Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 116 Pasukan Refald


__ADS_3

Aku yakin, dokter ini sedang menjebakku, tapi aku tidak akan terjebak begitu saja, karena aku adalah ... istri Refald. Tidak akan aku biarkan rahasia suamiku terbongkar begitu saja.


“Maaf, Dok, saya harus menyela pembicaraan kalian, tapi ... pantaskah seorang dokter seperti anda harus mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan? Saya memang tidak keberatan dengan pembicaraan kalian, tapi tidakkah anda bersimpati pada saya kerena saat ini, saya sedang mengkhawatirkan keadaan suami saya yang sampai sekarang masih belum sadar juga. Sementara dokter dan suster bicara soal cinta padahal suami saya masih koma. Apakah itu etis, Dok?” tanyaku sambil menatap Dokter dan suster itu bergantian.


“Maaf, Miss ... bukan itu maksud kami, baiklah kalau begitu, anggap saja kami khilaf.” Dokter itu berjalan mendekati Refald dan memeriksa matanya menggunakan lampu senter kecil yang ada ditangan kanannya, lalu memeriksa detak jantung Refald dengan stetoskopnya. “Hubungi saya segera jika suami anda mengalami tanda-tanda pergerakan. Saya permisi dulu, 3 jam lagi saya akan datang kemari untuk mengontrol keadaannya kembali, permisi.” Dokter itu pamit undur diri dan pergi meninggalkan kami berdua lagi.


Saat dokter dan suster itu keluar dari ruangan, aku melihat sosok mbak Kun pergi mengikuti dokter itu. “Mbak Kun?” panggilku. Aku hendak mengejar sosok putih tersebut tapi lenganku dicekal oleh Refald.


“Jangan pergi!” Refald menatapku serius.


“Tapi, mbak Kun ... biarkan saja dia, temani aku saja di sini.” Refald mencopot alat bantu pernafasannya dan duduk bersandar. Refald menarik tanganku supaya duduk dekat dengannya. “Abaikan sementara soal mbak Kun. Biarkan dia melakukan apapun yang dia suka. Kau juga harus belajar untuk tidak ikut campur urusan para makhluk astral tak kasat mata, karena mereka semua, belum tentu pasukanku. Kau bisa celaka jika makhluk astral tak kasat mata itu salah paham padamu jika kau ikut campur urusan mereka.” Refald menggenggam erat tanganku.


“Tunggu! Maksudmu, aku sekarang sudah bisa melihat hantu?” mataku terbelalak tak percaya sebab aku baru sadar kalau ternyata, aku bisa melihat para makhluk astral itu.


“Ehm, sejak kita menikah di dunia lain, sebagian apa yang aku lihat, juga bisa kau lihat meski belum sepenuhnya. Sepertinya kau mulai bisa melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekeliling kita. Mulai sekarang, kau harus mulai membiasakan diri dan juga harus bisa membedakan mana pasukanku dan mana yang bukan pasukannku. Jangan mengikuti mereka sembarangan.” Refald menatapku degan lembut dan membelai rambutku.


“Bagaimana caraku bisa membedakannya?” akupun menatap Refald. Luka-lukanya sudah berangsur-angsur pulih. Dalam keadaan babak belur saja Refald masih terlihat tampan.


“Pasukanku, akan terlihat cantik dan tampan di matamu, tapi tidak di mata orang lain. Makhluk astral yang berwajah buruk rupa, mereka bukanlah pasukanku. Mereka adalah hantu pengganggu manusia yang mencoba mengganggu mereka. Selama mereka tidak diganggu, mereka juga tidak akan mengganggu kita. Meski begitu, jangan pernah sekali-kali kau melibatkan dirimu dengan mereka. Apalagi, sampai ikut campur urusan mereka. Itu bisa menyebabkan kekacauan. Kau mengerti!” Refald mencium keningku yang menganga mendengar penjelasannya.


Itukah sebabnya ayah-ayah kami ingin aku malam ini berada bersama Refald? Mungkinkah mereka sudah tahu kalau aku bisa melihat para makhluk tak kasat mata baik itu dari pasukan Refald sendiri atau bukan? mereka tidak ingin aku sendirian. Bodohnya aku yang sudah berpikir yang bukan-bukan soal ayah-ayah kami.


“Kau tidak bodoh, Honey. Kau pintar. Kau menyelamatkanku dari dokter tadi, dia sengaja menjebakmu untuk mengetahui reaksimu. Jika tadi kau tidak protes seperti itu, dokter itu akan curiga padamu dan juga padaku. Tapi kau cepat memahami situasi. Aku bangga padamu.” Refald menghadiahi ciuman manisnya dibibirku. Aku tahu Refald pasti membaca pikiranku.


“Jadi, dugaanku benar? dokter itu sengaja menjebakku untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya? Jika tadi aku membiarkan mereka berdebat soal cinta tanpa memedulikan keadaanmu, mereka pasti mengira pasti ada yang tidak beres disini. Tapi berhubung aku protes dan lebih mementingkan kondisimu, mereka pun paham dan aku mematahkan dugaan mereka. itukah maksudmu?”


“Ehm.” Refald mengangguk. “Ini adalah bukti bahwa kau pantas menjadi istriku.” Lagi-lagi ciuman Refald mendarat di bibirku.


“Lalu, sosok mbak Kun yang aku lihat, apakah dia bukan pasukanmu?” aku masih penasaran dengan sosok putih yang mengikuti dokter tadi.

