
Tubuhku terhempas jatuh bersama dengan patahan dahan kayu yang menopangku. Namun, selang beberapa detik kejatuhanku, aku melihat sebuah tali karmenter terlempar jatuh tepat diatasku, tali itu melewati tubuhku yang melayang bebas. Aku tidak bisa meraihnya karena aku masih sulit untuk bergerak.
Tidak lama kemudian aku melihat seseorang melompat ke bawah sambil memegang badan tali karmenter itu, ia turun sambil menjulurkan tangannya di atas tali. Semakin dekat orang itu jatuh, aku semakin bisa melihat jelas siapa orang gila yang nekat menerjunkan dirinya ke tebing ini.
Yah ... orang itu adalah semangat hidupku, orang itu adalah penjagaku dan akan selalu melindungiku, orang itu adalah tujuan hidupku saat ini, orang itu adalah ... tunanganku, dia adalah Refaldku. Tidak ada lagi orang gila seperti dia yang nekat melakukan hal gila seperti ini.
Aku meneteskan air mata melihat kegilaannya demi menyelamatkanku. Ia sengaja melempar tali itu dan menerjunkan dirinya mengikuti talinya. Dia benar-benar tidak waras. Ditengah kemelut ketegangan antara hidup dan mati kami, entah mengapa aku sangat bahagia melihat sosok Refald yang dengan kerennya merentangkan tangan melayang di udara seolah-olah ia hendak memelukku.
Seandainya hidupku harus berakhir di sini maka tidak akan ada yang akan kusesali karena aku akan mati bersama dengan orang yang aku cintai. Satu-satunya penyesalanku hanyalah, aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pada nenek dan sahabat-sahabatku. Mereka pasti akan kehilanganku, dan seiring berjalannya waktu ... mereka mungkin juga akan melupakanku. Tapi, aku tidak akan pernah melupakan mereka, sampai kapanpun.
Refald mulai meraih tubuhku dalam pelukannya dan menahan pegangannya pada tali yang dari tadi ia genggam sehingga tubuh kami berdua terhenti dari tarikan gaya gravitasi bumi. Dalam sekejap, aku dan Refald sudah bergelantungan di tali yang menggantung di sisi tebing.
Tangan Refald yang kanan, menggenggam erat tali karmenternya, sedangkan yang kiri, memelukku dengan sangat erat. Refleks tanganku kugantungkan dilehernya supaya aku tidak terjatuh. Apalagi saat ini, posisi kami sedang berada di tempat yang agak terbuka. Tidak banyak pohon yang tumbuh di tebing ini.
Detak jantungku berdetak sangat kuat karena panik dan ketakutan. Untuk yang kedua kalinya aku mengira bahwa aku benar-benar akan mati meski mati-matian aku berusaha menepisnya. Sulit dipercaya jika aku masih bisa hidup setelah sempat mengira akan mati mengenaskan dengan cara seperti ini.
“Tenanglah, jangan takut. Aku sudah mendapatkanmu.” Refald memelukku dengan erat.
Sungguh aneh melihat Refald bersikap sangat tenang padahal aku sudah gemetar ketakutan. Detak jantung Refald masih normal seakan ia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
“Kau tidak apa-apa, Honey?” tanya Refald sambil menatapku dengan cemas, ia mengamati seluruh wajahku.
“Aku baik-baik saja, hanya punggungku saja yang sakit karena menghantam dahan kayu dengan keras saat aku terjatuh tadi. Tapi sepertinya kakiku juga terkilir karena terjepit diantara lebatnya dahan pohon.” jawabku dengan nada gemetar.
“Jangan khawatir, Honey. Aku akan membawamu turun dan memeriksanya.”
“Apa? Turun? Maksudmu jatuh lagi ke bawah?” tanyaku mulai memasang wajah panik.
“Iya, apa gunanya tali ini? Inilah teknik repling prusik yang sebenarnya, kau tidak lupa, kan?”
Kalau di pikir-pikir ucapan Refald benar juga. Apa yang kami lakukan saat ini memang merupakan teknik prusiking. Bedanya hanyalah, kami tidak menggunakan pengaman apapun. Sedikit kesalahan, maka nyawa kamilah yang akan menjadi taruhannya.
