
Kelima orang yang berlutut di hadapan Syam segera berdiri dari posisinya.
"Pak Hamid apakah saya boleh meminta kepada kalian untuk merahasiakan pernikahanku ini, aku hanya berharap cukup di kampung ini saja yang mengetahui jika saya dan Dewi sudah menikah, kalian kan tahu hari minggu nanti adalah acara akad nikah ku dengan Nadia calon istriku yang sesungguhnya jadi aku mohon dengan sangat jangan sekali-kali mengumbar pernikahan kami ini," pintanya Samuel seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya itu.
Bu Halimah berjalan mendekat ke arah Syam," kau tidak perlu khawatir dengan itu semua saya yang akan jamin keamanan rahasia pernikahan kalian berdua, ini juga demi kebahagiaan Dewi makanya saya mewakilkan untuk menjawab pertanyaanmu Nak,"
Semua sudah sepakat dengan perjanjian mereka. Syam sudah memutuskan untuk menikahi Dewi keesokan harinya di hari jumat pukul sepuluh tanggal 5 bulan lima tahun 2023 tanggal yang cukup cantik.
Syam menatap langit malam itu dengan tatapan yang sulit diartikan," semoga saja aku mampu dan sanggup berlaku adil kepada kedua istriku kelak, jadikan aku suami yang selalu bertanggung jawab kepada istri-istrinya, jangan Engkau jadikan aku manusia yang serakah,egois dan lupa akan segalanya karena memiliki dua istri yang cantik," Samuel memandangi langit malam itu yang sebentar lagi akan berganti fajar.
Syam berdiri di sekitar taman seorang diri di jam tiga subuh itu. Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa tubuhnya yang tertutupi jas stelan kerjanya. Bau tanah yang masih lembap dan basah begitu tercium jelas sampai ke Indra penciumannya itu.
Syam memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya itu," Nadia maafkan Abang, ini semua bukan kesalahannya inginku, tapi aku tidak sanggup untuk melukai perasaan mereka yang berharap banyak akan keputusanku, aku berharap jika kelak engkau mengetahuinya semoga saja kamu bisa memakluminya, menerima keputusanku dan yang paling penting kamu memaafkan khilafku ini," lirih Syam.
__ADS_1
Samuel melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran mobil, ia berjalan seperti seseorang yang memikul banyak beban. Dari raut wajahnya itu jelas terlihat nyata, siapapun yang berada di posisinya Syam akan mengalami hal yang sama
Seseorang yang berdiri dibalik pohon cemara itu terus mengamati apa yang dilakukan Syam.
"Hahaha!! Kasian banget nasibmu yang harus menjadi kambing hitam atas perbuatanku, inilah yang sejak dulu aku inginkan yaitu menghancurkan kehidupan perempuan yang pernah menolak cintaku dan merebut pria yang disukai oleh adikku," umpatnya orang yang memakai topi kupluk berbaju hoodie tersebut.
Syam membuka kunci pintu mobilnya,ia masuk ke dalam mobilnya dengan cepat, ia takut jika harus terlambat datang ke lokasi proyek. Dinar diam-diam mengikuti langkah kakinya Syam, karena ada sesuatu hal yang harus dibicarakan dengan Syam calon kakak iparnya itu.
"Aku harus bergegas meninggalkan tempat ini yang sejak kemarin membuatku kesulitan untuk bernafas," cicitnya Syam.
Syam terus melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran yang sama sekali tidak mendengar Dinar memanggil namanya itu.
Dinar tidak menyerah begitu saja,ia terus mempercepat langkahnya agar bisa bertemu dan berbicara dengan Samuel.
__ADS_1
"Pak Samuel Abidzar Al-Ghifari!" teriak Dinar lagi yang suara nafasnya semakin ngos-ngosan saja.
Syam sudah duduk di jok kursi dibelakang kemudi mobilnya itu. Ia saking banyaknya yang dipikirkannya sampai-sampai tidak mendengar suara teriakan dari Dinar yang suaranya cukup melengking di pagi buta itu.
Syam segera menyudahi lamunannya setelah mendengar perkataan dan teriakan dari Dinar. Syam menatap intens ke arah Dinar yang sudah berdiri dibalik kaca jendela mobilnya itu sembari perlahan mengetuk kaca jendela mobilnya. Syamuel.
Syam menautkan kedua alisnya melihat siapa gadis muda yang mengganggu aktivitasnya itu, "Maaf kamu siapa?" Tanyanya Syam penuh selidik.
Dinar hanya tersenyum terkekeh mendengar pertanyaan dari pria yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan itu,"Mas Syam eehh Pak Syam baru saja kita bertemu beberapa menit yang lalu, Anda sudah melupakan tentang siapa saya," candanya Dinar.
Syam kemudian membuka kembali teringat pintu mobilnya karena kurang sopan berbicara ia duduk di dalam mobil sedangkan lawan bicaranya berdiri di luar.
Syam menyandarkan tubuhnya ke dinding jendela mobil dinasnya itu," maaf saya terlalu banyak hal yang membuat aku kesulitan untuk berpikir dan bernafas sehingga saya melupakan siapa kamu sebenarnya," ucapnya Syam dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
Khusus untuk yang mendukung Novel recehan aku ini mulai dari awal, ada beberapa orang yang akan mendapatkan hadiah give away berupa pulsa sedikit insya Allah akhir bulan aku umumkan. Tapi harus inbox aku yah untuk kirim nomor ponsel kalian.