Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 74 Amarah Refald


__ADS_3

Aku sempat melihat Refald saling menatap dengan petugas perhutani begitu kami masuk ke dalam ruangan. Entah apa yang sedang mereka bahas sampai raut wajah kekasihku jadi seserius itu. Kalau dilihat dari wajahnya, Refald tampak menahan amarah yang begitu besar dan aku tidak tahu apa itu.


Kepala perhutani dan aku masuk ke tempat dua orang ini berada dan mereka langsung diam begitu kami datang. Seandainya aku bisa membaca pikiran, aku ingin sekali tahu apa yang ada dipikiran pria tampan yang sedang kesal itu.


“Ada apa? Apa yang kalian ributkan?” tanya Kepala perhutani menatap Refald dan anak buahnya secara bergantian. Sedangkan aku hanya mengamati Refald yang sedang terlihat menahan emosi.


“Tidak ada apa-apa, Pak. Kami hanya ....”


“Saya hanya menanyakan apa saja yang bapak ini lakukan saat kami berkemah, Pak.” dengan berani Refald memotong kalimat petugas perhutani yang sedang bicara sehingga orang itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. “Sebab, sebelum terjadi bencana, harusnya beliau memberitahu kami kalau akan datang gempa dan banjir serta longsor karena di sini ada alat pendeteksi gempa.” Refald menunjuk sebuah alat yang terletak di meja tepat di samping kirinya. “Tapi Bapak ini malah bilang tidak tahu menahu kalau di dalam hutan ada gempa. Bukankah itu aneh, Pak?”


Aku melihat alat yang ditunjuk Refald. Sebenarnya aku tidak paham seperti apa alat pendeteksi gempa sebenarnya. Aku hanya tahu sekilas, itu pun di dalam berita-berita yang disiarkan ditelevisi.


Aku terharu ternyata Refald memperkarakan musibah yang menimpaku dan teman-temanku. Aku sendiri juga merasa aneh, tapi aku tidak cukup berani mengungkapkannya karena tidak punya bukti dan dasar yang menyatakan bahwa ada yang mengganjal dari bencana itu. Namun, Refald malah sebaliknya, dia terang-terangan membicarakan tentang hal-hal yang mencurigakan dan terkesan protes atas kelalaian petugas yang bertugas di sini.


Tidak akan ada api jika tidak ada yang menyulutnya. Aku rasa, Refald juga berpikir demikian. Diam-diam aku jadi mengaguminya. Dia keren dan berani banget untuk ukuran anak SMA seusianya.


“Begini nak Refald, gempa itu terjadi begitu saja, saat kami akan memperingatkan kalian semua, gempa itu sudah terjadi. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena bencana itu terjadi tanpa ada aba-aba, yang bisa kami lakukan saat itu hanyalah secepat mungkin mengirimkan tim SAR dan bala bantuan yang ada untuk mengevakuasi kalian semua,” jelas Pak Shaleh selalu kepala perhutani dengan tenang.


“Saya tahu itu Pak, tapi kenapa tidak ada yang membunyikan alarm darurat? Pada saat kejadian jelas-jelas alat deteksi itu bergerak cepat yang menandakan ada gempa di tempat tunangan saya berkemah. Bagaimana mungkin tidak ada seorang petugaspun di sini yang tahu? Kalaupun mereka terlambat mengetahuinya, paling tidak petugas yang berjaga membunyikan alarm tanda bahaya, kan?


"Untuk mengantisipasi adanya gempa susulan, dan warga sekitar yang ada di sini juga bersiap-siap? Jika waktu itu saya tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkan tunangan saya, mungkin saat ini kami tidak bisa bersama lagi. Ini adalah kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan agar tidak terjadi lagi kedepannya. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan dan rawan longsor juga. Tidak menuntut kemungkinan banjir bandang bisa saja terjadi, karena ada banyak sekali hutan yang gundul di dalam sana.”


Aku terkejut mendengar pernyataan Refald. Pasti hutan gundul itulah yang menyebabkan banjir.


Petugas perhutani yang ada di samping Refald hanya menunduk tanpa bisa menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan Refald. Kepala dinas itupun juga terlihat bingung harus menjawab apa. Mereka semua terkejut Refald mengetahui banyak hal soal hutan dan masalahnya.


Awalnya aku juga terkejut, tapi mengingat siapa Refald sebenarnya, aku sudah tidak kaget lagi. Jelas dia tahu semuanya karena dia memiliki pasukan dedemit yang luar biasa.


“Saya akan menunggu laporan kejadian dari peristiwa ini Pak,” lanjut Refald.

__ADS_1


“Hei anak muda!” teriak petugas yang ada di sebelah Refald.


Aku sampai kaget mendengar suara menggelegar itu. Kepala perhutani yang ada disebelahku juga tersentak.


