
Keesokan harinya, Syam segera memesan dua tiket pesawat untuk balik ke Jakarta melalui aplikasi pemesanan tiket di hpnya.
"Abang jadi saya tidak perlu bawa banyak barang yah untuk ke Jakarta cukup beberapa pakaian saja?" Tanyanya Dewi yang kembali memeriksa beberapa lembar pakaiannya yang sudah berada di dalam kopernya.
"Iya kamu bawa saja yang tadi aku pilihkan, insya Allah nanti sampai di Jakarta kita akan belanja segala macam keperluan kamu dan calon bayi kita," jawabnya Syam sambil bermain hp yang hanya melirik sekilas ke arah istrinya itu.
Dewi segera mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya itu, ia tidak akan mungkin membantahnya hanya masalah sepele saja. Baru sepersekian detik Syam berdiri dari dalam kamarnya,bel pintu rumahnya berbunyi.
Syam yang mendengar suara bel tersebut segera berjalan ke arah pintu utama untuk menggantikan tugas istrinya.
"Abang saja yang bukain kamu bereskan semuanya, karena tersisa tiga jam dari sekarang waktu keberangkatan pesawat kita," cegahnya Syam yang melarang istrinya untuk bangun dari duduknya itu.
Dewi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulut suaminya itu seraya kembali memeriksa dan mengemasi barang-barang bawaannya yang hanya seberapa itu.
Syam membuka pintu rumahnya dan terlihatlah dua orang, yaitu satu perempuan yang berambut sebahu dan satu pria yang perawakannya sedikit brewok, tinggi tubuhnya hampir sama dengannya. Syam menautkan kedua alisnya melihat kedua orang itu dan berusaha mengingat salah satu diantaranya yang seperti pernah melihatnya.
Siapa yah mereka, datang bertamu ke rumah? Aku ingat adiknya Dewi wajahnya tidak standar seperti ini dan cowoknya sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?
Ya Allah siapa yang datang sepagi ini, kalau paman dan bibi mereka tidak ada yang sempat datang hari ini kemarin mereka sudah datang berkunjung dan saya juga sudah menelponnya tadi pagi. Semoga saja orang itu bukan Mas dokter Irwansyah jika tidak pasti akan terjadi pertengkaran dan penuh perdebatan hingga takutnya berujung adu pukul seperti kemarin.
Dewi sangat takut dan khawatir dengan siapa orang yang mendatangi rumahnya pagi hari itu. Sehingga mau tidak mau ia segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Syam berusaha keras untuk mengingat siapa mereka yang datang bertamu sepagi itu di rumahnya. Hingga ia hanya mematung diambang pintu tanpa menegur ataupun mempersilahkan kedua orang tersebut masuk ke dalam ruangan tamunya untuk duduk.
"Abang Syam, siapa yang datang?" Tanyanya Dewi yang datang dari arah belakang karena khawatir dan cukup penasaran dengan tamu yang tidak diundang itu.
__ADS_1
Syam yang mendengar sapaan istrinya segera mengarahkan pandangannya ke arah belakang tepat kedatangan Dewi. Kedua orang itu saling bertatapan satu sama lainnya, mereka tidak menyangka jika pria ganteng yang membukakan pintu untuk mereka adalah suaminya Dewi.
Dewi baru saja ingin membuka mulutnya untuk berbicara,tapi segera didahului oleh mereka dengan bergegas berlutut di hadapan Dewi. Samuel semakin keheranan dengan apa yang terjadi. Ia tidak menduga jika hari itu, Ia akan menyaksikan pemandangan yang sungguh diluar dugaan dan kendalinya.
"Dewi maafkan saya yah,dulu sudah menghina kamu, maaf semua itu aku lakukan dulu karena tersulut emosiku, maafkan aku yang gara-gara memutuskan hubungan pernikahan kita dulu dan menikahi Ratnasari sehingga saya seperti ini," ratapnya pria itu yang sudah menangis tersedu-sedu meratapi kesalahannya yang telah berlalu.
"Iya Mbak aku juga sudah bersalah karena telah mencintai Mas Heri Ismail, sehingga membuat kakakku gelap mata yang hampir saja menghancurkan kehidupan Mbak,masa depan Mbak waktu itu, aku yang terlalu egois dan dibutakan oleh cintaku pada Mas Heri sehingga kak Herman melakukan kejahatan itu kepada Mbak, ini semua salahku, semua permasalahan bersumber pada cintaku pada Mas Heri," ratap Ratna yang tidak lain adalah adiknya Herman pria yang dulu hampir menodai, mencelakai dan menganiaya Dewi yang hampir gila dibuatnya akibat kejadian itu.
"Jangan seperti ini, saya tidak enak hati kalau kalian berlutut di depanku, kalian berdua bangunlah terus kita bicara baik-baik di dalam, apa yang sebenarnya terjadi dan ingin kalian sampaikan karena saya yakin ada hal penting yang ingin kalian katakan," imbuhnya Dewi sambil membantu Ratna untuk berdiri dari posisi berlututnya itu.
Keduanya pun menuruti apa yang dikatakan oleh Dewi, sedangkan Syam sedari tadi terus menatap tajam ke arah Heri Ismail Fatahillah,ia baru teringat dengan pria yang datang memaki-maki dan menghina Dewi ketika waktu itu sedang mengalami gangguan mental dan kejiwaan akibat dari trauma yang dialaminya.
Apa sebenarnya yang mereka inginkan sehingga harus repot-repot datang bertamu,awas saja jika mereka berniat jahat pada istriku Dewi Kinanti Mirasih, aku akan membuat mereka merasakan kesulitan untuk bernafas dan hidup dengan baik. Andaikan berani menggangu kenyamanan dan ketenangan istriku.
