
Dewi menitikkan air matanya saking tidak percayanya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia tidak menduga pelaku otak dan dalang kejadian yang menimpanya beberapa bulan lalu yang hampir saja merenggut mahkotanya dan membuatnya gila adalah temannya sendiri.
Dewi segera membuka sedikit pintu itu agar melihat dengan jelas siapa pemilik suara yang mirip dengan Herman itu teman kerjanya. Ia kembali membelalakkan matanya melihat dugaannya ternyata meleset, jika orang tersebut adalah Herman Abdullah pria yang sangat dikenalnya itu.
Dewi menutup mulutnya rapat-rapat, "Astaghfirullah aladzim, untungnya saya tadi sempat menyalakan video rekaman sehingga saya mampu mengambil beberapa bukti akurat yang jelas terlihatlah siapa dalang dibalik semua kejadian yang hampir membuatku hampir saja gila," lirihnya Dewi.
"Saya tidak akan membiarkan ini terjadi, saya akan melaporkan kepada polisi, bagaimana jika kedepannya ada korban lain selain diriku, Herman aku tidak menyangka dirimu begitu kejam padaku hanya karena adikmu yang mencintai Mas Heri," Dewi mengepalkan tangannya sekuat tenaganya itu.
Awalnya Dewi ingin melabrak langsung Heri agar tertangkap basah,tapi ia kembali teringat ketika dirinya hampir dilecehkan. Apalagi mengingat toilet di gudang itu cukup sepi dan berjauhan dengan toko tempat ia bekerja, takutnya kejadian naas akan terjadi kedua kalinya. Sehingga Dewi mengurungkan niatnya itu.
"Saya tidak mungkin bisa melawannya, sebaiknya saya melaporkan saja ke kantor polisi besok pagi dan kembali berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi saja," gumam Dewi sambil memperhatikan keadaan sekitarnya apa Herman sudah pergi apa belum.
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi akhirnya selesai shalat. Ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ia berusaha untuk bekerja seperti sedia kala sebelum fakta itu terbongkar agar Dian dan Herman serta dua teman lainnya tidak curiga.
"Kamu baik-baik saja kan Dewi? Sepertinya wajahmu pucat?" Tanyanya Dian yang memperhatikan keseluruhan wajahnya Dewi.
Dewi melirik ke arah Dian," entahlah sudah tiga hari ini saya tidak nafsu makan, tidur pun tidak tenang bawaannya gelisah mulu dan pikiranku tertuju sama Abang Syam," jawabnya Dewi.
"Kamu pulang saja biarkan aku yang selesain disini, bos juga tidak akan marah kok, besok kamu cuti saja dulu ke dokter periksa agar kamu mengetahui apa yang terjadi padamu, enggak enak lihat wajahmu yang pucat pasi seperti itu," ujarnya Dian.
"Tapi,kamu enggak apa-apa kan aku tinggal bersama Herman, Adel dan Aryo?" Tanyanya Dewi dengan arah tatapannya tajam menelisik ke arahnya Herman yang sangat santai seperti tidak terjadi apapun.
"Santai saja, saya bisa tangani disini lagian baru jam tujuh lewat juga masih banyak waktu untuk kerjain, kamu pulang saja, mereka pasti ngerti kok dengan kondisimu," imbuhnya Dian Mayang Sari lagi.
__ADS_1
Dewi pun segera berpamitan kepada kedua rekan kerjanya itu selain kepada Herman. Ia hanya tersenyum tipis ke arah Herman agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Dewi merapikan semua barang-barangnya termasuk ponselnya yang sudah menyimpan bukti yang cukup kuat dan akurat bisa memenjarakan Herman Gunawan itu.
"Saya tidak akan tinggal diam saja dan hanya mendengar jika kamu adalah pelakunya, kamu akan menerima ganjarannya dan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu ini," Dewi berjalan ke arah depan sambil menunggu ojek datang karena masih jam tujuh lewat masih banyak kendaraan umum yang lewat.
"Tertawalah Herman karena malam ini aku akan langsung ke kantor polisi untuk memperlihatkan kepada polisi mengenai bukti keterlibatanmu atas kasus yang kamu lakukan," Dewi bertekad tidak ingin menunda lebih lama lagi agar segera melapor ke pihak yang berwajib.
Dewi berdiri di sekitar jalan sambil menunggu kedatangan ojek dengan celingak-celinguk memperhatikan kedatangan angkutan umum. Hingga sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya langsung. Dewi memperhatikan mobil itu dan tersenyum bahagia mengingat siapa pemilik mobil yang sudah hampir dua bulan tidak dilihatnya itu karena kesibukan masing-masing.
"Itukan mobilnya Mas Dokter," cicitnya Dewi.
Dewi tersenyum sumringah setelah melihat orang yang turun dari mobil itu. Dugaannya tepat sekali karena pemilik mobil itu adalah dokter Irwansyah Aidil Hans sahabat dari suaminya yang baru balik dari luar negeri.
Aku melihat perempuan yang aku cintai tersenyum lembut dan ramah menyambut kedatanganku. Andaikan senyuman itu bisa aku lihat setiap hari bahkan ketika mata ini terpejam dan melek kembali senyuman itu yang mengantar tidurku dan juga kala aku terbangun mungkin aku akan sangat bahagia.