__ADS_1


“Bukan, aku juga baru melihat sosok itu. Karena itulah ayah-ayah kita ingin kita bersama. Kau akan aman bila bersamaku. Lagipula, pasukanku tidak akan datang kemari jika aku tidak memanggilnya.”


“Bagaimana jika aku yang memanggilnya, apa mereka akan datang?” entah kenapa aku ingin bertemu mbak Kun.


“Coba saja.” Refald mempersilahkan.


“Tapi, bagaimana caraku memanggilnya?” tanyaku bingung. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara memanggil pasukan Refald.


“Pejamkan mata dan panggil saja namanya.” Refald memberitahuku.


Akupun melakukan apa yang diperintahkan Refald. Aku memejamkan mata dan memanggil mbak Kun. Lama sekali mataku terpejam, tapi makhluk yang aku panggil tak kunjung datang juga. Refald hanya tersenyum mengamatiku.


“Kenapa tidak ada yang datang? Berapa lama perjalanan yang harus mereka butuhkan untuk sampai kemari?” tanyaku heran, sebab yang aku tahu, sekali Refald memejamkan mata, maka pasukannya langsung datang hanya dalam hitungan detik saja.


“Kau pikir ini kota Jakarta yang mewajibkan mereka untuk naik angkutan umum supaya bisa kesini?Mereka tidak butuh waktu, Honey. Mereka akan langsung datang ketika kau memanggilnya. Memangnya, bagaimana kau memanggil mbak Kun?” Refald malah balik bertanya.


“Aku memanggil ‘mbak Kun, datanglah’ gitu!” jawabku polos.


“Aku kan tidak tahu siapa nama asli mbk Kun, kau sendiri juga tidak pernah memberitahuku.” Aku cemberut akut melihat Refald terus saja menertawaiku. Aku hendak berdiri menjauh darinya tapi Refald menarik tubuhku sampai jatuh kepelukannya. Refald membisikkan sebuah nama ditelingaku dengan mesra sampai membuatku tertegun. “Kau hafal setiap nama pasukanmu?” tanyaku masih takjub sambil menatap Refald.


“Tentu aku harus menghafal semua pasukanku, bagaimana bisa aku memanggil mereka jika aku tidak hafal nama mereka.”


Untuk sesaat, aku mengagumi Refald. Pasukan sebanyak itu, dia bisa hafal semua. Pantas saja kalau dia dipanggil pangeran oleh pasukannya. Refald punya keistimewaan yang luar biasa.


Aku memejamkan mata dan mecoba memanggil nama asli mbak Kun. Ervina Liony Anatasya, datanglah! ucapku dalam hati.


“Kau memanggilku, Putri?” tiba-tiba saja muncul sosok putih berdiri disampingku. Aku jadi terperanjat karena terkejut dan langsung memeluk Refald untuk bersembunyi di dadanya. Refald sendiri mulai menertawaiku lagi.


“Jangan tertawa! Kau yang menyuruhku memanggilnya!” aku masih bersembunyi di dada Refald dan merasakan getaran tubuhnya kerena menertawaiku. Mbak Kun sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan kami berdua.

__ADS_1


“Kalian berdua memangggilku hanya untuk melihat kemesraan ini? Kalian pikir aku tidak punya pekerjaan lain apa?” Mbak Kun mulai keki.


“Memangnya apa pekerjaan yang sedang kau lakukan?” tanya Refald setelah ia berhenti tertawa. Refald masih menenangkanku dengan memelukku agar aku tidak terkejut lagi.


“Berkencan dengan Po!” jawab mbak Kun singkat.


“Apa?” seketika aku dan Refald saling pandang. Kami benar-benar terkejut. Refald membisikkan sebuah nama lagi padaku, tapi aku langsung menggeleng.


“Cobalah,” pintanya.


“Bagaimana kalau aku jantungan?” tanyaku menolak.


“Aku memelukmu, kau tidak perlu takut, panggillah!” Tatapan Refald membuatku tersihir.


Aku mulai memejamkan mata dan memanggil nama asli pak Po seperti yang kulakukan saat memanggil mbak Kun. Haerun Fahrezi, datanglah!


Seketika muncul sosok makhluk berbentuk guling berdiri di sebelah Refald.


“Ada apa, Putri? Kenapa anda memanggilku, juga?” tanya pak Po.


Aku sudah bersembunyi dipelukan Refald agar tidak melihat sosok putih bulat itu, dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Jujur aku masih belum terbiasa dengan keberadaan mereka terutama saat mereka datang tiba-tiba.


“Aku yang menyuruh istriku memanggil kalian. Sejak kapan kalian pacaran, ha? Kenapa aku sampai tidak tahu? Apa kalian berencana akan menikah? Kami saja belum resmi menikah di dunia nyata ini? Beraninya kalian mau melangkahiku?” Refald langsung mengomeli dua pasukan dedemitnya hanya karena alasan yang tidak jelas.


Aku terpana tak percaya, ternyata tujuan Refald memanggil anak buahnya kemari hanya untuk dimarahi. “Kau pangeran yang nggak punya perasaan? Aku kira ada apa kau memanggil mereka kemari, ternyata kau memanggilnya hanya untuk mengomeli mereka? Kau pangeran teraneh yang pernah kutemui,” gumamku lirih tapi aku masih belum berani melihat dua pasukan Refald yang kini ada dibelakangku.


“Diamlah Honey, atau aku akan menciummu. Sembunyi saja di pelukanku dan jangan ikut campur. Jika tidak, akan aku minta mereka berdua berubah jadi menakutkan dan menakutimu.” Refald mengancamku dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan.


****

__ADS_1



__ADS_2