Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 241 Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Refald terus berusaha menenangkan perasaan Fey yang merasa bersalah atas apa yang terjadi pada pak Po. Entah kenapa istrinya ini jadi baperan begini. Fey terlihat sedikit berbeda dari biasanya dan Refald mulai merasakan ada sesuatu dalam diri Fey yang selama ini sudah sangat ia nantikan. Namun untuk sekarang, Refald memilih merahasiakannya sementara sembari menunggu bahwa apa yang ia pikirkan kali ini benar.


“Honey, dengarkan aku. Meski Di dan pak Po berbeda dunia, mereka berdua masih bisa bersama. Ada dua hal yang harus aku sampaikan padamu dan aku rasa, pak Po pun sudah tahu.” Refald menatap wajah istrinya dengan mesra. “Semua berubah kembali seperti semula, Honey. Pak Po kembali menjadi pasukanku berserta kekuatannya. Kau mungkin masih ingat saat pak Po bertransformasi menjadi manusia, kekuatannya aku alihkan ke dalam tubuh Di sehingga cuma dialah satu-satunya orang yang bisa mencabut paku yang kau tancapkan dikepala pak Po. Berkat kekuatan itu pula, Di akhirnya bisa melihat. Namun, begitu Di melepas paku itu, kekuatan pak Po yang ada dalam tubuh istrinya, kembali lagi pada pak Po. Artinya kini ... Di kembali menjadi buta.”


“Hah?” tubuh Fey kembali lemas dan ia hampir saja jatuh lunglai kalau saja Refald tak menahan tubuh istrinya.


“Tapi kau jangan khawatir, Honey. Seperti sebelumnya, Di masih bisa merasakan hawa keberadaan pak Po, bahkan dia juga masih bisa menyentuh suaminya layaknya manusia. Itulah keistimewaan yang dimiliki istri pak Po. Satu lagi kabar baiknya, pak Po akan kembali berubah wujud menjadi manusia tepat di bulan baru yang terjadi sebulan sekali. Meski hanya semalam, itu kesempatan yang bisa aku hadiahkan pada pak Po agar ia masih tetap bisa menjadi suami sempurna bagi Di. Aku sudah janji, tidak akan kubiarkan kisah mereka berakhir tragis. Pak Po dan Di, masih bisa hidup bahagia walau dunia mereka berbeda untuk saat ini. Kebahagiaan yang aku janjikan ini tidak hanya berlaku sementara, tapi seterusnya.”


"Benarkah itu, Suamiku? Kau tidak bohong?" tanya Fey penuh harap.


"Kau tahu aku sama sekali tidak bisa berbohong."


Mata Fey berbinar-binar mendengar penjelasan Refald. Dua kabar yang benar-benar mengejutkan. Fey memeluk suaminya dengan erat. Dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Kata luar biasa tak akan pernah cukup untuk memuji betapa hebatnya Refald. Sementara pak Po, langsung bersimpuh dihadapan pangeran dan putrinya.


“Hamba tidak menyesal atas keputusan yang hamba pilih ini, Putri. Mohon jangan bersedih lagi. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa melayani anda berdua. Di, sangat memahami dan mengerti apa yang saya inginkan. Terimakasih atas kesempatan yang anda berikan, Pangeran. Itu adalah hadiah luar biasa dan sangat berarti bagi saya dan juga Di. Jika diperkenankan, ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada anda atas hadiah yang tadi pangeran utarakan,” ujar pak Po masih menundukkan kepalanya. Ia ragu antara melanjutkan bertanya atau tidak.


“Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?” Refald melepas pelan pelukan istrinya dan menggenggam erat tangan Fey seolah tak ingin melepaskannya lagi.


“Ehm ... itu ... ehm ....” pak Po masih berpikir dan juga masih bingung dengan pertanyaan yang ingin ia ajukan.


“Itu, apa?” tanya Refald tidak sabar begitu juga dengan Fey yang penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan pak Po pada suaminya.


“Ehm, pada saat saya berubah menjadi manusia dibulan baru, bisakah saya dan Di ... ehm ... itu ... ehm ....”


“Katakan pak Po? Itu apa? Jangan buat aku marah!” bentak Refald mengagetkan pak Po.


“Buat anak?” jawab pak Po cepat.

__ADS_1


Fey yang tadinya sedih dan baper habis lansgung berubah emosi mendengar pertanyaan mesum pak Po.


“Dasar bengek kau, pak Po! Disaat seperti ini kau masih berani berpikiran mesum, enyahlah kau dari hadapanku!” Fey langsung menampol pak Po hingga sosok makhluk astral itu terlempar jauh terbang melayang diatas awan dan menghilang jadi bintang berkelip.


“Saya cuma bertanya putrii, kenapa anda melempar saya sejauh iniii!” teriak pak Po sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan Fey akibat tampolannya. Entah mendarat dimana sosok dedemit mesum itu.


Refald sendiri terperangah menyaksikan Fey ternyata punya kekuatan yang membuat pak Po bisa terlempar jauh diatas awan. Sebelumnya, tidak ada yang bisa melakukan hal itu kecuali dirinya.


