
Ular yang menggigit kaki Epank langsung pergi entah kemana. Kami juga tidak tahu harus bagaimana. Refald langsung menelepon seseorang untuk mencari bantuan. Sedangkan Yua langsung menurunkan ranselnya dan mengambil tali lalu ia ikatkan pada kaki Epank dengan sangat kuat untuk menekan pembuluh darahnya agar racunnya tidak menyebar. Setelah itu, Ia bersiap menghisap racun yang ada di kaki Epank dengan mulutnya.
“Tunggu Yua!” aku menghentikan langkahnya. “Kau juga bisa terkena racunnya!” tentu saja Yua tidak menggubrisku, ia terus menghisap racun ular itu sebelum bisa menyebar keseluruh tubuh Epank lalu memuntahkannya kembali ke tanah.
Ketegangan meliputi kami semua yang menyaksikan adegan itu selama beberapa menit. Aksi heroik Yua membuat kami ketakutan, apalagi bantuan belum juga datang. Wajah Epank juga semakin pucat, Juna menopang kepala Epank agar tidak terjatuh ke tanah. Sepertinya Epank sudah mau pingsan, dan Yua juga terlihat kelelahan. Aku khawatir padanya. Racun itu bisa saja masuk kedalam tubuh penghisapnya.
Diam-diam aku mengagumi Yua, dia benar benar PMR sejati. Ia menolong Epank tanpa peduli dengan nyawanya sendiri. Aku baru tahu kalau Yua itu sangat keren.
Beruntung disaat terakhir sisa tenaga Yua, bantuan langsung datang. Para tenaga medis dan beberapa petugas perhutani langsung memeriksa kondisi Epank dan mengecek area sekitar tempat kami berada saat ini, untuk mencari tahu apakah ular itu masih berkeliaran disekitar sini atau tidak.
Epank langsung ditandu oleh beberapa petugas medis dan dibawa ke rumah sakit terdekat agar segera mendapat penanganan khusus. Sedangkan aku membantu Yua yang lemas akibat terlalu banyak menghisap racun yang bersemayam di tubuh Epank. Aku memapah tubuh Yua agar ia bisa melangkah. Refald menawarkan diri membawakan ranselku dan ransel Yua supaya kami tidak kesulitan berjalan.
Sesampainya di parkiran, kami semua langsung masuk kedalam mobil jib Refald dan pergi mengantar Yua ke rumah sakit yang sama dengan Epank untuk memeriksakan kondisinya. Dan benar dugaanku, Yua juga terkena racun ular itu. Ia langsung dirawat intensif di ruang UGD. Sedangkan Epank sendiri, sepertinya ia sudah dipindah ke kamar inap, kondisinya juga baik-baik saja karena racunnya tidak sempat menyebar kemana-mana. Itu semua berkat Yua yang sigap menghisap racun itu. Sayangnya, kini kondisi Yua yang mengkhawatirkan. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Yua.
Aku meminta Juna untuk mengajak Lisa makan siang. Setelah itu mereka kusuruh pulang untuk istirahat dan membersihkan diri. Sementara aku akan menunggu Yua sampai ia ke luar dari ruang UGD.
Aku tidak menyangka bahwa ini terjadi pada kami. Sejauh ini, aku mengira semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata prediksiku salah, lagi-lagi aku menyebabkan banyak masalah bagi teman-temanku. Aku menangis di kursi ruang tunggu. Aku khawatir dengan kondisi Yua yang sampai saat ini belum keluar dari ruang UGD. Padahal, ini sudah satu jam.
Refald yang sejak tadi setia menemaniku ikut duduk disebelahku dan menenangkanku.
“Terjadi lagi, Refald!” aku mencoba menghentikan tangisku. “Lagi-lagi aku membuat orang lain celaka. Pertama dirimu, sekarang Epank dan sahabat terbaikku sendiri. Apa aku memang pembawa sial?” aku kembali menangis tersedu-sedu.
