
Waktu terus berjalan, kehidupan rumah tangga mereka sama-sama adem ayem. Dewi Kinanti Mirasih dan Samuel Abidzar Al-Ghifari semakin sibuk setiap harinya dengan rutinitas menjaga keempat anaknya itu.
Dina Kanaya Tabitha dan Irwansyah Khairul Ikhwan juga menjalani kehidupan rumah tangganya seperti layaknya keluarga kecil lainnya dengan tiga anaknya.
Sedangkan Hanif al-Fatih Sanjaya dan Citra Kamelia dengan anak semata wayangnya sampai detik ini tidak ketahuan oleh orang lain jika Hanzal Abdul Jailani adalah hanya sekedar anak angkat saja.
Hingga bertahun-tahun lamanya kehidupan mereka semakin dekat dan akrab saja. Sama halnya dengan anak-anak mereka.
Hanya saja Dewi terkadang sedih dan kecewa dengan orang-orang yang selalu membandingkan ke empat anak-anaknya. Yaitu Shanum dan Shaira yang wajah keduanya sedikitpun tidak ada kemiripan.
Ya Allah… saya tidak bisa menutupi kebenaran dan kenyataan ini, jika mereka bukan lah saudara kandung.
Tapi, saya heran kenapa Sha sedikitpun tidak mirip denganku sedangkan Shaira yang anak angkat wajahnya mirip dengan Abang Syam.
Astagfirullah aladzim kenapa saya berfikiran seperti ini tentang anak-anakku, saya tidak boleh terprovokasi dan terpengaruh oleh perkataan yang tidak baik dari mereka.
Tiga belas tahun kemudian…
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan itu berdiri di balik tirai jendela kamarnya. Ia memperhatikan seorang anak perempuan seumuran dengan putra tunggalnya itu.
Semakin hari semakin merasa ada yang aneh dengan wajah anak gadis itu. Ia berfikir wajahnya gadis remaja yang sering kali membuatnya kagum dengan peringainya, tingkah lakunya dan tutur sapanya itu.
Tetapi, makin ke sini wajahnya mengingatkan dirinya pada seseorang yang telah lama tidak dijumpainya. Antara benci dan dendam dengan pemilik wajah yang serupa dengan gadis itu. Sering kali dia tepis rasa itu, tapi semakin kesini semakin lama. Rasa benci, marah, jengkel dan dendam berubah menjadi rasa sayang selayaknya seorang ibu pada anaknya.
Ya Allah.. aku sangat membenci perbuatan perempuan itu, tapi tidak sepatutnya aku membencinya anak yang sama sekali tidak berdosa lagian belum tentu juga anak itu anaknya.
Astaghfirullah aladzim, aku tidak boleh berfikir negatif terus dan menyiksa diriku seperti ini. Aku harus berdamai dengan keadaan dan masa lalu.
Semuanya hidup layaknya seorang tetangga seperti pada umumnya semua orang di kompleks perumahan tersebut.
"Ma!" Teriak anak perempuan yang memakai hijab menuruni undakan anak tangga satu persatu dengan lincahnya.
__ADS_1
Seorang perempuan yang mendengar teriakan gadis berusia 19 tahun itu segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah depan.
"Ada apa Non Aira?" Tanyanya Bi Siti.
Shaira segera mengarahkan pandangannya ke arah bibinya itu asisten rumah tangganya yang sebelum dia lahir sudah bekerja bersama dengan ayahnya.
Shaira mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan wanita paruh baya itu, "Mama dimana bi Siti?" Tanyanya Shaira Innira Abidzar.
"Nyonya Dewi baru saja pergi non Aira," jawab Bibi Siti Aminah yang sudah berdiri di ujung tangga menunggu Shaira.
"Kemana Bi perginya Mama sepagi ini?" Tanyanya lagi Shaira yang keheranan dengan mamanya karena sepagi ini sudah meniggalkan rumahnya.
Shaira dan Bi Siti berjalan ke arah dapur seperti rutinitas sehari-harinya Shaira yaitu membuat makanannya sendiri jika memiliki waktu luang.
"Katanya sih mau temani non Shanum Non ke kampusnya kalau nggak salah dengar," jawab Bi Siti.
Shaira segera memakai apron yang sering dipakai ketubuhnya itu dengan cekatan. Setiap harinya Shaira makan makanan buatannya sendiri dan keseringan mencoba beberapa resep masakan yang terkadang dilihatnya di internet atau acara televisi.
"Ohh gitu toh, entah kenapa Mbak Sha itu selalu seperti ini diantarin sama Mama padahal sudah gede juga, dulu aku saranin untuk ikut karate tapi katanya takut akhirnya dia selalu saja ketakutan dengan orang-orang yang baru dikenalnya," ungkap Shaira.
