Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 148


__ADS_3

Shaira cukup terkejut melihat siapa pria yang sedari tadi duduk di depannya yang sangat serius mengerjakan pekerjaannya tanpa menoleh ke arahnya.


"Shaira Inshira Abidzar Al-Ghifari," cicitnya Adelio.


"Iya pak Adelio," balasnya Shaira.


"Silahkan duduk, Maaf tadi saya tidak memperhatikan kamu soalnya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan secepatnya," sanggah Adelio.


"Tidak apa-apa kok Pak Adelio, silahkan dilanjutkan pekerjaannya saya bisa menunggu bapak sampai selesai," tampiknya Shaira.


Shaira pun segera duduk tepat di depannya Adelio Arsene Smith. Suasana sempat canggung, keduanya menjadi salah tingkah. Hingga mereka berbicara bersamaan.


"Pak Adelio,"


"Shasa,"


Ucapnya mereka bersamaan.


Adelio tersenyum simpul sedang Shaira terkekeh mendengar perkataan keduanya yang bersamaan.


"Bapak saja duluan," pintanya Shaira.


"Kau saja, saya belakang tidak apa-apa kok," usulnya Adelio.


Keduanya menjadi gugup padahal bukan pertama kalinya mereka bertemu dan berbicara. Tapi, rasa percaya diri, gugup, panik dan terlalu bahagia membuat suasana menjadi canggung dan aneh.


Shaira menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian menghembuskannya dengan cukup perlahan, "Maaf pak kedatangan saya kesini untuk menyerahkan surat tugas kepada bapak terlebih dahulu sebelum saya bekerja," ujarnya Shaira.


Adelio mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dan sama sekali tidak mengetahui jika Shaira termasuk salah satu dokter unggulan magang yang baru lulus itu akan dikontrak dan diangkat dokter tetap di rumah sakit miliknya.


Ini kesempatan yang sangat bagus dan langka jika Shaira menjadi dokter tetap disini. Tapi kok Aku enggak tahu yah? Padahal dari banyaknya dokter muda yang datang hari ini aku tidak memperhatikan jika ada nama perempuan yang paling cantik dan paling aku sayangi di dunia ini.

__ADS_1


Shaira salah tingkah ketika ditatap seperti itu oleh Adelio, ia menjadi keheranan dan baru tersadar jika Adelio adalah direktur utama rumah sakit tersebut.


Adelio tidak membaca surat tugas yang diserahkan oleh Shaira untuknya, hanya sekedar membuka saja. Karena baginya sama seperti surat-surat yang dibawa oleh beberapa calon dokternya.


Adelio mengulurkan tangannya ke depannya Shaira untuk berjabat tangan. Adelio saking bahagianya melihat wanita idaman dan pujaannya berada di hadapannya itu sampai-sampai melupakan kebiasaan dari Shaira.


Shaira tersenyum tipis seraya menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya itu. Adelio sedikit kecewa dan jengkel karena uluran tangannya tidak disambut oleh Shaira.


Astaughfirullahaladzim ya Allah maafkan aku kenapa aku bisa berfikiran picik kepadanya.


"Selamat datang Shaira di rumah sakit kami semoga kamu bisa bekerja dengan baik dan betah bekerja disini, saya menantikan dedikasi kamu di rumah sakit kami," imbuhnya Adelio.


"Alhamdulillah, makasih banyak Pak atas sambutannya dan kalau begitu ngomong-ngomong pak apa saya langsung bekerja hari ini atau besok saja," ujarnya Shaira.


"Tahun depan saja," balasnya Adelio.


"Tahun depan!? Maksudnya Pak Adelio bukannya disurat tugasnya hari ini yah pak,kok bisa-bisanya tahun depan?" Shaira sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Adelio.


"Hehe Maaf bercanda Shasa, kalau begitu kamu ikut saya karena saya akan memperkenalkan kamu langsung kepada Pak Alex Rudiart dia yang akan mendampingi kamu dan menjelaskan bahwa bagaimana cara sistem kerja di rumah sakit ini," tuturnya Adelio yang segera berjalan mendahului Shaira ke arah pintu.


Keduanya berjalan melewati meja sekertaris sedangkan sang sekretaris merasa keheranan melihat apa yang dilakukan oleh pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.


