Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 256


__ADS_3

"Sial, kenapa bisa kamu kehilangan jejak mereka ha!?" Teriaknya Rachel.


Rachel sangat murka dan marah setelah orang yang diperintahkan untuk mematai-matai dan membuntuti kemana perginya Shaira Innira dengan Adelio Arsene Smith.


Prang!!


Vas bunga yang kebetulan ada di atas meja nakasnya segera diambilnya kemudian dilemparnya mengenai dinding kamarnya itu. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Untungnya semua penghuni kamar yang ada di dekat kamarnya semuanya kosong. Kebetulan penghuni kamarnya semuanya ada di lantai bawah.


"Aku tidak akan ijinkan suamiku mengetahui kebenaran ini, kalau perlu aku akan terus berbohong dan mencegah mas Aidan untuk mendengar kebenaran ini!" Geramnya Rachel yang kembali melempar sebuah benda ke arah tembok.


Brak!!


Gawainya yang tak bersalah itu akhirnya menjadi sasaran empuk kemarahannya Rachel.


"Argh!!" Jeritnya Rachel.


Hingga perutnya mengalami kram perut tiba-tiba datang menyerang kehamilannya itu.


"Augh sakit!" Keluhnya Rachel sambil terduduk di atas tepi ranjangnya dengan meremas perutnya yang terasa sakit.


Rachel selama hamil ke empat bulannya, setiap kali marah pasti perutnya akan sakit yang tak tertahankan.


Kenapa sudah tiga kali perutku sakit seperti ini, sejak kemarin aku sering kali seperti ini. Apa sebenarnya yang terjadi, aku sepertinya harus ke dokter untuk memeriksakan kondisi kehamilanku, karena setiap kali aku marah dan emosi pasti perutku bereaksi seperti ini.


Rachel berusaha untuk baring agar rasa sakit yang dideritanya berkurang,dia meringkuk di atas ranjangnya dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya.


Jika terjadi sesuatu pada calon anakku, aku tidak akan tinggal diam dan akan membalas dendam pada Maryam Nurhaliza.


Aku akan membalas berkali-kali lipat pada perempuan tua dan kampungan itu!


Dimana mas Aydan, kenapa dalam keadaan seperti ini malah pergi meninggalkan aku seorang diri!?


Rachel masih meringkuk di atas tempat tidur dan sesekali meringis kesakitan.


Sedangkan di tempat lain,masih di dalam rumah yang cukup besar.


Maryam mempercepat langkahnya menuruni tangga ketika melihat kedua adik iparnya itu baru saja memasuki rumah kedua mertuanya, yaitu Shaira dan Adelio.

__ADS_1


"Dede Aira, bagaimana dengan hasil pencarian kalian berdua?" Tanyanya Maryam yang cukup penasaran dengan keberadaan anak sambungnya itu.


"Mbak Maryam, tolong stop! Jangan berlarian seperti ini, Mbak itu masih belum selesai masa nifas loh, apa yang mbak lakukan cukup berbahaya," cegahnya Shaira.


Shaira berjalan cepat untuk mencegah kakak iparnya itu, agar tidak terjatuh ataupun terjadi sesuatu padanya. Maryam pun menghentikannya langkahnya itu dan memelankan langkahnya tersebut dengan senyuman lebarnya.


Maryam mengulurkan tangannya agar Shaira bisa tenang,"tidak akan terjadi sesuatu padaku selama kalian berada di sampingku," ujarnya Maryam.


Shaira menyambut kedatangan Maryam dengan senyuman hangatnya," kamu itu adalah kakak iparku jadi wajarlah aku dan yang lainnya selalu mendampingi Mbak dengan sepenuh hati. Yah walaupun kak Aidan sedang terpengaruh virus cinta yang disuntikkan oleh Rachel ketubuhnya kakakku," ucapnya Shaira dengan diiringi dengan candaan pula.


Adelio yang memperhatikan apa yang keduanya perbuat dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.


Maafkan aku dan Arion yang tidak bisa mengungkapkan keburukan dan kebusukan dari tabiat aslinya Rachel istri sirinya Aidan.


Kami tidak berterus terang kepada kalian, karena mengingat masa depan calon bayinya mereka yang tidak bersalah dan tidak mungkin dia yang menanggung kesalahan dari kedua orang tuanya.


Aku tidak ingin nasibnya seperti Cindy Clara adikku yang hamil tanpa didampingi oleh suaminya, hingga disisa hidupnya harus meregang nyawa ketika memperjuangkan melahirkan putrinya ke dunia ini.


Demi anak yang belum lahir itu, saya dan Arion sepakat untuk menutupinya siapa sebenarnya Rachel Amanda.


Adelio duduk di sofa sambil tersenyum simpul memperhatikan istrinya itu dengan saudarinya.


Saya masih punya hati nurani untuk melakukannya, karena saya yakin apa yang saya lakukan ini mereka akan mengerti dan paham dari tujuanku.


"Adelio bagaimana dengan hasil penemuan dari detektif sewaan kalian?" Tanyanya Maryam yang sangat kepo dan tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi.


