Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 271


__ADS_3

Siang harinya, mereka menuju ke salah satu hotel bintang lima sebagai tempat acara akad nikahnya Dina Anelka Mulya dan Syamil Syafiq Abidzar. Kedua putra putrinya yaitu Adisti Ulfah Salsabiela dengan Ade Nugraha serta Sheila Alona dan Fariz Fatahillah.


Shaira mempersiapkan segala sesuatu keperluannya suaminya, seperti pakaian, sepatu dan hingga pakaian yang paling terdalam pun Shaira yang persiapkan setiap hari yang akan dipakai oleh suaminya.


Baik untuk berangkat ke kantor, menghadiri acara perusahaan, pakaian santai sehari-hari atau acara non resmi seperti acara yang akan dihadiri oleh keduanya ataupun tanpa kehadiran istrinya.


Shaira meletakkan pakaian itu di depan dadanya tepat menghadap ke arah cermin.


"Aku yakin abang pakai ini akan semakin terlihat cakepnya, kalau kami punya anak pasti akan cakep seperti papinya Abang Adelio, aku sudah tidak sabar untuk hamil anakmu bang," lirihnya Shaira seraya mengelus perutnya yang entah kapan dia akan hamil.


Shaira merapikan kembali isi dalam lemari itu yang sempat terbongkar karena ulahnya sendiri terlebih dahulu sebelum menutup rapat.


"Alhamdulillah semuanya sudah siap, aku juga akan bersiap," cicitnya Shaira seraya menutup pintu lemari pakaiannya.


Tapi, karena kesusahan menutup pintu itu, sehingga ia harus sedikit memaksanya.


"Kenapa tadi bukanya mudah banget yah, tapi ini kok sudah sulit? Apa yang terjadi dengan pintunya?" Shaira menautkan kedua alisnya itu karena keheranan dengan sang lemari.


Hingga sebuah bungkusan kecil terjatuh ke atas punggung kakinya.


"Augh," keluhnya Shaira karena memang isi dalam bungkusan berwarna cokelat itu cukup berat sehingga Shaira sedikit nenegeluh.


Alisnya Shaira kembali saling bertaut, karena kebingungan dengan benda yang terjatuh mengenai kakinya itu.


Shaira pun memungutnya dan membukanya, tapi kedua matanya membelalak saking terkejutnya melihat beberapa macam obat dalam bungkusan itu.


Shaira mengangkat obat itu ke atas tepat di depan matanya untuk melihat dengan jelas benda itu, padahal sudah jelas-jelas jika benda itu adalah tablet obat.


"Ini kan obat khusus untuk penderita jantung, kenapa obat ini ada di dalam lemari pakaiannya Abang


"Astaughfirullahaladzim ini kan obat,setahu aku tidak ada orang yang penyakit jantung disini. Apa jangan-jangan ini obatnya Mama Dewi selama ini dia menyembunyikan penyakitnya pada kami semua, tapi kalau obatnya almarhumah mamah kok bisa ada di dalam sini?"


Shaira kembali terduduk di atas tepi ranjangnya dan air matanya kembali menetes membasahi pipinya ketika harus kembali mengingat mendiang almarhum mamanya yang telah berpulang ke Rahmatullah.


"Alfatihah, bismillahirrahmanirrahim. Semoga Mama tenang di alam sana. Kami sangat kehilangan dirimu Mah. Sosok mama yang paling terbaik sedunia. Tapi, kami harus ikhlas dan tegar melepas kepergiannya," lirihnya Shaira.


"Ini tidak mungkin bisa terjadi, aku yakin bukan miliknya Mama. Kalau bukan siapa?" Berbagai macam pertanyaan berseliweran di dalam benak dan hatinya itu.


Shaira masih berusaha untuk menebak siapa pemilik dari obat itu, Shaira menutup mulutnya saking tidak percayanya jika benda yang dia dapatkan tanpa sengaja milik suaminya itu.


