
Shaira mempercepat langkahnya menuju ke arah kamar perawatan yang diyakini sebagai suaminya.
Tatapan dari beberapa orang-orang yang melihatnya hingga teriakannya Adisti sama sekali tidak dipedulikannya.
"Ya Allah kenapa bisa suamiku mengidap penyakit yang cukup berbahaya, tapi aku sama sekali tidak mengetahuinya," sesalnya Shaira yang sesekali menyeka air matanya itu yang terus membanjiri wajahnya.
"Adisti stop! Berhenti jangan terus berlari sayang!" Teriak Ade Nugraha yang mencegah istrinya untuk berlari.
"Astauhfirullah aladzim,apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dede Aira berlari seperti itu?" Tanyanya Maryam Nurhaliza.
Ade segera memunguti map yang sempat dipegang oleh Shaira Innira yang tergeletak di atas lantai keramik.
Ade tercengang melihat apa yang tertulis di atas kertas putih itu,ia menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan tulisan keterangan diagnosis milik Adelio Arsene Smith.
Kedua alisnya itu saling bertaut melihat perubahan mimik wajahnya Ade Nugraha yang kedua tangannya gemetaran hebat memegangi map tersebut.
"Dokter Ade Nugraha apa yang terjadi? Apa yang kamu baca?" Tanyanya Maryam penuh selidik.
__ADS_1
"I-ni ti-dak mungkin, aku yakin ini salah paham saja," sanggahnya Ade.
"Kenapa,apa yang terjadi padamu?" Tanyanya lagi Maryam yang semakin dibuat penasaran saja.
"Pak Adelio suaminya dokter Shaira Innira mengidap penyakit jantung stadium akhir dan sudah parah," ungkapnya Ade yang tidak sanggup berkata-kata lagi.
Maryam segera mengambil alih map itu dan membacanya dengan seksama, takutnya dia salah baca saja.
"Astauhfirullah aladzim itu tidak mungkin! Ini pasti ada kekeliruan di dalam sini," tampiknya Maryam.
"Aku harus segera menghubungi nomor ponselnya mas Aidan dan bang Abiayasa, mereka harus mengetahui apa yang terjadi pada bang Adelio," ucapnya Maryam.
"Dokter Maryam, tolong rahasiakan ini dari Om Syam, takutnya dia terguncang dan penyakitnya semakin parah juga," cegah Ade.
"Iya benar sekali, papa sudah sakit-sakitan kalau ditambah dengan kabar buruk ini. Takutnya Papa semakin bertambah anfal sakit kasihan papa," cicitnya Maryam.
"Sebaiknya kita ke sana menyusul mereka untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi,jangan sampai ini hanya salah paham saja," ucap Ade Nugraha yang segera berjalan ke arah koridor lorong rumah sakit dimana istrinya sedari tadi berlari tanpa henti.
__ADS_1
Air matanya Shaira terus menetes membasahi pipinya itu, dia tidak menyangka jika suaminya menyembunyikan kondisinya.
"Ini semua salahku, aku yang sudah tidak becus menjadi istrinya. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku sudah melupakan tanggung jawab dan kewajibanku sebagai seorang istri," sesalnya Shaira yang lega melihat kamar ICU VVIP khusus untuk Adelio sang pemilik rumah sakit.
Shaira melambatkan langkahnya ketika berada di depan pintu masuk ICU. Tubuhnya bergetar hebat dan tidak kuasa untuk memegangi handel pintu itu.
Tangannya seolah mati rasa saking tidak sanggupnya membuka pintu itu. Air matanya semakin menetes tak terbendung lagi hingga wajahnya, hidung dan matanya memerah sembab.
Ya Allah aku tidak sanggup melihat suamiku dalam keadaan lemah tak berdaya. Aku tidak akan pernah bisa!
Shaira terkadang ingin memutar kenop pintu kamar perawatan suaminya, tapi disisi lain dia juga ragu dan ketakutan akan melihat kondisi suaminya yang tentunya akan membuatnya hancur dan sedih.
Bismillahirrahmanirrahim kuatkan hatiku.
Ceklek...
suara pintu itu terbuka lebar dan Shaira kembali dibuat tercengang dengan melihat apa yang terjadi di dalam sana. Mulutnya menganga lebar, tubuhnya terdiam berdiri kaku melihat kondisi dari dalam ICU itu.
__ADS_1