"Ya Allah apa hanya perasaan saya saja yang terlalu berlebih-lebihan, kenapa semakin lama aku merasa Non Sha lebih mirip Gina dari pada Nyonya Dewi sedangkan Non Aira lebih cenderung dan dominan mirip tuan Syam wajahnya tapi, kebiasaannya mirip dengan Nyonya Dewi seperti rajin masak, saya teringat waktu pertama kali datang di rumahnya Nyonya Nadia dulu, Dewi selalu saja memasak makanan yang lezat, hal ini sudah diterapkan dan dicontoh oleh Non Shaira yang hanya anak angkat saja,"
Shaira walaupun memakai hijab, tapi aktifitas dan kegiatannya segudang. Dia termasuk gadis remaja yang sangat aktif dan rajin. Tidak seperti Sha yang lebih menyukai masalah modis, bergaya, berdandan dan shoping.
Tapi, keduanya sangat menyukai traveling hanya itu kesamaan dari dua saudara itu. Tidak ada yang pernah sedikitpun merasa kecemburuan akan kasih sayang didapatkan oleh keduanya dari kedua orang tuanya itu.
Karena Dewi dan Sam sama sekali tidak pernah membeda-bedakan ke empat anaknya. Kadar kasih sayangnya semuanya seimbang dan tidak ada perbedaan sehingga anak-anaknya begitu nyaman dan bahagia dengan kehidupan mereka.
Andai saya masih bisa bertemu dengan Gina, pastinya akan saya tanyakan masalah keraguan ini. Tentunya akan terjawab sudah keraguanku.
Tapi, sudahlah lagian mereka hidup bahagia kok, tidak perlu dipermasalahkan hal semacam ini selama mereka gembira dan hidup dengan tentram damai jalani saja seperti kehendak Allah SWT yang sudah digariskan untuk kehidupan mereka berempat.
__ADS_1
"Non Shaira hari ini enggak ke kampus yah?" Tanyanya bi Jubaedah yang baru bergabung dengan mereka berdua.
"Kampus sih bi, hanya saja agak siangan," balasnya Shaira yang sedang mencampur adonan kuenya itu.
"Katanya nih aku dengar dari mulut tetangga, Aden Hanz akan ke luar negeri Non ikut bareng dengan kakeknya di Inggris London kalau gak salah," ujarnya Bi Juba.
Shaira spontan menghentikan kegiatannya itu dan menatap intens ke arah Bi Jubaidah.
"Maksudnya Hanz akan ke luar negeri melanjutkan studinya karena dapat beasiswa dari universitas terbaik itu?" Shaira malahan bertanya seperti itu dengan memperlihatkan raut wajah kaget, sedih sekaligus kecewa.
Bu Jubaedah menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari Shaira. Bu Siti diam-diam memperhatikan perubahan raut wajahnya Shaira.
Sepertinya rumor kedekatan mereka bukan angin belaka, ternyata non menyukai Tuan Muda Hanz. Dilihat dari respon tubuhnya Non Aira yang memperlihatkan dan menjelaskan semuanya.
"Semoga saja Hanz pulang dengan membanggakan kedua orang tuanya, aku doakan yang terbaik untuk dia bi, aku juga pengen ambil beasiswa dari kampus, tapi masih ragu takut enggak dapat ijin dari papa dengan mama," imbuhnya Shaira yang sebenarnya juga mendapatkan beasiswa hanya saja tidak punya keberanian untuk mengutarakan keinginannya itu di depan kedua orang tuanya.
Bukannya takut dikecewakan atau ditolak, hanya saja Syaira enggan berpisah dengan kedua orang tua dan saudara saudari nya.
"Serius non! Kalau kamu juga dapat beasiswa? Alhamdulillah berarti saya juga bisa sampaikan sama semua orang kalau nona kami juga pintar dan berbakat bukan hanya jago taekwondo dan masak tapi otaknya encer," cercanya Bi Mina yang baru bergabung dengan anggota dapur lainnya.
Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan bibi Minah yang tidak mau kalah dan ketinggalan gosip hangat yang lagi viral dan menjadi trending topik dikalangan art sekompleks.
"Kalau menurut aku ya non katakan saja terus terang kepada nyonya Dewi dan Tuan Syam, aku yakin mereka akan memberikan masukan, saran dan pilihan yang terbaik bahkan mereka akan memberikan dorongan moril motivasi kepada Nona, contohnya selama ini apa yang Nona inginkan selalu dipenuhi," ujarnya Bu Siti lagi dengan bijak.
Semua perkataan artnya itu dipikirkan dengan matang dan baik-baik oleh Shaira. Hingga dering hpnya pertanda ada pesan chat masuk membuyarkan lamunannya itu.
Shaira segera membuka pesan chatnya yang dikirim oleh seseorang yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan dan obrolan mereka.
"Abang Hanz mengajakku bertemu dengannya," lirihnya Shaira ketiga orang yang berada bersamanya memanjangkan leher dan menajamkan pendengarannya itu.
"Den Hanz!" Beonya mereka.
__ADS_1
Shaira segera hendak menutup mulut mereka yang tidak bisa diam itu.
Mampir juga ke Novel aku yang lain, judulnya Pamanmu adalah jodohku dan Belum berakhir. ada juga give away kecil-kecilannya loh.