
Fey menatap wajah suaminya yang juga terus memerhatikan Di dan pak Po saat sedang asyik bermain tembak menembak. Pak Po berada dibalik punggung Di sambil memeluk istrinya. Ia menggerakkan tangan Di untuk bersiap-siap menembak. Kalau dilihat dari jauh, dua pasangan suami istri itu terlihat sangat serasi sekali sehingga membuat Fey jadi sedikit iri. Apalagi tembakan yang diarahkan, selalu tepat mengenai sasaran. Dan boneka-boneka imut yang terpajang rapi, langsung menjadi milik Di.
“Wuah, mereka sweet sekali.” Fey ikut tersenyum menatap wajah riang pak Po dan Di. Keduanya terlihat menikmati permainan itu walau Di sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Wanita itu juga pura-pura melompat kegirangan ketika pak Po mengatakan kata ‘kena’. Sebab, semua orang mengira bahwa Di lah yang menembak, bukannya suaminya yang tak kasat mata. “Betapa bahagianya mereka berdua, so sweet banget.” entah kenapa mata Fey jadi berkaca-kaca melihat keromantisan pak Po pada istrinya.
Akhirnya, si setan bloon itu tahu bagaimana harus bersikap sebagai suami yang sweet. Fey bahkan tidak sadar kalau ia sudah menggigiti jari-jemarinya karena ikut terbawa suasana. Sejak hamil, Fey memang sensitif dan mudah sekali baper, terutama pada hal-hal kecil sekalipun.
“Aku jauh lebih sweet dibandingkan pak Po, Honey. Lihatlah!”
Refald sendiri tak mau kalah dengan pak Po. Ia memeluk istrinya dari belakang dan mendorong pelan tubuh Fey maju sampai berdiri di sebelah pak Po yang sedang memeluk Di dari belakang.
“Pak Po, mau taruhan? Siapakah yang paling banyak mendapatkan boneka-boneka ini, dialah pemenangnya,” tantang Refald pada pak Po. Tentu saja Fey dan Di terkejut mendengar ucapan Refald.
“Baik Pangeran, tapi apa hadiah bagi yang memenangkan taruhan ini?” tanya pak Po.
“Kalau kau menang, maka aku akan menjadikanmu manusia tanpa harus menunggu bulan baru. Supaya kau bisa main bulan tertusuk ilalang dengan Di semalaman, tapi jika aku yang menang, maka aku akan mendapat nutrisi semalaman dari istriku. Bagaimana, kau setuju?”
Sebuah tantangan yang menarik dan tentunya hanya menguntungkan pihak pak Po dan Refald saja.
“Setuju, Pangeran!” Pak Po pun bersemangat menerima tantangan dari pangerannya.
Ya iyalah, wajib setuju, sebab tidak ada pihak yang dirugikan dalam taruhan ini. Namun, Di jadi bingung sendiri dengan apa yang mereka pertaruhkan. Sepertinya dalam taruhan ini tidak ada pihak yang kalah karena tidak ada hukumannya bagi yang kalah taruhan. Sedangkan Fey langsung memelototi Refald serta memandang kesal suaminya.
“Apa kau sudah gila, ha? Taruhan macam apa itu? Kalah atau menang tidak ada bedanya bagi kalian? Yang ada kalian untung sendiri! Dasar bengek kau, Refald. Aku tidak mau!” ujar Fey.
“Pak Po sudah setuju Honey, taruhan antara raja dedemit dan pasukannya tidak bisa diganggu gugat atau dibatalkan lagi jika kedua belah pihak sudah menyetujuinya. Kalau tidak dilaksanakan, maka salah satu dari kami akan musnah. Pak Po telah menjadikanmu hadiahku. Jadi akan aku pastikan bahwa akulah yang akan menang. Mau tidak mau, kau harus menerima permainan ini, Honey.”
“Kau gila, Refald. Bagaimana bisa kau mempertaruhkan nyawamu hanya demi hal konyol seperti ini, ha? Dan aku harus memberimu nutrisi semalaman? Kau tidak kasihan padaku? Teganya kau menyuruhku memasak semalaman sementara aku dalam keadaan hamil besar?” pekik Fey dan semua orang langsung menatap kearahnya sehingga membuat Fey jadi malu sendiri, ia menyembunyikan wajahnya dipelukan Refald.
