
"Mama!"
"Dewi istriku!"
Teriak kelima orang yang berada di dalam ruangan tengah tempat mereka berkumpul akan berangkat ke acara resepsi pernikahan antara Arabella Aqila dan Desta Alamsyah.
Dewi terduduk di atas sofa dengan air matanya yang sudah berlinang membasahi pipinya itu. Dia tidak menyangka jika pernikahan adiknya akhirnya hancur dan kandas juga.
"Astaughfirullahaladzim mungkin adikku sudah tidak tahan dengan kehidupan rumah tangganya yang begitu berantakan dan hancur, akhirnya Dina menyerah juga dengan keadaannya yang sangat sulit ini," lirihnya Dewi.
"Aidan cepat ambilkan Mamamu air putih!" Perintah Samuel.
"Mama jangan seperti ini, Tante Dina pasti akan sangat sedih jika melihat mama seperti ini," bujuknya Shanum.
Shaira membantu Mamanya untuk melonggarkan hijab yang dipakai oleh mamanya itu.
"Mama ingat jika Mama lemah seperti ini, pada siapa Tante Dina akan bersandar, hanya mama saudara yang dimiliki Tante, jadi Aira mohon harus sabar dan kuat menghadapi segala cobaan yang dihadapi oleh Tante Dina," bijaknya Shaira.
Dewi menatap ke arah putri bungsunya itu," tapi Aira Tantemu itu pasti sangat sedih, kecewa dan terpuruk gara-gara suami dan ketiga anaknya,mama yakin tantemu itu sungguh dalam duka nestapa," ujarnya Dewi.
"Dewi Kinanti Mirasih, ingat kamu adalah penyemangat Dina dan hanya kamu yang mampu membantu Dina mengatasi kisruh biduk rumah tangganya ini dan yang selalu mensupport Dina dalam keadaan apapun, jadi jangan lemah setelah mengetahui perceraian Dina dan pria luknut dan brengsek itu," nasehatnya Syamuel.
"Semua yang dikatakan mereka memang benar adanya Mbak Dewi, saya tidak apa-apa kok, insha Allah saya kuat hidup sendiri dan ini sudah menjadi pilihanku sendiri Mbak," terangnya Dina Anelka Mulya yang baru saja datang di dalam rumahnya Dewi.
Kedua saudari itu saling berpelukan satu sama lainnya, mereka sama-sama menangis, terisak dan tersedu-sedu dalam tangisannya itu.
"Apa kalian masih ingin berpelukan dan tidak akan menghadiri pesta pernikahan Arabela?" Ucapnya Syam.
Keduanya segera menyeka air matanya itu," Abang kalau saya dan Mbak Dewi serta kalian enggak datang, maka mas Irwansyah akan menganggap kita kalah, kita cemburu, kita tidak menerima kenyataan jika anakku Ara sudah menikah, bahkan mas Irwan itu sengaja memperlihatkan kepada kalian kemegahan dan kemewahan pesta resepsi tersebut, mas Irwansyah ingin sekali mengalahkan kalian dan menghina kalian juga hingga tidak sanggup bersabar menghadapinya," ungkapnya Dina.
"Astauhfirullah aladzim, tidak menyangka jika hatinya Irwansyah itu sangat busuk dan tabiatnya sangat buruk, entah apa hidayah masih akan datang menghampiri hidupnya, entahlah," ucapnya Syam.
__ADS_1
"Itulah manusia yang terlena oleh tipu daya dunia, sepatutnya kita yang lain selalu mengucap istighfar jika salah jalan, salah dalam bersikap atau pun telah keliru tentang apa yang kita perbuat selama ini," ucapnya Bu Rina Amelia.
"Kalau gitu kita kembali bersiap mumpung masih ada waktu enggak terlambat juga untuk berangkat ke sana," usulnya Sam.
Semuanya kembali bersiap untuk berangkat ke acara tersebut. Dengan suasana hati yang berbeda-beda mereka berangkat menuju pesta tersebut.
Shaira duduk di samping kakaknya yaitu Abiayasa Akhtam dengan tatapan matanya terus menatap ke arah luar jalan yang dilaluinya itu.
Shaira memegangi gaun pestanya yang sangat cantik itu yang sudah terpasang dengan begitu indah, rapi, dan pas di tubuhnya dengan sangat cantik.
Siapa sebenarnya orang yang selalu diam-diam memberikan hadiah untukku. Sudah empat hari ini selama aku bekerja di rumah sakit, setiap saat pula kedatangan paket kiriman dari orang misterius.
Kami tidak pernah kekurangan makanan cemilan ataupun makanan santap siang atau pun malam kami. Katanya anak-anak aku tanyain, kalau aku nggak masuk kerja pasti kiriman paketnya juga berhenti.
Terakhir semalam sebelum aku balik ke rumah ada beberapa kotak dalam paper bag berada di atas meja kerjaku. Isinya ada gaun pesta,hijab tas dan handbag nya yang sedang aku pakai ini.