"Kalau bang Adelio yang punya obat ini kenapa aku tidak mengetahuinya dan juga suamiku tidak seperti orang yang menderita penyakit kronis," sangkalnya Shaira yang berusaha tidak sudzon terhadap suaminya sendiri.

__ADS_1


Tok… tok..


Hingga ketukan pintu dilamarnya membuyarkan lamunannya dan segala macam pemikiran yang belum terpecahkan dan mengetahui siapa orang yang memiliki obat itu.


"Dede Aira, apa kamu sudah bersiap untuk berangkat?" Tanyanya seseorang dari balik pintu.


Shaira bergegas ke arah pintu dan membuka sebagian pintu kamarnya itu.


"Iya tunggu Mbak aku baru mau bersiap nih,kalau Mbak gimana?" Tanyanya Shaira.


"Alhamdulillah aku juga sudah bersiap dengan Nafesa putri kecilku Aunty Aira," balasnya Shanum sembari menggendong tubuhnya Nafesa putri kecilnya Aidan bersama dengan almarhum Cindy Clara Smith.


"Kalau gitu aku masuk dulu Mbak sepertinya suamiku sudah siap, gilirannya aku yang bersih-bersih terlebih dahulu sebelum berangkat," imbuhnya Shaira.


Shanun memperhatikan adik angkatnya itu dengan tatapan penuh selidik.


Apa yang terjadi padanya, aku perhatikan matanya sembab dan hidungnya memerah? Apa jangan-jangan masih kepikiran dengan kepergian Mama Dewi mungkin yah?


Sahnum hanya menebak dengan asal apa yang dilihatnya langsung. Setelah hari Jumat dimana hari kematian Dewi Kinantii Mirasih dan rencananya minggu lusanya acara resepsi dan akad nikah tiga orang sekaligus.


Mereka memutuskan untuk menundanya sampai tiga minggu kemudian. Hingga tepat tiga minggu kepergiannya Dewi, barulah pernikahan itu diselenggarakan.


Mah aku takut banget, entah kenapa setelah menemukan obat itu hatiku ini tidak tenang, gelisah dan juga sangat cemas.


Apa yang terjadi padanya, kenapa dia seperti itu? Apa jangan-jangan dia menemukan obat yang aku lupa sembunyikan di tempat biasa?


Ya Allah aku belum siap jika Shaira mengetahui penyakit yang sebulan lalu aku ketahui ini. Aku tetap berusaha untuk berobat agar penyakitku ini sembuh secepatnya tanpa istriku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di salah satu hotel bintang lima yang telah dipilih oleh mereka. Kedatangan Shaira dan kakak-kakaknya disambut hangat oleh semua orang terutama Samuel Abidzar Al-Ghifari yang sejak istrinya meninggal kebanyakan diam saja, tidak seperti biasanya.


Bu Rina Amelia menyambut kedatangan Shanum Inshira, Shaira Innira, Abiyasa Akhtam dan Aidan Akhtar bersama dengan pasangan masing-masing. Mereka terlambat datang, karena kemacetan yang menunda kedatangan mereka sehingga hanya akad nikahnya saja Adisty yang sempat mereka saksikan.


Semuanya langsung duduk untuk mengambil tempat masing-masing berhubungan kedatangan mereka sudah terlambat.


Sini aku bantuin gendong Arselio," pintanya Aidan yang melihat istrinya kerepotan mengurus kedua buah hatinya itu.


Maryam Nurhaliza mendongak menatap ke arah suaminya itu," tidak perlu repot-repot untuk membantuku," ketusnya Maryam yang langsung saja menepis tangannya Aidan.


Dua minggu yang lalu, Aidan mengurus segala perpisahan dan perceraiannya dengan Rachel Amanda. Walaupun mereka hanyalah sebatas menikah secara siri, tetapi legalitas hukum perceraiannya tetap harus disahkan dan diurus oleh keduanya.


