
Dewi berteriak kencang hingga suaranya membahana di sekitar warung yang hendak ia datangi karena cukup lapar melakukan perjalanan dari kota S ke ibu kota Jakarta.
"Amin ya rabbal alamin," balas Dewi.
Baru sekitar lima langkah atau lebih kakinya Dewi melangkah, tiba-tiba ada dua orang yang naik motor menarik kedua tas bawaannya Dewi ketika menyebrang jalan.
"Ahhh tolong!!" teriaknya Dewi yang tubuhnya berputar ketika tasnya berhasil ditarik oleh dua orang pria sekaligus.
Dewi yang mendapatkan perlakuan dari dua orang pria yang memakai topi dan masker tidak sempat melakukan perlawanan karena cukup terlambat untuk bereaksi.
"Aahh tolong maling!! Jambret!!" Jeritnya Dewi.
Beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian, segera bertindak untuk menolong Dewi. Ada beberapa orang yang berlari mengejar pengendera motor RX King tersebut, ada juga yang berkerumun mengelilingi tubuhnya Dewi bertanya tentang keadaannya Dewi.
"Pak tolong! Tasku di jambret orang itu," ratapnya Dewi kepada bapak-bapak yang berdiri tepat di depannya.
"Sabar yah Mbak, sudah ada orang yang membantu Anda untuk mengejar penjahat itu semoga saja pulang membawa kabar baik," imbuhnya bapak yang memakai kopiah hitam itu.
"Mbak duduk di sana dulu yah, kasihan Mbak dalam keadaan seperti ini berdiri terus apalagi cuacanya panas banget, ayo kita ke sana!" Ajaknya seorang wanita berhijab abu-abu itu.
Dewi hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari orang-orang itu. Ada yang membelikan air botol mineral kemasan kepada Dewi, ada pula yang bertanya mengenai keadaannya.
"Mbak baik-baik saja kan, tidak ada yang terluka?" Tanyanya seorang ibu-ibu muda yang memeriksa kondisinya Dewi.
Dewi melihat ke arah perempuan itu," Alhamdulillah saya tidak apa-apa ataupun terluka sedikitpun Bu, hanya saja semua barang-barang penting milik saya ada di dalam kedua tas milikku yang diambil paksa oleh pria itu," jelasnya Dewi.
Berselang beberapa menit kemudian, dua motor yang sempat mengejar motor penjambret itu sudah kembali. Dewi segera bangkit dari duduknya dan tidak sabaran ingin bertanya tentang apa yang mereka dapatkan.
"Pak bagaimana dengan tasku, apa bapak berhasil mengambilnya kembali?" Tanyanya Dewi dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Maaf Mbak hanya tas ini yang bisa kami selamatkan yang lainnya berhasil dibawa kabur pencurinya," jawab pria muda yang turun dari tunggangan roda duanya itu.
Dewi langsung meraih tas itu dari dalam genggaman pria yang menyodorkan tas pakaiannya. Untungnya tadi dia sempat memindahkan dompet kecil tempat beberapa kartu-kartu dan surat berharganya kedalam tas pakaiannya. Tetapi, hp, alat makeup serta uang tunai di dalam handbagnya berhasil diambil maling siang bolong itu.
Wajahnya Dewi sendu karena jika hpnya hilang bagaimana caranya menghubungi nomor ponsel suaminya. Mengingat dia tidak menghapal ataupun menyalin nomor-nomor penting ke dalam buku kecil itulah kesalahannya.
Kalau seperti ini, gimana caranya saya bertemu dengan Abang Syam sedangkan hanya hp itu satu-satunya yang bisa mempertemukan saya dengan Abang. Andaikan saja saya mengetahui alamat rumahnya mungkin kejadian ini tidak terlalu berat bagiku.
Ya Allah… apa yang harus aku lakukan,balik ke kota S juga tidak mungkin banget karena aku sudah memutuskan untuk ke Jakarta.
Raut wajah Dewi kebingungan, panik, ketakutan dan kecemasan yang berlebih-lebihan. Ia sulit untuk memutuskan apa yang selajutnya ia lakukan. Dewi berusaha untuk menahan tangisnya meratapi barang-barang pentingnya yang hilang itu.
Seorang perempuan yang tiba-tiba muncul menepuk pundaknya," Mbak harus sabar dan kuat memang seperti itulah kehidupan di kota besar jika tidak memiliki kemampuan untuk bertahan maka akan bernasib seperti ini, jadi Mbak harus tabah,sabar dan mengikhlaskan barang-barang berharganya diculik oleh orang," jelasnya seseorang wanita tua.
"Kalau gitu istirahat saja dulu di tempat ini, sambil memikirkan mau kemana lagi selajutnya, kami semua bubar dulu mau lanjutkan pekerjaan kami, kedepannya berhati-hatilah jangan mudah mau percaya dengan orang lain dan juga barang-barang yang sangat penting disimpan ditempat aman agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali lagi," imbuhnya bapak itu.