Karena sudah lebih dua puluh calon dokter muda hari ini yang bekerja di rumah sakit, tapi hanya Shaira yang diperlakukan cukup istimewa.


Siapa perempuan ini dan apa hubungannya pak Adelio dengan dokter baru itu? Apa jangan-jangan rumor yang mengatakan jika ada seorang perempuan yang membuatnya jatuh cinta dan berpindah keyakinan dan kepercayaan itu benar adanya dan dia adalah gadis itu.


Laura menatap intens ke arah kedua orang yang barusan berjalan melewati tempat duduknya itu.


Shaira dan Adelio berjalan ke arah ruangan pria yang disapa sehari-hari bernama Alex Rudiart itu. Sedangkan Alex cukup dibuat terkejut dengan kedatangan Adelio di kantornya.


Siapa gadis ini, aku perhatikan sedari tadi Adelio menatap dan memperhatikan dokter muda ini dengan tatapan teduhnya dan penuh kelembutan.

__ADS_1


Apa jangan-jangan keduanya memiliki hubungan yang spesial. Kalau begini sepertinya aku harus bertanya kepada Andrew langsung aku yakin dia mengerti dan mengetahui rahasia besar kakak sepupu.


Karena Andrew yang memintaku untuk memberikan fasilitas terbaik untuk perempuan berhijab yang cantik dan ayu ini.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Adelio akhirnya kembali ke ruangannya sedangkan Shaira sudah diperkenalkan pada beberapa dokter yang akan menjadi rekan sejawatnya itu di RS tersebut.


Bahkan masalah gaji, aturan rumah sakit dan kantor khusus untuk Shaira pun sudah tertata dan tersedia dengan begitu rapi. Semua ini berkat Andrew Parker Smith yang diam-diam mengatur segala sesuatunya dengan cukup perfeck dan sempurna.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Alex ingat dia adalah dokter terbaik yang akan bekerja di rumah sakit kita ini, jadi layani dia sebaik mungkin," perintahnya Adelio sebelum pergi dari sana.


Shaira sedikit membungkuk di hadapan Adelio," terima kasih banyak pak,"


Adelio hanyalah tersenyum membalas perkataannya Shaira dengan tatapan yang penuh arti ke arahnya Alex.


Keduanya pun masuk ke dalam ruangan kerjanya Shaira yang cukup luas dan fasilitas penunjangnya sangat lengkap dan modern.


"Ini ruangan khusus spesialis dokter anak, dan yang didepan itu adalah ruangan praktek dokter Shaira," jelasnya Alex.


"Makasih banyak pak Alex saya sangat tersanjung mendapatkan perhatian dari bapak Alex dan pak Dirut,"


"Tunjukkan pada kami jika Anda memang layak mendapatkan posisi di sini," tukasnya Alex Rudiart yang sepertinya memberikan kode keras akan perlakuan khusus yang diterima oleh Shaira dari dua pria yang cukup berpengaruh di rumah sakit tersebut.


"Siap Pak Alex insha Allah saya akan bekerja semaksimal dan sebaik mungkin, makasih atas nasehatnya," balas Shaira yang tersenyum lebar


Senyumannya sungguh manis tanpa gula dan coklat sehingga orang-orang yang melihat senyumannya tidak bakalan diabetes.


Shaira segera memakai pakaian kebesaran kedokterannya itu, dia segera berjalan ke arah ruangan prakteknya. Tanpa menunggu lama dan membuang waktu baik. Ia segera bekerja dan berkenalan dengan beberapa perawat dan dokter yang kedepannya akan membantunya dalam bekerja.


Hari ini cukup banyak pasien balita dan bayi yang ditangani oleh Shaira. Dengan senyuman khasnya Shaira memeriksa kondisi dari pasien-pasiennya itu.


"Dokter Shaira cantik yah dan masih cukup muda sudah mendapatkan posisi dan jabatan yang cukup tinggi," ucapnya Natalia asisten satu Shaira.

__ADS_1


"Aku setuju dengan perkataan kamu, dokter Shaira bahkan lebih muda dari kita ini tapi, cukup baik dan dewasa serta seperti dokter yang sudah lama dan banyak pengalaman kerjanya dalam menangani pasien," sahutnya Salsa perawat yang memakai hijab itu.


"Aku sampai kagum dan memujinya karena memang dokter Shaira pantas mendapatkannya," timpalnya Kasturi.


__ADS_2