“Tapi kita tidak tahu kedalaman tebing ini dan sampai di mana ujung tali karmenter ini, bagaimana kalau talinya tidak sampai di dasar jurang?”
“Tali ini memang tidak sampai ke dasar jurang, Honey. Tapi tebing ini penuh dengan bebatuan yang membentuk seperti tanjakan. Kita bisa memanfaatkan tanjakan tebing itu.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku penasaran karena seolah Refald mengetahui semua seluk-beluk beluk tebing ini. Padahal dia belum pernah datang kemari.
“Ada yang memberitahuku. Ayolah ... jangan tegang seperti itu. Rileks saja, nikmati pemandangan yang ada di sekitar kita. Ini momen yang langka karena kita bisa menikmati semua ini secara gratis dan tanpa terencana,” ucap Refald sambil tersenyum.
Aku menatapnya terpana tak percaya.
“Apa kau benar-benar sudah tidak waras?” tanyaku pada Refald.
“Apa?”
__ADS_1
“Bagaimana kau masih bisa tersenyum dalam kondisi seperti ini, ha? Kau pikir apa yang kita alami saat ini itu lucu? Kau sadar kan kita ada di mana? Saat ini kita sedang berada diambang kematian, tahu!” teriakku panik.
“Fey, ayolah ... bukan itu maksudku.” Refald memelukku dan mencium keningku. “Percayalah padaku, kita akan baik-baik saja. Jangan takut, oke! Aku hanya ingin mengalihkan perhatianmu supaya kau tidak ketakutan. Tapi jujur, tempat ini benar-benar menakjubkan. Lihatlah sekelilingmu!”
Aku mencoba percaya dan menuruti kata-kata Refald, dan apa yang dikatakannya memang benar. Pemandangannya sangat indah dan mempesona bak negeri dongeng. Aku tidak percaya kalau tempat ini baru saja diterjang banjir. Keindahannya tidak menandakan kalau baru saja terjadi bencana di tempat ini.
Sebenarnya ini tempat apa? Menakjubkan sekali ... apakah aku masuk ke dimensi lain lagi? Ini sangat berbeda dengan apa yang aku lihat di atas tadi. Tidak ada tanda-tanda banjir di tempat ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Lagi-lagi aku mengalami kejadian yang tidak masuk akal. Namun, kali ini agak berbeda, meski takut, aku cukup terkesima mengetahui di mana kini aku berada.
Pemandangan ini terlalu indah untuk ditakuti, rasa takutku langsung sirna begitu melihat panorama alam yang ada disekelilingku, keindahannya bagaikan surga alam yang menakjubkan.
Dari sini aku bisa melihat hamparan hutan yang begitu hijau, ditambah juga ada pelangi-pelangi penuh warna bermunculan akibat biasan cahaya bersinar di sekitar air terjun yang mengalir deras. Tidak ada kata-kata lain yang bisa kugambarkan selain keindahan yang luar biasa. Seandainya kami tidak dalam mode menghadapi kematian, pasti aku akan mengabadikan momen langka menakjubkan ini.
“Sugoiiiii ....” tanpa sadar aku mengucapkan kata ‘keren’ dalam bahasa Jepang.
Refald hanya tersenyum melihatku. “Kau menyukainya juga, kan?”
“Hanya orang tidak waras yang tidak menyukai panorama seperti ini. Ini benar-benar luar biasa.” Aku masih mengamati pemandangan indah disekelilingku dengan ekspresi penuh takjub tak terkira.
Memang benar apa yang sering pepatah bilang bahwa disetiap musibah, selalu ada hikmah. Semua keindahan yang kusaksikan ini adalah hikmah dibalik musibah yang kualami. Dan yang lebih membahagiakan lagi, aku bisa menyaksikan panorama ini bersama dengan orang yang kucintai, yaitu orang gila yang nekat menyelamatkanku dengan cara yang gila pula.
