Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 109 Dua Jiwa jadi Satu


__ADS_3

Tidak ada yang tahu situasi seperti apa yang sedang kuhadapi ini. Mataku terus terpejam sampai Refald kembali memanggil-manggil namaku. “Bukalah matamu Honey,” serunya.


Perlahan, aku pun mulai membuka mataku kembali dan melihat wajah Refald ada didepanku. Setelah mataku benar-benar terbuka lebar, aku terkejut karena melihat ... ada dua Refald di sana. “A-apa yang terjadi? Kenapa kau ... a-ada dua?” tanyaku dengan gugup dan juga shock.


Sekali lagi aku memastikan penglihatanku, tapi ... apa yang aku lihat ini memang benar. Salah satu Refald bersandar lemah di bahu Pak Po. Sementara Refald yang satunya berdiri tegak di depanku. Namun, ada yang berbeda dari kedua Refald itu, yang satunya terlihat pucat pasi, sedangkan satunya lagi, transparan.


“Apa yang terjadi?” aku berusaha menyentuh wajah Refald tapi aku sendiri terkejut melihat tanganku, juga sama transparannya dengan Refald yang berdiri tegak di depanku.


Seketika aku shock berat dan berbalik badan untuk memastikan bahwa dugaanku ini salah. Namun ternyata, aku pun juga ada dua, dan aku yang satunya sama seperti Refald yang ada disandaran pak Po. Aku yang satunya itu juga bersandar di tubuh mbak Kun dengan wajah yang tak kalah pucat dengan Refald satunya.


“Ada apa ini?” tanyaku sekali lagi. Aku terlalu bingung dan tak percaya pada hal-hal yang tak masuk akal ini. Meski bukan pertama kalinya aku dihadapkan dengan berbagai macam kejadian ajaib, tapi tetap saja apa yang terjadi padaku saat ini membuatku terkejut setengah mati.


“Kalian berdua terpisah dari raga kalian masing-masing setelah memakan buah celing itu. Inilah inti dari pernikahan ghaib kalian. Yang menikah di dunia lain ini, hanyalah jiwa kalian saja, sedangkan raga kalian masih belum halal sampai kalian benar-benar menjadi pasangan suami istri secara resmi di dunia nyata kalian. Jadi, kalian hanya bisa menyatukan jiwa kalian tapi tidak raga kalian untuk melakukan malam pertama pernikahan ghaib yang sudah kalian lakukan,” terang kakek yang masih berdiri di sampingku. “Cepat bawa tubuh mereka berdua ke tempat paling dingin agar tidak busuk sampai jiwa mereka kembali ke pemilik raga masing-masing,” perintah kakek Refald pada pak Po dan mbak Kun.


“Baik, yang mulia,” jawab keduanya sambil menundukkan kepala dan langsung menghilang entah kemana membawa jasadku dan jasad Refald.


Aku sendiri hanya bengong menyaksikan semua kegilaan ini. Ini sungguh seperti mimpi. Apa ini benar-benar terjadi?


Aku menoleh ke arah Refald yang terlihat tenang seolah dia sudah tahu bahwa kami akan mengalami hal ini.


“Silahkan nikmati penyatuan jiwa kalian, kalian punya waktu 12 jam sebelum kembali ke raga kalian masing-masing. Aku menunggu hasil penyatuan jiwa kalian berdua.” Kakek tersenyum senang.


Setelah berkata demikian, kakek Refald tiba-tiba saja menghilang beserta dengan semua tamu yang ada di ruangan ini. Bahkan ibuku sendiri juga sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


“Pergi ke mana mereka semua?” tanyaku pada Refald, tapi ia tidak segera menjawab pertanyaanku.


Aku semakin kebingungan dan heran, kenapa semua orang tiba-tiba saja menghilang? Dan juga ... penyatuan jiwa apa yang dimaksud kakek tadi? Pikirku.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, aku berlari hendak menuju pintu keluar ruangan yang sudah kosong, untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaanku sendiri, tapi dengan melesat cepat bagai kilat, Refald menghalangi langkahku dan berdiri di depanku. Aku sungguh tak mengerti dengan aksi yang baru saja dilakukan Refald, dia bahkan bisa melayang seperti mbak Kun.


“Kau ... kau me-melayang?” tanyaku tergeragap, antara takut dan juga takjub.


“Kau pun juga bisa melakukannya, Honey. Kita berdua jadi hantu sekarang, anggap saja begitu.” Refald tersenyum senang menikmati ekspresi terkejutku.


