
Dewi dan Syam sudah berada di dalam mobil yang selalu dipakai oleh Samuel jika berada di daerah kota S.
"Aku mandi kalau gitu, pakaian yang ada taruh di sini saja yang akan aku pakai kamu persiapkan terutama alat-alat kerjaku cukup itu, jadi kalau kapan-kapan aku balik kan ada pakaian yang bisa aku pakai tidak perlu repot-repot bawa lagi," imbuhnya Samuel.
Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari suaminya itu. Tanpa banyak kata, protes, koment,ba bi Bu lagi Dewi segera berjalan tergesa-gesa ke arah dalam kamar tidurnya bersama suaminya itu.
"Abang apa semua sudah ada? Coba cek baik-baik terlebih dahulu sebelum kita berangkat ke bandara," ujarnya Dewi yang mengingatkan kepada suaminya itu sebelum terlambat.
Syam hanya menatap ke arah Istrinya itu," Alhamdulillah semuanya sudah ada karena kamu yang mengatur segala sesuatunya kebutuhanku jadi itu tidak mungkin terjadi, kecuali orang lain bisa saja aku kelupaan barang milikku," ujarnya Syam.
Setelah aku berbicara seperti itu, aku perhatikan raut wajahnya Dewi tersipu malu mungkin dia mengerti dengan maksud aku adalah memujinya secara tidak langsung. Wajahnya merona memerah seperti kepiting rebus ketika aku lontarkan pujian untuknya.
Inilah yang aku sukai dari dirinya, aku selalu bahagia jika melihat senyuman bahagia itu dari raut wajahnya. Terasa obat hatiku yang gelisah, takut, bimbang, cemas, khawatir, panik akan terobati dengan hanya melihat senyumannya saja.
Andaikan aku bisa aku berharap semoga saja aku bisa melihat senyumannya setiap hari dan juga bisa berdamai dengan Nadia Yulianti itu luar biasa bahagia diriku. Senangnya dalam hati kalau beristri dua. Siapapun berada diposisiku pasti akan gembira setiap saat asalkan adil dan bermain cantik.
Mobil pun mulai aku nyalakan mesinnya. Dewi nampak tenang duduk di sampingku. Aku terkadang berfikir kapan lagi aku bisa hidup seperti ini didampingi oleh perempuan sholeha, cantik,baik hati dan penyayang tentunya lemah lembut juga.
Aku perhatikan dari mimik wajahnya seperti ada rasa tidak rela, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya stelah aku mengatakan aku akan pergi kembali ke Jakarta.
Aku membelai puncak hijabnya bertujuan untuk memberikan ketenangan di dalam hatinya. Aku bangga padanya karena selalu pintar menyenangkan hatiku sehingga aku selalu enjoy dan santai jika berada di dekatnya.
__ADS_1
"Abang kalau misalnya aku pengen ke Jakarta untuk jalan-jalan gimana, apa Abang setuju?" Tanyanya Dewi sambil terus memperhatikan gerak geriknya Syam suaminya itu.
Syam menolehkan kepalanya sepintas lalu ke arah Dewi sambil terus berkosentrasi menyetir mobilnya menuju jalan masuk ke bandara Ir Juanda.
Syam mengelus puncak rambutku membuatku lebih bisa tenang dan ikhlas menerima kenyataan jika suamiku aku akan kembali ke Jakarta bersama dengan istri keduanya itu.
Ya Allah tenangkan lah hatiku, jangan biarkan aku terjerumus kedalam lubang dosa dan salah yang nantinya akan aku sesali seumur hidupku. Aku harus lebih legowo, mawas diri dan bijaksana menghadapi biduk rumah tanggaku yang harus rela berbagi dan ikhlas mengijinkan suamiku berbagi hati dengan perempuan lain.
Abang Samuel Abidzar Al-Ghifari ternyata pria yang mampu menghapus jejak kenangan bersama dengan mas Heri Ismail Fatahillah. Aku tidak menyangka ternyata secepat aku mampu melupakan segalanya bersama dengan mas Heri dulu.
"Kamu boleh kok ke Jakarta, tapi sebelum berangkat kamu harus menghubungi nomor hpku terlebih dahulu tapi, ingat jamnya sebelum kamu menelpon,kamu tahu sendiri saya punya istri selain kamu," jelasnya Syam.
