Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 272


__ADS_3

Enam bulan kemudian setelah acara akad nikah kembar tiga atau pernikahan Siam antara Bu Dina Anelka Mulya dengan Syamil Syafiq Abidzar, Adisty Ulfa Salsabiela dengan suaminya Ade Nugraha sang dokter ahli mata dan pasangan terakhir adalah Faris Fatahilah dengan istrinya yang sudah memberikannya seorang putra berusia satu bulan itu bernama Sheila Alona.


Kehidupan mereka kembali seperti semula walau banyak yang telah berubah. Kehidupan dengan begitu banyak kebahagiaan dan keberkahan dan banyaknya pula ujian dan cobaan yang datang silih berganti mewarnai seluruh kehidupan mereka.


Tetapi mereka menghadapinya dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketabahan dan ketegaran yang mereka miliki hingga cobaan itu terasa ringan.


Pagi itu, Shaira sedang menyiapkan bekal makanan untuk dirinya sendiri. Dia penuh senang sarapan di rumah sakit jika waktu sudah mepet dan tidak punya kelonggaran kesempatan.


"Sedang masak apa Non Aira? Uhuk… uhuk," Tanyanya bibi Siti sambil batuk-batuk.


"Bi Siti, kalau masih sakit kenapa meski harus bekerja,kan masih ada Mbak Ijha dengan Mbak Ani," ucapnya Shaira yang kasihan melihat bibi Siti yang diperhatikannya seperti kesehatannya yang terus menurun selama mamanya meninggal dunia.


"Saya sudah baikan kok Non Aira, saya lebih tidak tidak terbiasa jika hanya berbaring, duduk rebahan itu terus setiap hari yang saya lakukan," sanggah Bu Siti.


"Terserah bibi saja kalau gitu, karena aku ngomong juga bibi enggak dengar," ucapnya Shaira yang bawaannya serius tapi diarahkan bercanda agar bi Siti tidak tersinggung.


"Nona, apa Tuan Muda Adelio sudah balik dari Inggris?" Tanya Siti yang memulai percakapan lainnya.


"Nggak tau juga ini Bi, padahal katanya hanya seminggu perginya hari ini bakal balik ke tanah air," ucapnya sendu Shaira.


Bu Siti mengelus lengan anak majikan rasa keponakan itu," Nona Shaira yang sabar insha Allah kalau sudah waktunya Tuan Adelio bakal balik ke sini juga,"


Shaira hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari bi Siti asisten pembantu rumah tangganya paling lama bekerja bersamanya di rumah yang penuh kenangan bersama almarhumah mendiang Mamanya.


"Kenapa Abang hari ini belum balik dari Inggris yah, katanya cuma seminggu perginya ke luar negeri," cicitnya Shaira.


"Mungkin suami kau banyak kerjaan sehingga ia menunda kepulangannya ke Jakarta," sahutnya Sahnun yang ternyata sedari tadi mendengarkan tanpa sengaja perbincangan keduanya.


Shaira hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya kakaknya itu dan segera bangkit dari posisi duduknya itu dan bergegas pergi ke rumah sakit tempat dia bekerja, kebetulan sudah mendapatkan jawaban dari pencariannya.


"Aku pamit dulu Mbak, assalamualaikum," pamitnya Shaira yang gegas meninggalkan rumahnya.


Aku harus menemui pegawai apotek itu, katanya dia sudah mendapatkan beberapa tanda-tanda siapa orang yang sering mengkonsumsi obat itu.


Tapi, kenapa obat itu ada di dalam lemarinya suamiku. Aku sudah bertanya kepada Abang Adelio katanya itu milik anak buahnya yang bekerja di rumah sakit, tanpa sengaja terbawa dalam mobilnya dan belum sempat dikembalikan.


Hari ini apapun yang terjadi aku harus mengetahui siapa orang yang mengkonsumsinya.

__ADS_1


Shaira memasuki mobilnya dan menyimpan bekal makanannya ke atas jok kursi mobil belakangnya. Ia tidak akan menyerah sebelum menemui pemilik obat itu.


Ya Allah entah kenapa aku belum menyerah dan menerima begitu saja, ketika suamiku mengatakan jika obat itu bukan miliknya. Tetapi, jika suamiku yang punya aku perhatikan tidak seperti orang sakit.


Kenapa aku enggak diam-diam mengambil darahnya, tapi pasti aku ketahuan mana ada orang yang diambil sampel darahnya tidak merasakan sakit.


Shaira yang cukup penasaran dengan siapa pemilik obat itu, diam-diam menyelidiki asal usulnya. Beberapa bulan sudah, ia melakukan penyelidikan dan investigasi. Hingga hari ini barulah membuahkan hasil yang cukup maksimal.


Semoga ketakutan aku tidak terbukti jika salah satu orang yang aku sayangi yang mengidap penyakit cukup mematikan itu.


Beberapa menit kemudian, Shaira sudah berada di sekitar area apotek dan menunggu apoteker yang mengajaknya bertemu dengannya.


Pegawai apoteker itu melihat ke arah balik tembok sambil menganggukkan kepalanya ke arah orang yang tidak kelihatan siapa.


