Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 40


__ADS_3

Semua orang yang kebetulan berada di dalam swalayan tersebut terkejut melihat kedatangan beberapa polisi ke tempat kerja mereka. Dimana pagi itu cukup banyak pembeli, pelanggan yang datang berbelanja di dalam toko sembako serba ada itu.


Keesokan harinya, Dewi tidak sempat memeriksakan kondisinya ke dokter ataupun rumah sakit karena, berangkat kerja lebih awal dan tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi pada Herman selanjutnya.


Beberapa orang pria dewasa berpakaian seragam polisi masuk ke dalam sebuah toko mini market yang pagi itu sudah dipadati oleh pengunjung. Mereka semua terkejut melihat kedatangan satu mobil kompoi polisi ke dalam swalayan tersebut.


Hanya Dewi Kinanti Mirasih yang sama sekali tidak merasa terganggu apalagi kaget melihat kedatangan rombongan kompoi kepolisian.


Dian yang melihat kedatangan mereka segera berjalan ke arah Pak polisi untuk mewakili atasannya yang kebetulan ke luar daerah. Lagian semua teman kerjanya sepertinya ketakutan, panik dan ragu untuk berbicara dengan pihak kepolisian. Yang pastinya mereka takut salah bicara itu saja.


"Pagi pak polisi, maaf kalau boleh tahu apa kira-kira yang membuat Anda menginjakkan kaki kalian ke toko kecil kami," imbuhnya Dian dengan merendah.


"Kami ke sini ingin melakukan penangkapan terhadap saudara Herman Abdullah atas pelaporan dari perempuan yang bernama Dewi Kinanti Mirasih atas percobaan penganiayaan dan kekerasan yang dilakukannya beberapa bulan lalu sekitar enam bulan lalu itu dan ini adalah surat penangkapannya," jelasnya Pak polisi yang disapa kapten itu oleh anak buahnya.


Semua orang yang mengenal Dewi langsung mengarahkan pandangannya ke arah Dewi yang begitu santai melayani pembelinya dibagian kasir. Dia begitu tenang dan santai tanpa terprovokasi dan terbebani dengan keadaan yang sedang terjadi di dalam toko yang lumayan cukup besar itu.


"Apa kah saudara Herman berada di dalam sekitar area toko?" Tanyanya Pak Arman Maulana Yusuf sebagai kapten dari kepolisian tersebut.


"Dia ada di sana pak sedang mengatur beberapa barang, saya akan panggilkan untuk bapak, silahkan menunggu sebentar saya akan memanggilnya," ucapnya Dian Astuti Sari yang langsung meninggalkan tempat semula untuk mencari keberadaan dari Herman.


Semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah Dewi yang nampak santai sibuk dengan berbagai pekerjaannya di depan layar komputer dengan antrian cukup panjang dan banyak pembeli pagi itu menjelang siang.


Dian yang sudah melangkahkan kakinya segera berhenti karena ingin bertanya tentang untuk memastikan apa benar jika Herman adalah pelaku kejahatan tersebut. Dian hanya melirik sepintas ke arah sahabatnya itu dan tidak sempat bertanya untuk memastikan apa yang dikatakan oleh kapten polisi tersebut.

__ADS_1


"Apa benar Herman pelakunya Pak, jangan sampai hanya salah paham saja atau mungkin salah orang, jika memang benar dia pelakunya maka berikanlah dia hukuman yang paling berat, kami tidak ingin ada penjahat bekerja di sekitar kami ini dan saya sangat malu dengan kejahatannya itu pak," tegasnya Dian yang sudah mulai tersulut emosinya itu.


"Kami tidak mungkin datang kesini untuk menangkap Pak Herman jika memang dia tidak melakukan kejahatan, semua bukti yang kami dapatkan dan temukan di lapangan mengarah ke satu orang pelaku kejahatan yang hampir membuat Bu Dewi hampir gila, jadi mohon kerjasamanya Mbak," Ungkap Pak Arman dengan penuh kepercayaan diri.


Semakin heboh lah tempat itu, karena tidak menduga jika korbannya adalah teman kerja mereka sendiri dan pelakunya Pria yang kesehariannya baik, sopan santun, ramah dan suka menolong. Karena itu lah mereka tidak percaya jika Herman berbuat nekat dan kurang ajar kepada Dewi.


"Itu pasti salah paham saja, aku yakin itu," bisik seseorang lagi.


"Saya juga tidak percaya masa sih pria baik seperti Herman ada penjahat yang tidak bermoral," tukasnya yang lain lagi.


"Tapi kalau bukan Herman siapa lagi mana mungkin polisi bisa salah menangkap orang kalau di Herman tidak punya salah dan juga mana ada Mbak Dewi berpura-pura, menipu dan membohongi polisi itu kan sama saja cari mati,iya kan?" Tukasnya yang lain lagi perempuan yang duduk di kursi kasir tidak jauh dari tempatnya Dewi berada.