Refald memelukku dengan erat, ia menenangkanku dan aku sedikit merasa tenang didekapannya. “Semua ini bukan salahmu, Fey! Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri! Semua yang terjadi, diluar kuasa dan kendali kita. Ini murni kecelakaan, semua akan baik-baik saja, oke! Jadi, jangan khawatir, ada aku di sini.”
“Terima kasih, Refald. Entah apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kau disisiku.”
Refald mengangguk dan semakin mempererat pelukannya. Setelah menunggu selama kurang lebih dua jam, akhirnya dokter yang menangani Yua keluar dari ruangan. Aku langsung berlari kearahnya untuk menanyakan bagaimana kondisi Yua.
“Bagaimana kondisi teman saya, Dok?”
“Dia baik-baik saja, kami sudah memberikan obat penawar racunnya dan mengeluarkan seluruh racun itu ditubuh teman anda. Beruntung racun ular itu tergolong racun yang tidak berbahaya dan kami memiliki penawarnya. Sehingga teman-teman anda bisa segera diselamatkan. Setelah ini, ia akan dipindahkan di ruang rawat inap, dan jika kondisinya terus membaik, lusa dia boleh pulang.”
Aku lega mendengar penjelasan dari dokter. “Apa saya bisa menemuinya, Dok?”
__ADS_1
“Tentu saja, tunggu dia keluar dari ruangan ini dulu, saya permisi dulu!”
“Terima kasih banyak, Dok!”
“Sama-sama!” Dokter itu pergi berlalu untuk memeriksa pasiennya yang lain.
****
Aku menemui Yua yang sudah dipindahkan ke kamar pasien. Ia sudah sadar dan duduk bersandar di ranjangnya. Aku menahan air mataku supaya tidak pecah saat menghampirinya.
“Maafkan aku Yua, kau harus mengalami semua peristiwa ini gara gara aku,” ucapku lirih saat duduk disebelahnya.
Yua menggeleng pelan. Ia menatapku sambil tersenyum. “Semua ini bukan salahmu, Fey. Aku juga tidak menyalahkan ular itu, semua terjadi begitu saja tanpa ada peringatan. Ini sudah takdir. Lagipula aku baik-baik saja sekarang.”
Aku duduk disebelah Yua dan menggenggam erat tangannya. “Kau tidak trauma, kan? Dengan kejadian tadi? Kau ini nekat sekali, Yua. Kau membahayakan nyawamu sendiri hanya demi Epank!”
Yua menggeleng. “Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang?”
Aku diam dan berusaha terlihat tenang. Disaat seperti ini Yua masih bisa mengkhawatirkan Epank. “Kau tenang saja Yua, ia baik-baik saja, berkat dirimu. Justru kondisimulah yang mengkhawatirkan. Racun yang masuk ditubuhmu jauh lebih banyak dari pada yang ada ditubuh Epank. Ia bahkan langsung sembuh dengan cepat.” aku agak kesal mengingat orang yang ditolong oleh Yua sama sekali tidak peduli dengan keadaan orang yang menolongnya.
Aku menatap Yua, dan menyuruhnya istirahat supaya ia cepat sembuh.
“Dimana Refald? Apa dia sudah pulang?” tanya Yua.
Aku menghela napas panjang dan menundukkan kepalaku. Dalam benakku, aku menyayangkan kejadian tadi.
Semua berawal dari kejadian diruang tunggu. Saat dokter pergi meninggalkanku untuk memeriksa pasiennya yang lain. Via tiba-tiba datang menghampiriku dengan penuh emosi. Tanpa basa basi, ia langsung melabrakku dan memarahiku tanpa henti. Ia menuduhku penyebab Epank seperti ini.
“Kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Fey? Kau membuat pacarku celaka? Kenapa kau melibatkan dia? Apa tujuanmu sebenarnya?”
“Aku tidak tahu kalau bakal ada kejadian seperti ini, Via! Siapa yang tahu kalau ular itu akan menggigit Epank? Sebelumnya kami tidak melihat binatang apapun di sana, karena hutan itu masih termasuk area hutan lindung yang tergolong aman jika melaksanakan kegiatan di sana.” aku berusaha menjelaskan.