"Maaf dokter Shaira, saya terlambat maklum hari ini sungguh pasien bertambah banyak yang kami tangani sehingga harus terpaksa terlambat," ucapnya sesal pria yang sering disapa Bayu itu.


"Tidak apa-apa kok Pak, aku hanya butuh informasi mengenai siapa pemilik obat itu," imbuhnya Shaira.


Awalnya Shaira sudah tenang dan tidak memikirkan masalah obat yang didapatkan tiga kali. Pertama di dalam lemari, ketiga di dalam mobil pribadi dan ketiga di dalam ruangan kerjanya di rumah sakit.


Bayu menyodorkan sebuah map berisi biodata pemilik obat jantung itu.


Shaira tersenyum simpul sebelum mengambil uluran berkas itu dan segera tanpa berlama-lama membukanya.


"Kalau gitu aku pamit Dokter Shaira, selamat siang," ujarnya Bayu yang berjalan cepat meninggalkan Shaira.


"Makasih banyak ya pak Bayu," Shaira tersenyum sebelum Bayu pergi.


"Ya Allah akhirnya aku menemukan siapa yang memakai obat itu dan aku berharap agar orang itu bukanlah yang aku kenal," Shaira tersenyum simpul.


Shaira terduduk di atas salah satu kursi di depan apotik setelah bertemu dengan orang yang mengetahui siapa pemilik obat tersebut.


Dia membuka map itu dengan tergesa-gesa dan tanpa menunggu lama ia segera membacanya. Tapi, setelah di atas kertas itu bertuliskan nama pasien yang satu tahun lebih mengkonsumsinya itu Adelio Arsene Smith.


Kedua matanya Shaira membulat sempurna, melotot saking tidak percayanya dengan apa yang tertulis di atasnya.


Shaira yang awalnya terduduk segera bangkit dari duduknya saking terkejutnya melihat tulisan nama suaminya.

__ADS_1


"I-ni ti-dak mungkin, aku pasti hanya salah baca saja, aku yakin aku salah baca," lirih Shaira yang buru-buru menutup kembali map tersebut.


Shaira menggosok-gosok kedua matanya agar penglihatannya lebih jelas. Shaira segera membuka map itu kembali untuk memastikan apapun yang barusan dibacanya adalah salah.


"Adelio Arsene Smith," cicit Shaira.


Air matanya langsung membanjiri wajahnya itu setelah sudah meyakinkan dirinya jika tulisan ini memang sangat benar. Apabila namanya adalah milik suaminya sendiri.


"Astaughfirullahaladzim ya Allah ini tidak mungkin.. tidak mungkin!!" Teriak Shaira.


Selama beberapa hari dalam penyelidikannya, Shaira akhirnya mendapatkan petunjuk dari pencariannya itu. Tapi, sudah terlambat, satu kenyataan pahit kembali memukul habis mental dan jiwanya.


Siapa pun orangnya tidak ada yang mengetahui nama lengkap dan identitas jelas dari orang yang mengkonsumsi obat itu.


Andrew Parker memperhatikan apa yang dilakukan oleh Shaira. Dia sangat sedih setelah mengetahui jika kakaknya mengidap penyakit yang sangat berbahaya dan sudah stadium lanjut.


Maafkan aku bang, aku tidak bisa menutupi rahasia besar dari istrimu. Aku ingin melihat kalian bahagia disisa umurmu.


Aku mengatur semua ini agar Shaira mengetahui jika kamu sudah diopname di rumah sakit selama seminggu.


Shaira menitikkan air matanya yang sedari tadi berusaha ditahannya, ia tidak menyangka jika sekitar setengah tahun lalu mamanya meninggalkannya dan hari ini kenyataan pahit kembali dialaminya. Berkas pemeriksaan medical check up milik Adelio terjatuh ke atas lantai keramik.


Prang..


Shaira tidak peduli lagi dengan berkas itu,dia spontan berlari cepat ke arah ruangan perawatan khusus milik suaminya seorang.


"Abang tunggu aku akan datang menjagamu," Shaira sesekali mengusap air matanya yang semakin membanjir wajahnya itu.


Adelio sudah terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit. Tubuhnya Shaira berdiri kaku ketika membuka pintu kamar rawat inap, dari orang yang memesan dan mengkonsumsi obat tersebut.


Ade Nugraha dan Maryam Nurhaliza yang baru saja mengikuti rapat dengan beberapa dokter tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Shaira.


"Mbak Shaira!" Teriak Adisti Ulfah yang hendak berlari cepat ke arah Shaira yang sebenarnya datang untuk menemui suaminya tapi,di tengah jalan dia melihat kakak sepupunya berlari di koridor lorong rumah sakit.


Sedangkan Ade dan Maryam Nurhaliza yang hendak mengejar Shaira, tapi tanpa sengaja melihat sebuah map terjatuh.


"Ini kan map miliknya Sahira," Ade segera membuka map itu dan membaca dan memeriksa dengan teliti dan akhirnya ia pun terkejut.

__ADS_1


"Astaughfirullahaladzim berarti Pak Adelio sakit parah, kalau gini aku harus menelpon Abiyasa dan Aidan,"


Baca juga Terpaksa Menjadi Orang Ketiga.


__ADS_2