“Honey, kau salah paham lagi, siapa yang menyuruhmu memasak untukku? Nanti akan aku jelaskan nutrisi mana yang aku maksud setelah aku memenangkan taruhan ini dan memberi pelajaran para lelaki hidung belang yang berdiri dibelakang kita. Sementara itu, kita nikmati saja momen yang kau bilang sweet ini.” Refald mulai mengisi peluru-pelurunya dan bersiap-siap menembak begitu juga dengan pak Po melalui tangan-tangan Di.
Fey benar-benar tidak tahu harus berkata apalagi. Yang diucapkan Refald tentang perjanjian mereka tadi sepertinya benar dan bukan permainan biasa. Suaminya ini memang pandai sekali membuatnya kesal.
Sejujurnya, ia juga sedikit terganggu ketika mendengar pikiran para pria-pria berotak mesum itu saat melihat Di yang sejak tadi hanya diam mendengar instruksi-instruksi pak Po. Sejauh ini, Di masih aman karena mereka hanya merencanakan sesuatu, belum melaksanakannya. Mungkin mereka menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
Sialan kau pa Po, beraninya kau menjadikanku hadiah taruhan untuk raja dedemit mesum ini, batin Fey kesal sementara pak Po hanya menunduk tanpa berani memandang wajah Fey karena takut kena omel.
“Jangan marah Honey, pak Po tidak punya pilihan lain, selain kata ‘setuju’. Dan juga ... aku bukan raja dedemit mesum," protes Refald yang bisa mendengar suara hati Fey dan tidak terima kalau ia dikatai mesum oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
“Kau itu pantasnya jadi siluman rubah saja Refald, kau licik sekali.”
Refald hanya tersenyum senang melihat istrinya yang sedang kesal padanya. “Kau tahu, aku juga ingin jadi siluman rubah supaya bisa memakanmu, aaaauuuuurggg.” Refald menirukan auman suara singa.
“Itu suara singa bodoh, bukan rubah.”
“Terserah mau singa atau rubah. Yang penting bisa memakanmu.”Refald mengambil senjata dan ia memegang tangan Fey agar mau menembak bersamanya. “Kau siap, Honey. Kita kalahkan dedemit bloon itu,” bisik Refald mesra ditelinga Fey yang memutuskan mengikuti saja aturan main Refald.
Dalam satu tarikan, Refald bisa menembak bebek-bebek kecil yang berjalan horizontal didepannya dan tepat mengenai sasaran. Tak tanggung-tanggung, semua bebek-bebek berjalan itu berhasil ditumbangkan oleh Refald dalam waktu sekejap yang artinya, semua boneka dalam permainan ini menjadi milik Refald dan Fey.
Semua orang yang menyaksikan aksi konyol mereka berdua hanya bisa menganga lebar tak percaya. Sebab, mereka tak hanya memenangkan semua boneka di satu permainan saja, tetapi hampir disemua permainan, boneka-boneka itu diembat oleh pak Po dan juga Refald tanpa ada yang tersisa. Sementara istri-istri mereka hanya diam saja dan menikmati persaingan sengit keduanya yang tentu saja dimenangkan oleh Refald sang raja dedemit.
Mulut semua orang tidak bisa mengatup lagi karena batu pertama kali ini ada orang yang bisa dengan mudah mendapatkan semua hadiah boneka disetiap permainan. Bahkan Fey sampai bingung mau diapakan boneka-boneka itu. Tak sedikit pula yang memandang kagum Di karena banyak memenangkan boneka juga walau sesungguhnya pak Polah yang melakukannya. Di hanya ikut saja.
“Dasar raja dedemit, dia bilang jangan bikin kacau, tapi dia sendiri malah bikin kerusuhan disini. Apa yang harus aku lakukan dengan semua boneka-boneka ini?” gumam Fey lirih dan ia lagsung mendapat satu kecupan manis dari Refald.