Awalnya Rachel menentang keputusan Aidan untuk menceraikannya dengan segala macam drama yang ditunjukkannya, tetap tidak menyurutkan niatnya Aidan untuk berpisah dengan perempuan pembawa malapetaka dalam kehidupannya secara pribadi dan keluarga besarnya.

__ADS_1


"Hanya satu kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mengenalmu dan paling sial dalam hidupku bisa menikahi perempuan terkutuk,terlucknut seperti kamu!" Sarkasnya Aidan sebelum mereka berpisah untuk selamanya.


Rachel terduduk di atas kursi ruangan sidang, hatinya sangat hancur dimana suaminya mentalaknya, yang paling parah rahimnya telah diangkat setelah mengalami keguguran yang sangat tragis sampai membuatnya koma beberapa hari.


"Tolong jangan bertindak seperti seorang suami dan ayah yang bijaksana, karena aku saat ini tidak butuh semua yang perhatian dan apapun darimu! Insha Allah aku masih sanggup untuk melakukannya seorang diri tanpa pria mendampingi hidupku," ketusnya Maryam.


Aidan salah tingkah dan kecewa sangat hal itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang menandakan kekecewaannya.


"Apa kamu tidak bisa mengesampingkan kekesalannya kamu padaku dulu, mengingat kamu aku itu butuh bantuan," tegasnya Aidan.


Maryam sama sekali tidak menggubris perkataannya Aidan dan langsung saja memasukkan kedua putra kembarnya ke atas box bayi berwarna biru muda itu. Sanika Tanisha dan Abyaza tanpa sengaja mendengar perdebatan kecil keduanya itu, kebetulan keduanya duduk tidak terlalu jauh dari pasangan suami istri itu.


"Kasihan sekali yah nasibnya Aidan, hanya ingin menggendong Arsenio saja, tapi malahan dilarang," bisiknya Tanisha.


"Itulah akibatnya jika seorang suami berselingkuh dan menyia-nyiakan istri yang begitu baik padanya!" Ucapnya mencemooh ke arah adiknya itu.


"Iya juga sih, ini akibatnya jika seorang suami yang berani bermain api dan ini konsekuensi dari pilihannya sendiri," sahutnya Tanisha.


Semua perhatian tertuju pada ijab kabul antara Adisti Ulfah dengan Ade Nugraha.


Ade sudah berjabat tangan dengan pak penghulu yang bernama Zainal Abidin.


"Saya terima nikah dan kawinnya Adisti Ulfah Salsabiela binti Khaerul Fatih dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"ucapnya Ade dengan penuh ketegasan dan keyakinan dalam setiap ucapannya itu.


"Bagaimana para saksi apakah sah!?" Tanyanya Pak Zainal sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.


"Sah!" Jawab semua orang yang hampir bersamaan menjawab pertanyaan dari penghulu.


"Syukur alhamdulilah," semuanya kembali mengucapkan syukur alhamdulilah atas kelancaran ketiga pasangan suami istri baru prosesi pernikahan ketiganya.


Bu Rina dan yang lainnya kembali menitikkan air matanya takkala teringat dengan mendiang almarhumah Dewi anak menantunya.


Dewi, hampir sebulan kepergianmu dari sisi kami tapi sejujurnya kami sangat kehilanganmu nak.


Bu Rina Amelia menyeka air matanya itu dengan gusar karena harus kembali mengingat kejadian yang memilukan itu.


Dina memeluk satu persatu keponakannya itu dengan deraian air matanya yang tak terbendung.


"Makasih banyak kalian sudah datang, Tante sangat bersyukur karena kalian menyempatkan waktu untuk menghadiri pernikahan Tante," ucapnya Dina Anelka yang sudah berdiri di atas pelaminan bersama dengan suami barunya.


Semua kembali menangis tersedu-sedu dan segera menghentikan tangisannya karena hari ini adalah hari berbahagia untuk sepupu dan Tante serta pamannya.

__ADS_1


mampir ke novel baruku yah judulnya Terpaksa menjadi orang ketiga


__ADS_2