Aku sungguh bahagia bisa bersama dengan Refald saat ini. Rasa ketakutan yang tadi kurasakan kini menghilang seketika dan diganti dengan rasa takjub luar biasa dan tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Untuk kesekian kalinya, aku bersyukur sudah jatuh ke dalam jurang tepat di sisi air terjun menakjubkan ini sehingga aku bisa menikmati keindahannya.
“Baiklah, sudah cukup terkesimanya, kita harus segera turun dari sini.” ucapan Refald mulai membuatku kembali sadar ke dunia nyata. Dalam sekejap ekspresi wajahku kembali menjadi tegang meski tidak separah tadi.
“Di bawah sana ada tanjakan kecil memanjang.” jawab Refald yang membuatku langsung melihat ke arah bawah. “Panjang tali yang kupegang ini adalah 20 ma,” lanjutnya. “Sedangkan ketinggian tebing sampai tanjakan itu adalah 18 m, kalau prediksiku benar, kita berada diketinggian 4 m dari tanjakan tebing ini. Kita akan mendarat sementara ditanjakan itu. Aku akan membawamu turun dan memberikan kode pada Yua untuk melepaskan ikatan tali karmenter ini begitu kita mendarat ditanjakan tebing tersebut. Setelah itu, aku akan mengikatkan kembali tali ini pada batang pohon yang tumbuh di area tebing. Dengan begitu, kita bisa turun lagi dan mencari tanjakan lagi sebagai pijakan untuk mendarat.”
Aku terkejut mendengar Refald menyebut nama Yua.
“Apa maksudmu? Yua masih berada di atas?”entah mengapa kali ini, aku merasa aku terlalu banyak bertanya. Untunglah Refald selalu sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaanku.
“Tentu saja! Aku memberitahunya untuk tidak meninggalkan kita sebelum aku memberinya kode untuk melepaskan tali yang sudah kuikatkan di sebuah pohon besar sembari menunggu Epank sadar,” jelas Refald.
“Apa sampai sekarang Epank masih belum sadar juga? Dia tidak apa-apa, kan?”
“Dia baik-baik saja, mungkin karena efek syok yang luar biasa sehingga ia masih belum bisa sadarkan diri. Saat aku sampai di atas tadi, aku melihat Yua mendudukkan Epank yang masih belum sadar di bawah pohon besar. Gadis itu bingung harus berbuat apa. Ia terduduk lemas dan terus saja menangis sampai suaranya terdengar serak. Mungkin temanmu itu merasa bersalah padamu karena tidak bisa menyelamatkanmu. Untung aku datang tepat waktu.”
“Kau memang selalu tepat waktu. Maaf aku sudah meragukanmu. Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini? Bukankah harusnya kau menunggu di bawah?” tanyaku penasaran.
Daritadi aku masih tidak mengerti bagaimana Refald bisa sampai di tempat ini dalam kurun waktu yang relatif cepat. Sebab secara logika, pasti akan membutuhkan waktu lama untuk sampai di sini, paling tidak setengah hari. Apalagi Refald juga membawa tali karmenter yang harusnya sudah berada di truk logistik. Pasti butuh waktu juga untuk mencarinya lagi. Tapi Refald bisa melakukannya dengan cepat dan tepat waktu.
Ini sangat luar biasa, aku kira kejadian seperti ini hanya bisa dilakukan vampir Edward seperti yang ada di film Twilight. Tapi ... rasanya tidak mungkin kalau Refald adalah vampir. Aku terlalu berkhayal terlalu tinggi. Tidak ada vampir di dunia nyata ini.
Tentu saja Refald bukanlah vampir, dan kisah itu hanyalah cerita fiksi fantasi yang di tulis oleh seorang Stefanie Mayer. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan dunia yang penuh fana ini. Menang, semua yang dilakukan Refald masih menjadi misteri dan mungkin akan sulit kupahami kecuali kalau Refald sendiri yang akan menjelaskannya padaku.
__ADS_1
Entah bagaimana nasibku jika Refald datang layaknya orang normal. Pasti yang ia temukan saat ini adalah mayatku. Karena Refald pasti akan sampai di sini ketika matahari sudah terbenam, dan itu sudah terlambat.
“Akan kujelaskan begitu kita sudah mendarat.” terang Refald. Sepertinya ia mengerti apa yang ada dalam pikiranku.
