Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 55


__ADS_3

Nadia dan Dewi sama-sama kandungannya membesar, mereka menjalani aktivitas seperti biasanya. Syam yang tidak ingin melihat Dewi bersedih sedini dan sebisa mungkin dia tidak akan membalas perlakuan istimewa dari Nadia di depannya Dewi langsung.


Bahkan Syam sudah memutuskan untuk menghindari kontak langsung dengan Nadia di depannya Dewi. Hal itu ia lakukan untuk menghindari kecemburuan Dewi. Karena menurutnya sesabar bagaimana pun juga pasti akan ada saatnya Dewi merasa cemburu, sedih, egois karena mereka hanyalah manusia biasa tempatnya salah dan kekurangan.


Dewi awalnya menolak dan melarang keputusan suaminya itu,tapi Syam bersikeras dan bersekukuh untuk melakukan hal itu. Dewi pasrah saja dengan pengaturan suaminya, daripada ia pindah dari rumah itu.


Syam awalnya mengajak dan mengusulkan kepada Dewi untuk pindah di rumahnya sendiri yang Syam diam-diam beli khusus untuk Dewi. Tetapi, Dewi selalu menolak dengan berbagai alasan. Syam pun pasrah karena percuma saja membujuk Dewi yang bersikeras tidak mau pindah sehingga jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dalam dilakukan oleh Syam yaitu, tidak bermesraan di luar kamar ketika Dewi ada di sekitarnya.


Keesokan harinya, Nadia hendak mengikuti arisan dari beberapa teman sosialitanya.


"Mas hari ini aku mungkin agak telat pulangnya karena aku mau ikuti arisan," pamitnya Nadia yang duduk di depan meja riasnya sambil melihat Syam yang sedang memakai pakaian stelan kerjanya.


"Tumbenan kamu minta ijin, biasanya enggak seperti ini," tampiknya Syam yang keheranan dengan sikapnya Nadia saat itu juga.


Nadia hanya terkekeh mendengar perkataan dari mulut suaminya itu," masa sih aku harus jadi istri pembangkang mulu, aku juga pengen seperti Dewi yang selalu nurut dengan kata suaminya dan berpamitan kepada suaminya jika hendak beraktifitas di luar rumah," balasnya Nadia.


"Alhamdulillah baguslah kalau seperti itu, tapi sayang kamu itu sedang hamil sudah jalan enam bulan loh apa kamu tidak masalah beraktifitas di luar rumah dengan kondisi seperti itu,?" Tanyanya Syam sambil memakai dasinya.


Andaikan Nadia enggak ada di sini aku pasti sudah lari ke kamarnya Dewi untuk membantu memilihkan dasi dan juga memasangkannya dileherku. Ya Allah kapan yah Nadia bersikap seperti Dewi yang selalu menyediakan dan melayani segala kebutuhanku, terkadang aku berfikir aku punya dua istri tapi sama saja dengan hanya satu orang saja.


Nadia walau sudah ada perubahan dikit,tapi aku merasa selalu Dewi yang terbaik. Astagfirullah aladzim maafkanlah aku ya Allah sudah membandingkan kembali keduanya. Tapi kembali lagi aku ini hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa dan mengharapkan hal-hal yang baik dari kedua istriku.


Hari ini aku sungguh terkejut ketika Nadia berpamitan kepadaku, yang biasanya jika hendak bepergian jarang banget aku ketahui, apalagi meminta ijin untuk keluar dari rumah. Tapi, sudahlah ini satu kesyukuran dan perubahan karena Nadia berharap mau seperti dan mengikuti tingkah laku dan gaya hidupnya Dewi.

__ADS_1


Tapi, aku hanya bisa berharap agar Nadia kedepannya bisa seperti ini terus, tidak hanya berpamitan tapi, lebih sadar diri kodrat dan tugasnya sebagai seorang istri.


Nadia yang melihat suaminya hanya terdiam, bengong tidak berbicara sedikitpun hanya menautkan kedua alisnya itu, karena keheranan dengan sikapnya Syam.


Aku tunggu Mas dimeja dapur saja, biarkan saja Mas seperti itu,kalau capek pasti akan berhenti sendiri.


Nadia segera melenggang pergi meninggalkan Syam yang melamunkan banyak hal terutama mengenai perbandingan kedua istrinya itu. Syam melirik sepintas kepergian istrinya dengan menggelengkan kepalanya melihat sikapnya Nadia acuh tak acuh.


Entah bagaimana caranya aku mengajarkan dan mendidik Nadia menjadi istri yang baik karena aku takut jika aku keras penyakitnya kambuh, apalagi mengingat kami akan memiliki anak yang insya Allah tidak aral melintang lima bulan lagi.


Aku juga sudah berkonsultasi kepada mamanya, tapi jawabannya malah mereka tidak mengijinkan aku mendisiplinkan putri tunggalnya karena jika tidak alasan mereka adalah terutama penyakitnya yang takutnya pasti akan kambuh.