Tapi, sayangnya senyuman itu sudah ada yang punya. Pria lain yang jelas-jelas dia adalah temanku sendiri pemilik senyuman indah itu. Ya Allah mungkin aku sudah salah dan dosa mencintai perempuan bersuami, aku sudah berusaha menyembunyikan perasaan ini dan menghapus jejak senyuman yang selalu terbayang-bayang dipelupuk mataku, tapi aku tidak mampu.
Semakin Aku berusaha untuk melupakannya semakin aku tak mampu. Apa aku boleh egois ya Allah… ijinkan aku mencintainya hingga akhir waktuku walaupun aku sudah mengetahui jika,dia tidak mungkin berpaling padaku dan meninggalkan suaminya Syamuel Abidzar Al-Ghifari demi bersama dengan dokter bodoh sepertiku.
Aku melangkahkan kakiku menuju tempatnya berdiri. Senyuman dibibirnya selalu tersungging menyambut ku. Rasa lelah dan capek yang baru saja balik dari Jepang Tokyo Jakarta dan langsung kesini sungguh luar biasa lelahnya. Tetapi melihatnya mampu meredam dan meredakan semua rasa yang aku rasakan.
Mungkin Syam juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Andai aku bisa aku akan berlari kearahnya dan memeluknya dalam dekapanku. Tapi, itu mustahil terjadi karena Dewi tidak mungkin ingin dan mengijinkan dirinya disentuh oleh pria lain apalagi untuk memeluk tubuhnya. Itu hanyalah akan berakhir dengan sebuah mimpi dan angan-angan yang sangat sulit bahkan mustahil terjadi.
__ADS_1
Seandainya aku bisa memutar waktu, Aku yang akan menggantikan posisinya Sam menjadi suaminya. Betapa bahagianya diriku jika mengetahui bahwa Sam melepaskan dan meninggalkan Dewi untuk selamanya. Tapi, apakah itu akan terjadi dan terealisasi kedepannya. Entahlah Aku hanya bisa berharap agar aku mampu membuatnya merasa aman, bahagia dan selalu tersenyum melihatku itu sudah cukup bagiku.
"Saya kira dokter tidak akan balik lagi ke sini," ucapnya Dewi.
"Aku balik ke sini karena aku ingin melihat seseorang perempuan yang selalu hadir membayangi mimpiku setiap malamnya," ujarnya Irwan.
"Perempuan! Apa jangan-jangan itu perempuan yang mas dokter suka yah? Alhamdulillah kalau seperti itu saya turut bahagia mendengarnya dokter berarti akan ada nih pernikahan selanjutnya," tebaknya Dewi dengan asal saja.
Betapa sakitnya hatiku setelah mendengar perkataannya jika aku mencintai perempuan lain bukan dirinya setelah mendengar perkataanku barusan padahal maksudku adalah agar dia tahu jika wanita itu adalah dirinya yang selalu aku puja di dalam hidupku takkan pernah hilang bayangan dirimu untuk selamanya.
Irwansyah hanya terkekeh mendengar perkataan dari mulut Dewi," kamu bisa saja, padahal aku hanya bercanda kok,oiya ngomong-ngomong kamu sudah mau pulang yah?" Terkanya Irwan yang mengalihkan pembicaraan.
"Iya nih Mas dokter saya tidak enak badan padahal rencananya mau ambil lembur tapi kalau seperti ini batal sudah," jawab Dewi dengan lesu.
"Pasti kamu belum makan makanya loyoh dan lesu seperti ini, aku ajak kamu makan yah aku yakin traktir gimana apa kamu setuju dengan permintaan ku ini?" Tanyanya Irwan dengan sangatlah hati-hati takut menyinggung perasaannya Dewi.
"Saya belum lapar sih Mas dokter,tapi apa boleh aku minta tolong diantar ke kantor polisi, ada yang ingin aku urus disana," ucap Dewi yang sangat berharap bisa dibantu.
"Kantor polisi! ada apa? Kenapa harus ke kantor polisi malam-malam begini? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Irwansah dengan panik sembari memegangi kedua lengannya Dewi sebagai bentuk reaksi spontanitasnya Irwansyah saja.
Dewi yang diperlakukan seperti itu memaklumi kondisi dari Irwan sambil melepaskan kedua genggaman tangannya Irwan yang menyentuhnya itu.
Dewi terkekeh melihat reaksinya Irwan itu seraya berkata," saya ingin melaporkan kejadian yang saya alami sekitar enam bulan kurang lebih dulu, saya sudah mendapatkan bukti dan informasi yang sangat akurat dan detail pria penjahat, orang bejak yang hampir membunuhku semua buktinya ada di dalam ponselku ini dan saya tidak ingin menunda lebih lama lagi," ucapnya Dewi sembari memperlihatkan hpnya ke depan wajahnya Irwan.
__ADS_1
"Kalau seperti jangan menundanya lagi pria itu harus menerima ganjaran dan hukuman berat atas perbuatannya padamu,ayo ikut Mas kita ke kantor polisi secepatnya!" Ajaknya Irawan sambil menarik tangannya Dewi masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.