“Katakan, aku juga sweet, Honey . Aku memenangkan semua boneka untukmu?” Refald menyeringai senang tapi tidak demikian dengan Fey.
“Kalau begitu, kau saja yang urus semua boneka yang kau menangkan ini!” Fey melempar salah satu boneka ke arah Refald lalu berjalan cepat pergi menenangkan diri sebentar meninggalkan semua boneka-boneka lucu yang berserakan di lantai.
“Honey, kau mau kemana? Tunggu aku! Aku sudah memenangkan taruhan, harusnya kau bangga padaku. Kau juga harus memberiku nutrisi penuh nanti malam, Honey! Honey ....” teriak Refald sambil berlari pelan mengikuti kepergian istrinya sekaligus mengemati gerak geri para pria hidung belang yang sejak tadi tak henti-hentinya memandang Di dari kejauhan.
“Ehm ... bagikan saja ke anak-anak kecil yang ada disini, pasti mereka semua senang sekali,” ujar Di sambil tersenyum.
Meski ia tidak bisa melihat, Di bisa mendengar suara-suara anak kecil disekitarnya. Pasar malam ini memang pas bagi orang tua untuk membahagiakan anak-anak mereka.
“Oke, ide yang bagus Di, kita mulai dari yang terdekat,” tangan pak Po menyentuh tangan Di untuk mengambil satu boneka dan membantu mengarahkannya pada anak perempuan kecil yang melintas di depan Di.
“Ini untukmu, ambillah! Gratis,” ujar Di mencoba tersenyum walau ia tidak tahu seperti apa wajah gadis kecil itu.
“Terima kasih, Kak.” Gadis kecil itu tersenyum riang karena tiba-tiba saja tidak ada angin dan tidak ada hujan, ia mendapat sebuah boneka lucu yang besar, gratis pula. Gadis manis itu berlari ke arah orangtuanya untuk memberitahu apa yang barusan ia dapat.
“Anak itu sangat senang dan mengadu pada orangtuanya. Menolehlah ke arah kiri dan tersenyumlah seolah kau bisa melihat mereka. Anggukkan kepalamu.” Pak Po memberi pengarahan tentang apa yang harus dilakukan Di agar ia terlihat normal di depan semua orang yang ada disini. Dan tentunya, tidak ada yang bisa mendengar suara pak Po kecuali Di sendiri.
Aksi bagi-bagi bonekapun berlanjut, dengan senang hati Di mengitkuti semua instruksi pak Po dengan baik. Semua orang yang melihat Di mulai beranggapan positif padanya. Sudah cantik, pintar, baik hati pula. Semakin terkagum-kagumlah mereka semua akan sosok seorang pendatang baru seperti Di tanpa ada yang tahu bahwa gadis cantik berwajah bule ini adalah tunanetra.
Para pria-pria hidung belang yang sejak tadi mengamatinya jadi semakin tertarik pada kepolosan Di. Mereka punya niat buruk pada istri pak Po itu, bahkan mereka juga sudah menyiapkan rencana matang untuk menyakiti istri Divani tanpa tahu kalau mereka sudah salah pilih lawan. Menyakiti Divani, sama saja cari mati.
__ADS_1
“Apa yang akan kau lakukan Refald, aku sudah tidak sabar ingin memotong pedang etalibun mereka dan menjadikannya sosis panggang lalu ku buang di hutan supaya disantap para serigala. Bisa-bisanya mereka berpikiran kotor seperti itu?” umpat Fey dengan kesal.
Rupanya adegan ngambek tadi hanyalah akting Refald dan Fey untuk menjauh dari kerumuman. Mereka berdua mengamati pergerakan para pria hidung belang itu dari kejauhan. Tujuannya adalah supaya Di merasa aman di tempat ini.
“Honey, jangan kotori tanganmu dengan mengurus manusia menjijikkan seperti mereka. Sebenarnya, aku juga ingin mematahkan tulang-tulang mereka. Tapi hal seperti itu tidak akan membuat kapok otak kotor mereka. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mencari korban-korban yang lain.
“Lalu kita harus bagaimana? Mereka adalah predator wanita yang berbahaya, pasti sebelum ini sudah banyak yang jadi korban mereka.”