Beberapa kasat kusut sudah terdengar dari beberapa mulut orang-orang baik itu dari pelanggannya toko atau karyawan toko tersebut. Mereka saling berbisik dan mempertimbangkan kedatangan rombongan kepolisian.


"Astaghfirullah aladzim kenapa Herman sampai tega berbuat seperti itu pada Dewi padahal Dewi sangat baik padanya dan kepada orang lain, pantesan pernah beberapa hari Dewi tidak masuk kerja hampir seminggu apa karena ini yah,kami ingin menjenguk waktu itu tapi kami dilarang oleh paman dan bibinya Dewi kala itu dengan berbagai macam alasan yang menurut kami tidak masuk akal," gumamnya Dian.


Dua orang polisi mengikuti kemana langkahnya Dian mereka berjaga agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi gara-gara kedatangan mereka semua. Herman yang sedang memeriksa beberapa barang sambil mendengarkan musik yang berdengung dari ponselnya segera dimatikannya itu. Setelah melihat kedatangan Dian yang memanggil namanya itu.


"Herman!" Teriaknya Dian dengan matanya yang sungguh membuat semua pria ketakutan.


Dian memperlihatkan wajah tidak sukanya kepada Herman, Dian mengepalkan tangannya sekuat tenaga saking marahnya setelah mengetahui apa yang terjadi pada Dewi karena ulah dan gara-gara Herman yang menyebabkan hal itu.


"Pak polisi dia yang bernama Herman, tolong segera tangkap dan adili dia agar kedepannya tidak akan ada lagi korban selanjutnya kami takut dan cemas jika penjahat dan pria brengsek seperti dia bebas kemana-mana," ucapnya Dian yang sudah sangat marah.

__ADS_1


Herman yang mendengar perkataan dari salah satu rekan kerjanya itu segera menolehkan kepalanya ke arah Dian dan bergantian ke arah dua orang polisi. Raut wajahnya seketika itu langsung berubah drastis. Air mukanya langsung pucat pasi gara-gara saking takutnya dia ditangkap yang pastinya namanya akan berubah jadi narapidana, kehidupannya juga akan berubah drastis menjadi bebas dan sekarang tidak bebas.


Apalagi kehidupan di dalam penjara itu sungguh luar biasa kerasnya. Siapa yang lemah akan selamanya tertindas dan dibully habis-habisan. Herman memperhatikan sekitarnya dan melihat ke sekelilingnya untuk mencari cara agar bebas.


Kenapa mereka sampai mengetahui jika aku adalah pelaku yang hampir menganiaya dan mem perrr kooo saaa Dewi, sedangkan tidak ada satupun yang mengetahui jika aku adalah pelakunya itu.


"Tolong bekerjasama lah dengan kami, tidak perlu takut dan berniat untuk meloloskan diri dari jeratan hukum jika tidak Anda akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi," imbuhnya Pak Damar yang berjalan ke arah Herman yang segera mengambil ancang-ancang untuk kabur dan cabut dari tempat tersebut.


"Maaf Anda salah orang!!" Teriak Herman seraya berlari ke arah luar melalui pintu belakang.


Apa yang dilakukan oleh Herman tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh kepolisian.


"Pak Herman jangan lari! Jika tidak kami akan melakukan tindakan untuk menahan Anda!" Ancamnya pak Harto Tarigan yang bersiap untuk menembak kakinya Herman untuk melumpuhkan pergerakannya tersebut.


"Pak Herman jangan main kabur!" Cegahnya Pak Damar yang langsung menaikkan senjatanya untuk mengarahkan pistolnya ke arah Herman dan bersiap untuk menarik pelatuk senjatanya itu.


"Kami hitung sampai tiga jika tidak mau berhenti stop di depan kami tidak akan segan-segan untuk menembak Anda!" Gertaknya pak Damar.


Herman sama sekali tidak mengindahkan dan mendengarkan perkataan dan peringatan dari kepolisian sehingga pak Damar pun berinisiatif untuk melumpuhkan Herman deru cara menembak kakinya Herman agar tidak lolos dan berhasil kabur dari tempat tersebut.


Dor… door…


Suara tembakan menggema di dalam gudang tersebut. Hingga semua orang terkejut mendengar suara tembakan membuat mereka semua berhamburan lari kesana kemari untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


"Tolong semuanya harap tenang! Kami ada disini tidak akan mengijinkan masalah menimpa kalian!" Teriaknya Pak Bayu yang berusaha menenangkan beberapa orang.


"Aahhh!! Tidak!!" Jeritnya Herman.


__ADS_2