“Kau pikir kau itu siapa, ha? Kau itu hanya anak bau kencur yang tidak tahu apa-apa! Kenapa kau ikut campur urusan pekerjaan kami? Kau beruntung karena masih bisa selamat dari bencana itu. Jadi jangan sok tahu tentang apa saja yang kami kerjakan di sini!” petugas itu memelototi Refald tapi Refald terlihat tak gentar sedikitpun. Ia malah menyeringai sinis membuat petugas perhutani yang ada disebelahnya semakin geram padanya.


“Saya memang masih ingusan, Pak. Tapi saya tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kita lihat saja, cepat atau lambat apapun yang Bapak sembunyikan, pasti akan ketahuan juga.” Refald menatap tajam pada petugas perhutani dan pergi begitu saja sambil menggandeng tanganku tanpa izin.


Aku pun bingung dengan sikap Refald yang berlebihan. Aku tahu mungkin saat ini dia kesal, tapi mencoba membuat keributan dengan petugas perhutani itu juga tidak benar.


“Refald,” ucapku saat kami sudah berada di luar posko pengamanan. “Kau baik-baik saja?” aku mengamati Refald yang masih menggenggam erat tanganku. Meski ia membelakangiku, aku tahu dia sangat kesal dan marah.


Refald tidak menyahut sampai akhirnya kami berhenti di samping mobil jeep canvas putih milik Refald. Ia membukakan pintu untukku dan mendorongku masuk ke dalam. Lalu ia pergi memutar dan langsung duduk di bangku kemudi.


“Maaf soal tadi, Honey. Aku benar-benar kesal dengan orang itu.” Refald menatap tajam posko pengamanan yang ada di depan kami.


“Aku tahu, tapi memang ada apa? Kenapa kau semarah itu? dan apa yang kalian perdebatkan tadi?” tanpa sadar tubuhku menghadap Refald.


Aku hanya diam menuruti apa yang dikatakan Refald. Aku tidak ingin mendebatnya kalau Refald sudah kesal begini.


“Apa?” tiba-tiba saja Refald berteriak sehingga membuatku kaget. Namun, aku menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan pasukan dedemitnya,


Untung saja aku tidak bisa melihat mereka walaupun hari sudah semakin malam. Hanya saja, aku bisa merasakan hawa keberadaan mereka yang membuatku jadi sedikit merinding sampai bulu kudukku berdiri.


“Apa kau punya laptop di rumah?” Refald tiba-tiba saja bertanya padaku.


Aku mengangguk karena terkejut.


“Kita kerumahmu sekarang.” Refald menyalakan mesin dan melaju dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit kami pun sampai di depan rumah.

__ADS_1


Aku menyalakan semua lampu begitu kami masuk ke dalam ruang tamu.


“Di mana kamarmu?” Refald mengamati seluruh isi rumah peninggalan orangtuaku.


“Di lantai atas dekat jendela sebelah kiri.”


Tanpa permisi Refald langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamarku yang memang jarang terkunci karena Mbok Min dan suaminya selalu merawat dan membersihkan tempat ini setiap pagi dan sore.


Dasar Refald, seenaknya saja memasuki kamar cewek.


Aku bergegas mengikuti Refald. Saat aku sampai di kamarku sendiri, Refald sudah duduk di ruang belajarku dan mengotak atik laptopku tanpa izin dulu dariku.


“Berikan tas hitam itu padaku,” pinta Refald tanpa menolehku. Aku mengamatinya dengan dongkol.


Inilah Refald yang aku kenal, selalu cuek dan menjengkelkan.


Aku baru sadar kalau tas hitam berisi flashdisk ini masih melingkar di pinggangku. Aku menuruti apa yang dikatakan Refald dan menyerahkan tas hitam itu padanya. Aku hanya bisa mengamati apa yang dilakukan Refald tanpa banyak bertanya. Aku putuskan untuk membersihkan diriku sembari menunggu Refald selesai dengan laptopku.


Kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menanggalkan satu persatu pakaianku. Menyalakan shower dan berusaha menikmati segarnya air yang membasahi seluruh tubuhku.


“Ahhhh ... segar sekali ... ini yang paling aku rindukan saat ini. Sudah hampir seminggu aku tidak mandi seperti ini. Rasanya seperti setahun saja.” aku menggosok-gosok seluruh tubuhku dengan sabun kesukaanku.


Aroma stroberi membaur di seluruh badanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menyenangkan sekali bisa bermain-main dengan gelembung sabun favoritku. Sejenak, aku lupa akan ketegangan yang aku alami sebelumnya dan kembali fresh saat bilasan air membasahiku.


Tanpa terasa sudah dua jam aku berada di dalam kamar mandi membersihkan diri. Setelah ganti baju dan memakai pakaian yang lengkap, aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Refald sudah berdiri di depan pintu kamar mandiku yang baru saja aku buka.


“Refald.” aku terkejut melihat Refald sudah bertelanjang dada didepanku.


“Sudah mandinya?” tanya Refald sambil tersenyum mencurigakan.

__ADS_1


****


__ADS_2