“Lalu, setelah itu apa? Jika kita sudah mendarat di tanjakan berikutnya, dan meluncur ke bawah lagi, siapa yang akan melepaskan talinya nanti?”
“Aku akan mengaturnya, kau tenang saja. Ada aku di sini, jangan terlalu khawatir seperti itu. Kita berdua akan selamat dan ke luar dari sini. Sekarang, nikmati saja pemandangan indah yang menyejukkan mata ini ... kapan lagi kita dapat kesempatan langka. Aku sudah sering bepergian ke tempat-tempat seperti ini, tapi hari ini ... entah mengapa rasanya sangat berbeda, mungkin karena aku bisa menikmati semua ini bersamamu, Fey.” wajah Refald terlihat bahagia.
Dia semakin tampan jika tersenyum. Pantas saja kalau semua cewek-cewek di sekolah tergila-gila padanya.
“Disaat seperti ini kau masih saja menggombal? Kau tidak lupa kita berada di mana, kan? Kau tidak takut sama sekali?”
“Takut? Tidak pernah ada kata ‘takut’ dalam kamusku, Honey. Manusia akan mati pada waktunya, dan dia tidak akan pernah mati jika belum saatnya. Apa yang perlu ditakutkan?”
“Apa kau benar-benar manusia?”
Refald beralih menatapku. “Jangan bilang kalau kau menganggap aku vampir seperti yang ada di film-film itu.” Refald menyunggingkan senyum manisnya.
“Sejujurnya memang iya ... sikap dinginmu saat aku melihatmu pertama kali, pesonamu, ketampananmu ... semuanya sama persis seperti yang digambarkan Stefanie Mayer saat ia membuat tokoh Edward.”
Refald langsung tertawa terpingkal-pingkal membuat badanku juga ikut bergoyang naik turun akibat guncangan tubuh Refald saat tertawa. Suara tawanya bahkan menggema di sekeliling tebing ini.
“Kau terlalu terobsesi pada cerita konyol seperti itu. Apa itu masuk akal? Aku vampir? Kau jangan mengada-ada.”
“Tapi semua hal yang berkaitan denganmu sangat misterius. Sampai sekarang aku masih belum bisa mencerna dengan logikaku disetiap kejadian demi kejadian yang aku alami selama berada di sini. Termasuk didetik ini juga. Ini sungguh tidak masuk akal dan di luar nalar manusia biasa. Terutama kau, kau melakukan segala sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh orang normal lainnya.”
“Maksudmu? Aku abnormal?”
“Tidak! Bukan itu maksudku, aku hanya ... aku ... mungkin, sudah terlalu banyak melihat hal gila yang tidak bisa kujelaskan dengan akal sehatku.”
“Apa ... kau sungguh berpikir bahwa aku bukan manusia?”
“Tidak ... ehm, sejujurnya sedikit.”
Refald kembali mendaratkan ciuman lembutnya di bibirku. Aku tetap terkejut saat tiba-tiba Refald menciumku meski ia sudah melakukannya berkali-berkali. Apalagi ini bukanlah saat yang tepat untuk berciuman sebenarnya.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Refald saat menyudahi ciumannya.
“Hangat ....” jawabku jujur dengan penuh kepolosan membuat Refald lagi-lagi menyunggingkan senyumnya.
“Honey, percayalah ... aku manusia biasa, sama sepertimu. Aku memiliki detak jantung sama denganmu. Aku juga bernapas, suhu kita berdua sama. Tapi, mungkin ada hal istimewa yang aku punya, aku janji akan menjelaskan semuanya padamu setelah ini, karena sekarang kita sedang berada di zona aman. Zona di mana tidak ada makhluk apapun yang bisa merusak kesucian tempat ini.”
Aku agak sedikit bingung dengan penjelasan Refald.
Apa maksudnya zona aman? Apa dia tidak lihat kalau kita sekarang masih berada diambang kematian? Apa yang ada dipikirkannya hingga dia mengatakan hal aneh yang sama sekali tidak kumengerti itu? Dasar Refald aneh!
__ADS_1
****