Maryam segera mendudukkan tubuhnya ke atas salah satu sofa bagian kirinya Adelio bertepatan dengan Shanun, Arion, Abyasa Akhtam dengan istrinya Tanisha Sanika, Dewi dan Syam serta semua as asisten pembantu rumah tangganya itu minus Aydan Akhtar yang masih duduk di ayunan seperti bocah kecil saja yang menikmati ayunan di sore hari di taman.


"Bu Siti mungkin sebaiknya bibi membawa minuman segar dan kue yang tadi siang dibuat oleh Mama pasti akan lebih seru," pintanya Shanum.


"Hemp, itu ide yang sangat brilian istriku. Kalau bisa ditambah kopi mungkin beberapa cangkir juga seru," imbuh Arion yang memangku tubuh putri angkatnya itu.


"Ya Allah kalian memang selalu sehati hingga selalu kompak melakukan apapun, jadi iri deh melihat kalian," timpalnya Adisty yang baru muncul.


Adisty Ulfa dengan calon suaminya yaitu Ade Nugraha dan juga datang bersama dengan adik angkatnya yaitu Fariz Alfarizi, Alona, Syamil dengan calon istrinya yaitu Dina Anelka Mulya.


Semuanya segera datang setelah mendapatkan telpon dari Dewi untuk menyaksikan dan mendengarkan langsung hasil temuan dari Adelio dan Sahira.


"Iya bibi Siti, tapi jumlah gelas dan piring kuenya di tambah juga yah," teriak Fariz yang telah duduk bersama dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Bi Ijah tolong tambahkan juga es dalam cangkir kopi kami,kalau bisa bi Siti dibantuin takutnya bi Siti kerepotan," sahutnya Sheila Alona.


"Alona kamu suka kopi!?" Tanyanya Tanisha yang cukup terkejut mendengar perkataan dari calon istrinya sepupu suaminya itu.


"Hehe, itu bukan untukku tapi khusus untuk calon suamiku," ucapnya Alona sambil terkekeh.


"Haha, boleh juga," ujarnya Sahnum.


Baru beberapa sepersekian detik saja kepergian Bu irjawanti dan Bi Siti meninggalkan ruangan tengah. Derap langkah kaki beberapa orang memasuki ruangan itu.


"Apa kalian ingin melakukan syukuran tanpa menunggu kedatangan kami juga," ucap Ariela Ziudith bersama dengan kedua saudara dan saudara-saudarinya.


Semua orang segera berkumpul sambil menyantap beberapa cemilan kue ringan dan basah yang sudah susah payah dibuat oleh Dewi Kinanti Mirasih sepenuh hatinya.


"Jadi Nak Adelio apa yang terjadi pada penemuan kalian?" tanyanya Dina setelah meneguk habis minumannya itu.


"Alhamdulillah semuanya sudah terjawab dengan jelas, jika keponakanku anaknya Cindy Clara sudah kami temukan dan masih hidup hingga detik ini," jawabnya Adelio yang ikut meminum kopi dinginnya itu.


"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau memberikan keselamatan dan kesempatan untuk hidup cucu perempuanku," ucap syukur Dewi yang menitikkan air mata bahagianya.


Sam memeluk tubuhnya Dewi yang sudah bergetar hebat dalam tangisnya itu.


"Mama tenanglah karena cucu cantiknya Mama sejak dulu bersama kita semua, sejak lima bulan lalu," tuturnya Shaira yang berdiri kemudian berjalan ke arah Arion untuk menggendong tubuh kecil menggemaskannya Shahnaz.


"Nafessa Samara Abidzar Al-Ghifari keponakannya Aunty putri semata wayangnya kak Aydan bersama dengan Cindy Clara, ini dia putrinya," ungkapnya Shaira.


Shahnum reflek berdiri dari duduknya itu saking terkejutnya mendengar perkataan dari adiknya itu.


"Mak-sudnya a-pa Dede, tidak mungkin Shahnaz adalah putrinya kak Aydan, dia ini adalah putriku dengan bang Arion," tampiknya Sahnum Inshira yang segera mengambil alih tubuhnya Nafesa.


Arion segera memegangi tangannya Shanum yang berdiri di tengah-tengah mereka semua anggota keluarganya.


"Sha, aku tidak mungkin mengatakan hal-hal yang tidak benar atau kebohongan, kami memiliki banyak bukti jadi tidak mungkin detektif pak Toni yang kami sewa itu menipu kami," sanggah Shaira yang berusaha bersikap tenang.


"Kamu pasti bohong! dia bukan putrinya kak Aidan! aku sangat yakin hal itu, aku tidak ingin putriku diambil oleh orang lain terutama perempuan yang bernama Rachel Amanda tidak tahu diri itu!" teriak Shanum yang mulai berontak dan menolak mentah-mentah kenyataan.


Adelio menyimpan beberapa lembar foto yang diambil oleh Pak Toni selama menyelidiki apa yang diperintahkan untuknya.


"Lihatlah begitu banyak foto yang kami telah temukan dan kumpulkan mungkin bisa menjadi bukti kuat yang mungkin kamu pertanyakan," imbuhnya Adelio.

__ADS_1


Shanum segera mengambil beberapa lembar foto tersebut dan semakin mengeraskan suara tangisannya itu.


"istriku, mereka tidak akan pernah memisahkan kamu dengan putri kecilmu," bujuknya Arion.


__ADS_2