Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 47


__ADS_3

Irwansyah segera melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya Dewi. Karena sudah berulang kali datang langsung ke rumahnya tapi, kondisi rumahnya masih seperti sebelumnya.


Aku tidak menyangka jika Dewi pergi begitu saja dariku, tapi kalau memang dia pergi, Dewi pergi kemana tidak mungkin dia pergi tanpa pamit padaku, Dewi bukan orang seperti itu, apa semua ini ada hubungannya dengan Syamuel yang sudah mengetahui jika aku menyukai Dewi sehingga dia bergegas membawa kabur Dewi dari sini.


Dewi kamu ada dimana sejak kemarin aku datang ke rumahmu,tapi rumahmu selalu tertutup rapat, lampu depan rumahmu menyala. Ya Allah… Dewi ada dimana?


Irwansyah dibuat kalang kabut dan kelimpungan kehilangan jejak dari istri sahabatnya sendiri yang hendak ditikungnya.


Aku sudah mencarinya di rumah paman dan bibinya tapi, katanya mereka sudah hampir dua minggu tidak pernah berkunjung ke sana. Sedangkan dia pulang dari rumah sakit juga aku tidak tahu.


Apa sebaiknya aku datang langsung ke tempat kerjanya untuk bertanya kepada teman kerjanya, karena aku yakin pasti ada diantara mereka yang mengetahui keberadaan dan kepergian dari Dewi.


Sial!! Sayangnya aku tidak mengetahui alamat barunya Syam dengan Nadia istrinya sehingga menutup sudah kemungkinan aku untuk bertemu dengan Dewi semakin sulit.


Irwansyah terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga sudah mendapat teguran dari polisi yang berjaga di sekitar jalan yang dilewati oleh Irwan.


Berselang beberapa menit kemudian, ia sudah sampai tapi netra hitamnya melihat seseorang pria yang sangat dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Syamuel Abidzar Al-Ghifari. Pria yang disangkanya telah membawa kabur istri sahnya sendiri.


Kenapa dia datang ke sini, apa jangan-jangan Dewi sudah balik yah? Tapi aku perhatikan raut wajahnya tidak menandakan hal tersebut. Ada apa sebenarnya, Dewi kamu ada di mana cantik calon bidadari surgaku. Sepertinya aku harus mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.


Irwan hendak turun dari mobilnya untuk diam-diam menguping pembicaraan tiga orang tersebut, yaitu Sam, Dian Mayang Sari dan Nur Hayati. Mereka adalah sahabat terbaiknya Dewi selama ini.


Aku tunggu saja mereka selesai berbicara, setelah mereka selesai dan kondisi aman gilirannya aku yang menemui kedua perempuan itu.


Irwansyah kembali ke dalam mobilnya dan segera memindahkan mobilnya agar lebih jauh tempat ia memarkirkan mobilnya, karena takut jika Syam melihat mobilnya yang sudah jelas dihafal dan diketahui siapa pemilik mobil tersebut.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, Syam masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajahnya yang penuh kepanikan, ketakutan dan mencemaskan keadaan dari istrinya itu yang sudah mengetahui jika Dewi hamil anak pertama mereka.


Syam terlihat nampak prustasi setelah berbicara dengan Dian dan Hayati sahabat dari istrinya itu. Syam menyugar rambutnya kebelakang dengan gusar dan membuang nafasnya dengan cukup panjang.


Ya Allah… kemana perginya istriku setelah aku mendapatkan kabar dari sahabatnya aku bergegas meninggalkan ibu kota Jakarta menuju kota S. Tetapi apa yang aku dapatkan, Dewi malah menghilang dan tidak ada satupun yang mengetahui kemana perginya Dewi.


Ini semua salahku yang tidak sempat menghubungi nomor hpnya sehingga aku kehilangan kontak. Parahnya lagi sampai detik ini nomor hpnya sudah tidak aktif dan terakhir kalinya aku lihat nomor wa nya online sekitar ba'da dzuhur kemarin.


Astagfirullah aladzim, kenapa perginya dirimu Dewi aku tidak tahu harus mencari kemana lagi dirimu. Abang sangat mengkhawatirkan keadaanmu, apalagi katanya kamu hamil anak kita sayang.


Air matanya Syam menetes membasahi pipinya itu, ia tidak tahu lagi harus mencari kemana lagi perginya Dewi. Ia juga sudah mendatangi semua anggota keluarganya Dewi yang diketahuinya,tapi hasilnya nihil tidak satupun yang mengetahui keberadaan dimana Dewi sekarang.


Syam menutupi keadaan tersebut agar, semua bibi dan pamannya Dewi istrinya tidak ada yang khawatir baginya ia takut mereka terganggu dan terbebani dengan keadaan dari Dewi sendiri. Syam hanya menghubungi nomor hp adiknya Dewi yang ada di luar daerah yaitu di Kalimantan Selatan tepatnya di Banjarmasin.