Dewi yang melihat Nadia berjalan ke arah meja dapur segera menghentikan kegiatannya yang membersihkan peralatan masaknya karena, hari ini Mbak Siti meminta cuti selama seminggu lebih lamanya.


"Dewi kok kamu yang bersihin itu peralatan masak mu bukannya itu tugasnya bibi Siti," sanggahnya Nadia yang melihat ke sekelilingnya tidak menemukan artnya yang satu itu.


Dewi tersenyum simpul," Bi Siti tadi menelpon katanya ibunya di kampung sakit Mbak jadi harus balik ke kampung bareng Mang Udin," jawabnya Dewi sekenanya saja.


"Kok enggak pamitan sama saya, bukannya saya majikan di rumah ini bukan kamu?" Ketus Nadia.


"Dewi tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Nadia," katanya bi Siti sama mamang Udin sudah beberapa menelpon nomor hpnya Mbak dengan Tuan Syam tapi, kalian nggak angkat telponnya," jelasnya Dewi.


"Oh gitu, mungkin aku saja yang ga sempat lihat dan cek hpku, sudahlah kan ada kamu yang bisa gantiin pekerjaannya Mbak Siti, tidak apa-apa kan kalau kamu kerja tambahan selama Mbak Siti belum pulang saja, gimana menurut kamu?" Nadia menuangkan nasi goreng seafood ke atas piringnya yang masih kosong itu.

__ADS_1


"Nadia kenapa kamu menyuruh Dewi untuk mengerjakan semua pekerjaannya Bu Siti, bukannya Dewi itu hanya bertugas memasak saja sedangkan membersihkan itu tugasnya bu Siti, apa kamu nggak kasihan melihat Dewi yang seperti kamu sedang hamil!?" Tegasnya Syam yang ikut duduk di depannya Nadia Yulianti.


Nadia menatap intens ke arah suaminya itu," bi Siti pulang kampung Mas, terus siapa dong yang ngerjain tugas Bu Siti, apa aku yang harus turun tangan langsung mengerjakan semuanya! Ingat Dewi itu disini hanya asisten rumah tangga bukan istrinya Mas! aku lah Nyonya Besar di rumah ini bukan Dewi jadi yang mengerjakan segala sesuatunya adalah Dewi juga, karena aku gaji dia tiap bulannya!" Kesalnya Nadia yang menghentikan suapannya hingga dentingan sendok makan yang disimpannya dengan cukup kasar.


Prang!!


Syam terkejut mendengar sekaligus melihat reaksinya Nadia yang tidak seperti biasanya itu. Dewi segera menengahi perdebatan kedua pasangan suami isteri itu.


"Tuan Syam tidak apa-apa kok insha Allah saya bisa mengerjakannya lagian saya sudah terbiasa mengerjakannya jadi Anda tidak perlu khawatir," sanggah Dewi.


Nadia mendelik tajam ke arah Syam suaminya itu," orangnya saja enggak keberatan, malah Mas yang seperti tidak setuju dan gak menerima pengaturan yang aku lakukan, jadi please jangan mencampuri urusan dapur dan rumah tangga yang sudah aku kelola dengan baik, kecuali Mas bisa memperkerjakan orang lain sementara waktu, lagian aku juga akan menambah gajinya Dewi kok dan memotong gajinya Bi Siti, kalau Mas Syam keberatan lagi dengan aturan yang aku buat, Mas saja yang gantikan posisinya Bi Siti," Nadia semakin tersulut emosinya.


"Tapi Nadia!" Bentaknya Syam.


Dewi yang melihat jika perselisihan mereka akan berubah menjadi pertengkaran sehingga Dewi bertindak bergegas untuk mencegah dan melerai keduanya.


Dewi mengayunkan tangannya ke arah depan dadanya, "Tuan Syam,saya mohon hentikan jangan seperti ini, saya merasa tidak keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Mbak Nadia,," cegahnya Dewi.


Nadia mengeratkan genggaman tangannya itu hingga wajahnya memerah menahan amarahnya. Syam yang tidak suka terus perkataannya dibantah segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua Istrinya itu tanpa berkata sepatah katapun.


Kenapa aku perhatikan sejak kedatangannya Mas Syam, aku merasa ia memperlakukan Dewi dengan istimewa tidak seperti seorang pembantu, apa ini hanya dugaanku saja atau aku perlu menyelidiki apa yang mereka lakukan dibelakangku,tapi apa aku hanya yang terlalu baperan dan perasa dan menganggap hubungan mereka ada yang aneh.


Aku tidak mungkin mengijinkan Istriku diperlakukan seperti itu di depan mataku, aku sudah berulang kali memaksa Dewi untuk pindah rumah, tapi selalu ngotot katanya kasihan dengan Nadia yang telanjur menyukai masakannya.

__ADS_1


Ya Allah, aku tidak mungkin melihat mereka berdebat gara-gara saya, tapi kalau seperti ini terus apa saya sanggup melihat keduanya terus menerus dalam pertengkaran.


__ADS_2