Kenapa aku takut bertatapan langsung dengan suaminya Dewi, apa dia sudah tahu kesalahan besar yang aku perbuat dulu terhadap Dewi sehingga dia marah kepadaku. Kalau seperti ini aku harus mengemis maaf dari Dewi agar suaminya juga bisa menerima ketulusan kami yang sengaja datang untuk meminta maaf.
Syam dan Heri saling bertatapan satu sama lainnya seolah sedang berperang batin saja. Tapi Syam memang tipikal dan karakternya tidak mudah ditindas dan diintimidasi oleh orang lain, sehingga nyalinya Heri langsung menciut.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Katakanlah yang sejujurnya, masalah beberapa bulan yang lalu saya sudah melupakannya dan memaafkan semua orang-orang yang pernah melukai dan menyakiti hatiku, untuk apa terus marah apalagi dendam yang tidak ada gunanya itu." Jelasnya Dewi yang terus dipegangi tangannya oleh suaminya itu.
Heri dan Ratna saling melempar pandangan dan bertatapan satu sama lainnya.
"Begini Mbak mungkin ini karma dari saya dan Mas Heri yang sudah melukai hatinya Mbak sehingga saya terus terang sudah dua kali hamil tapi, selalu keguguran jadi mungkin itu semua terjadi atas karma dan hukuman kesalahan kami dimasa lalu, apalagi kami yang belum sempat meminta maaf langsung kepada Mbak karena keegoisan dan keangkuhan kami yang tidak mau menerima kejelekan kami itu," ungkap Ratna yang mulai menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya sendiri yang sudah beberapa kali gagal hamil.
"Iya Dewi mungkin akibat kesalahan terbesarku padamu sehingga kehidupan rumah tangga kami ini seakan-akan tidak bisa memiliki keturunan, makanya kami berdua datang kemari berinisiatif untuk meminta maaf kepadamu semoga saja dengan permintaan maaf tulus kami ini sehingga istriku Ratna bisa hamil kedepannya," ujarnya Heri dengan penuh kesungguhan hatinya dalam meminta maaf.
__ADS_1
Dewi dan Syam saling bertatapan dan hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulut kedua pasangan suami istri itu.
"Saya juga mewakili mas Herman untuk meminta maaf atas kesalahannya tersebut, bahkan saya dan bapak serta ibu sangat malu untuk datang menemui Mbak makanya mereka hanya mewakilkan kepadaku untuk menyampaikan permohonan maaf tersebut, mereka berharap Mbak Dewi memaklumi kondisi kami dan menerima permintaan maaf dari kami sekeluarga," harapnya Ratnasari yang membujuk Dewi.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan permintaan maaf kalian, karena insya Allah istriku memaafkan kalian, yang paling penting kalian harus berubah, introspeksi diri dan jangan sekali-kali mengulangi kesalahan kalian untuk kedua kalinya, perbaiki hidup kalian dan perbanyak meminta kepada Allah SWT agar apa yang kalian inginkan bisa terpenuhi, ingat karma itu tidak ada hanya saja kapan Anda punya kesalahan pasti akan ada balasannya, apa yang kamu tuai
itulah balasan yang kamu dapatkan," ujarnya Syam yang baru ikut menimpali percakapan mereka pagi itu.
"Sampaikan saja sama Mas Herman jika saya sudah memaafkannya setulus hatiku, saya sejak dulu tidak pernah menaruh dendam padanya, untuk kalian berdua juga, yang berlalu biarlah berlalu mari kita sama-sama jalanin kehidupan kita masing-masing dengan damai," imbuhnya Dewi yang berharap agar semuanya berjalan seperti air yang mengalir tanpa ada kesalahan pahaman dan dendam yang terus menerus terjadi diantara mereka.
Ratnasari segera ingin menyentuh punggung tangannya Dewi,tapi segera dicegah oleh Syam dengan segera mengecup punggung tangannya Dewi penuh kelembutan.
Ratna jadi sedikit kecewa karena dia berniat baik, tapi Syam menghalangi apa yang hendak dilakukan oleh Ratna. Heri Ismail Fatahillah berusaha menenangkan istrinya dengan tersenyum simpul agar Ratna tidak kecewa.
Aku perhatikan Dewi begitu disayangi oleh suaminya, semoga saja Dewi bahagia dengan suaminya Samuel Abidzar Al-Ghifari, aku yang sudah mengecewakan dan menghinanya dulu, tapi hatinya Dewi begitu mulia karena telah berbaik hati memaafkan kesalahan kami. Semoga saya dan Dewi bisa bahagia dan hidup bersama saling berdampingan tanpa ada lagi perseteruan diantara kami.
"Maafkan aku bukannya menyuruh Anda untuk pulang,tapi karena kami akan balik ke Jakarta dan pesawat kami akan berangkat, jadi kami harus berpamitan segera," ujarnya Sam sambil berdiri dari duduknya.
Heri terkekeh mendengar perkataan dari Sam dan sangat memaklumi apa yang dikatakan oleh Syam tersebut.
Ya Allah ternyata Dewi akan pergi lagi dari sini, berarti kami kemungkinan besarnya tidak akan pernah bertemu kembali. Padahal aku ingin melihatnya setiap hari, memang kami sama-sama sudah menikah, tapi entah kenapa hatiku sedih dan kecewa melihat keakraban dan kedekatan serta kebersamaan mereka di depan mataku.
Khusus untuk yang mendukung Novel recehan aku ini mulai dari awal, ada beberapa orang yang akan mendapatkan hadiah give away berupa pulsa sedikit insya Allah akhir bulan aku umumkan. Tapi harus inbox aku yah untuk kirim nomor ponsel kalian.
"kak Aurizra Rabbani readers paling aktif terpilih Minggu lalu untuk dapat give away"
__ADS_1