti mobil Roy yang melaju kencang didepannya.
Laura hendak menelepon Roy tapi karena tadi terburu-buru, ponselnya ketinggalan dikamarnya. Sebab, Laura turun dan tidak membawa apa-apa. Gadis itu tidak bisa mengejar kecepatan mobil yang dikendarai Roy. Ia hanya bisa mengikutinya dari belakang.
Dua jam sudah berlalu hingga akhirnya Roy memelankan laju kendaraannya dan memasuki sebuah vila yang ada dipuncak. Tentu saja, Laura sangat terkejut saat Roy masuk ke sebuah vila besar yang ternyata, tempat itu adalah tempat berkumpulnya para teman-teman sekelas Leo.
__ADS_1
Di dalam sana ternyata juga sudah ada Leo yang sepertinya sedang ikut merayakan sebuah pesta. Laura menepikan mobilnya diujung jalan dan keluar mendekati vila tersebut. Ia tidak bisa masuk karena pintu gerbangnya dijaga ketat oleh beberapa pengawal Leo.
Sebenarnya, Laura tidak ingin ikut campur urusan laki-laki, tapi berhubung Roy masuk ke dalam vila itu, maka ia pun jadi penasaran akan apa yang terjadi sebenarnya. Laura mencari jalan pintas mengelilingi dinding pagar Vila agar mendapat celah supaya bisa masuk ke dalam vila tersebut. Untung, ada semak belukar yang merambat di dinding pagar vila itu dan tanpa pikir panjang Laura berusaha memanjatnya dengan menggunakan tumbuhan yang menjalar disepanjang dinding pagar tersebut.
Laura melompat turun dan secara diam-diam ia mendekati vila dimana ada banyak orang didalamnya. Orang-orang itulah yang menyanderanya dan teman-teman sekelasnya tadi.
“Mereka semua adalah anak-anak teknik. Sekaligus teman-teman Leo dan Roy. Sedang apa mereka?” gumam Laura. Ia melihat Leo keluar dari pintu keluar Vila sambil tersenyum senang. Cowok itu masuk kedalam mobil volvonya dan menyalakan mesin.
“Oey Leo! kau yakin tidak ingin bergabung dengan kami?” tanya Brandon dari atas balkon dilantai dua.
Leo membuka kaca mobilnya. “Tidak! Nikmati saja pestanya, aku yang bayar semuanya! Besok ada hal penting yang harus aku lakukan, jadi aku tidak boleh tidur terlalu malam!” teriak Leo dengan lantang lalu beralih memanggil Roy. “Oey Roy, terimakasih atas bantuanmu, selama ini. Tunggu aba-abaku selanjutnya, kau bisa putuskan Laura jika aku sudah dalam zona aman,” seru Leo dari dalam mobil.
“Oke!” jawab Roy santai sambil mengamati mobil Leo yang melesat pergi meninggalkan vila.
Bagai petir yang menyambar dimalam hari, Laura langsung shock berat mendengar apa yang dikatakan Leo pada Roy. Ia bahkan sampai jatuh terduduk lunglai di atas tanah saking terkejutnya.
“Ja-jadi ...selama ini ... Roy hanya ... bersandiwara? Dia ... pura-pura mencintaiku?” Laura mengatupkan mulutnya tak percaya. Hatinya hancur seketika. Jelas sudah semuanya sekarang. itukah alasan kenapa Roy menghilang? Semua sudah diatur ternyata. “Apa yang mereka rencanakan pada Shena? Ada apa ini?” mata Laura mulai berkaca-kaca mengetahui fakta mencengangkan ini.
Gadis itu lemas tak bertenaga setelah tahu semuanya. Kini, Sahabatnya Shena sedang dalam bahaya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba saja mata Laura jadi berkunang-kunang, ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pening. Malam itu, tanpa ada yang tahu, Laura pingsan disamping pekarangan vila dekat taman bunga yang dikelilingi dengan bunga-bunga yang lain. Sementara di dalam vila sendiri sedang berlangsung pesta yang sangat meriah untuk merayakan keberhasilan rencana Leo memaksa Shena menjadi kekasihnya.
Disaat semua teman-temanya sedang berpesta ria, Roy hanya duduk termenung dipojokan sambil memikirkan sesuatu. Bayangan wajah Laura yang terlihat cemas di balkon rumahnya tadi membuat Roy tak bisa menghilangkan wajah cantik itu. Ia pun mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa menyingkirkan ekspresi khawatir gadis yang sangat tergila-gila padanya.
“Sial!” umpat Roy sambil melempar gelas yang ada ditangannya sehingga membuat seluruh teman-temannya terkejut.
“Ada apa, Roy?” tanya Brandon.
“Nggak apa-apa, kalian lanjutkan saja! Aku mau cari udara segar!” cetus Roy tanpa ekspresi dan ia pun langsung berjalan cepat menuju pintu keluar vila.
Roy bermaksud melupakan bayangan Laura yang selalu tersenyum padanya setiap kali mereka bertemu. Awalnya, Roy hanya berakting membalas senyuman gadis itu. Namun, lama-kelamaan Roy jadi terbiasa ikut tersenyum jika Laura tersenyum juga padanya.
Disaat sahabat Leo itu dipusingkan dengan perasaan galaunya, tiba-tiba tanpa sengaja Roy melihat ada sesosok tubuh wanita yang tidak asing lagi baginya tergelatak begitu saja di tanah yang dikeliling bunga-bunga. Secepat kilat Roy berlari ke arah tubuh gadis itu dan betapa terkejutnya Roy setelah tahu bahwa wanita yang sedang tergelatak tak berdaya adalah Laura. Kekasihnya sendiri.
“Ra! Bangun! Kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang terjadi padamu? Bangun, Ra?” teriak Roy dengan penuh kecemasan yang tak terkira.
BERSAMBUNG
***
Maaf salah prediksi ... ternyata cerita fantasi seputar pernikahan pak Po, ada di episode selanjutnya. Part Laura dan Roy ini terjadi setelah Leo berhasil memaksa Shena jadi pacarnya dan keesokan harinya, tahulah apa yang terjadi selanjutnya. yang sudah baca playboy jatuh cinta pasti tahu alurnya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ya ... love you all