“Kenapa harus pacarku yang kau libatkan? Masih banyak anggota PMR yang lain yang bisa membantumu! Seandainya kau tidak meminta bantuannya, kejadian ini tidak akan mungkin terjadi!” Via terlihat sangat marah padaku. Air matanya keluar karena menahan emosinya.
“Kau tidak berhak menyalahkan Fey, Nona!” ucap Refald membelaku.
“Kau jangan ikut campur urusanku!”Via berani membentak Refald.
__ADS_1
“Ini juga bukanlah urusanmu! Kalau pun yang berhak marah, itu hanyalah Epank sendiri. Bukan kau!”
Via menatap Refald dengan penuh emosi. “Aku kekasihnya! Aku juga berhak marah pada orang yang menyebabkan ia jadi seperti ini!”
“Kejadian ini juga bukan salah pacarku! Kau tidak bisa menyalahkannya! Lagi pula pacarmu itu sudah sembuh dan itu berkat seseorang. Harusnya sebagai pacar, kau berterima kasih padanya, bukannya malah menyalahkan orang lain. Kau beruntung karena pacarmu itu masih hidup.”
Via tertegun mendengar ucapan Refald. Ia menatap marah padaku, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan kami. Refald langsung memelukku.
“Kenapa kau hanya diam saja saat ada orang yang menyerangmu, biasanya kau balas menyerangnya. Seperti waktu kau tak bisa masuk kekelasku. Itulah kenapa aku sangat menyukaimu, kau bisa menghadapi mereka yang membencimu."
Aku melepaskan pelukannya. "Yang kau katakan benar, Refald. Begitu juga dengan ucapan Via. Seandainya aku tidak melibatkan Epank hanya demi keegoisanku, semua ini tidak akan terjadi. Harusnya aku mendengarkanmu waktu itu.
“Kau bicara apa? Ini bukan dirimu yang sebenarnya? Di mana Fey yang antusias penuh semangat? Kenapa kau terus saja menyalahkan diri sendiri? Semua yang terjadi ini bukanlah salahmu! Begitu juga yang terjadi pada ibumu. Kenapa kau suka sekali menghukum dirimu sendiri dengan terus-terusan merasa bersalah? Kau tahu akibat yang kau lakukan? Kau menyakiti banyak orang. Tidakkah kau memikirkan orang lain juga? Jangan selalu beranggapan bahwa orang lain terluka itu karenamu! Ini semua sudah takdir, kau tak bisa menghalanginya ataupun mengubahnya.”
Aku terkejut Refald bisa mengatakan kata-kata seperti itu, bahkan ia sampai membawa-bawa nama ibuku. Perlahan air mataku mulai jatuh. “Kau sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanku. Mudah sekali mengatakannya, tapi kau belum tentu bisa melaluinya. Kau juga tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai tepat didepan matamu. Kau juga tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau sayangi celaka karena dirimu. Kau tidak tahu semua itu!” aku setengah berteriak. Lalu pergi berlari meninggalkan Refald yang juga terkejut dengan ucapanku.
Tidak kusangka Refald tega berkata seperti itu padaku. Ia kejam sekali. Ia bersikap seolah-olah ia tahu segalanya tentangku. Ia tidak tahu apa-apa. Aku benci padanya. Tidak seharusnya kami bertengkar seperti itu di sini. Apalagi disaat seperti ini.
“Fey! Kau tidak apa-apa?” tanya Yua membuyarkan lamunanku.
Aku tersadar dan tersenyum padanya. “Aku tidak apa-apa!”
“Apa Refald sudah pulang?”
Aku menunduk, “Iya, mungkin saat ini dia sudah pulang!”
“Kenapa kau juga tidak ikut pulang? Kau pasti lelah. Aku sudah tidak apa-apa. Jadi, jangan khawatir lagi, Pulanglah!”
Aku menggeleng. “Aku tidak apa-apa, Yua ... aku akan pulang kalau keluargamu sudah ada yang datang.”
Yua masih mengamatiku. Mungkin ia tahu kalau aku sedang dalam masalah. Tapi Yua sangat mengerti aku, ia tidak akan bertanya sebelum aku sendiri yang memberitahunya.
****
__ADS_1