Refald tak langsung menanggapi apa yang dikatakan Fey. Ia hanya menyeringai licik memandang semua pria hidung belang yang sudah mulai bergerak.
“Mbak Kun, kemarilah.” Refald memanggilnya.
“Iya pangeran,” dalam sekejap mata, mbak Kun langsung muncul dihadapan Refald dan Fey. “Apa yang bisa saya bantu?” Mbak Kun menunduk memberi hormat pangeran dan putrinya.
“Berubahlah jadi Di, dan pergilah ke toilet dimana pak Po dan istrinya ada disana.”
“Tidak bisa,” teriak suara sosok makhluk yang tidak lain adalah Arka, iblis penggila drakor yang sekarang sudah menjadi suami mbak Kun. Seperti halnya istrinya, sosok iblis itu juga muncul tiba-tiba dihadapan Fey dan Refald. “Saya tida mengizinkan istri saya disentuh atau diraba-raba orang lain selain saya sendiri, pangeran Refald. Bagaimana bisa anda meminta istri saya menjadi istri makhluk lain? Saya tidak terima.” Arka sepertinya salah paham dengan apa yang diperintahkan Refald pada mbak Kun tadi.
“Kalau begitu, bagaimana jika kau saja yang menggantikannya?” Refald menjelaskan maksud dan tujuannya meminta mbak Kun menyamar menjadi Di, yaitu untuk memberi pelajaran berharga agar para pria hidung belang itu tidak berani melakukan hal yang tidak pantas dilakukan pada semua wanita yang mereka temui.
Makhluk penggila drakor itupun rupanya ikutan geram setelah mendengar penjelasan Refald. Maklumlah, dalam dunia drama, hal seperti itu merupakan tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Wanita harus dihargai dan dilindungi serta dicintai sepenuh hati, bukannya disakiti. Itulah quotes Arka sebagai penggila drakor. Ia pun memutuskan setuju berubah wujud menjadi istri pa Po dan tentunya, membuat perhitungan pada perdator wanita berbahaya itu.
“Saya akan melakukan lebih dari apa yang anda perintahkan, Pangeran. Saya pastikan, merek tidak akan pernah berabni menyakiti wanita lagi. Sebaliknya, mereka akan merasakan seperti apa rasanya menjadi wanita yang pernah mereka lecehkan.” Kilatan mata merah menyala terlihat terang dimata Arka, ia sepertinya marah tapi berusaha menahannya. Ia sampai tidak berani membayangkan sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban kebiadaban mereka.
Sementara itu, Refald sedang mencari komando pada pak Po untuk bersiap-siap.
“Pak Po,” ujar Refald bertelekomunikasi dengan pak Po. “Dengarkan aku, bawa Di ke toilet dan suruh dia masuk ke dalam salah satu kamar toilet. Jangan keluar sampai Arka yang menyamar sebagai istrimu datang. Kau mengerti?”
“Mengerti Pangeran.” Tanpa banyak bertanya pak Po pun melakukan apa yang dikatakan Refald barusan. Namun, ada yang mengganjal dihati pak Po tentang siapakah Arka. Apakah ia adalah pasukan Refald yang baru? Sebab selama ini, pak Po tidak pernah mendengar nama itu.
Pak Po memang tidak tahu kalau rekannya mbak Kun, sudah menikah dengan Arka tepat dihari ia kembali menjadi pasukan dedemit Refald. Ia dan rekan dedemitnya itu sudah tidak saling tegur sapa semenjak mbak Kun punya kekasih bule dan pak Po memacari Di. Keduanya seolah hidup sendiri-sendiri dengan dunia mereka masing-masing.
Tak seperti dulu saat Refald masih melajang, kemanapun Refald pergi, mbak Kun dan Pak Po pasti ikut dibelakangnya. Tetapi ketika pangerannya itu menemukan pujaan hatinya, sosok makhluk astral itupun tak lagi mengikti Refald kecuali kalau mereka dipanggil. Sebab, mereka tahu, Refald hanya ingin berduaan dengan Fey tanpa diganggu orang ketiga dan keempat yang tidak lain adalah pak Po dan mbak Kun.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1