
Handle pintu berdaun dua itu segera ditarik oleh Dewi dengan sedikit emosi. Ia sungguh tidak menyangka ada orang yang menekan bel sampai berulang-ulang kali.
"Astaghfirullah aladzim, kenapa enggak bisa nunggu segala, padahal saya sudah mau bukain pintunya," kesalnya Dewi.
Dewi melihat sebuah punggung lebar milik seorang pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
Dewi terkejut melihat siapa milik punggung lebar itu setelah orang tersebut berbalik badan. Dewi menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat pria yang berdiri di depannya dengan tatapan matanya yang sama-sama terbelalak.
"Abang Samuel Abidzar Al-Ghifari," beonya Dewi yang masih menutup mulutnya.
Aku tidak menyangka jika perempuan yang membukakan pintu di tengah malam buts itu adalah istriku wanita yang hampir dua minggu dikabarkan menghilang tanpa jejak sedikitpun. Ternyata istriku berada di dalam rumahku sendiri, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa Dewi bisa berada di dalam rumahku. Apa yang terjadi sebenarnya disini? Kok bisa Dewi ada di depanku?
Segala macam pertanyaan muncul di dalam benakku, aku mulai merasa ada yang aneh karena kenapa Dewi bisa tiba-tiba di Jakarta padahal sebelumnya sama sekali tidak pernah mengatakan kepadaku sebelumnya.
Aku akan bertanya pada Dewi, apa yang terjadi sebenarnya, tapi aku harus berhati-hati agar Nadia tidak mengetahui apa yang terjadi pada kami berdua.
Ya Allah aku tidak mengira jika Dewi yang aku cari kemana-mana dan aku sudah laporkan ke pihak berwajib, tapi hasilnya nihil dan tak terduga jika
Pria yang disapa Syamuel itu tersenyum melihat perempuan yang sangat dicintainya hampir dua minggu pergi dari kampungnya dan menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
"Dewi Kinanti Mirasih, istriku," cicitnya Sam sembari tanpa basa-basi segera menarik tubuhnya Dewi kedalam pelukannya.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu saking bahagianya bisa bertemu dan melihat istrinya selamat dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Dewi abang sa…"ucapannya terpotong ketika netra hitamnya melihat Nadia menuruni tangga rumahnya.
"Mas Samuel suamiku!" Teriaknya Nadia sambil berjalan terburu-buru menuruni tangga rumahnya.
Dewi menautkan kedua alisnya dengan keheranan kenapa Syam melepaskan pelukannya Sam ditubuhnya.
"Abang kenapa?" Cicit Dewi.
"Suami!?" Lirih Dewi sambil menatap secara bergantian keduanya.
Sam memperlihatkan wajah kebingungannya karena pasti Dewi bertanya-tanya mengenai apa yang dikatakan dengarnya itu. Syam menatap sekilas ke arah istrinya itu, ia menatap dengan tatapan matanya yang sulit untuk diartikan.
Kenapa bisa Mas Sam ada disini, apa jangan-jangan Sam yang selama ini sering disapa oleh Mbak Nadia adalah suaminya Syam suamiku juga, ya Allah apa yang terjadi, apa Nadia adalah istri keduanya Abang yang seharusnya menjadi istri pertamanya karena aku datang dalam hubungan mereka selama ini.
Apa yang harus saya lakukan ya Allah… saya tidak mungkinlah menjadi wanita yang egois mementingkan kepentingan saya sendiri sedangkan saya adalah orang ketiga yang datang mengusik ketenangan hubungan keduanya.
__ADS_1
"Mas Samuel kok datang nggak nelpon supaya aku tungguin Abang, aaahhh!!" Ucapannya Nadia terpotong ketika suara melengking tinggi dari Nadia memecahkan keheningan malam itu.
"Istriku!' teriaknya Sam yang langsung melempar tas kerjanya ke sembarang arah.
"Mbak Nadia!" Jeritnya Dewi yang mengikuti langkah kaki suaminya.
Syam yang melihat Nadia berjalan terburu-buru ke arahnya hampir saja terjatuh untungnya Sam cepat tanggap darurat sehingga Nadia masih bisa terselamatkan.
Nadia memeluk erat tubuhnya Sam saking takutnya jika dia terjatuh mengingat dia sedang hamil.
"Mas aku takut," lirih Nadia yang semakin mengeratkan pelukannya itu.
Dewi yang melihat hal tersebut segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, sedangkan Syam melirik sepintas ke arah istri pertamanya itu dengan tatapan yang kebingungan, bimbang dan juga mencemaskan keadaannya Dewi memeluk tubuh istri lainnya.
Nadia yang membelakangi tubuhnya Dewi sehingga Syam bisa bebas melihat ke arah Dewi sambil menautkan kedua tangannya untuk meminta maaf kepada Dewi dengan apa yang sedang mereka lakukan itu.
Dewi berusaha untuk mencoba tersenyum, walau Ia tidak menampik jika hatinya sangat sakit dan cemburu pria yang dicintainya itu berpelukan dengan perempuan lain dengan begitu mesranya.
Dewi berusaha untuk mengajarkan pada dirinya jika dia harus ikhlas, sabar, tulus berbagi suami dengan wanita lain.
__ADS_1
Khusus untuk yang mendukung Novel recehan aku ini mulai dari awal, ada beberapa orang yang akan mendapatkan hadiah give away berupa pulsa sedikit insya Allah akhir bulan aku umumkan. Tapi harus inbox aku yah untuk kirim nomor ponsel kalian.