
Suara meminta maaf dan meminta tolong dari kedua anak kembarnya sama sekali tidak dihiraukannya. Irwansyah malahan semakin menggila saja. Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan dari anaknya itu.
Irwansyah sudah kalap ketika melihat keramaian di rumahnya Syamuel. Irwansyah melempar kedua anaknya ke arah pagar pembatas balkon lantai atas rumahnya itu.
Dia melempar kedua anaknya yang awalnya dipegangnya terlebih dahulu dengan kekuatan penuh hingga kedua tubuh anaknya membentur pagar besi tersebut.
"Aahh!!"
Teriakan dari kedua putrinya sama sekali tidak membuatnya berubah atau mengurungkan niatnya itu.
Irwansyah menatap tajam ke arah kedua anaknya yang terkapar di atas lantai dengan sama-sama dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
"Kalian berdua memang anak-anak yang tidak tahu diuntung! Aku sangat menyesal tidak membuang kalian waktu masih bayi! Kalian hanya buang-buang uang dan biaya yang begitu besar aku keluarkan setiap bulannya untuk membesarkan anak tidak berguna seperti kalian!" Kesalnya Irwansyah.
Ariela mengulurkan tangannya ke arah papanya itu," pa-pa to-long a-ku tidak kuat lagi," rintihnya Ariela Ziudith sembari memegangi perutnya yang semakin sakit dirasakannya itu.
Darah segar sudah merembes membasahi pakaian yang dipakainya itu hingga sudah mengalir melalui sela-sela pahanya. Sedangkan Arabella Aqila pun sudah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Punggungnya terus dipeganginya yang sangat sakit, tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.
"Papa tolong kami, bawa kami ke rumah sakit," ratapnya Ara yang mengayungkan tangannya ke arah Papanya.
Irwansyah bukannya menolong anaknya, malahan meninggalkan keduanya yang sudah diambang bahaya. Irwansyah melenggang pergi meninggalkan anaknya itu dengan tanpa perasaan sedikitpun.
"Aku tidak akan menolong kalian berdua, anggap ini adalah hukuman atas perbuatan kalian berdua yang terlalu bodoh, supaya kalian mengerti apa arti kemarahan papa ini," geram Irwansyah yang segera angkat kaki dari tempat kejadian perkara.
Sedangkan di tempat lain, orang-orang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Semua orang sudah berpakaian rapi dan menarik sesuai dengan seragam yang diberikan khusus untuk pengantar pengantin.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali mendapatkan pakaian masing-masing sesuai dengan ukurannya. Tidak ada yang terlewatkan. Shaira sudah di make up dengan begitu cantiknya, sama halnya dengan Sahnum.
Amar Alfarizi dan Aydan pun sudah siap dengan stelan pakaian pengantinnya. Amar dengan pakaian ala suku Sumatera Selatan seperti asal dari bundanya yang sudah disepakati oleh kedua orang tuanya Vela Angelina.
Sedangkan Aidan memakai pakaian adat Malaysia negeri Jiran asal Maryam Nurhaliza. Sahnun dengan pakaian kebaya adat Jawa Barat sedangkan Syaira memakai gaun pengantin ala Inggris moderen, karena sesuai dengan asal negaranya Adelio.
Dina memeluk tubuh keponakannya itu sambil berusaha untuk menahan air matanya yang akan menetes.
Dina mengelus punggung Shaira," kamu akan menikah Nak, Tante sangat bahagia atas pernikahanmu,tapi sebelum kamu menikah Tante akan bicara sesuatu hal yang sangat penting," imbuhnya Bu Dina.
Sahira mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari adik mamanya itu," Tante kenapa bisa berbicara seperti ini? Jujur saja saya sama sekali tidak memahami maksud dari perkataannya Tante,"
"Begini Nak, Tante mewakili Ariela untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dilakukannya selama ini padamu, Tante sangat malu padamu nak,tapi sebelum kamu memulai lembaran baru bersama dengan Nak Adelio, tante mewakili Ariela meminta maaf padamu yang sebesar-besarnya dan setulus hati, memang Tante akui apa yang dilakukan oleh Ariela sangat memalukan sekali,tapi Tante sangat yakin jika hatimu itu sangat baik,"imbuhnya Dina sambil sesekali menyeka air matanya yang sudah menetes dari ujung pelupuk matanya itu.