Tapi, siapa yang Allah orang yang telah berbaik hati menolongku. Apa sebaiknya aku datangi nanti pihak keamanan yang selalu berjaga di ruang cctv untuk mengecek siapa sebenarnya yang mengirimkan makanan dan paket istimewa ini.
"Dede apa yang terjadi padamu, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Abya yang sesekali menatap ke arah Shaira adiknya.
Shaira menolehkan kepalanya ke arah kakaknya itu sambil tersenyum simpul," hehe aku baik-baik saja kok abang hanya saja sedikit tidak enak nyaman memakai high heels di dalam mobil, biasanya kalau di dalam mobil seperti ini hanya memakai sendal jepit saja," kilahnya Shaira yang menutupi kenyataan yang ada.
"Kamu enggak bawa sandal kah?" Tanyanya balik Abiyaza.
"Lupa kak soalnya terlalu terburu-buru juga jadi lupa sudah," elaknya Shaira.
Perjalanan mereka cukup lancar sore hari itu, mereka menuju ke gedung perhelatan acara resepsi pernikahan yang digadang-gadang termegah bulan ini dan dirumorkan menghabiskan dana dan biaya yang tidak sedikit pula.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga bang kita disini, hem ngomong-ngomong acaranya ramai juga lihat sana banyak banget tamunya yang datang," ucapnya Sahnum sembari menunjuk ke arah antrian tamu undangan.
Aidan mengarahkan tatapannya ke arah apa yang ditunjuk oleh adiknya itu.
__ADS_1
"Mereka memang ingin menyaingi pesta resepsi kita besok Sha, tapi jangan harap jika kita kalah dengan mereka, aku bersumpah akan membalas mereka dengan menunjukkan jika acara kita besok adalah yang terhebat dalam sejarah anggota keluarganya papa dan mama dimanapun berada,agar dokter stres itu tersadar atas kesalahannya selama ini," geramnya Aidan Akhtar.
"Terkadang aku heran dengan Om Irwan, entah kenapa hatinya seperti sudah membatu, tapi aku berharap semoga kelak mendapatkan hidayah dari Allah SWT," harapnya Aydan.
"Amin ya rabbal alamin semoga saja yah bang Om Irwan secepatnya diberikan hidayah dan segera bertaubat karena ini semua sudah keliru dan salah jalan," ucapnya Shanum Inshira kemudian turun dari mobil abang keduanya.
Shanum segera menyusul kelurganya yang lain yang berjalan lebih duluan. Sedangkan Shaira yang agak terlambat karena harus memasang sepatu high heelsnya terlebih dahulu sebelum turun dari mobilnya.
"Abang duluan saja, saya tahu jalan kok," candanya Syaira.
"Kalau kekasar kamu telpon aku soalnya kamu itu tahunya koridor lorong rumah sakit doang," candanya Abyasa.
"Iihh Abang bisa-bisanya bercandanya garing banget deh," timpalnya Shaira.
Abyasa pun berjalan di belakangnya Shanum dan yang lainnya. Kedatangan rombongannya mendapatkan tatapan dari hampir semua mata tamu undangan yang hadir di dalam sana memperhatikan seluruh anaknya Dewi.
"Anak-anaknya Dewi dengan Syam cantik-cantik dan ganteng-ganteng, dan mereka itu ramah baik hati pula,' pujinya seorang ibu-ibu yang menjadi tamu sekaligus tetangganya Dewi.
"Iya benar sekali mereka anak sholeh dan sholehah dan memilki pendidikan yang cukup tinggi dan bagus mereka baru balik dari luar negeri London UK Inggris."
"Pantesan mereka tidak perlu berlama-lama dan susah payah mencari pekerjaan, mereka sudah bekerja di perusahaan terkenal dan rumah sakit elit loh," puji yang satunya lagi.
Mereka semua takjub memandangi kedatangan anak-anaknya Dewi dan Syam. Segala pujian diberikan dan didengarkan oleh mereka semua yang mengenal anggota keluarganya Dewi.
Bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak banyak berharap seperti Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari bersaudara.
"Sial! Kenapa perempuan itu semakin cantik saja, aku kira dia akan hidup menderita setelah mengetahui pernikahanku dengan Abang Hanz, tapi ternyata dia semakin bersinar saja," umpatnya seorang perempuan muda dengan perut buncitnya.
Sejak Shaira turun dari mobil ada sosok orang yang selalu memperhatikan segala gerak geriknya Shaira hingga ke dalam gedung tersebut.
"Dede Aira semakin cantik, aku masih sangat mencintaimu," Hanzal menatap intens ke arah Shaira yang berjalan beriringan dengan kakak sulungnya.
__ADS_1
"Saira sudah menjadi dokter dengan mudahnya di usianya yang masih muda, putraku sungguh bodoh menikahi Ariella Ziudith yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Shaira," kesalnya pak Reza Iskander papa kandungnya Hansal Abdul Djailani.