“Honey, sejak kapan kau punya kekuatan melempar setan?” tanya Refald setengah tidak percaya walau yang ia lihat itu nyata. Fey benar-benar telah menjadi sepertinya.


“Entahlah, aku sangat kesal dengan salah satu dedemitmu itu. Bengek banget dia, Refald. Aku lagi sedih tentang kisah cintanya dengan Di, tapi berani-beraninya dia berpikiran mesum begitu? Pasukanmu itu menyebalkan sekali!” wajah Fey benar-benar dongkol akut dengan pak Po.


Refald tersenyum melihat muka BeTe istrinya. Ia langsung menggendong tubuh Fey dengan mesra.


"Jawaban untuk pertanyaan pak Po adalah, 'bisa'. Harusnya kau tunggu aku jawab dulu, baru kau tendang dia!" ujar Refald dan membawanya melesat pergi ke suatu tempat.


"Ehm, aku tidak sejahat itu, membiarkan pak Po melalaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Mereka masih bisa melakukannya sebulan sekali. Sedangkan kita, setiap saat." Refald mulai ngelantur.


“Kita mau kemana?”Fey mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tidak terjebak jeratan kata-kata Refald.


“Ke tempat yang sudah aku janjikan padamu. Ada satu hal yang harus kau lihat, tapi jangan kaget. Kau mulai mengalihkan pembicaraan, tapi aku suka itu."


Fey hanya diam dan ikut saja apa yang dikatakan Refald. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya Refald sangat senang saat ini. Entah apa yang membuat suaminya jadi sesenang itu.


“Kau terlihat bahagia sekali? Apa terjadi sesuatu?” tanya Fey dalam gendongan Refald saat keduanya terbang melayang. Fey tidak tahu kemana Refald membawanya kali ini, yang jelas tempat ini bukanlah dunia nyata seperti sebelumnya.


“Belum, tapi akan terjadi sesuatu yang membahagiakan, terutama untuk kita berdua.” Refald masih sempat-sempatnya mencium bibir Fey ketika ia melesat terbang diudara.

__ADS_1


“Kau sama mesumnya dengan, pak Po!” protes Fey. Meski begitu, ia juga ikut senang melihat wajah sumringah suaminya walau ia tidak tahu apa sebabnya.


***


Dalam sekejap, Refald dan Fey sampai disebuah padang ilalang yang juga banyak ditumbuhi parit setinggi ukuran tubuh manusia. Dilihat dari cuacanya, sepertinya dunia lain ini sedang mengalami musim kering, sebab matahari bersinar sangat terang menambah damai dan nyaman suasana di padang ilalang ini.


Perlahan, Refald menurunkan istrinya dan fokus melihat ke depan. Sementara Fey sendiri masih mengamati lingkungan sekitarnya dimana sama sekali tidak ada apapun selain rumput ilalang. Fey benar-benar tidak mengerti kenapa suaminya membawanya ke tempat seperti ini. Ia ingin bertanya langsung tapi ketika melihat Refald memejamkan mata, Fey pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.


“Ayo Honey. Ikut aku,” ujar Refald begitu ia membuka matanya kembali.


Refald menggandeng tangan Fey dan melangkah maju kedepan. Ia menyibak beberapa parit yang menghalangi langkahnya dan betapa terkejutnya Fey ketika ia melihat ada sepasang dua sejoli berdiri di bawah pohon yang dikelilingi padang ilalang. Mereka berdua saling berhadapan. Wajah keduanya juga terlihat begitu bahagia. Dari pakaian yang dikenakan, mereka mirip sekali dengan pasangan pengantin yang hendak menikah. Bahkan meja kecil untuk pernikahan mereka juga sudah disiapkan.


Sebenarnya, yang membuat Fey menjadi shock akut bukan masalah tentang pernikahannya, tetapi terlebih pada siapa yang menikah. Rasanya sulit sekali bagi Fey untuk percaya bahwa pasangan yang ada dihadapannya ini benar-benar akan segera menikah.


“Astaga! Apa yang terjadi disini? Bukankah mereka itu ....” Fey kehabisan kata-kata. Sudah banyak sekali hal-hal yang mengejutkannya sehingag ia tak kuasa lagi jika harus terkejut untuk kesekian kalinya.


“Kita harus memberikan restu untuk mereka berdua, Honey.” Refald menatap istrinya yang menganga saking shocknya.


“Apa?” mata Fey terbelalak hampir tak percaya mendengar ucapan suaminya. “Gila! Tidak mungkin ... bagaimana bisa mereka menikah secepat ini? kau sedang tidak bercanda, kan?”


“Sudah kubilang, kau jangan kaget. Ini serius, mereka sendiri yang memutuskan menikah. Ayo, mereka sudah lama menunggu kita.” Dengan senyum merekah, Refald merangkul bahu istrinya berjalan pelan menghampiri sepasang pengatin yang akan menikah dihadapan Refald dan Fey.


BERSAMBUNG


***


__ADS_1



__ADS_2