
Pak Gilang memanggil istrinya untuk mendekat, "Mama lihat cucumu mereka, lucu-lucu banget loh wajahnya ketiga anaknya Syam mirip Samuel dengan Syamil. Mereka memperlihatkannya jika mereka adalah cucuku penerus keluarga Iskandar," pujinya Pak Gilang sambil menoel satu persatu pipi chubby cucunya.
Bu Rina yang baru masuk ke ruangan bayi segera mempercepat langkahnya saking penasarannya dengan perkataan suaminya itu.
Bu Rina menggendong bayinya Dewi yang memakai bedong selimut berwarna biru, "Benar apa yang kamu katakan, ini mirip papanya, sedangkan yang memakai bedong kuning lebih mirip ayahnya Sam kalau yang itu yang gadis mirip bapak loh," ucapnya antusias Bu Rina.
Mereka bergantian saling memuji bentuk rupawan wajahnya ketiga anaknya Dewi dan Syam.
"Mereka semua ganteng dan cantik rupawan, semoga saja hatinya juga sebaik Bundanya Dewi yang bukan hanya cantik wajahnya tapi, hatinya juga harus sebaik Dewi kalau perlu melebihi kebaikan kedua orang tuanya," harapnya Bu Rina.
Beberapa menit kemudian mereka, segera meninggalkan ruangan bayi karena ingin melihat kondisinya Dewi yang sudah dipindahkan ke ruangan perawatan yang sudah ditentukan oleh pihak rumah sakit. Tak lupa mereka mencium satu persatu cucunya dengan penuh kasih sayang.
Baru beberapa langkah kakinya mereka melangkah,tapi pak Gilang mendengar suara pintu berdecit membuatnya menolehkan kepalanya segera ke arah belakang. Pak Gilang segera berjalan ke arah kembali untuk mengecek keadaan karena pendengarannya merasa ada orang yang mendorong pintu tersebut.
"Kenapa perasaanku ada suara pintu terbuka padahal hanya saya saja berdua di tempat ini, apa itu suara suster yang membuka pintu tapi tidak kami perhatikan kalau ada suster yang datang," gumamnya Pak Gilang.
Tapi baru sekitar dua langkah kakinya melangkah menuju kembali keruangan tersebut," Papa mau kemana? Kok berputar arah lagi?" Tanyanya Bu Rina penuh selidik melihat keanehan dari sikap suaminya Itu.
"Tadi papa denger sepertinya ada orang yang buka pintu ruangan cucuku,tapi entahlah apa itu benar apa hanya perasaanku saja," tuturnya Pak Gilang Iskandar yang juga tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.
Bu Rina ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut, tapi tidak melihat ada orang yang mencurigakan seperti yang disangka oleh suaminya itu.
"Mungkin itu perawat atau bidan yang sedang mengecek kondisi cucu kita sehingga terbuka lebar pintunya," tukasnya Bu Rina.
Mereka segera melanjutkan perjalanannya kembali menuju tempat perawatan Dewi dengan bergandengan tangan penuh kemesraan. Keduanya memang sudah tua tapi, kedekatannya selalu membuat semua orang terpaku dan kagum karena sedikitpun mereka tidak pernah memperlihatkan jika mereka cekcok atau berselisih paham di depan orang lain.
__ADS_1
"Rahasia dua keluarga akan saya simpan rapat-rapat dengan baik, mulai detik ini saya akan meninggalkan Jakarta dan akan berangkat ke luar negeri jadi TKI, anakku sudah mendapatkan keluarga yang baik dan penuh perhatian, Bu Nadia maafkan saya mungkin cukup sampai di sini kerjasama kita, semoga kamu bisa menjaga anakku dengan baik," seorang perempuan yang memakai penutup kepala dan memakai himar di wajahnya segera meninggalkan kamar khusus ruangan bayi.
Dia berjalan tergesa-gesa sebelum meninggalkan rumah sakit sambil menyeka air matanya itu.
"Maafkan Mama Nak, suatu saat Mama akan mencarimu setelah Mama pulang dari Dubai, hari ini mama akan segera berangkat ke Dubai," air matanya menetes membasahi pipinya tapi buru-buru ia hapus karena takut ketahuan oleh orang lain.
Dewi yang baru saja terbangun mencari keberadaan suaminya itu karena, tidak melihat siapapun di dekatnya.
"Abang Syam kemana?"
Dewi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bercat putih gading itu, tapi tidak menemukan seorang pun. Ia berusaha untuk bergerak bebas tapi pergerakannya terganggu karena, jahitannya bekas operasi tiba-tiba perih yang belum kering. Dewi tepaksa membatasi pergerakannya sendiri demi kebaikannya.