Shaira tersenyum teduh menanggapi kesedihan tantenya itu, semua orang yang kebetulan hadir di dalam ruangan itu memperhatikan apa yang mereka perbuat.
"Masya Allah begitu mulia hatimu Nak, selain rupamu yang cantik, tapi hatimu juga secantik wajahmu Nak,tante doakan semoga pernikahan kalian selalu dilindungi oleh Allah SWT dan selalu bahagia hingga kakek nenek," doanya setulus hati yang diucapkan oleh Dina Anelka Mulya setulus hatinya.
"Bagaimana dengan calon mempelai perempuannya apa sudah siap?" Tanyanya Syam yang baru saja muncul di dalam kamar pengantin.
Shanum dan yang lainnya segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Mereka tersenyum penuh kegembiraan menyambut akad nikah kembar empat hari itu.
Alhamdulillah hari ini datang juga, aku melihat anak-anakku menikah, betapa bahagianya hati orang tua melihat anak-anaknya menemukan pasangan hidupnya.
Mama hanya berharap kalian bahagia dengan pilihan hidup yang kalian pilih sendiri.
__ADS_1
Dewi diam-diam menyeka air matanya yang sudah berembun sejak tadi, tapi berusaha ditahannya karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang.
Dewi menatap kedua keponakannya yang duduk di samping Sahnun dab Shaira, "Adisty kamu antar kakakmu Aira sampai ke mobil pengantin paling depan, Friska kamu yang apit mbakmu Shanum mereka akan duduk dalam satu mobil bersama," perintahnya Dewi.
"Baik Tante Dewi yang paling cantik dari semua perempuan yang ada di sini bahkan mengalahkan kecantikannya mamaku," pujinya Adisty yang diakhiri dengan candaan pula.
Dewi menoel hidungnya Adisty, "Alhamdulillah makasih banyak cantik, kamu juga sangat cantik dan jangan menunda lebih lama lagi kasihan sang mempelai pria nanti tidak sabaran menunggu mereka datang, dan satu hal semoga kamu segera menikah seperti kakakmu Nak," ucapnya Dewi sebelum berangkat menuju masjid.
Semua orang sama sekali tidak ada yang menyanggah pembicaraan mereka, bahkan semuanya tersenyum gembira mengantar kedua pengantin perempuan yang sama-sama cantik dengan kecantikannya masing-masing.
Bu Rina Amelia memegangi tangan putra pertamanya itu yang kebetulan berjalan paling belakang.
"Nak kamu sudah berhasil mendidik keempat anak-anakmu dengan baik. Sehingga hati mereka sungguh membuat semua orang tersenyum bahagia menyikapi perilaku mereka, kau dan Dewi sangat beruntung memiliki anak-anak yang sangat pengertian dan mencintai kalian, karena tidak semua orang tidak beruntung dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya," tuturnya Bu Rina.
Syam hanya tersenyum simpul menimpali percakapan mamanya sendiri.
"Apa yang dikatakan oleh ibu benar sekali Abang, kamu itu pria yang sangat beruntung di dunia ini mendapatkan Mbak Dewi perempuan sholeha tidak seperti mantan istrinya abang Nadia Yulianti yang gila itu," terangnya Syamil yang mengingat beberapa tahun silam.
"Ups jangan bicara seperti itu, ingatlah ini hari bahagia untuk kita semua jadi jangan ingatkan Mama dengan perempuan ular betina berkepala dua itu," kesalnya Bu Rina.
"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Shaira dan Shanum ketika melangkahkan kakinya ke dalam mobil pengantin yang sudah dihias dengan berbagai bunga yang sangat indah.
Semua rombongan sudah berangkat ke tempat pelaksanaan akad nikah kembar empat itu.
"Berbahagialah, tunggu saatnya saya akan hadir tidak lama lagi untuk menuntut balas dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"
__ADS_1