Dewi segera membuka pintu mobilnya setelah sampai di parkiran mobil. Syam sudah menghubungi nomor hp salah satu temannya untuk datang menjemput Dewi di bandara agar mobil dinas yang sering dipakainya itu dibawa pulang ke cabang perusahaan.
"Kamu bisa gak bawa dan nyetir sendiri mobil?" Tanyanya Sam sambil memakai tas ranselnya di punggungnya itu.
"Alhamdulillah kalau nyetir mobil bisa hanya bawa motor saja dulu aku juga bisa tapi pernah terjatuh sehingga sudah trauma jadinya takut," ungkap Dewi terus terang di depan istrinya itu.
"Kalau gitu teman kantor ambil mobil di rumah saja, tapi kamu tidak perlu risau ataupun khawatir karena mereka tidak ada yang mengenali kamu dengan Nadia juga, tapi maaf aku ngomong sama mereka kalau kamu keluarga Abang yang ada di sini," ucapnya sesal sambil meminta maaf kepada istrinya itu.
Dewi menatap intens ke arah suaminya yang berbicara itu sambil mengelus dadanya yang lega karena hal yang ditakutkan tidak terjadi, "Alhamdulillah kalau seperti ini Abang, padahal aku sudah sempat takut saja dan merisaukan semuanya,"
__ADS_1
Dewi sudah berdiri diambang pintu untuk melepas kepergian suaminya tercinta. Syam menarik tubuhnya Dewi ke dalam dekapan hangat pelukannya.
"Selama aku pergi tolong jaga diri baik-baik, Ingat kamu dengan istriku posisimu sama dihatiku, hiduplah dengan baik, setiap bulan Abang akan transfer uang belanjamu, tetaplah jaga hatimu tunggu Abang kembali ku mencintaimu selalu hingga akhir waktuku," Syam mengakhiri perkataannya sambil mengecup puncak hijabnya Dewi yang berwarna cokelat susu itu.
Dewi berusaha untuk menahan air matanya saking sedihnya akan berpisah dengan suaminya untuk kedua kalinya dalam suasana dan nuansa yang berbeda. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari mulut suaminya itu tanpa berniat untuk menyanggah perkataan dan juga memotong pembicaraannya Syamuel.
"Assalamualaikum," ucapnya Syam sebelum berjalan meninggalkan Dewi yang berusaha sekuat tenaga menahan laju air matanya itu.
"Waalaikum salam," balasnya Dewi dengan tatapan matanya yang teduh plus memberikan senyuman termanisnya.
Aku lihat kau ingin menangis, aku serasa sangat jahat padanya sudah meninggalkannya untuk kedua kalinya. Aku tidak menyangka jika dia akan sedih seperti ini, begitu tulus mengantarkanku untuk pulang balik ke Jakarta. Air mata yang kamu berusaha untuk tahan agar tidak menitikkan air mata itu. Aku berjanji padamu untuk kembali lagi suatu saat nanti.
Dewi tersenyum lembut melepas kepergian suaminya itu hingga ia tidak sadari air matanya pun menetes membasahi pipinya juga setelah melihat punggung lebarnya Syam sudah semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Ya Allah… jaga dan lindungilah suamiku dimana pun berada, aku berharap ia selamat sampai ditujuan tanpa kenapa-kenapa. Insya Allah kita akan kembali dipertemukan kembali di tempat yang sama. Samuel Abizar Al-Ghifari aku begitu cepat aku bisa membuka hatiku untuk mencintaimu dan menerima segala kekurangan dirimu Abang.
Engkau begitu tulus menyayangi dan mencintaiku padahal kamu sudah tahu jika aku sebelumnya sudah siap menikah dengan pria lain. Tetapi kejadian yang tidak pernah aku duga aku harus ditinggal oleh calon suamiku.
Tapi untungnya Abang Syam datang sebagai penolong, pahlawan yang menolongku hingga aku bisa hidup lebih baik seperti sekarang ini. Hanya satu harapan ku adalah hidup ini adalah bisa hidup bersama Abang di dunia ini hingga menuju surgaNya.
Hatiku pasti sedih melepas kepergian Abang tapi, demi masa depan kami ini yang terbaik. Aku hanya berharap semoga Abang selalu mencintaiku dalam keadaan apapun. Aku ikhlas berbagi dengan perempuan lain asalkan Abang mencintaiku dan tidak berbuat kasar terhadapku.
__ADS_1