Syam berulang kali memukul setir mobilnya itu hingga tangannya kesakitan dan kemerahan barulah ia berhenti melakukan hal tersebut. Syam berdiam diri di dalam mobilnya dan menunggu langkah dan jalan apa yang akan ditempuhnya itu.


Syam tidak melanjutkan perkataannya itu karena ia tidak ingin berfikiran negatif dan dzudzon terhadap kondisi Dewi, baginya kapan ada pikiran negatif kedepannya bawaannya akan tidak baik terus.


Aku harus positif thinking karena aku yakin istriku Dewi Kinanti Mirasih itu masih hidup dalam keadaan yang baik-baik saja.


Syam segera melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi terdekat dari tempat tinggalnya Dewi. Ia tidak ingin menunda melakukan pencarian terhadap istrinya yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar sedikitpun atau petunjuk yang ditinggalkan oleh Dewi.


Sepeninggal Syam, dokter muda dan ganteng itu yang terobsesi terhadap istri orang yang baginya jadi pebinor itu tidak masalah selama wanita yang disayanginya berada dalam genggamannya itu sudah cukup walau nantinya perempuan tersebut membenci dan tidak mencintainya sedikitpun.


Irwan buru-buru berjalan ke arah dalam lokasi toko swalayan yang menjual berbagai macam jenis barang kebutuhan pokok sehari-hari. Ia tidak ingin ketinggalan jejak dua perempuan itu yang ia sangka mengetahui dimana keberadaan Dewi.

__ADS_1


"Hey! Tunggu!!" Teriaknya Irwansyah sambil berjalan tergesa-gesa ke arah keberadaan Dian dan Nurhayati.


Kedua perempuan itu saling pandang terlebih dahulu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan hanya mereka berdua yang ada di lokasi itu.


"Maaf apa Anda memanggil kami!?" Balas teriaknya pula Dian.


Irwansyah semakin mempercepat langkahnya seraya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari mulut kedua perempuan yang memakai seragam kerja toko tersebut.


Dian dan Haya berjalan ke arah pria yang sudah dikenalnya itu karena jarak mereka sudah semakin dekat saja.


"Anda kan Pak dokter yang kemarin nolongin Dewi kan?" Tebaknya dengan asal Hayati sembari menunjuk ke arah dadanya Irwansyah.


Dian menurunkan jari telunjuknya Hayati dari depan wajahnya itu, "Ada apa Pak dokter memanggil kami?" Tanyanya Dian yang langsung to the points tanpa basa-basi sedikitpun.


Hayati hanya terkekeh mendengar perkataannya Dian," maaf Pak dokter hanya gerak refleks kok," kilahnya Hayati lagi.


Irwansyah tersenyum tipis pun kagak apalagi berbasa-basi sedikit saja. Bahkan ia langsung bertanya kepada keduanya mengenai Dewi.


"Maaf apa kalian mengetahui pergi kemana Dewi Kinanti Mirasih?" Tanyanya tanpa ba bi bu.


Ini orang ada hubungan apa dengan Dewi seperti sangat khawatir dan cemas terhadap kondisinya Dewi, padahal tadi suaminya Dewi juga datang mencari Dewi. Tapi, ngomong-ngomong apa yang terjadi pada Dewi, kenapa mereka mencari Dewi, ya Allah firasatku jelek tentang Dewi semoga saja Dewi dalam kondisi yang baik-baik saja, apalagi dia sedang hamil.


Irwan menautkan kedua alisnya itu melihat Dian yang terdiam mematung," hey! Kamu ditanya malah diam saja, kalau ditanya itu dijawab bukan jadi patung selamat datang!" Ketusnya Irwan.


"Ya Allah… ganteng-ganteng galak juga, hilang nanti gantengnya pak dokter kalau sewot seperti itu, tadi suaminya Mbak Dewi datang enggak seperti anda Pak dokter, mas Syam malah lemah lembut tutur bahasa dan perkataannya dan senyuman selalu terukir di sudut bibirnya Mas Samuel tapi sangat berbeda jauh dengan pak dokter," sarkasnya Hayati yang main nyablak saja.

__ADS_1


Irwan menatap jengah keduanya itu,"maaf saya kesini hanya untuk mencari keberadaan Dewi Kinanti Mirasi bukan untuk mendengar perkataan kalian yang tidak bermutu itu!" Ucapnya mencemooh Dian dan Hayati.


"Dan perlu anda ketahui jika Dewi sudah tiga hari tidak masuk kerja dan tanpa kabar sedikitpun, sudah yah karena hanya itu yang Anda inginkan dengar dari kami, maafkan kami harus masuk karena jam istirahat sudah selesai, assalamualaikum," dengusnya Dian yang telah salah menilai pria tersebut.


__ADS_2