“Apa? Hantu? Kita?” kali ini aku sungguh shock berat. “Kau bilang setelah kita menikah, kita tidak akan mati? Kenapa sekarang kita malah jadi hantu?”


Refald tertawa mendengar pertanyaanku. “Honey, kita tidak benar-benar menjadi hantu, apa kau lupa pada yang dikatakan kakek, tadi? Kita harus melakukan penyatuan jiwa setelah kita menikah. Bagaimana menjelaskannya, ya ... ehm, kemarilah! Sepertinya kau terlalu shock, rileks saja dulu, baru aku akan menjelaskan semuanya padamu.” Refald mengulurkan tangannya dari atasku.


“Wah, seperti inikah rasanya melayang? Apa seperti ini yang dirasakan mbak Kun?” tanyaku sambil mengamati sekelilingku.


Refald tidak menjawab dan malah mengajakku berputar-putar mengelilingi ruangan sambil terus melayang-layang diudara. Kami seperti hantu Casper yang terbang kesana dan kemari. Bedanya kami masih memakai pakaian lengkap sama seperti yang kami pakai di raga kami yang kini entah ada di mana. Sedangkan Casper tidak memakai apapun. Ia hanya hantu berwarna putih dan berbentuk bulat, itu saja.


Aku akui, aku sedikit merasa rileks dan juga merasakan sensasi yang berbeda ketika menjadi hantu karena jiwaku terpisah dari ragaku. Sungguh ini adalah pengalaman paling langka yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Menjadi hantu? Ini sungguh tidak masuk akal, tapi inilah fakta yang sedang terjadi padaku.


Refald terus mengajakku bercanda dan kami pun tertawa bahagia sambil melesat kesana kemari dengan cepat. Sampai akhirnya kami berhenti di atap dan membuka sebuah pintu yang ada di atap itu. Refald mengajakku masuk ke dalam dan menutup rapat pintu tersebut.


“Tempat apa ini?” tanyaku bingung.

__ADS_1


“Kamar pengantin.” Refald memerhatikan sebuah ranjang besar bertabur bunga warna warni di atasnya.


“Apa? Tapi ... kita ....,”


Belum sempat aku selesai bicara, Refald menggendongku dan melayang menuju tempat tidur yang luas dan bernuansa emas yang ada di depan kami. Refald meletakkanku di atas tempat tidur itu, dan mulai menciumku dengan ciuman mautnya sebelum aku bertanya lagi.


“Refald! Tunggu! Ada apa ini?” tanyaku meminta penjelasan.


“Kita tidak punya banyak waktu, kita selesaikan saja ini, baru aku bisa menjelaskan semua dengan leluasa tanpa takut dikejar-kejar oleh waktu. Percayalah padaku, Honey. Diam, dan ikuti saja peristiwa indah kita ini.” Refald tersenyum manis padaku. Sebuah senyuman yang membuatku jadi mabuk kepayang. Bagaimana bisa aku menolaknya? Aku akan melakukan apapun yang Refald inginkan dariku.


“Apa ini malam pertama?” tanyaku gugup dan juga was-was, untung saja aku tidak merasakan detak jantung, karena untuk sementara aku jadi hantu. Jika ini terjadi di dunia nyata, pasti jantungku sudah meledak.


“Anggap saja begitu.” Refald pun melanjutkan aktivitasnya menciumiku dengan segenap jiwanya.


Karena kami tidak perlu bernapas, aku bisa menikmati setiap sentuhan Refald tanpa harus tersengal-sengal. Kami bahkan tidak perlu menanggalkan pakaian kami masing-masing, kami hanya mencoba menyatukan jiwa kami berdua menjadi satu. Jiwaku, dan juga jiwa Refald harus bisa bersatu.


Perlahan, jiwa Refald masuk ke dalam jiwaku begitu juga sebaliknya, sensasinya serasa berbeda dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kami benar-benar menyatu sekarang, proses ini berlangsung sekitar satu jam lamanya, sampai akhirnya, jiwa kami yang tadinya menyatu, tiba-tiba terlepas dengan sendirinya. Jiwa kami, bisa kembali ke posisi semula.


Refald masih memelukku dan tidur disampingku. Sedangkan aku juga menatap wajahnya sambil membalas pelukannya.


****


jiwa haluku mulai meronta-ronta .... hehe ...

__ADS_1



__ADS_2