Dewi berusaha tersenyum tipis walau hatinya gegana gundah galau merana,tapi ia tetap memperlihatkan ketenangannya di depan orang-orang yang sudah bersimpatik padanya.
"Mbak tidak perlu sungkan seperti ini, semua yang kami lakukan adalah sudah menjadi tanggung jawab kami semua sebagai sesama muslim untuk saling tolong menolong saudari kami, kalau gitu kami permisi yah hati-hati assalamualaikum," pungkasnya bapak itu lagi.
Dewi berusaha untuk tersenyum melepas kepergian semua orang baik hati yang sudi menolongnya itu. Padahal mereka sama sekali tidak saling kenal.
Saya harus kuat dan sabar,saya pantang untuk pulang ke kampung sebelum bertemu dengan Abang Syamuel, seingatku dia pernah nyebut nama perusahaannya, jadi besok pagi saya saya bisa langsung ke sana saja, untuk hari ini cari penginapan atau hotel untuk beristirahat kasihan bayiku pasti tidak tenang juga di dalam sana karena saya tadi pikiran saya kacau dan stres memikirkan pertemuanku dengan Abang Syam.
Tersisa Dewi tinggallah seorang diri di kursi kayu panjang yang ada di sekitar warung makan itu. Hingga bunyi perutnya yang keroncongan membuatnya menyudahi lamunannya itu. Dewi terkekeh sendiri mendengar bunyi perutnya yang tidak bisa diindikasikan itu. Dia mengelus perutnya yang masih rata karena baru terhitung jalan dua bulan.
Dewi pun berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut karena hendak mencari tempat anjungan tunai mandiri atau mesin ATM karena dia ingin mengambil beberapa lembar uang.
Dewi berjalan ke arah pria yang berprofesi tukang parkir untuk bertanya ATM terdekat, karena sudah melihat dan memperhatikan dengan seksama lokasi daerah tersebut. Tetapi, ekor matanya tidak menemukan satupun mesin ATM terdekat.
__ADS_1
Dewi yang berjalan menenteng tasnya tanpa memperdulikan dengan baik ketika menyeberang jalan, ia hampir saja ditabrak mobil sedan putih. Untungnya sang supir mobil itu gesit dan lincah untuk segera menghindari tabrakan tersebut dengan merem mendadak mobilnya.
Suara decitan ban mobil bergesekan dengan aspal sore itu bunyi decitan nyaring sehingga membuat beberapa pengguna jalan mengalihkan perhatiannya ke arah tempat sumber suara.
Ciittt!!!
"Ahhh! Tidak!!" Pekiknya Dewi yang kembali hampir saja mengalami musibah untuk kedua kalinya dalam hampir waktu yang bersamaan.
Dewi berdiri terdiam mematung di tempatnya yang tersisa beberapa jengkal saja tubuhnya sudah ketabrak.
"Astaghfirullah aladzim," teriak orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Maaf Mbak saya tidak sengaja," balasnya pria muda yang menyetir mobil tersebut.
"Maaf… maaf saja terus bisa-bisanya kamu!" Ketusnya perempuan itu yang mengelus dadanya karena terkejut bukan main.
Pria yang disapa Adli itu menolehkan kepalanya ke arah jok kursi belakang mobilnya, "Maafkan saya Mbak jujur saya tidak sengaja kok," sanggahnya Adli yang berusaha keras tidak mau mengalah.
"kamu itu yah keseringan main hp sambil nyetir, apa kamu ingin melihat Mbak mati muda bersama calon bayiku ha!!" Geramnya perempuan yang duduk dibagian belakang seorang diri.
Adli tidak lagi mendengarkan omelan kakaknya itu dan bergegas turun dari mobilnya untuk melihat keadaan perempuan berhijab pink shoft muda itu. Ia cukup khawatir melihat kondisi Dewi yang pucat pasi.
"Maaf saya tidak sengaja Bu, saya…" ucapannya terpotong karena Dewi sudah tidak sadarkan diri lagi.
Perempuan yang berada di dalam mobil itu segera turun ketika melihat Dewi pingsan.
"Adli, Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pingsan?" Tanyanya perempuan itu yang sudah berdiri di depan keduanya.
"Mbak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja takutnya terjadi sesuatu padanya,"sarannya Adli.
__ADS_1
"Jangan ke rumah sakit, nanti bisa berabe urusannya kita nantinya disangka menabraknya jadinya seperti ini, apalagi perhatikan sekitar kita ada yang melihat jika kita yang menabrak perempuan ini, jadi kita bawa pulang ke rumahnya Mbak saja," pintanya perempuan yang disapa Mbak itu.