"Mungkin Abang ada keperluan penting sehingga dia tidak ada di sini, tapi saya sangat ingin melihat ketiga bayiku, kenapa mereka tidak ditaruh di dalam sini seperti anaknya Mbak Dian yah," Dewi ingin melihat ketiga anaknya itu karena belum sempat melihatnya karena baru siuman dari pingsannya.
"Papa," cicitnya Dewi.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar Nak, apa yang kamu rasakan sekarang, apa kamu haus atau mungkin butuh makan?" Tanyanya Bu Rina yang mempercepatnya langkah kakinya menuju ranjangnya Dewi dengan berjalan tergesa-gesa.
"Saya hanya mencari Abang Sam, karena saya tidak melihat Abang Sam?" Tanyanya Dewi.
"Ohh suamimu,dia…" ucapannya Bu Rina terpotong karena menatap ke arah suaminya terdahulu sebelum menjawab pertanyaan dari anak menantunya itu.
Ibu Rina segan dan tidak enak hati jika mengatakan yang sebenarnya,bahwa Nadia Yulianti juga sudah melahirkan sehingga meninggalkan Dewi sementara waktu. Ia tidak ingin Dewi bersedih dan berasa hanya Nadia saja yang diperhatikan oleh Sam.
Pak Gilang yang mengetahui apabila Syam pergi sekitar beberapa menit lalu karena Nadia juga masuk rumah sakit karena akan melahirkan, tapi mereka beda rumah sakit sehingga membuat Samuel kewalahan dan kelimpungan harus pintar cari waktu luang dan kosong dan harus bisa pandai mengatur waktu.
__ADS_1
"Tadi Nadia menelpon katanya dia juga akan melahirkan, makanya Sam harus buru-buru berangkat ke rumah sakit yang cukup jauh dari sini, karena kamu belum sadarkan diri sehingga Syam tidak sempat mengatakan padamu sebelum dia pergi dari sini," ungkapnya pak Gilang.
"Oh gitu yah Pa, Alhamdulillah kalau seperti itu berarti Mbak Nadia juga akan melahirkan anak perempuan seperti yang saya ketahui kalau dia akan melahirkan anak perempuan sesuai dengan hasil USG semoga saja putrinya sehat dan lahir normal,," harapnya Dewi dengan tersenyum sumringah karena istri kedua dari suaminya akan melahirkan.
"Amin ya rabbal alamin," sahut kedua mertuanya itu.
"Ya Allah… sungguh mulia hatimu Nak, Mama perhatikan dari wajahmu, sedikitpun tidak ada rasa cemburu, sakit hati ataupun tidak senang dengan berita kelahiran anaknya Nadia ataupun kamu mempermasalahkan kepergiannya Syam untuk menemani Nadia melahirkan," pungkasnya Bu Rina yang bangga dengan karakter, sifat tingkah laku dan peringainya Dewi.
"Iya betul sekali apa yang dikatakan oleh Mama kamu Nak,kau sungguh berhati besar, benar-benar calon penghuni surga karena tidak pernah memperlihatkan rasa cemburumu, walaupun Papa yakin ada secuil rasa iri dan jeleus terhadap Nadia, tapi kamu sangat pandai menyimpannya dan menyembunyikannya yang menggantikan dengan kebaikan dan kedewasaan serta kebijaksanaan yang kamu miliki itu sangat membuat kami bangga padamu,"sahutnya pak Gilang.
"Kalian bisa saja mujinya, padahal saya hanya seorang istri biasa saja yang banyak kekurangan-kekurangannya, tapi saya selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik dan pengertian karena saya yakin jika saya baik dan selalu bersabar dan bersyukur dengan pemberian Allah SWT, insya Allah semuanya akan baik-baik saja dan indah pada waktunya." Terangnya Dewi yang tersenyum penuh kebahagiaan.
Pintu kembali terbuka bersaman dengan suara keras bayi yang menangis histeris saking laparnya. Dewi dan kedua orang tua suaminya segera menolehkan kepala mereka ke arah pintu secara bersamaan.
"Ada apa Sus?" Tanyanya Bu Rina Amelia yang sudah berjalan tergesa-gesa ke arah pintu ketika beberapa perawat sedang mendorong box bayi yang dua bayi tersebut menangis.
"Maafkan kami Nyonya, sepertinya kedua anak kembarnya Ibu Dewi kehausan butuh asi," jawabnya salah satu suster itu.
Dewi memperbaiki posisi baringnya dengan sangat hati-hati.
"Kenapa dengan putriku Sus?" Tanyanya Dewi yang mulai cemas dengan kondisinya bayi perempuannya.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja hanya kemungkinannya kehausan karena sudah lama mereka tidur," jawab perawat berambut pendek itu.
"Sini sus, saya akan berikan asi," imbuhnya Dewi sedangkan Bu Rina dan pak Gilang menggendong kedua bayinya Dewi yang berjenis kelamin laki-laki itu.
__ADS_1